SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
DI TOLAK


__ADS_3

Suara ledakan keras disertai asap tebal yang mengepul menyelimuti di tengah-tengah warga.


Banyak Warga menduga Reza telah tewas, namun saat kepulan asap perlahan menghilang, tampak sosok Reza yang terduduk jongkok menutupi kedua telinganya, hingga kepalanya terbenam diantara kedua lututnya.


" Reza! Reza!" Teriak para warga lalu berlari menghampirinya.


" A, apakah aku masih hidup?" Ucap Reza dengan wajah yang pucat dan seluruh tubuhnya gemetaran.


" Kamu masih hidup Za. Kamu hebat, serangan orang asing itu tak melukaimu sedikitpun." Ucap Ketua pemuda dengan rasa bangga pada Reza.


" Tidak, aku tidak hebat ketua. Dia tidak mengenaiku. Dia menyerang dua meter tepat disampingku. Aku memang tidak apa-apa. Namun suaranya cukup membuatku lemas. Energiku seperti menghilang."


" Orang semprul! Darimana dia mendapatkan ilmu itu? Padahal menurutku kamu sudah hebat Za, tapi kenapa dia bisa melampauimu." Ucap Ketua pemuda keheranan.


" Mas Reza, kamu tidak apa-apa?" Tanya Rika, lalu memeriksa keadaan Reza.


" Aku tak apa-apa, Rika. Hanya sedikit lemas. Sepertinya tenagaku terkuras habis."


" Kalian, minggirlah! Biarkan aku menghabisi pemuda sombong tak berguna ini! Rika! menyingkirlah!" Bono berteriak pada Rika dan warga yang ikut berkerumun melihat kondisi Reza.


" Kamu! Apa tidak pernah diajarkan rasa belas kasihan dari gurumu? Dia sudah tak berdaya, kamu masih mau melawannya?" Rika membela Reza yang sudah tak sanggup lagi bertarung.


" Hahaha.. Dia sendiri yang mengharapkan diriku mati, jika aku jadi dirinya apa aku akan diperlakukan sama dengannya?"


" Kau tak pantas dikasihani seperti dia. Reza sangat berjasa di desa ini, sedangkan kau hanya pengacau dan pantas untuk mati." Ucap ketua pemuda.


" Kurang ajar! Kemarilah kalau kau ingin segera melihat neraka! Maju!" Bono tersulut emosinya mendengar kata ketua pemuda.


" Bono! Sudah, hentikan! Sudah cukup kamu melukai warga. Kebaikan apapun yang ingin kau lakukan, mereka sudah tak percaya lagi denganmu. Pergilah dan kangan ganggu kami!" Rika menegur Bono sambil menangis.


" Rika, kamulah alasan satu-satunya aku berubah. Aku ingin hidup bersamamu sampai akhir hayatku. Aku ingin membahagiakanmu."


" Aku hargai jika kamu memang berkeinginan untuk berubah. Berubahlah karena dirimu sendiri. Jangan jadikan aku sebagai alasan untuk kamu berubah." Ucap Rika sambil mendekati Bono.


" Rika, aku mencintaimu. Dan aku sudah mempersiapkan segalanya untukmu. Aku akan membeli tanah di puncak bukit, untuk kita tinggali. Aku janji akan mengatasnamakan tanah itu untukmu."


" Bono, aku sudah cukup senang hidup di desa ini. Di desa kecil ini aku selalu merasakan kebahagiaan. Aku tak butuh kebahagiaan yang lain."


Bono menunduk mendengar kata-kata Rika. Perlahan tak terasa, dia meneteskan air mata di mata, sebelah kirinya.


" Bono, maafkan aku." Ucap Rika lalu berjalan mundur, lalu berlari pulang ke rumahnya.


" Hei pemuda asing! Sebaiknya kau pulang, urungkan niatmu untuk menikahi gadis itu. Dia sudah ada yang memiliki, jangan rusak kebahagiaannya." Ucap salah satu warga.


Bono pun tak bisa melakukan sesuatu apapun. Dia kemudian pergi meninggalkan desa tanpa sepatah katapun. Namun dalam hati dan pikirannya, banyak sekali kata-kata yang ingin dia ucapkan pada Rika. Dia ingin sekali membuat Rika percaya dan menerima lamarannya. Tetapi Warga sudah tak senang dengannya. Jika berurusan dengan warga, Bono takut Rika akan semakin membencinya.


Dalam perjalanan, Bono merasa dadanya sesak. Banyak pikiran yang tak tersampaikan hingga membuatnya gelisah.


" Haaahh.." Bono menghela nafas.

__ADS_1


" Aku harus pergi kemana, Wijaya benar. Aku tidak punya siapa-siapa. Kemana aku akan pulang. Sementara dari dulu, rumahku hanyalah markas Rendra dan rumah Wijaya. Aku tak punya rumah sendiri. Akhhh.." Tiba-tiba saja Bono merasa kepalanya pusing lalu menghentikan mobilnya. Lalu menepikan mobilnya.


" Sepertinya aku kurang tidur, akhh.. kepalaku sakit sekali. Baiklah aku akan tidur sebentar, siapa tahu sakit kepalaku bisa hilang."


Selang beberapa menit, Bonopun tertidur. Perjalanan yang dia lalui semenjak berurusan dengan Rendra membuatnya merasakan sangat lelah. Tidurpun, tak pernah terpikirkan olehnya karena tak merasakan kantuk sedikitpun.


Sementara di desa lereng bukit barat, Reza yang tadinya lemas, setelah Bono meninggalkan desa kembali merasa tubuhnya segar kembali.


" Apa dia sudah pergi?" Tanya Reza pada ketua pemuda.


" Aku rasa sudah, dia takkan mungkin kembali lagi menurutku setelah banyak warga yang tak menginginkannya tinggal disini." Ucap ketua pemuda.


" Haha, pantas saja ilmuku sudah tak bereaksi. Ternyata dia sudah pergi." Ucap Reza sambil tertawa.


" Maksudmu? Apa yang kamu tertawakan Za?" Ketua pemuda merasa heran dengan kata-kata Reza.


" Aku tadi berhasil menggunakan dua jurus andalanku. Ya, aku mampu menguasai jurus itu ketua. Hahaha.. Terima kasih Guru Wira, aku berhasil mengusir pemuda asing pengacau desa ini dari sini. Hahaha.."


" Reza, apa jurus yang kau gunakan? Aku sama sekali tak mengerti. Kau tak menyerang dia sama sekali. Kau bilang kau menggunakan dua jurus. Sejak kapan kau menggunakannya?" Ketua pemuda semakin terheran-heran dan penasaran dengan kemampuan Reza.


" Aku tadi mampu menahan serangannya, dan mengalihkan serangan itu ke arah samping. Dan di saat kepulan asap mulai menipis, aku nenggunakan jurus ilmu pengasihan yang aku pelajari sendiri saat aku berdiam diri di gunung salamat, yang terletak di pusat pulau. Dari tempat itu aku mencari cara untuk menaklukkan musuh tanpa perlawanan. Setelah beberapa minggu, aku berhasil menemukan caranya. Hahaha. "


" Za, jurusmu itu tak mampu mengalahkannya. Bahkan dia saja masih ingin menyerangmu kembali. Lalu apa yang kau hebatkan dari jurusmu itu?" Tanya ketua pemuda.


" Ketua, apa kau meremehkan kekuatanku? Ketahuilah, aku yakin dia sekarang sedang tersesat dan kebingungan. Karena dia terkena ilmuku. Dan mungkin dalam waktu tiga minggu, dia akan jadi orang gila karena kehilangan akal sehatnya. Hahaha.." Reza menampakkan kesombongannya di depan para warga, walaupun hal yang dia lakukan hanyalah untuk menarik simpati Warga.


Mungkin sebagian orang tahu, Bono tidak menyerang Reza dengan sungguh-sungguh. Bono sengaja menyerang titik kosong hanya untuk memperingatkan atas kesombongan Reza. Namun apa yang dilakukan Bono, membuat keuntungan sendiri bagi Reza. Dari seluruh penduduk desa, sebagian besar terkagum-kagum dengan keuatan Reza yang luar biasa. Mereka semakin mendekati Reza, untuk mencari keuntungan juga dari Reza.


" Rika, kenapa kau menangisi Pemuda asing itu? Apa kau menyukainya?"


" Mas Reza, aku tidak pernah menyukai dia. Aku hanya ingin kampung halamanku aman, tentram seperti dahulu."


" Tapi aku tak suka kamu menangis untuknya, apa ada yang kau sembunyikan dariku?"


" Tidak ada mas, aku menangis agar dia mau berbelas kasihan dan mendengar ucapanku sehingga dia menyerah untuk menggangguku dan desa ini."


" Nak Reza, apa yang dikatakan Rika itu benar. Dia tidak pernah menyukainya. Dia menangis, juga karena trauma dengan pemuda itu. Dahulu dia ingin memperkosanya." Kakek Rika ikut membantu Rika bicara.


" Oh, jadi begitu kek. Bejat sekali orang itu. Kalau dia berani datang kemari lagi, aku akan beri perhitungan dengannya." Ucap Reza sembari mengepalkan kedua tangannya diatas meja.


" Sudahlah Nak Reza, tak perlu lagi kamu mencari gara-gara dengannya. Dia sangat berbahaya, dia juga mempunyai teman yang juga sangat berbahaya. Ilmu temannya, jauh diatas pemuda asing itu." Kakek Rika mencoba melarang Reza memancing emosi Bono.


" Kenapa memangnya Kek, apa kakek tidak tahu, aku berhasil mengusir dia. Aku yakin dia sedang kebingungan dengan dirinya. Dalam tiga minggu aku pastikan dia sudah menjadi orang gila. Hahaha.."


" Nak Reza, aku rasa dia bukan orang yang mudah dikalahkan. Dia sangat kuat, tak mungkin anda bisa membuatnya pergi tanpa melalukan sesuatu apapun."


" Kek! Kamu memujinya sama saja kamu meremehkanku! Apa kamu mau ku buat jadi gila?" Reza tersinggung dengan kata-kata Kakek Rika, dia membentaknya dan mengancamnya."


" Mas Reza! Kenapa kamu kasar pada kakekku? Dia sudah tua, dia bilang begitu karena untuk keselamatan dirimu. Jangan kau buat hatinya sakit." Ucap Rika menegur Reza yang telah membentak kakeknya.

__ADS_1


" Akhhh! Cucu sama kakek sama saja! Tak ada satu katapun yang mendukungku!" Sambil menggebrak meja, Reza berjalan keluar sambil menggerutu dan mengomel tak jelas karena Rika dan kakeknya.


" Kek, apa orang seperti itu yang akan menjadi jodoh Rika? Rika nggak mau kek. Dia sombong, lebih baik Rika menjadi istri Bono daripada orang sombong seperti dia."


" Rika, kita tidak tahu sifat seseorang. Siapa tahu Reza kesal karena kita yang tak mendukungnya. Mungkin dia cemburu padamu."


" Kek, Rika sudah bilang padanya kalau Rika nggak ada hubungan apa-apa dengan Bono. Walaupun Rika sempat tertarik pada Bono."


" Rika, katakan sejujurnya pada kakek, apa kau masih menyukai Bono?"


" Kek, aku menyukai Bono saat awal bertemu. Tapi aku nggak tahu kalau dia orang jahat. Tapi setelah dia mengaku akan berubah dan melamar Rika, Rika menjadi bingung, Kek."


" Kakek sebenarnya tahu niat hati pemuda itu. Kakek melihatnya dia mengucapkan kata yang tulus. Sayang sekali, Reza lebih dulu melamarmu."


" Walaupun dia sudah melamar Rika, tapi Rika bisa saja kan, membatalkan pernikahan Rika dengannya?"


" Itu tidak mungkin, Rika. Kita sudah sepakat, dan Pak Wira mengetahui hal itu. Aku khawatir Pak Wira akan marah dan membuat perhitungan dengan kita. Kamu tahu sendiri kan Rika, rumah kita ini sudah sebagus ini, siapa yang bisa membuatnya jika bukan karena beliau. Sepertinya kau memang harus berjodoh dengan Reza. Itu sudah keputusan final, Rika."


" Tapi Rika nggak mau kek. Batalkan saja pernikahan kami kek. Tolonglah Rika, selamatkan Rika kek." Rika merengek meminta pernikahannya dibatalkan.


" Maafkan kakek Rika, Kakek tak sanggup untuk melakukannya."


" Kalau begitu biar Rika saja yang bicara pada Pak Wira, atau pada mas Reza saja sekalian."


" Jangan Rika, sangat berbahaya bagimu jika kamu bilang sendiri kepadanya. Baiklah, kalau begitu nanti malam Kakek akan bicara pada Reza. Kakek akan meminta pada Reza untuk bicara pada Pak Wira.


" Kenapa Kakek nggak bicara langsung pada Pak Wira? Sudah lihat kan kelakuan mas Reza tadi. Rika khawatir Kakek akan dibentak, dan Kakek sakit lagi."


" Tidak Rika, Kakek tidak berani berkata langsung pada Pak Wira. Kakek malu. Jika Pak Wira sampai murka, rumah kita akan dihancurkannya. Kita mau tinggal dimana Rika?"


" Kek, terus kita harus bagaimana? Huhuhu.." Rika menangis meratapi nasibnya. Ditinggal orang tuanya sementara dia kini hidup dengan Kakeknya yang sudah tua. Rika tak mempunyai daya dan upaya untuk membatalkan pernikahan mereka.


Kakek Rika merangkul cucunya lalu mengelus-elus rambutnya yang indah. Dia pun menangis meratapi nasib Rika. Sejak kecil sudah ditinggalkan orang tuanya. Dan kini Kakek Rika lah yang mencukupi kebutuhan Rika.


" Rika.." Kakek Rika menangis hingga banyak mengeluarkan air mata.


" Kakek jangan menangis. Baiklah Kek, jika Kakek nggak setuju Rika membatalkan pernikahan mas Reza dengan Rika, Rika nggak apa-apa kok, Kek. Semoga ini takdir yang baik untukku."


" Rika, Kakek nggak akan membiarkanmu hidup dalam paksaan. Kakek akan bilang pada Reza untuk segera membatalkan pernikahannya. Kamu tak perlu khawatir cucuku."


" Tapi Rika takut, Kakek kenapa-kenapa. Rika tak mau mas Reza melukai Kakek."


" Mudah-mudahan apa yang kita lakukan tak mendapatkan masalah baru yang lebih pelik ." Ucap Kakek Rika sembari mengusap air matanya.


" Kek, maafkan Rika yang selalu menyusahkan kakek. Seandainya saja orang tua Rika masih ada dan saat ini masih bekerja, Rika akan meminta mereka untuk membayar semua yang sudah kakek korbankan untuk Rika."


" Rika, Orang tuamu sudah tidak ada. Jadi jangan meminta apapun padanya. Doakan saja mereka agar tenang di alam sana."


" Iya kek, Rika akan selalu mengirimkan doa untuk mereka dan juga untuk Kakek agar Kakek selalu diberi panjang umur dan selalu sehat."

__ADS_1


" Aamiin.." Ucap Kakek Rika dan kembali memeluk cucunya, dengan membelai dengan lembut rambut Rika.


......................


__ADS_2