SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEMBALI KE PUNCAK BUKIT


__ADS_3

Cahaya mentari pagi mulai terpancar di langit sebelah timur. Cahaya kemerahannya bersinar hingga ke danau. Wijaya membangunkan Xena yang masih tertidur pulas.


" Xena, ayo bangun. Ini sudah pagi. Lihatlah matahari yang terbit disana. Sangat indah sekali. Bangun, Nak."


Xena mulai membuka matanya. Ia kemudian bangun lalu melihat Papanya.


" Papa sudah bangun?" tanya Xena dengan suara seraknya usai bangun tidur.


" Dari semalam Papa tidak tidur. Papa jagain kamu. Tidurmu sangat pulas, Papa tak mau mengganggu tidurmu."


" Pasti Papa capek ya. Kenapa Papa nggak membangunkan Xena biar Xena tidur tanpa beralaskan Papa."


" Tidak apa-apa, Papa malah senang kamu tidur di pangkuan Papa. Rasanya Papa ingin terus-terusan seperti itu."


" Tapi, Papa capek. Lebih baik sekarang kita pulang. Papa beristirahatlah."


" Itu gampang, Xena. Ya sudah. Lihatlah cahaya disana. Matahari tampak berwarna jingga. Inilah waktu yang sangat kami nantikan."


" Memangnya ada apa dengan matahari itu? Apa kita bisa pergi kesana?"


" Hahaha.. Kalau kamu pergi kesana, belum sampai ke tempat mataharinya, kita sudah mati."


" Memangnya disana bahaya?"


" Matahari itu adalah bola api yang berputar. Dia adalah pusat tata surya. Bumi yang kita huni ini, berputar dan mengelilingi matahari."


" Oh, begitu. Pantas saja sinar matahari itu panas."


" Iya Xena, Oh iya Papa ada urusan mendadak yang tidak bisa papa tinggalkan. Lebih baik sekarang kita pulang ke rumah Bibi Ratri."


" Papa mau pergi kemana? Xena ikut. Xena ingin tahu Papa itu pekerjaannya apa, kenapa selalu pergi jauh."


" Kamu masih kecil. Kalau kamu mabuk dalam perjalanan, Papa harus minta tolong sama siapa?"


" Xena nggak mabuk, Kok. Pokoknya Xena mau ikut."


" Maaf Xena, belum saatnya kamu ikut Papa pergi. Lebih baik kamu dirumah menemani Bibi Ratri."


" Hemhh, baiklah kalau Papa nggak membolehkan Xena ikut. Tapi lain kali, Xena harus ikut."


" Beres, Bos.. ya sudah kalau begitu, kita pulang sekarang. Matahari juga sudah muncul. Sebentar lagi akan panas. Kita pulang sebelum kepanasan."


Wijaya pun membawa Xena pulang ke rumah Ratri. Ia harus segera pergi ke rumah Tanu, untuk memastikan kematian Vina apa ada hubungannya dengan Tanu.

__ADS_1


" Sudah mau pergi lagi Tuan?" tanya Ratri, begitu Wijaya dan Xena tiba dirumahnya.


" Iya, tolong titip Xena. Dia sedang tertidur. Katakan padanya jika aku sudah pergi. Saat dia terbangun nanti, sampaikan salamku padanya. Katakan bahwa aku sangat menyayanginya. Dan akan kembali lagi untuk menemuinya."


" Baik, Tuan." ucap Ratri sembari mengambil Xena dari gendongan Wijaya lalu membawa Xena masuk kedalam kamarnya.


Setelah Ratri masuk ke dalam rumahnya, Wijaya bergegas mengemudikan mobilnya lalu melaju dengan kencang.


" Mudah-mudahan saja Xena tak menanyakanku terus menerus. Kalau iya, rencanaku bisa gagal." ucap Wijaya dalam perjalanan menuju Puncak Bukit.


...----------------...


Sementara itu di lereng Bukit Timur, Tanu dan keluarganya sedang berada di Puncak Bukit, menikmati hari minggu pagi seperti biasanya.


" Ah, rasanya segar sekali badanku setelah beberapa hari ini dilanda keresahan. Memang, Bukit ini menyimpan sejuta misteri. Andai saja tempat ini dibuka untuk umum, pasti banyak orang yang akan datang kemari." Ucap Riko sembari merebahkan tubuhnya di rerumputan.


" Awalnya Ayah juga ingin membuka tempat ini untuk umum, tapi Ayah takut kalau tempat ini dijadikan tempat untuk mesum. Makanya Ayah tidak berani membukanya." Ucap Tanu, dan ia pun ikut merebahkan tubuhnya di rerumputan.


" Seandainya saja tempat ini dibuka untuk umum, pasti kita mempunyai penghasilan lain, Ayah." ucap Bulan lalu ikut bergabung dengan Riko dan Ayahnya rebahan di rerumputan.


" Di pikiranmu itu hanya ada uang dan uang saja, Bulan. Kita saja sudah punya banyak uang, lalu untuk apa kita menimbun uang terlalu banyak. Apalagi denga membuka tempat ini untuk wisata. Ayah benar, jika tempat ini dijadikan tempat wisata, pasti akan digunakan para anak muda untuk bermesra-mesraan di tempat ini." Raka menimpali ucapan Bulan.


" Tapi kan, kita bisa memberi aturan atau larangan dengan membuat papan dan di tempelkan atau di tanam di depan pintu masuk tempat ini."


Ketika suasana sudah mulai memanas, Rani menghentikan perdebatan antara Raka dan Bulan.


" Bulan, Raka.. kalian itu kenapa? selalu saja ada yang diperdebatkan. Lihat adik-adik kalian, terutama Tama. Dia begitu sangat memperhatikan kalian yang sedang berdebat. Padahal dia sudah berpesan lewat gambar yang ia buat, keutuhan keluarga kita. Apa kalian ingin seperti ini terus? Bagaimana kalau Ibu, Ayah mati. Apa kalian akan selalu berdebat? Ingat, perdebatan itu awal musuhnya pertengakaran. Yang bisa jadi jika terlalu fatal, akan memisahkan hubungan kekeluargaan diantara kita semua. Maka Ibu mohon, jaga sikap kalian."


" Kak Raka yang mulai duluan, Ibu. Padahal Bulan nggak ngajak bicara sama dia. Menurutku, Bulan itu selalu salah dimatanya. Apapun yang Bulan katakan, selalu saja di bantah, di debatkan." Ucap Bulan sambil mendengus ke arah Raka.


" Kan, memang benar yang aku katakan. Hanya uang saja dipikiranmu itu. Apa belum cukup menimbun uang banyak." Raka kembali berulah.


" Raka, sudah.. biarkan saja Bulan bicara begitu. Bulan punya cita-cita yang tak sama denganmu. Biarkan saja ia berusaha mengumpulkan uang banyak. Kelak apa yang kita punya ini akan habis, jika kita tidak berupaya mencari lagi, kita akan kekurangan." Kali ini Rani membela Bulan.


" Sudah.. tak perlu dibahas lagi masalah ini. Jangan sampai ada perdebatan lagi. Ayah tidak suka anak-anak Ayah saling berdebat. Kasihan Tama dan Rama yang masih kecil. Bisa jadi mereka akan meniru tingkah kalian." Tanu menengahi perselisihan diantara keluarganya.


" Ayah kalian benar, kita tidak boleh salinh berdebat. Kasihan Tama dan Rama. Jika dia melihat kalian, suatu saat dia juga akan melakukan apa yang pernah kalian lakukan. Makanya jaga sikap kalian di depan adik-adik kalian."


" Baik, Ibu.. maafkan kami." ucap Raka dan Bulan bersamaan.


" Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang. Hari sudah mulai panas. Cucian Ibu sudah menumpuk, Ibu saja sudah tak punya baju ganti karena brlum dicuci." ucap Rani.


" Kalau begitu, ayo sekarang kita pulang. Bulan akan bantu Ibu mencuci. Cucian Bulan nggak banyak, kok." ucap Bulan bersemangat.

__ADS_1


" Kasihan Ibu, sudah mengurus dua anak kecil masih mengurus pekerjaan rumah yang lain juga. Bibi Arti kapan akan datang kemari, Ibu?" tanya Riko.


" Ibu juga belum tahu, katanya menunggu empat puluh hari suaminya. Tapi Ibu juga nggak tahu, ini sudah empat puluh harinya atau belum. Tapi, jika sudah empat puluh hari suaminya, dia bilang akan segera kemari." jawab Rani.


" Wah, lama sekali Bi Arti itu. Memangnya nggak ada orang lain yang mau menjadi pembantu di rumah kita, Bu?"


" Bi Arti itu orangnya baik. Mencari orang seperti dia itu sangat sulit. Lagipula, Bi Arti itu sudah Ibu anggap saudara sendiri."


" Lalu bagaimana jika dia saja lama datang kemari, Ibu. Kasihan Ibu, terlalu capek jika harus mengerjakan pekerjaan rumah sendirian."


" Ibu sudah terlanjur berpesan padanya. Jika Ibu membatalkannya, Ibu tidak enak padanya. Saat ini dia sedang dilanda kesusahan. Jadi, Ibu wajib membantunya."


" Ibu.. apa Ibu sudah menghubungi Arti lagi? Tanyakan padanya saja, kapan akan kemari. Katakan saja kalau Ibu sudah kewalahan mengurusi pekerjaan rumah." Ucap Tanu.


" Belum, Ayah. Nanti kalau sudah sampai rumah, akan Ibu hubungi lagi si Arti."


" Baiklah, kalau begitu. Kita sebaiknya pulang sekarang dan segera hubungi Arti."


Usai berkata, Tanu dan keluarganya menuruni Bukit untuk kembali ke rumah mereka. Seakan tak pernah akan ada bahaya yang mengancam, mereka pulang ke rumah dengan perasaan lega.


...----------------...


Sementara itu, Wijaya yang sedang melaju kencang dengan mengendarai mobilnya menuju rumah Tanu, kini telah melewati separuh perjalanan. Ia berencana pergi sendiri, namun setelah ia berpikir lagi, ia memutar balik mobilnya. Dia menuju ke rumah salah satu anak buahnya lalu membawanya pergi bersamanya.


" Bos Wijaya.. satu kebanggaan bagi saya karena Anda telah sudi datang ke rumah saya yang buruk ini. Seharusnya, saya lah yang mendatangi Anda. Bukan malah, Anda yang datang kemari menjemput saya." ucap anak buah Wijaya, seorang pimpinan rampok yang telah berikrar bergabung dengan Wijaya.


" Itu tidak penting bagiku, kau tak perlu bicara apapun. Bawa anak buahmu dan ayo ikuti aku."


" Maaf, Bos. Kalau boleh saya tahu, kita akan pergi kemana?" tanya Pimpinan rampok itu.


" Tak perlu banyak tanya! Ikut aku dan bawa anak buahmu! Mengerti?" Bentak Wijaya karena terlalu kesal dengan Pimpinan rampok itu.


" B... baik Bos.." jawab Pimpinan rampok itu lalu segera pergi ke markasnya membawa tiga anak buahnya.


Setelah genap lima orang termasuk dirinya, Wijaya segera melajukan mobilnya dengan kencang untuk kembali ke rumah Tanu.


Dalam perjalanan, Pimpinan perampok itu dalam pikirannya penuh dengan pertanyaan. Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya, kemana Wijaya akan membawanya.


Tidak hanya Pimpinan rampok itu, namun anak buahnya juga penuh dengan pertanyaan.


Sebenarnya mereka telah berhenti merampok, setelah tertangkap dan di vonis lima belas tahun penjara. Setelah dua tahun mereka bebas, Pimpinan rampok bertemu dengan Wijaya. Saat itu ia sedang dalam kesusahan karena susah mencari pekerjaan. Bertemu Wijaya membuatnya harus kembali menjalani pekerjaannya untuk merampok. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Wijaya, karena Wijaya mengancam akan membunuhnya jika tidak mau bergabung dengannya.


......................

__ADS_1


__ADS_2