
Tiga puluh menit kemudian, Tama dan Satria tiba di batas desa Lereng Puncak Bukit. Khalid sudah menunggu mereka sekitar lima belas menit yang lalu.
" Kenapa kalian baru sampai? Aku sudah menunggu lama. Apa yang kalian lakukan di sepanjang perjalanan?" tanya Khalid.
" Jalan dari hutan menuju kesini kan, jauh. Mana mungkin kami bisa tiba lebih cepat dibanding pakai motor." jawab Tama.
" Kalian punya kemampuan berlari secepat angin, kenapa nggak kalian gunakan ilmu kalian?"
" Tidak, Kak. Kami lebih suka jalan biasa. Aku baru saja bertemu saudaraku. Jadi aku ingin lebih banyak waktu untuk bersama dia."
" Iya, Kak. Aku juga senang bertemu Kak Tama. Dia orangnya baik dan lucu. Aku sangat bahagia memiliki Kakak seperti Dia. Aku beruntung bisa bertemu dengannya." ucap Satria.
" Memangnya kamu nggak senang sama aku juga? Aku juga Kakakmu, lho."
" Tapi Kak Tama bilang, Kakak hanya Kakak pungut. Jadi kamu bukan kakak dekatku."
" Apa? Kakak pungut?!" tanya Khalid dengan marah.
" Kak Tama yang bilang padaku." jawab Satria.
Tama hanya tertawa melihat Khalid memerah wajahnya. Wajah Khalid yang selalu tampak ceria menjadi lucu saat dia sedang marah.
" Tama...kenapa tertawa?! Kenapa bilang aku kakak pungut?!"
" Hahaha..maaf, Kak. Aku hanya bercanda. Tapi memang benar, kan. Tapi aku tetap menganggapmu sebagai Kakakku. Jadi jangan marah-marah."
" Iya aku nemang bukan Kakak kandungmu. Tapi jangan bilang aku kakak pungut. Menyebalkan!"
" Kak Khalid, jangan marah pada Kak Tama. Aku yang salah. Aku yang bicara kalau Kakak itu Kakak pungut."
" Ya sudah.." ucap Khalid lalu lebih memilih diam.
Tak berapa lama, Novi datang dari Puncak Bukit. Ia menghampiri dua orang remaja yang sedang bersama anaknya. Awalnya ia hanya mengintip saja dibalik pohon. Setelah ia mengira kalu dua remaja yang bersama Satria adalah temannya, ia pun segera mendatanginya.
" Satria..darimana saja kamu? Ibu mencarimu, lho. Dan siapa mereka? Kenapa kamu membawa mereka kemari?"
" Maaf, Bu. Aku tadi sedang dalam perjalanan pulang. Lalu tiba-tiba dua orang ini mengikutiku. Aku pikir mereka berdua adalah orang jahat. Aku sempat berkelahi dengan mereka."
" Terus, kenapa kalian bisa akrab begini?"
__ADS_1
" Aku kalah, lalu kami saling berkenalan. Ternyata mereka adalah saudaraku, Ibu."
" Saudara?" ucap Novi penasaran.
" Iya Bibi. Aku saudara Satria. Aku Putra Ibu Rani dan Pak Tanu."
" Apa?! Kamu Tama putra dari mbak Rani?" ucap Novi terkejut.
Tama hanya mengangguk. Lalu Novi memeluknya dengan erat. Tama pun balas memeluk Novi. Tak terasa keduanya saling meneteskan air mata.
" Jadi kamu masih hidup, Tama? Bibi dengar kalau kamu sudah hilang. Semua orang telah mencarimu belasan tahun yang lalu tapi tak ketemu. Jadi kamu masih hidup, bagaimana kamu bisa tumbuh hingga sedewasa ini? Kamu juga ganteng, mirip Ayahmu. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu."
" Bibi tahu tidak, aku hidup menderita selama bertahun-tahun. Aku harus hidup sendiri. Tak ada teman, tak ada yang membantuku. Aku kesepian. Aku menangis sendirian. Setiap hari aku selalu menghibur diriku sendiri. Aku sakit, tak ada yang mengobatiku. Tapi aku senang, aku masih bisa hidup hingga sekarang. Aku punya mimpi yang harus aku gapai. Aku harus tumbuh besar dan menjalani hidupku hingga suatu saat, Tuhan memangilku dan kembali berkumpul dengan keluargaku."
" Tama...kasihan sekali kamu, Nak. Andai saja Bibi ada disini dan menemukanmu, pasti Bibi akan membawamu pergi dan merawatmu seperti anak Bibi sendiri. Syukurlah kita bisa bertemu. Lalu sekarang kamu tinggal dimana, dan siapa temanmu itu?"
" Tidak apa-apa, Bibi. Ini semua sudah takdir. Lagipula aku sudah tidak apa-apa. Dan sekarang dalam keadaan baik-baik saja. Oh iya, dia ini namanya Khalid. Aku bertemu dengannya ketika aku berumur tujuh tahun. Dia yang selama ini menemaniku. Berkat dia dan Kakeknya, aku bisa sekolah hingga sekarang."
" Jadi namamu Khalid. Terima kasih selama ini sudah membantu Tama. Kamu sangat berjasa bagi keluarga kami. Kamu tinggal dimana?"
" Iya, Bibi. Saya tidak melakukan apa-apa pada Tama. Selama ini dia berusaha sendiri. Saya hanya menemaninya saja. Sekarng kami tinggal di kontrakan dekat sekolah kami di Kota."
" Tapi tetap saja kamu penyelamat bagi keluarga kami. Oh, cukup jauh juga. Kalau begitu ayo kita singgah dulu ke rumah Bibi. Bibi sedang masak daging kelinci. Apa kalian mau?"
" Hahaha..Kakak tadi habis banyak mengeluarkan tenaga, Kakak harus makan banyak." ucap Satria.
" Hehe..walaupun banyak menguras tenaga, tapi aku nggak banyak makan, Satria. Cukup sekedarnya saja."
" Nggak usah malu-malu, Kak. Masakannya banyak, Kok. Kami berdua nggak mungkin bisa menghabiskannya."
" Yah..kita lihat saja nanti, Satria."
Novi pun segera berjalan menapaki bukit diikuti Satria, Khalid dan Tama dibelakangnya. Tama sangat menikmati perjalanannya menuju Puncak Bukit. Suasana yang hampir sama dengan Puncak Bukit Timur membuatnya merindukan tempat tinggalnya. Ia berniat akan mendatangi rumahnya dan kebunnya di Puncak Bukit setelah pulang dari rumah Satria.
" Ada apa, Tama? Sepertinya kamu senang sekali?" tanya Novi yang sejak tadi mencuri-curi pandang pada Tama yang berjalan mendahuluinya.
" Eh..iya aku senang sekali, Bi. Ditempat ini aku jadi merasa pulang ke rumah. Juga Suasananya dan suara burung yang berkicauan di sini membuatku teringat masa lalu."
" Kalau kamu bilang tempat ini sama, itu sudah pasti. Karena Bukit ini kembar. Orang tua Ibumu dan Suami Bibi memang sengaja membuat Puncak Bukit ini menjadi kembar. mereka adalah pecinta seni. Hingga tanah yang mereka miliki pun dibuat menjadi seni."
__ADS_1
" Aku tidak tahu, Bi. Sementara aku pun tidak tahu Orang tuaku menyukai seni atau tidak. Aku tidak pernah mengetahuinya."
" Wajar saja kalau kamu tidak tahu. Kamu ditinggal mereka saat kamu masih kecil."
" Tapi aku ingat kejadian walaupun aku masih kecil, Bi. Banyak sekali kenanganku dengan keluargaku yang masih aku ingat. Dan Aku juga tidak bisa melupakan kejadian dimana orang tua dan saudara-saudaraku dibantai. Aku bersumpah akan membalaskan dendam atas kematian orang tua dan saudaraku."
" Tama..kamu ingat kejadian itu? Jadi kamu melihatnya sendiri?"
" Mereka membunuhnya di depan mataku, Bi. Hatiku sakit jika mengingat kejadian itu. Sementara aku tak pernah bertemu mereka lagi. Bagaimana aku bisa membalaskan dendam keluargaku?"
" Tama..apa kamu nggak tahu siapa yang membunuh keluargamu?"
" Aku tidak tahu siapa orangnya, Bi. Jika dia masih hidup, aku akan membunuhnya jika bertemu dengannya."
" Yang membunuh keluargamu adalah Wijaya dan anak buahnya. Salah satu anak buahnya yang bibi tahu adalah Reza. Namun Bibi dengar dari beberapa warga yang berkunjung ke desa di bawah, Reza meninggal oleh temannya sendiri."
" Kenapa, Bi? Kenapa mereka membunuh temannya sendiri?"
" Yang Bibi tahu, Reza berkhianat pada Wijaya. Dan Wijaya menyuruh anak buahnya yang masih setia untuk membunuh Reza."
" Kenapa dia berkhianat, Bi? Apa karena bayarannya kurang?"
" Wijaya bermaksud merebut Desa Lereng Bukit. Ia menyuruh Reza untuk merebutnya. Tapi Reza menolak. Karena Dia adalah penduduk Desa itu. Namun Wijaya tetap ingin merebut Desa itu meskipun Reza menolak keinginan Bosnya.
Wijaya pun menyuruh anak buahnya yang lain untuk mengambil paksa Desa itu. Dan Reza, mau tidak mau harus melawan temannya sendiri dibantu sebagian Pemuda warga Desa. Namun mereka kalah. Anak buah Wijaya berhasil merebut Desa itu dan membakar semua rumah Warga.
Sekarang Desa itu sudah tidak ada. Dan hanya menyisakan tanah yang hitam karena abu yang menumpuk, sisa dari bara api rumah-rumah Warga."
" Jadi Reza itu sudah mati. Padahal dia salah satu yang membunuh keluargaku. Sayang sekali aku tidak bisa membunuhnya."
" Tama..kenapa kamu masih menyimpan dendam masa lalu. Siapa yang mengajarimu? Suami Bibi juga meninggal karena perbuatan orang yang sama, tapi Bibi sudah mengikhlaskannya. Bibi tidak bisa berbuat apa-apa. Kini Wijaya adalah seorang Pemimpin Penjahat kelas atas yang disegani. Polisi saja tunduk padanya. Hukum di negara ini seakan tidak berarti. Pembunuhan, perampokan dan tindakan kriminal terjadi dimana-mana. Ini semua karena ulah Wijaya. Dia lah penyebab kerusuhan yang terjadi di negeri ini."
" Bibi.. Aku sempat mendapatkan bisikan yang menyuruhku untuk membalaskan dendam keluargaku. Dia mengharuskanku untuk menjadi kuat agar aku bisa menghabisi pembunuh keluargaku. Aku pun menuruti bisikan itu. Kini aku harus terus berlatih agar aku semakin kuat, Bi. Dan sekarang Bibi malah cerita kalau hukum di negeri ini tidak berarti karena ada penjahat di dalamnya. Aku menjadi semangat untuk meruntuhkan penguasanya."
" Aku akan mendukungmu, Tama. Ajak Satria untuk bergabung. Carilah teman yang mau membantu kalian. Jangan meminta bantuan polisi karena Polisi bisa saja jadi mata-matanya Wijaya."
" Terima kasih, Bi. Aku memang sangat membutuhkan kekuatan lain selain diriku. Kini aku sudah mempunyai Satria yang punya ilmu yang sangat hebat."
" Sama-sama, Tama. Kalau begitu ayo kita teruskan perjalanan kita. Bibi malah lupa, keasyikan bicara malah membuat kita tidak segera kembali ke rumah."
__ADS_1
" Kalau begitu ayo, Bi. Aku sudah sangat lapar." ucap Tama lalu segera berdiri kemudian berjalan diikuti Novi di sampingnya.
......................