
Empat bulan berlalu, banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi dengan beberapa tokoh yang ada dalam cerita ini. Rika dan Bono, Wira dan Novi, Bara dan Santi, mereka akhirnya telah melaksanakan pernikahan mereka secara bersama-sama. Novi, Rika dan Santi pun telah hamil dan sudah memasuki usia empat bulan.
Sementara Tanu dan Rani memiliki kebahagaiaannya sendiri karena Rani telah melahirkan anak ke lima mereka yang diberi nama Rama.
Pada hari minggu pagi, Rani menelpon Arti. Dia dahulu adalah asisten rumah tangga Rani yang kebetulan izin pulang untuk merawat Ayahnya yang sudah lama menderita strok. Semenjak Ibunya meninggal, Arti menjadi anak yang paling utama dalam merawat Ayahnya. Adik-adiknya pergi merantau dan tak pernah kembali ke rumah. Mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka yang tak pernah ada habisnya. Namun, mereka tidak melupakan Orang tuanya. Seminggu sekali mereka menelpon Orang tua mereka, dan sebulan sekali mereka mengirimkan uang untuk orang tuanya melalui Arti.
Kini Ayah Arti pun telah meninggal dunia, Adik-adiknya sudah jarang mengirimkan uang, karena di perantauan hidup mereka juga pas-pasan. Arti harus bersusah payah untuk menghidupi keluarga kecilnya. Suaminya yang bekerja sebagai buruh tenaga bangunan, hanya cukup untuk makan saja. Terkadang banyak sekali orang mengadakan pesta yang memaksa Arti untuk memberikan sumbangan pada orang yang mempunyai hajatan. Namun menjadi buruh tenaga bangunan tidak selamanya memberikan kesejahteraan. Jika tak ada pemborong atau tukang yang mengajaknya bekerja, Suami Arti tidak bekerja. Terkadang untuk makan saja dia harus berhutang pada tetangganya. Dan akan dibayar saat suaminya bekerja dan mendapatkan gajinya. Seiring berjalannya waktu, suami Arti tak mampu membayar hutang-hutangnya. Rumahnya disita karena sudah terlalu banyak hutang dan bunga yang tidak sanggup ia bayarkan.
Rumah kecil peninggalan satu-satunya orang tua Arti, kini telah menjadi milik orang lain. Dan akhirnya ada orang lain yang datang ke rumah Arti dan ingin sekali membelinya. Rumah itu dibeli dengan harga murah, karena letaknya yang terlalu jauh dari tempat umum.
Arti pun pasrah, Hasil penjualan rumah hanya cukup untuk melunasi hutang-hutangnya saja. Arti tak menerima uang sepeserpun dari pembeli karena uang hasil pembelian diberikan langsung pada pihak yang telah menyita rumahnya.
Arti tak punya tempat tinggal lagi, ia terpaksa membawa anaknya mengungsi di tempat tetangganya. Wajah Arti yang cukup manis membuat sang pemilik rumah menyukainya. Ia bahkan sering menggoda Arti saat istrinya bekerja.
Namun Arti hanya pasrah, karena Sang pemilik rumah menggodanya secara biasa saja. Namun selang beberapa hari, Laki-laki pemilik rumah itu semakin nekad menggoda Arti. Dia memeluknya dari belakang dan meremas buah dadanya. Arti menjerit, lalu keluar rumah. Dia kemudian membawa anaknya pergi dari rumah tetangganya.
Suatu hari, dia menceritakan kejadian yang dialaminya kepada suaminya. Suami Arti pun murka, dia mendatangi Laki-laki pemilik rumah dan mencoba menghajarnya. Dengan membawa pedang panjang , dia menghunuskan pedangnya ke dada sebelah kiri Laki-laki pemilik rumah.
Saat kejadian, Istri pemilik rumah memergoki perbuatannya. Suami Arti pun berlari keluar. Tanpa arah dan tujuan, suami Arti terus berlari. Sampai di perempatan jalan, tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, Suami Arti terus berlari menyeberangi perempatan jalan. Ketika sampai ditengah, melaju mobil putih yang dikendarai seorang remaja berumur tujuh belas tahun. Karena mobil melaju terlalu kencang, ia tak mampu untuk menghentikan mobilnya ketika suami Arti berada tepat di depannya. Dan akhirnya suami Arti pun tertabrak dan meninggal di tempat.
Hingga proses pemakaman Suami Arti dan laki-laki pemilik rumah, Arti menjalani proses interogasi oleh pihak kepolisian.
Dan beruntung, dia dinyatakan tidak bersalah. Arti bebas dari tuduhan pembunuhan pemilik rumah. Namun dia sudah tak diizinkan lagi tinggal dirumah tetangganya itu. Dia terpaksa tidur di serambi masjid, karena sudah tak ada tetangga satupun yang mau memberikannya tempat tinggal.
Selang satu hari, Arti didatangi orang tua remaja yang telah menabrak suaminya. Sambil meminta maaf, orang tua remaja itu memberikan uang tanda duka kepada Arti sebesar lima juta. Dan akan memberikan jaminan pendidikan pada anak Arti yang saat ini berusia lima tahun.
Dengan modal hasil uang duka itu, Rika mengontrak sebuah rumah kecil. Setiap bulan dia harus membayar satu juta rupiah untuk beaya kontraknya. Sisanya ia gunakan untuk makan. Dalam sebulan, pengeluaran Arti membengkak, sisa hasil uang duka yang ia gunakan untuk modal menjual sayuran, habis tak tersisa. Sayuran yang ia jual tak laku. Dia pun malah mengalami kerugian yang cukup besar.
Dia kemudian merasa hidupnya seperti berat, Sudah satu bulan dia mengontrak rumah dan sudah membayarnya. Jika dia masih ingin tinggal di kontrakannya, setiap awal bulan dia harus memperpanjang kontraknya dengan membayar satu juta lagi. Namun Arti sudah tak menyimpan uang sepeserpun.
Namun keberuntungan berada dipihaknya. Dia tak pernah menyangka, dia masih memiliki Hp. Dia memegangi erat Hpnya lalu berdoa kepada Tuhan sambil menangis.
Tak berselang lama, dia mendapatkan telpon dari Rani.
__ADS_1
" Halo.. Arti.." Sapa Rani dalam telpon.
" Ibu, Bu Rani.." Arti menjawab telpon Rani sembari menangis.
" Arti.. Ada apa? Kenapa kamu menangis? Ceritakan kepadaku?"
" Ceritanya sangat panjang Bu. Arti saat ini sangat membutuhkan bantuan Bu Rani."
" Tak perlu sungkan-sungkan Arti, katakan saja apa yang kamu butuhkan?"
" Bu, saat ini Arti sudah tak memiliki siapa-siapa, dan saya sudah tak memiliki apa-apa lagi Bu. Ayah dan Ibu saya sudah tak ada, adik-adik saya semua tak pernah memberi kabar lagi. Suami saya meninggal, dan rumah saya disita dan dibeli orang Bu. Saya sudah tak memiliki apa-apa. Uang hasil penjualan rumah hanya mampu untuk membayar hutang."
" Ya tuhan, kenapa jadi seperti itu hidupmu Ti. Terus sekarang kamu tinggal dimana?"
" Saya mengontrak Bu, namun sehari lagi kontrakan saya sudah habis. Jika kami masih ingin tinggal disini, kami harus bayar lagi satu juta. Tapi kami sudah tak memiliki uang seratus rupiah pun."
" Ya Tuhan, kasihan sekali kamu Ti. Lalu bagaimana dengan anakmu Khalid? Apa dia baik-baik saja? Terjamin tidak makanannya?"
" Alhamdulillah Bu, walaupun saya kesusahan, saya lebih rela kelaparan daripada membiarkan anak saya tak dapat makan. Dia sekarang sehat-sehat saja Bu."
" Eh, maaf buk. Kalau boleh saya meminta waktu sampai seratus hari suami saya boleh tidak? Saya masih merasa berduka atas meninggalnya suami saya. Saya sangat menyayanginya. Tapi takdir memisahkan kami." Ucap Arti dan kembali menangis meratapi kesusahannya.
" Oh, jadi begitu Ti. Boleh, tapi bagaimana dengan kontrakan kamu? Katanya sudah habis?"
" Iya Bu, saya akan meminta tengang waktu agar masih bisa mengontrak disini lagi. Namun saya masih bingung. Bagaimana saya harus membayar kontrakan yang sampai seratus hari ke depan."
" Ti, apa kamu masih mempunyai no rekening tabungan bank? Kalau masih, kirimkan aku nomer rekeningmu. Nanti akan aku transfer."
" Eh, terimakasih Bu. Tapi saya tidak hapal nomernya. Nanti coba saya carikan bukunya. Mudah-mudahan saya masih menyimpannya."
" Mudah-mudahan saja Ti. Kamu masih mempunyai pulsa Ti?"
" Hp saya tak pernah saya isikan pulsa Bu. Sudah tak mampu mengurus Hp. lebih baik buat beli lauk untuk Khalid, Bu."
__ADS_1
" Ya ampun Arti, aku sedih mendengar bicaramu. Andai saja aku tak sibuk dengan anak dan keluargaku, mungkin aku bisa menghubungimu setiap waktu Ti. Jadi aku selalu tahu tentang keadaanmu."
" Tidak apa-apa Bu. Yang penting sekarang Bu Rani sudah tahu keadaan saya. Tapi maaf, saya hanya memberitahukan keadaan saya yang buruk."
" Saya menyesal Ti. Sebentar aku akan mengirimimu pulsa Ti."
" Baik Bu, terimakasih banyak."
Rani mulai mengirimi pulsa kepada Arti. Dia memberikannya pulsa sebesar seratus ribu ke Hpnya.
" Sudah masuk Ti?"
" Sudah Bu, tapi ini terlalu banyak. Saya untuk apa punya banyak pulsa Bu. Saya ini jarang sekali bermain Hp. Sms atau telpon pun saya tidak pernah lagi."
" Nggak apa-apa Arti, itu untuk jaga-jaga sampai kamu datang kemari. Aku merindukan kebersamaan keluargaku saat kamu disini, Arti."
" Hehe, saya juga rindu dengan keluarga Ibu. Saya juga merindukan anak-anak Ibu, terutama Tama. Sekarang sudah umur berapa ya Bu?"
" Sudah hampir dua tahun Ti . Dia sekarang sudah pintar, Sudah bisa meniru gaya Ibunya memasak. Kadang bantu aku membuat roti juga. Anaknya lucu, kuat. Tidak mudah menangis meskipun jatuh sampai berdarah. Pokoknya Tama itu mengasyikkan. Datanglah kemari Arti, kamu akan tahu kelucuannya."
" Hehe, sudah besar ya Bu. Padahal seingat saya, saya meninggalkan rumah Ibu baru beberapa bulan saja."
" Itu lah Ti, Waktu itu cepat berlalu. Aku sudah tak muda lagi. Saatnya yang muda yang bangkit. Hehe.."
" Iya Bu, saya juga sudah merasa bukan bocah lagi. Saya akan semakin tua dengan bertambahnya usia saya."
" Hehe.. Ya sudah, kalau begitu sudah dulu ya Ti. Anakku bangun. Dia butuh minum susu. Aku mau nyusui anakku dulu ya."
" Iya Bu, Terima kasih ya Bu. Saya menjadi tertolong berkat Ibu."
" Iya Ti, Ya sudah aku tutup dulu ya Ti. Asaalamualaikum.."
" Waalaikumsalam Bu."
__ADS_1
Setelah menerima telpon dari Rani, Arti seperti mendapatkan angin segar. Akhirnya ada orang yang bisa meringankan kesusahannya. Arti kemudian bersujud sambil menangis. Khalid yang sejak tadi bermain dengan robot-robot pemberian tetangganya hanya bisa melihat wajah Ibunya dengan tatapan kosong. Dia tahu Ibunya menangis, namun dia tak tahu apa yang telah membuatnya menangis.
......................