
Siang hari mulai memanas, Para karyawan masih menunggu di depan pintu gerbang restoran.Terlihat beberapa pengunjung berdatangan silih berganti.
" Mbak, apakah hari ini libur?" Tanya seorang pengunjung pada Fitri.
" Maaf Mas, saya belum bisa mengatakannya. Belum ada kepastian dari Bos saya. Soalnya beliau belum datang." Fitri menjawab pertanyaan salah satu pengunjung.
" Oh, memangnya Bos kalian kemana?" Seorang Wanita yang datang bersama dengan pengunjung pertama ikut bertanya.
" Maaf mbak, saya juga kurang tahu. Sampai saat ini Beliau masih susah di hubungi. Tapi manajer kami sudah mencoba ke rumah Bos kami. Kami khawatir terjadi apa-apa dengan Bos kami."
" Ya sudah mbak, kalau begitu lain kali saja kami datang kemari. Permisi." Pengunjung meninggalkan restoran Wira.
Sudah puluhan pengunjung datang ke restoran Wira, namun mereka pergi lagi setelah mengetahui kalau restorannya belum buka.
Sampai jam Setengah dua belas siang, belum juga ada kabar dari Wira maupun Novi. Para karyawan yang sudah menunggu lama, sebagian memutuskan untuk pulang.
Mereka yang masih bertahan hanya tinggal enam orang. Fitri, nabila dan empat orang koki. Namun salah satu koki, mulai merasakan bosan menunggu, lalu dia berkata dengan temannya.
" Kawan-kawan, aku rasa tak mungkin hari ini restonya akan buka. Sekarang saja sudah jam segini. Masaknya saja lama, belum lagi bahan-bahan yang dibutuhkan juga masih banyak yang belum terbeli.
Aku akan pulang. Menunggu disini, sangat membosankan. Lebih baik aku melakukan pekerjaan yang berguna di rumah daripada menunggu sesuatu yang tidak jelas kepastiannya."
" Oh, begitu. Baiklah kalau kamu mau pulang. Kami masih akan tetap disini menunggu Bos kami." Ucap Fitri degan lantang.
" Iya, kami akan tetap disini menunggunya. Kami disini tidak hanya bekerja mencari uang. Di sini rumah kedua kami. Pak Wira sudah menganggap kami seperti keluarga sendiri. Jadi, kami pun juga akan melakukan hal yang sama.
Bagi kami menunggu beliau bukanlah sesuatu yang membosankan. Tetapi kecemasan. Kami khawatir dengan Beliau.
Jika terjadi apa-apa, kami akan sangat menyesal. Disini tempat kami mencari uang. Jika sampai Pak Wira kenapa-kenapa, Restoran ini juga akan kena imbasnya. Kita pun juga sama." Ucap Nabila tegas.
Mendengar perkataan Fitri dan Nabila, koki itu terdiam. Dia merasa malu dengan ucapannya sendiri. Dia sadar, selama ini Wira lah yang telah banyak membantunya.
Menjadikan dirinya koki, bukanlah hal yang mudah. Awalnya dia tak mempunyai keahlian apapun. Dia juga hanya lulusan SMA.
Beruntung dia bertemu dengan Wira. Wira lah yang mengajarinya menjadi Koki. Hingga dia mampu mempelajari berbagai jenis masakan.
" Baiklah kalau kalian akan tetap bertahan disini. Aku juga ikut dengan kalian. Maafkan atas keegoisanku." Koki itu menyadari kesalahannya dan meminta maaf.
Sementara itu Novi yang pergi ke rumah Wira belum juga kembali ke restoran. Dia ikut tertidur karena menunggu Wira bangun.
Fitri mencoba menghubungi manajernya,
" Halo bu. Anda dimana?"
" Eh, maaf Fit. Aku di rumah Pak Wira. kemungkinan, Beliau sedang tak enak badan. Saya sudah menunggunya dari tadi, namun Beliau belum bangun."
" Terus bagaimana dengan restonya Bu? Mau buka atau tutup? Kami masih menunggu kepastian dari tadi."
" Kalian pulanglah. Ini sudah siang, tak mungkin ada waktu untuk menyiapkan semuanya. Nanti kalau Pak Wira bangun, aku akan sampaikan padanya, kalau restoran tutup. Tapi sebelum kalian pergi, tolong beri tanda libur di pintu gerbang masuk. Agar pengunjung tahu."
__ADS_1
" Baik bu manajer." Fitri menutup telponnya.
Satu jam berlalu saat Novi ditelpon anak buahnya, Wira terbangun.
Dia mengusap matanya berulang kali saat melihat Novi sudah duduk di depannya.
" Novi? Sejak kapan kamu berada dirumahku?" Wira merasa bingung.
" Saya sudah tiga jam yang lalu berada di sini Pak."
"Ha?" Wira kaget.
" Kenapa kamu tidak membangunkanku?"
" Saya sudah mencoba berulang kali. Namun anda terlalu pulas tidurnya."
" Saya juga tidak tahu. Rasanya badanku lemas. Tak bisa bergerak, apalagi berbicara."
" Saya rasa Anda kehabisan tenaga karena terlalu lama bersedih."
" Eh, darimana kamu tahu aku bersedih?" Wira mengusap matanya dan berusaha menghilangkan bekas air matanya yang mengering sampai ke pipinya.
" Semua orang pasti tahu Anda habis menangis. Lihatlah di cermin. Anda tidak bisa menyembunyikannya dari saya." Kata-kata Novi membuat Wira semakin salah tingkah.
Wira terdiam. Dia tak bisa mengelak dari tebakan Novi. Meskipun mencoba menyembunyikannya, Novi akan tetap tahu.
" Apa Anda merindukan keluarga Anda?" Novi mencoba bertanya.
" Pak Wira, selama ini Anda selalu membantu saya. Kesulitan apapun yang saya hadapi, Anda lah yang membantu menyelesaikannya. Kini Anda mengalami kesulitan, kenapa mau menanggungnya sendiri?"
" Eh, Novi. Aku.." Wira tak mampu melanjutkan kata-katanya.
" Apa Pak? Anda selalu bilang untuk melupakan masa lalu. Hal yang pahit jangan dirasakan lagi. Kenangan hidup saya sangat pahit, dan Anda menyuruh saya untuk menghapusnya dari ingatan. Tetapi kenapa Anda melakukannya sendiri."
" Aku tidak mengingat tentang masa lalu Nov. Aku hanya teringat.." Belum selesai bicara, Novi memotong perkataannya.
" Anda teringat keluarga Anda kan Pak?"
Wira menunduk lalu menggelengkan kepalanya.
" Pak Wira jangan bohong. Saya tahu, foto yang Anda genggam adalah foto keluarga Anda."
Wira terkejut lalu mencoba menyembunyikan foto dalam genggamannya, di belakang Tubuhnya.
" Tak perlu di sembunyikan. Saya tahu itu foto keluarga Anda. Saya selalu kemari menemui Anda. Saya selalu menunggu di ruangan ini. Disini hanya terpajang satu bingkai foto. Itu foto Anda bersama keluarga. Dan saat ini foto yang terpajang tidak ada di tempatnya."
Wira melihat ke arah dinding, tempat foto dengan keluarganya di pajang. Dia heran, Novi begitu teliti.
" Baiklah, Nov. Aku akui, saat ini aku merindukan keluargaku. Aku menangis semalaman, hingga aku kehabisan tenaga dan tertidur lemas. Hari ini aku tak tahu, kenapa aku bisa bangun."
__ADS_1
" Pak Wira, keluarga Anda sudah tidak ada. Anda tak perlu mengingatnya lagi, jika hanya akan menyiksa diri Anda sendiri." Novi mencoba menegur Wira.
" Nov, Keluargaku sangat berarti dalam hidupku. Aku tak bisa begitu saja melupakannya."
" Apa Anda kira keluarga saya tidak berarti? Saya juga kehilangan keluarga, ketika saya masih kecil. Dan Anda sudah tahu semuanya."
" Nov, ini berbeda denganmu." Wira berkata lirih.
Dia menghindari Novi berkata lebih keras lagi. Namun, tak disangka. Novi semakin mengeraskan suaranya.
" Apanya yang beda Pak? Kita ini sama. Keluarga kita pergi meninggalkan kita. Apa alasannya Pak Wira bicara seperti itu?"
" Nov, jangan keras-keras. Aku masih bisa mendengarmu." Wira mencoba membuat Novi tenang.
" Pak Wira, Saya kecewa pada Anda. Ternyata Anda sendiri pun tak bisa menerima kenyataan."
" Apa maksudmu Nov?"
" Selama ini Anda hanya bicara omong kosong. Anda selalu menasehati saya, namun kenyataanya Anda sendiri lah yang rapuh."
" Hentikan bicaramu Nov. Jangan membuatku naik darah."
" Baiklah, maafkan saya Tuan Wira, Permisi. Maaf sudah mengganggu waktu Anda." Novi melangkah pergi keluar.
Wira mencegah Novi, lalu meraih pundaknya.
" Novi, Kamu mau kemana?"
" Tentu saja mau pulang. Disini saya dilarang bicara." Novi merasa kesal.
" Bukan begitu. Aku hanya ingin kamu berhenti bicara tentangku."
" Baiklah kalau begitu, biarkan saya pergi " Novi mencoba melepaskan pegangan tangan Wira.
" Apa kamu tersinggung dengan ucapanku?"
"Tidak." Ucap Novi singkat.
Wira tahu Novi tidak suka atas ucapannya. Namun dia bingung harus bagaimana. Dalam hati ingin menenangkan Novi, tetapi hatinya sendiri saat ini sedang goyah.
Akhirnya dia hanya diam, terduduk di sofa dan merenung. Sementara Novi, berdiri dan diam menunggu kata Wira.
" Pak Wira, Anda belum terlalu tua untuk menikah lagi. Jika hidup Anda merasa kesepian, sebaiknya Anda segera saja mencari pengganti istri Anda." Novi memecahkan keheningan saat ini.
Wira terkejut mendengar ucapan Novi. Sepertinya Novi memberikan sinyal kepadanya.
" Aku memang harus menikah lagi, aku masih sanggup mempunyai anak, masih sanggup menafkahi keluargaku. Aku ingin menggendong anakku." Ucap Wira penuh percaya diri.
" Baiklah, semoga Anda mendapatkan jodoh yang tepat. Saya permisi dulu. Oh iya, karena menunggu Anda terlalu lama, kami sepakat untuk meliburkan karyawan."
__ADS_1
" Novi, Apa kamu lupa dengan tawaranku?"
Novi terdiam, dia pura-pura tidak tahu maksud Wira. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah lain.