SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PENYERANGAN


__ADS_3

" Apa kamu berpikir aku meremehkanmu Bon?"


" Eh, tidak Bos."


" Bon, bukannya aku meremehkanmu, tapi aku hanya ingin kamu tetap hidup menjadi partnerku. Kamu yang selama ini bisa ku percaya."


" Tapi saya juga ingin mencoba kemampuan saya Bos. Saya telah berlatih berhari-hari. Siang dan malam, saya melakukan pelatihan. Namun ilmu yang saya dapat, tidak dipakai untuk mengalahkan orang yang telah membunuh orang tua saya. Awalnya saya berharap dan bersumpah, jika saya meemukan pembunuh orang tua saya, saya tak akan segan membunuhnya dengan tangan saya sendiri."


" Bon, Rendra itu sangat berbahaya. Akal liciknya akan membuatmu terbunuh. Aku tak ingin hal itu terjadi."


" Tapi bagaimana dengan dendam saya Bos? Saya juga punya dendam dengan Rendra. Bukan hanya Bos saja."


" Ini bukan masalah dendam, tapi ini menyangkut nyawa kita Bon." Jika salah satu diantara kita mati, tamat sudah rencana kita Bon."


" Bos, tak apa-apa, biar saya yang pertama melawannya. Saat dia mulai kehabisan tenaga, giliran Bos yang menghabisi nyawanya."


" Hahaha.. Bon, Bon.. tidak semudah itu mengalahkannya. Dia bukan orang yang suka gegabah. Jika seperti itu mampu mengalahkannya, orang seperti dia tidak akan jadi Bos."


" Hem, benar juga. Lalu kita harus bagaimana Bos? Tak mungkin kita bisa mengalahkannya tanpa rencana yang pasti."


" Sudah ku bilang, kamu tak perlu khawatir. Semuanya akan menjadi urusanku. Kamu membantuku saat ku perintah saja."


" Baiklah kalau begitu, saya percaya pada Bos."


Tiba di halaman rumah besar yang mewah, Wijaya dan Bono disambut dengan anak buah Rendra yang setia pada Rendra.


" Jay, masih berani juga kamu muncul dihadapan kami, hanya berdua saja. Sudah bosan hidup?" Tanya salah satu anak buah Rendra.


" Dimana Rendra? Aku mau bertemu dengannya."


" Untuk apa, kamu mencari Bos? Hadapi dulu kami."


Lima orang anak buah Rendra, maju menyerang Wijaya dan Bono. Mereka mengepung keduanya.


" Bos, biarkan saya yang menghadapi mereka. Bos simpan dulu tenaganya untuk melawan Rendra." Ucap Bono.


" Baiklah Bon, urus saja secepat mungkin." Jawab Wijaya.


" Beres Bos."


Bono berlari menjauh dari Wijaya. Lima orang anak buah Rendra mengikuti Bono berlari.


" Sudah seberapa hebat kamu Bon, beraninya mengkhianati Bos Rendra? Apa kamu sudah lupa dengan jasa-jasanya?"


" Ciihh!! Lupa katamu? Siapa yang selama ini berjasa padaku? Yang berjasa memang Bos, tapi bukan Rendra tapi Wijaya."


" Apa kamu mau menjadi kacang lupa kulitnya?"


" Aku tidak peduli terserah kalian mau bilang aku apa, yang penting aku bisa seperti ini karena Bos Wijaya, bukan Rendra."


" Halahh.. Dasar pengkhianat! Serang!!"


Lima orang anak buah Rendra, menyerang maju bersamaan. Berbagai macam serangan mereka lakukan, namun tak ada yang mampu mengalahkan Bono.


Bahkan serangan yang mereka lancarkan mengenai temannya sendiri.


" Aduh, goblok! Serang yang benar!" Teriak Joni pemimpin kelompok penyerang depan yang bertugas menghadang Wijaya dan Bono di depan gerbang rumah Rendra.

__ADS_1


" Maaf Bang, saya terlambat bergerak." Ucap anak buah Rendra yang lain.


" Jadi cuma segitu kemampuan kalian? Kalau tahu anak buah Rendra seperti itu, sudah dari dulu aku menghabisi Rendra."


" Jangan sombong kamu Bon! Aku bunuh, kamu!" Joni berlari menyerang ke arah Bono meggunakan samurai di tangan kanannya.


" Haha, pedang samurai murahan saja di banggakan. Itu takkan mampu melukaiku!"


" Omong kosong! Rasakan ini, hyaatt.." Joni berlari dengan cepat ke arah Bono dan menebaskan samurainya berkali-kali ke arah Bono.


" Dasar, mengayunkan pedang saja, masih seperti perempuan habis melahirkan. Sini, biar aku ajari cara memainkannya."


" B******n!! Ku cincang-cincang kamu! Hiyaaatt.. Hiyaat.." Terpengaruh ucapan Bono, Joni menjadi naik darah, dia mengayunkan pedangnya dengan membabi buta. Namun tak satupun serangannya yang mengenai tubuh Bono.


" Sepertinya, kamu hanya mau bermain-main denganku. Tak satupun seranganmu yang bisa merobek tubuhku. Sekarang giliranku. Hiyaaatt.." Satu pukulan keras tangan kiri Bono mendarat di dada Joni.


" Akkkhh.." Joni terpental jauh dan membentur dinding hingga ambrol.


" Cuma semut kecil saja sudah berani menghadangku. Hahaha.. Rendra Payah. Kenapa memelihara semut-semut kecil yang tak berguna. Dasar goblok! Hahaha.." Bono tertawa lebar dan mencaci Rendra setelah mengalahkan Joni.


" Kurang ajar, kamu mampu mengalahkan ketua kami. Ayo, serang Si Pengkhianat ini! Hiyaaa.." Anak buah Rendra yang lain menggantikan posisi Joni dan memimpin penyerangan.


" Kalian berempat, kekuatannya tak sebanding dengan Joni. Mundurlah, sayangi nyawa kalian. Dibayar berapa sampai membela Rendra mati-matian?"


" Diam kau pengkhianat! Tak ada waktu mendengar ocehanmu. Ayo kawan-kawan, serang dia bersamaan."


Empat orang anak buah Rendra yang tersisa menyerang Bono bersamaan, sebelum mereka berlari ke arah Bono, angin besar tiba-tiba datang ke arah mereka dan meledak tepat di depan empat anak buah Rendra.


" Blaaarrrr..." Seketika empat anak buah Rendra terpental jauh dan membentur dinding secara bersamaan.


Sesaat terdengar teriakan anak buah Rendra, merintih kesakitan sebelum mereka tewas mengenaskan dengan tubuh hangus seperti terbakar."


" Sudahlah Bon, tak ada waktu untuk. bermain-main. Selesaikan dengan cepat. Masih banyak yang akan kita hadapi."


" Maaf Bos, saya terbawa suasana. Hitung-hitung untuk pemanasan dulu."


" Bon, aku harus segera membalaskan dendamku untuk kepergian putriku. Aku sudah gatal untuk merobek-robek jantung Rendra."


" Sabar Bos, jangan terbawa emosi. Kita perlu cara untuk mengalahkannya dengan kepala dingin. Sebagai contoh, Joni bodoh itu karena terbawa emosi, serangannya tak ada satupun yang melukai saya. Akhirnya dia kehabisan tenaga dan menjemput ajalnya hanya dengan pukulan tangan kosong saya."


" Bon, kamu boleh bangga dengan kemampuanmu itu, tapi pukulan seperti tadi, takkan mampu menggerakkan sedikitpun tubuh Rendra."


" Apa? Jadi sekeras apa dia, Bos? Saya jadi semakin penasaran ingin mencoba melawannya."


" Bon, dia bagianku. Aku takkan memberikannya untukmu."


" Tapi saya punya dendam yang tak bisa saya lupakan terhadapnya Bos."


" Aku jauh lebih dendam dripada kamu Bon, sudahlah. Tak ada waktu untuk berdebat. Kalau masih ingin menentangku, sebaiknya kamu pulang saja."


" Saya tidak mau. Saya ingin menemani Bos, merebut kekuasaan Rendra dan menjadi wakil Bos terkuat di seluruh negeri. Hahaha.."


" Kita akan tunjukkan kemampuan kita Bon. Ayo, maju lagi."


" Baik, Bos."


Selesai membunuh lima anak buah Rendra, Wijaya dan Bono masuk ke dalam gedung, tempat Rendra dan anak buahnya berlatih bela diri. Saat hendak membuka pintu, dari arah belakang Tujuh orang anak buah Rendra muncul secara bersamaan dan salah satunya melemparkan pedang kecil ke arah Bono dan Wijaya. Namun pedang yang dilemparkan tak mampu menembus tubuh Wijaya dan Bono. Pedang terlempar dan berbalik arah pada orang yang melemparkan pedang. Tak dapat menghindari serangan balik pedangnya, anak buah pelempar pedang seketika tewas terkena pedangnya sendiri yang berbalik arah menenmbus jantung dan lehernya.

__ADS_1


" Arga!" Teriak anak buah Rendra yang lain.


" Hahaha.. Sudah bodoh, menyerang dari belakang lagi. Akhirnya terkena senjatanya sendiri. Sungguh memalukan. Rendra, ku rasa kamu salah memilih anak buah. Hahaha.."


" Kurang ajar! Beraninya kamu membunuh ketua kami! Kamu akan terima pembalasan kami!"


"Ayo, semua maju. Serang aku!" Teriak Bono dengan lantang.


" Sialan, ku bunuh kamu. Serang Orang bodoh sombong ini!" Teriak salah satu anak buah Rendra.


" Ayo, kalian semua serang aku sekaligus. Tunjukkan seberapa besar kekuatan gabungan kalian."


" Jangan sombong kamu Bono. Untung apa kamu mengkhianati Bos Rendra dan bergabung dengan Wijaya yang hanya seorang kacung Bos Rendra?" Ucap Dipo, salah satu anak buah Rendra yang cukup kuat, namun tak ingin dijadikan pemimpin penyerangan.


" Hahaha..Dipo, jika kamu menanyakan untung apa? Jelas sekali sangat menguntungkan bagiku, dan sangat banyak. Lebih baik aku menjadi kacung Bos Wijaya daripada Rendra yang penuh dengan aturan."


" Lihat saja, kamu akan menyesal mengkhianati Bos kami. Ayo serang!" Dipo memimpin serangan menggantikan temannya yang terlebih dulu tewas terkena pedangnya sendiri.


Enam orang anak buah Rendra berlari menuju ke arah Bono. Mereka melancarkan berbagai serangan ke arah Bono. Sementara itu, Wijaya hanya berdiri dan berdiam diri mengamati pertempuran Bono dan musuh-musuhnya.


" Terimalah seranganku Bon! Hiyaaat.." Dipo menebaskan kapak besar ke arah Bono. Bono yang kewalahan dan lengah menghadapi lima orang anak buah Rendra hampir saja terkena tebasan kapak Dipo. Namun Bono mampu menghindarinya. Dia melompat menjauh dari musuhnya untuk mengatur kembali serangan.


" Kenapa kamu Bon? Sudah tak sanggup melawan kami lagi? Kenapa menjauhi kami?" Dipo mendekati Bono diikuti teman-temannya, dan siap menyerang.


" Kamu terlalu meremehkanku, Dipo. Aku menjauh bukan karena kalah. Aku hanya tak ingin, ada yang memukulku dari belakang seperti pengecut."


" Persetan dengan omonganmu! Disini medan pertempuran. Segala cara dilakukan untuk menang. Aku ingin melihat kamu meregang nyawa ditanganku Bon. Serang!" Dipo kembali menyerang Bono yang masih mengatur nafasnya. Namun Bono bukanlah orang lemah. Dengan mengatur nafasnya beberapa detik saja, dia mampu memulihkan tenaganya kembali.


Saat Dipo dan teman-temannya terus menyerang ke arahnya, dia mengumpulkan tenaga dalam ditangan dan kakinya. Lalu menyerang ke arah Dipo dan teman-temannya.


Dua pukulan tangan Bono mengenai dua anak buah Rendra secara bersamaan, mereka terpental jauh dan jatuh tak sadarkan diri.


Sementara kaki Bono menendang ke arah kepala dua anak buah Rendra yang lain. Kaki kedua anak buah Rendra terjeblos ke tanah sedalam satu meter. Kepala mereka robek, darah mengalir deras dari sela rambut mereka. Seketika itu mereka tewas tanpa berkata sedikitpun.


" Kurang ajar! Beraninya kamu membunuh teman-teman baikku. Setan apa yang mempengaruhimu sehingga kamu dengan tega membunuh teman-temanmu sendiri Bon!"


" Teman katamu? Hahaha.. Dulu memang kalian temanku, sekarang kalian musuhku! Tak ada teman yang menyambut kedatangan temannya dengan senjata, bukan? Lagipula aku hanya mengikuti kata-katamu saja. Disini adalah medan pertempuran, apapun akan kulakukan agar aku bisa menang."


" Sialan! Beraninya kamu membalikkan kata-kataku. Ku bunuh kamu Bon! Hyaat.." Dipo kembali menyerang ke arah Bono. Emosinya yang memuncak karena melihat kematian teman-temannya membuatnya gelap mata. Dia menyerang membabi buta namun tak ada satupun serangan yang berarti yang mengenai tubuh Bono.


Dipo memang cukup kuat, dia mampu memberikan serangan dan menangkis setiap serangan yang dilancarkan Bono.


Wijaya tertarik melihat kemampuan Dipo, sebenarnya dia ingin merekrutnya menjadi anak buahnya. Namun kesetiaannya pada Rendra sangat dalam. Dia hanya pasrah jika Bono menghabisinya.


Hingga bertahan setengah jam pertarungan, Dipo masih mampu bertahan dan masih mampu menyerang Bono.


Tak terasa, waktu sudah malam namun pertarungan mereka belum berakhir. Dipo masih menyerang Bono dengan membabi buta.


" Bon, segera akhiri pertarunganmu. Ini sudah malam. Jangan bermain-main lagi. Aku sudah lapar, apa kamu tidak lapar?" Teriak Wijaya dari kejauhan.


" Tunggu Bos, orang ini sangat kuat. Dan dia dikendalikan oleh emosinya. Jika saya meninggalkannya, dia akan terus mengejar."


" Payah kamu Bon, mau tak mau aku harus mengakhirinya." Wijaya mengepalkan tangannya lalu meninjunya ke tanah.


Angin bergulung mengarah ke arah Dipo. Dan saat Dipo berlari menyerang Bono yang melompat menjauh darinya, dia berteriak keras saat gulungan angin muncul dari dalam tananh dan meledak .


" Akkkhh.." Tubuh Dipo diselimuti kepulan asap tebal. Saat asap mulai surut,terlihat tubuh Dipo hangus seperti terbakar. Beberapa detik kemudian Tubuh dipo yang semula berdiri, kini terjatuh dan tersungkur tak sadarkan diri."

__ADS_1


......................


__ADS_2