SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Selamat Tinggal, Tama


__ADS_3

Ketika Tama terbangun dari tidurnya, Tama seperti bocah kesurupan. Ia berteriak-berteriak meminta tolong. Matanya tak bisa melihat apa-apa karena seluruh ruangannya gelap. Ia lupa jika lampu penerangan rumahnya padam.


Ia berusaha berjalan merayap, mencari sesuatu untuk pegangan. Tak berapa lama, ia mememukan sapu lidi, lalu ia gunakan untuk penunjuk jalan.


" Ayah.. Ibu.. Hidupkan lampunya. Ayah.. ibu.." ucap Tama.


Sebenarnya ia tahu, Ayah dan Ibunya sudah tiada. Tapi untuk menenangkan hatinya ia mencoba dengan memanggil orang tuanya. Dia berharap usahanya mendatangkan pertolongan.


Namun berkali-kali ia memanggil kedua orang tuanya, tak ada siapapun yang menyahut. Lampu di dalam rumahnya juga tak pernah hidup.


Tama mulai merasa ketakutan, tubuhnya gemetaran. Lampu di rumah rahasianya itu adalah satu-satunya yang menerangi rumahnya. Ia tak tahu harus meminta tolong pada siapa. Ia berjalan dengan perlahan. Mencoba mengingat kemana arah pintu keluar. Setelah ia mecoba, ia meraih gagang pintu lalu menariknya.


" Ah..sudah gelap. Di luar rumah malah terlihat terang daripada didalam. Apa aku sebaiknya tidur diluar?" gumam Tama.


Ia pun nekad duduk di depan pintu rumahnya, dengan berbekal bantal kecil yang ia gunakan saat tidur.


Namun semakin lama ia berada di luar, nyamuk-nyamuk semakin banyak mendekatinya. Tubuhnya yang tak mengenakan busana apapun menjadi gatal-gatal.


Berkali-kali ia disibukkan dengan ulah nyamuk yang terus menggigitnya. Ia berusaha memukul nyamuk-nyamuk itu dengan bantalnya. Namun berulang kali ia memukul, nyamuk-nyamuk itu seperti tak jera. Mereka terus mendekat dan mengeroyok tubuh Tama yang tak memakai kain apapun.


Hingga beberapa jam lamanya berada diluar, Tama merasa letih mengurus nyamuk yang tak ada habisnya. Sesekali ia tertawa, sesekali ia menangis merasakan nasibnya yang sendiri.


Pada akhirnya dia menyerah berada diluar. Tubuhnya semakin lama semakin lemas karena ia tak makan dari pagi. Hanya satu buah mangga kecil untuk mengganjal perutnya, tak mampu untuk mencukupi energinya. Tama mencoba berdiri dan membuka pintu. Lalu ia masuk dan duduk di atas sofa. Ia merasa lebih nyaman berada di dalam rumah. Tubuhnya menjadi hangat, namun gatal-gatal yang hinggap di sekujur tubuhnya masih terasa.


Sembari berbaring, Tama sesekali menggaruk-garuk tubuhnya. Tak lama kemudian dia tertidur dengan pulas meskipun perutnya kosong. Keletihan yang ia rasakan mampu mengalahkan rasa lapar yang luar biasa.

__ADS_1


...----------------...


Dalam mimpi, Tama bertemu dengan keluarganya. Semua keluarganya berkumpul di sebuah tempat yang indah. Mereka semua menyapa Tama.


" Tama..bagaimana kabarmu?" sapa Bulan sambil tersenyum manis.


" Tama..apa kau baik-baik saja, disana? Maafkan kami, kami semua meninggalkanmu seorang diri. Meskipun ini bukan kemauan kami, namun kami merasa sangat bahagia, disini tempat yang sangat membuat kami nyaman." ucap Tanu sembari memeluk Rani.


" Tama.. Aku dan Raka, juga senang disini. Disini tempatnya sangat indah. Lebih indah seperti saat kita berkunjung bersama ke Puncak Bukit. Tapi, sayangnya disini kurang lengkap tanpa ada kamu. Kami sangat merindukanmu, Tama." ucap Riko.


" Tama.. Kau baik-baik disana ya. Kami akan selalu menunggumu. Menunggu kita berkumpul seperti dulu lagi. Jaga dirimu baik-baik. Jika kau mengalami kesulitan dalam hidupmu, jangan lupa berdoa pada Tuhan. Dia pasti mendengar doamu." ucap Rani sembari menggendong Rama.


" Ayah, Ibu, Kakak.. Rama..aku juga rindu bertemu kalian. Aku tak punya siapa-siapa selain kalian. Aku kesepian." keluh Tama.


" Tama, kau adalah Putraku satu-satunya yang bisa kami banggakan. Berjuanglah, Nak.. Kami akan selalu mendukungmu. Tumbuhlah menjadi anak yang baik. Jangan menyerah dengan keadaanmu yang sekarang. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Aku yakin, kau adalah anak yang cerdas dan pintar. Kau akan selalu bisa mengatasi kesulitanmu. Latihlah pikiranmu, agar kau selalu menemukan kemudahan dalam setiap langkahmu." ucap Tanu dengan nada yang lembut.


" Dengarkan Ayah.. Kau adalah anak laki-laki Ayah yang terpilih. Kelak kau akan menjadi orang yang hebat. Kau itu mewarisi ilmu yang besar dari Kakekmu. Kelak kau akan menyadari bahwa di dalam dirimu terdapat sesuatu yang mampu membuatmu menjadi hebat.


Gunakan kehebatanmu untuk menumpas kejahatan di negeri ini."


" Baik, Ayah..aku mengerti. Aku akan tetap hidup untuk membalaskan dendam kepada penjahat yang telah melukai kalian, hingga membuatku menjadi hidup sendirian."


" Tama.. Jangan menaruh dendam dihatimu. Itu malah akan membuatmu menjadi lemah. Kau mudah untuk dijatuhkan. Hilangkan amarahmu. Buang dan jangan pernah kau biarkan dia hinggap di hidupmu.


Jika kau tak bisa menyingkirkannya, kau harus bisa mengendalikan dirimu agar jangan sampai kau termakan oleh dendammu, yang malah justru akan merugikanmu.

__ADS_1


Jadilah anak yang penyabar, sayangku. Ibu tak suka kamu menjadi anak yang di rundung dendam. Biarlah..biarkan saja mereka membuang kami dari dunia. Lagipula, disinilah seharusnya kita berada. Di dunia kami yang baru, adalah tempat yang tenang. Kelak kau pasti akan menyukai tempat ini." ucap Rani sembari tersenyum.


" Ibu.. Aku sangat merindukanmu. Apa kau tahu, aku pernah sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku juga belum makan, perutku lapar. Aku juga tak punya baju, Ibu. Semua pakaianku, mainanku dan foto, juga gambar yang aku lukis tentang keluarga kita terbakar. Aku tak memiliki apa-apa Ibu. Apa aku boleh pergi ke tempat kalian?" ucap Tama sembari menangis.


" Iya.. Ibu tahu keadaanmu, Tama. Ibu mengerti derita yang kau alami. Tapi Ibu juga semua yang ada disini tak bisa berbuat apa-apa. Kamu yang sabar ya, Nak. Ibu yakin, kamu pasti akan mampu keluar dari penderitaanmu itu. Ibu percaya padamu." kembali Rani menasehati Tama yang masih tampak murung.


" Baik, Ibu. Tama janji akan berusaha. Maafkan Tama yang cengeng." ucap Tama sembari mengusap air matanya.


" Kalau begitu, kami semua pamit. Jaga dirimu baik-baik. Ingat kata Ibu, jangan hidup dengan penuh dendam. Jadilah anak yang baik, yang beguna bagi semua. Jangan lupa tentang apa yang pernah Ibu ajarkan padamu setiap hari. Ibu yakin kau adalah pengingat yang baik. Sudah ya..waktu kami tak banyak. Saat kau bangun, tersenyumlah. Dan tatap mentari pagi dengan penuh keceriaan. Temukan apa yang ada disekitarmu. Ibu yakin kau akan menemukan sesuatu yang berharga untuk hidupmu." ucap Rani di akhir katanya.


Lalu semua melambaikan tangan kepada Tama.


" Selamat tinggal, Tama." ucap Tanu, Rani, Riko dan Raka, Bulan dan tak lupa Rama yang masih dengan wajah imutnya melambaikan kedua tangannya ke arah Tama.


Tak lama kemudian sosok mereka dalam mimpi Tama menghilang. Tama memanggilnya berulang kali, namun mereka tak menampakkan wajah mereka lagi. Tama menjadi panik hingga dia berusaha berlari mengejarnya. Hingga akhirnya dia terjatuh dari sofa tempatnya tidur.


" Brukkk.." Tama terjatuh.


" Aduhhh.." keluh Tama lalu berusaha bangun lalu meraih sofa dan mencoba untuk duduk.


" Apa aku bermimpi? Ayah, Ibu, Kakak, Rama..aku senang bertemu kalian. Kalian mengobati rasa rinduku. Ibu.. Ayah, aku ingat pesan kalian. Aku akan mencoba untuk menjadi seperti apa yang kalian minta. Tunggu aku, Ayah.. Ibu. Aku pasti akan menyusul kalian ke tempat yang kalian katakan kepadaku." ucap Tama lalu turun dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar.


Ternyata hari sudah pagi. Sinar mentari merasuki sela-sela pepohonan di sekitar Bukit. Tak lupa, suara burung-burung yang indah mewarnai keindahan suasana dipagi itu.


" Ibu, lihatlah..aku memenuhi nasehat Ibu untuk tersenyum di pagi ini. Terima kasih telah memberiku semangat." ucap Tama lalu ia berlari-lari kecil di sekitaran depan rumah rahasianya sembari tertawa riang sendiri.

__ADS_1


......................


__ADS_2