SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MELARIKAN DIRI


__ADS_3

Rendra meletakkan jasad Karin dalam pangkuannya lalu menutupnya dengan daun pisang.


" Karin, sebenarnya aku ingin menikahimu dan juga menikahi Kakakmu. Tapi apa yang menimpa kalian? Ini semua salahku. Aku terlena dalam kehidupanku. Sehingga tak berpikir sejauh ini. Apakah ini ganjaran untuk kesalahan-kesalahan yang sudah aku lakukan?"


Rendra menatap ke atas gedung di lantai tujuh, matanya memerah. Dengan mata batinnya dia melihat di kamarnya itu. Dini yang terbaring tertutup selimut, dan sudah tak bernyawa.


" Hahaha.. Rendra, aku telah puas merasakan hangatnya pelukan gadismu. Sayangya saat aku selesai dengannya, dia tak sadarkan diri beberapa menit kemudian. Sebenanya aku ingin mengulanginya lagi, tapi dia sudah tidur untuk selama-lamanya menyusul adiknya. Jadi aku membatalkan niatku. Tak mungkin aku menyetubuhi mayat. Hahaha.."


" Biadab!!! Kamu berani menodai kekasihku! Aku takkan memaafkanmu! Hiyaaatt.." Rendra maju menyerang Bono yang baru saja turun dari lantai tujuh.


" Rendra!" teriak Wijaya lalu mencegah Rendra menyerang Bono.


" Minggir!! Aku akan membunuh Ba****an tengik ini."


" Urusan kita belum selesai Ndra. Kau takkan ku biarkan lolos."


" Kurang ajar.. Ayo, maju semua! Serang aku!"


Pertarungan dua lawan satu tak bisa dielakkan. Wijaya tak ingin Rendra mengikutkan Bono dalam pertarungannya, namun Rendra terus mencoba menyerang Bono dan mengabaikan serangan Wijaya.


" Bono! Kupikir kamu bisa kuajak bekerjasama, ternyata kamu pengkhianat yang lebih biadab daripada musuh-musuh yang pernah kuhadapi. Sekarang terimalah kematianmu! Hiyyyaaattt!"


" Ini semua akibat perbuatanmu! Aku melakukan ini semua karena dirimu, Ndra! Kamu telah membunuh kedua orang tuaku dan adikku! Sekarang aku menuntut balas atas kematian mereka!"


" Menuntut balas? Menuntut balas apa?" Ucap Rendra dan mencoba mengingat masa lalu.


" Kau telah memperkosa ibuku, dan ayahku saat dia tahu kamu memperkosa Ibuku dan membunuhnya, dia datang kepadamu hendak meminta pertanggungjawaban. Namun kau juga membunuhnya. Sungguh kelakuanmu sama seperti binatang Ndra!"


" Hahaha.. Darimana kamu tahu berita itu Bon? Apakah dari mulut yang bisa dipercaya? Hahaha." Rendra tertawa karena Bono menuduhnya melakukan sesuatu tanpa bukti.


" Bon, tunggu apalagi? Serang dia sebelum dia membunuh kita!" Tiba-tiba Wijaya berteriak memberi peringatan pada Bono.


" Jay, apa kamu telah memberitahu sesuatu yang tak benar kepadanya? Apa kau mengarang cerita agar Bono membenciku!"


" Aku mengatakan yang sebenarnya kepada Bono. Aku tak pernah menyembunyikan apapun darinya. Kamu tak perlu melimpahkan kesalahan kepadaku Ndra!" Wijaya membela diri.


" Hahaha.. Aku tahu sifatmu Jay. Kau menggunakan kekuatan Bono untuk memusuhiku. Karena kau tahu Bono mempunyai kekuatan yang besar dan kau memanfaatkannya."


" Diam kau Ndra! Aku tak peduli dengan omong kosongmu! Ayo, teruskan pertarungan kita. Aku sudah gatal untuk membunuhmu." Ucap Bono dengan lantang.


" Akan ku akhiri secepatnya hidupmu, Bon! Untuk membalaskan kematian Dini dan Karin. Kau harus bertanggung jawab! Nyawa di bayar Nyawa! Hyaaat.."


Rendra menyerang Bono dengan lincah. Tak satupun serangannya meleset. Namun Bono bukanlah manusia biasa. Tubuhnya yang sekeras baja mampu mematahkan serangan-serangan Rendra.


Sementara itu, Wijaya menyingkir dari pertarungan Bono dan Rendra. Dia ingin memberikan kesempatan Bono membalaskan dendamnya.


" Hahaha.. Jadi kemampuanmu cuma segitu Ndra? Apa tidak salah? Kenapa aku dengan bodohnya menjadi pengikut Bos payah sepertimu."


" Jangan sombong kau Bocah! Aku belum mengeluarkan tenaga dalam penuhku. Jangan mengira aku lemah. Kau akan menyesal saat aku menunjukkannya padamu."


" Kalau begitu tunjukkan saja orang tua! Jangan banyak mulut! Ayo serang aku!"


" Baiklah Bon, akan ku tunjukkan kekuatanku. Jangan menyesal kalau kau nanti mati!"

__ADS_1


" Aku takkan mati semudah itu Ndra. Ayo maju. Tunjukkan keahlianmu padaku!


" Bon! Jangan memancingnya, kamu takkan sanggup menghadapi serangannya!" Teriak Wijaya memperingatkan Bono.


" Saya tak takut padanya Bos. Saya juga punya kemampuan. Duduklah dan lihat saja."


" Sombong sekali kau Bon, terimalah ini! Hyaaaaa..." Rendra dengan cepat berlari kearah Bono dan menghajar telak di bagian tengah perutnya.


Bono tak sempat menghadapi serangan Rendra yang cepat dan tiba-tiba. Dia terlempar sejauh tiga puluh meter dan jatuh di rerimbunan daun alang-alang di belakang markas Rendra.


" Oeeekk.." Bono muntah darah. Perutnya terasa keram dan nyeri setengah mati.


" Ba****an Kamu Ndra! Aakkhh..." Bono mengerang kesakitan.


" Bono!" Teriak Wijaya lalu berlari dan melompat ke tempat Bono jatuh.


" Bagaimana keadaanmu Bon? Apa kamu terluka parah?" Tanya Wijaya, merasa khawatir dengan Bono.


" Hahaha.. Itulah akibatnya kalau kau sombong, bocah! Kau pikir aku siapa? Beraninya melawanku. Jay! Minggirlah, aku akan menghabisi pencabul gadis orang ini. Akan ku belah jadi beberapa potong. Menyingkirlah!" Ucap Rendra dan bersiap mengeluarkan salah satu jurusnya.


" Bos, pergilah. Biarkan saya mati. Anggap saja untuk menebus dosa-dosa saya atas kematian gadis-gadis malang itu."


" Tidak Bon, aku akan membantumu. Aku akan melindungimu. Ba****an ini harus segera kita habisi, sebelum dia membuat rusak segalanya."


" Bos, pergilah.. Jika saya mati, carilah orang yang lebih baik dari saya. Yang ilmunya jauh lebih tinggi dari saya. Agar bisa melindungi Bos dengan baik."


" Bon, didunia ini hanya satu orang jahat yang bisa kupercaya. Kamulah orang itu. Kamu orang yang setia padaku. Dan aku sangat mengakui ketulusanmu. Maka dari itu, aku takkan membiarkanmu mati. Aku akn pertahankan kamu, dengan sepenuh jiwa ragaku Bon."


" Kurang ajar! Dia masih menyimpan ilmu itu, ilmu pembelah Bumi! Aku harus menghindarinya secepat mungkin." Wijaya memejamkan matanya lalu memusatkan mata batinnya ke tempat lain. Mencoba berpindah tempat dengan cepat tanpa pergerakan.


" Bllaaarr.. Blaaar.. Blaarr.." Jurus yang dikeluarkan Rendra mengenai pohon besar hingga terbelah menjadi tiga bagian lalu roboh dan sebagian menimpa pagar markas Rendra.


" Brengsek! Dia bisa menghindari seranganku. Baiklah, aku akan mencoba lagi saat kalian lengah. Yang penting aku harus mencari mereka dahulu."


Rendra memutar tubuhnya dan melihat di sekeliling markasnya, Namun Wijaya dan Bono sudah tak ada di dekat markasnya.


" Kurang ajar! Kemana mereka pergi! Aku takkan melepaskan kalian! Kembalilah kalian! Pengecut!!" Rendra memaki Wijaya dan Bono setelah dia kehilangan jejak mereka.


" Sebaiknya aku membawa mayat Karin dan Dini ke rumahku dulu. Dini, Karin.. maafkan aku! Aku tak bisa melindungi kalian. Sehingga kalian bernasib seperti ini. Lalu, apa yang harus kukatakan pada Orang tua kalian?" Rendra tertunduk sedih. Dia berjalan sembari memanggul Karin dari belakang markasnya menuju halaman depan.


" Oweekkk.." Rendra tiba-tiba muntah saat masuk ke halaman depan, dia menemukan semua anak buahnya tewas mengenaskan dengan anggota tubuh yang terpisah dan hangus terbakar.


" Biadab! Jadi kalian membunuh semua anak buahku! Tak satupun yang kalian biarkan hidup! Tunggulah kalian! Aku akan mencari dan membunuh kalian semua! Jangan lari!" Rendra kembali berteriak lalu bersumpah akan membunuh Wijaya dan Bono.


Hari telah sore, matahari telah menjatuhkan tubuh bulatnya semakin ke barat. Wijaya terlihat sedang mengobati Bono yang terluka parah.


" Lukamu sangat parah Bon, sebaiknya kamu istirahat saja. Tak perlu lagi diteruskan pertarungan ini. Tunggu kamu sembuh, aku yang akan membalaskannya untukmu."


" Tidak Bos, saya masih mampu berdiri. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membunuhnya. Saya menunggu bertahun-tahun, untuk membunuh siapa yang membunuh orang tua saya. Dan sekarang, saya sudah menemukannya. Saya tak ingin melepaskannya. Uhuk.. uhuk.." Bono terbatuk, namun dia berusaha keras untuk meneruskan pertarungannya.


" Sudahlah, kamu beristirahatah. Urusan Rendra biar aku yang menangani. Kamu sama sekali bukan tandingannya. Dia belum sekalipun mengeluarkan tenaga dalam penuhnya. Jika tadi kita tak menghindar dengan cepat, pasti kita sudah berada di dunia lain. Rendra mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa yang tersembunyi. Makanya aku bilang, jangan sampai kamu sombong apalagi sampai memancing amarahnya."


" Bos, awalnya saya memang ingin dia mengeluarkan ilmunya yang dia sembunyikan, saya ingin mencobanya. Namun sebelum ilmunya keluar, saya telah lebih dulu roboh, hanya dengan pukulan tangan biasa."

__ADS_1


" Seharusnya kalau dia tidak sedang marah, pukulan tangannya belum ada apa-apanya Bon. Namun saat dia dikendalikan nafsu angkara murkanya, pukulannya menjadi semakin bertenaga, hingga berpuluh kali lipat. Jika aku yang jadi kamu, akupun tak bisa menghindari serangan itu."


" Lalu bagaimana cara mengalahkannya Bos. Hidup saya tak tenang sebelum bisa membunuhnya."


" Kita cari cara nanti setelah mengobati lukamu dulu Bon. Tunggulah disini, aku akan pergi keluar untuk mencari makan. Aku sudah lapar."


" Bagaimana kalau Rendra kemari Bos?" Bono sedikit cemas.


" Hadapi dia dengan semampumu. Jangan biarkan dia lolos." Ucap Wijaya lalu melangkah pergi meninggalkan Bono yang terduduk bersandar di bawah pohon besar di hutan.


" Baik Bos." Ucap Bono


" Bos!" Panggil Bono setelah Wijaya berjalan sejauh lima belas meter.


" Apalagi Bon?" Tanya Wijaya dengan kesal.


" Saya ayam ya lauknya. Nasinya yang banyak. Pakai sambal goreng terasi kalau ada. Hehe.."


" Ya.." Jawab Wijaya singkat lalu bergegas pergi meninggalkan Bono sendirian di hutan.


Sinar matahari mulai meredup, sang bola api semakin tenggelam di ufuk barat. Dihutan belantara lima kilometer dari markas Rendra, Bono sedang menunggu Wijaya yang pergi untuk mencari makanan.


" Ahh.. Aku jadi lapar sekali. Ini sudah gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Bos! cepatlah datang. Uhuk.." Ucap Bono dalam hati.


" Bon! apa kamu mendengarku?" Wijaya berusaha mengkontak batin Bono.


" Iya saya mendengar Bos. Ada apa Bos?" Tanya Bono penasaran.


" Rendra berhasil menemukan keberadaanku. Dia telah mengunciku, jadi kemanapun aku pergi, dia akan tahu dimana posisiku."


" Kalau begitu segera kembali Bos, disini ada saya, jika dia kemari, kesempatan saya untuk membunuhnya."


" Bon, aku tidak akan membuatmu celaka. Aku takkan kembali. Kamu beristirahtlah dahulu. Setelah aku membereskannya, pergilah di warung belakang hutan, tempat kamu berteduh. Disana ada jalan besar yang ramai. Pergilah kesana jika kamu sudah tak tahan dengan rasa laparmu. Sementara aku menitipkan uang untuk penjualnya. Pilih yang kamu mau, dengan menyebut namaku. Pasti penjual akan mengerti."


"Baik Bos, setelah saya makan, saya akan menyusul Bos pergi menghadapi Si Rendra busuk itu."


" Hemm, baiklah Bon. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku harus meninggalkan keramaian agar leluasa dalam bertarung."


"Baiklah Bos, berhati-hatilah." Ucap Bono lalu dengan sisa-sisa tenaganya, Bono mencoba berjalan merangkak di kegelapan malam, di hutan menuju belakang hutan untuk mencari makanan.


" Akhhh.." Bono terjatuh saat kakinya tak sengaja menendang akar pohon yang menjulang ke atas.


" Sial! Kenapa aku jadi seperti kakek-kakek tua yang sudah mau mati! Haah!!!" Bono menghela nafasnya, namun kemudian dia melanjutkan perjalanannya meskipun harus meraba-raba sekelilingnya ditengah kegelapan.


" Aduhh.." Kembali, Bono terjatuh setelah kepalanya terkena dahan pohon yang melintang di atas kepala Bono.


"Apalagi ini! Sialan, kenapa aku dengan bodohnya berjalan di kegelapan malam! Kenapa juga aku harus kelaparan. Haaaah!!"


" Bos, kembalilah. Saya seperti orang buta. Semuanya gelap. Saya tak bisa bergerak kemana-mana dengan aman." Ucap Bono lirih.


Namun dengan bersusah payah, Bono akhirnya sanggup berjalan hingga puluhan meter dan berhasil keluar dari dalam hutan. Bono merasa lega, akhirnya setelah beberapa menit merasakan matanya seperti Buta, kini setelah keluar dari hutan itu kembali matanya bisa melihat dengan normal.


......................

__ADS_1


__ADS_2