
Pukul 03.00 pagi, Wira mengerjakan sendiri pembetulan pagar restorannya. Dengan menggunakan penerangan lampu mobilnya, dia mulai menyiapkan bahan-bahannya.
" Haah.. Novi, novi. Kalau marah, mengerikan juga ternyata. Aku jadi repot sendiri. Untung saja masih ada pasir yang masih sisa, di belakang resto. Kalau tidak, kemana aku akan mencarinya? Dan juga, masih ada peralatan proyek yang tertinggal, di gudang belakang." Wira menghela nafas, lalu berkata dengan dirinya sendiri.
Hari hampir subuh, suara ayam berkokok mulai terdengar bersahutan. Wira masih mengerjakan sepertiga pekerjaannya.
" Ha.." Jam berapa ini? Aku harus cepat- cepat menyelesaikannya, sebelum banyak orang melihatku." Gumam Wira, lalu segera mempercepat pekerjaannya.
Satu jam berlalu, akhirnya Wira mampu menyelesaikan pekerjaannya. Tubuhnya berkeringat dan penuh dengan noda semen.
Setelah membereskan semua peralatan, Wira mematikan lampu mobilnya. Kemudian pergi ke belakang untuk membersihkan badannya
Lelah yang Wira rasakan lenyap seketika, setelah dia membersihkan badannya. Lima kali menyiram tubuhnya, membuat dia kembali bugar. Tak sadar waktu cepat berganti, dan Wira masih sibuk memanjakan badannya di kamar mandi. Selang beberapa menit ia mulai puas mengguyur tubuhnya dengan air. Dia pun menyudahinya, lalu segera memakai pakaiannya.
" Ah, segar rasanya mandi jam segini." Ucap Wira, sambil mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah, dengan handuk.
Ketika dia melihat jam di Hpnya, dia merasa kaget lalu berkata,
" Ha? sudah hampir jam lima! Aduh, aku malah belum sempat beristirahat sedikitpun. Baiknya aku harus segera pulang."
Wira terburu-buru lari dari belakang. Dia segera menghampiri mobilnya, yang terparkir di depan. Tidak mau lihat kanan-kiri, Wira membuka pintu mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kencang.
Hanya membutuhkan waktu dua belas menit saja, Wira tiba di rumahnya. Dengan mata setengah terpejam, dia keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Bukk.." Wira merebahkan tubuhnya di sofa.
Dia mulai memejamkan matanya. Namun, baru saja memejamkan matanya, dia terperanjat dari tidurnya.
"Haa.." Wira berteriak keras.
Wira melihat di sekelilingnya. Dia mencoba memastikan kalau saat ini dirinya berada dirumahnya.
" Ah, apa yang baru saja aku lihat? Mimpikah aku? Ataukah tadi benar-benar nyata?" Wira bergumam sendiri.
Wira mencoba membuka matanya lebar-lebar, lalu mengusapnya berulang kali.
"Apakah aku sudah tertidur?" Lalu dia melihat jam di Hpnya.
" Apa? Baru jam setengah enam. Jadi aku belum tidur ya, tetapi kenapa mataku sulit terpejam. Rasa kantukku juga sudah hilang." Merasa kebingungan, dia meremas rambutnya hingga berulang kali.
Tak tahu apa yang harus dia lakukan, Wira terdiam. Berkali-kali dia melihat Hpnya.
" Kenapa Hpku sepi sekali? Tak ada satupun yang menghubungiku." Karena kesal, Wira membanting Hpnya ke sofa.
Dia mencoba memijat dahinya, berharap menemukan sesuatu, yang mampu menghilangkan kegundahan hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja matanya tertuju pada foto dia bersama istri dan kedua anaknya, yang di pajang di dinding kamar tamu.
Dia kemudian mendekati foto itu, lalu mengambilnya dari dinding. Dia menatap dalam-dalam foto keluarganya. Tak terasa, Wira meneteskan air matanya.
" Istriku, anak-anakku, maafkan aku." Air mata Wira mengalir deras. Dia mengusap foto keluarganya berkali-kali karena air matanya membasahi fotonya.
" Jika kalian masih disini, mungkin aku tak kan merasa kesepian seperti ini." Tangisan Wira semakin menjadi, saat dia teringat kenangan manisnya bersama keluarganya.
"Haaa.. Kembalilah keluargaku. Aku merindukan kalian. Tuhan kemana kau bawa keluargaku pergi?
Tolonglah, aku ingin bertemu mereka. Aku sendiri, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Hidupku hampa Tuhan.
Aku mohon izinkan aku bertemu mereka. Jemputlah aku. Ambillah nyawaku. Biarkan kami saling bertemu. Haaa.." Tangis Wira semakin keras. Rasa rindu, rasa kesal, dan amarah karena kehilangan keluarganya, bercampur menjadi satu.
Hingga pukul 07.00, Wira mulai bisa menenangkan dirinya. tenggorokannya kering tak bisa menahan suara tangisannya.
Meskipun tangisnya sudah mulai reda, namun tenaganya sudah mulai lemah. Wira terduduk di sofa. Dia sudah tak sanggup lagi untuk berdiri. Perlahan dia memejamkan matanya, dan tak berapa lama, Wira tertidur pulas.
Hari sudah semakin siang, suara lalu lalang kendaraan di jalan semakin ramai. Di Restoran Wira, para pelayan dan koki sedang menunggu Restorannya di buka. Mereka menunggu di depan pintu gerbang restoran.
Sambil menunggu, seorang pelayan melihat-lihat ke dalam restoran dari sela-sela pagar. Dia kemudian menyadari, pagar yang tepat berada di depannya seperti baru saja selesai di buat. Lalu di memanggil teman-temannya.
" Eh, kawan-kawan. Coba kalian kesini sebentar." Seorang pelayan yang bernama Nabila mencoba memanggil teman-temannya.
" Ada apa bil?" Tanya pelayan senior lalu menghampiri Nabila, diikuti teman-teman yang lainnya.
Pelayan Senior pun terkejut, lalu berkata, " Aku semalam pulang jam sepuluh lebih. Tetapi pagarnya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang berubah."
Salah satu koki mencoba menduga,
" Apa Pak Wira yang menabrak ya? Tetapi kapan dia menabrak? Terus keadaannya, bagaimana sekarang?
" Iya, Pak Wira juga jam segini belum datang. Kemana dia?" Pelayan senior juga bertanya-tanya.
" Kak, coba kakak telpon Pak Wira, aku khawatir terjadi apa-apa dengan dia." Pinta Nabila pada pelayan senior.
" Baiklah akan ku coba hubungi dia."
"Dreet..dreet..dreet.." Suara getar Hp, milik Wira.
Hingga terdengar berulang kali, Wira tak bergerak sedikitpun. Tubuhnya masih terasa lesu.
Para karyawan Wira yang sudah menunggu sejak pagi, merasa resah. Mereka berharap Bosnya tidak menemui bahaya apapun.
" Ayo lah Pak Wira, angkat telponnya." ucap Pelayan senior sembari mondar- mandir di tepi jalan.
__ADS_1
Saat para karyawan Wira sedang mengharap kedatangan Wira, Novi yang mengenakan baju putih dan rok hitam datang meghampiri mereka.
" Belum buka ya bil?" Tanya Novi lalu mengambil hpnya untuk melihat jam.
" Belum bu manajer." Jawab Nabila.
" Pasti dia belum bangun dari tidurnya. Semalam kan, pulang sampai larut malam." pikir Novi dalam hati.
" Saya sudah menghubunginya, tetapi tidak ada yang mengangkat telpon saya bu." Ucap Fitri si pelayan senior.
" Kalau begitu biar saya saja yang mendatangi Bapak ke rumahnya. Mungkin dia belum bangun." Ucap Novi lalu segera berjalan menuju motornya.
" Eh, Pak Wira tidak kenapa-kenapa kan bu Novi?" Tanya Fitri cemas.
" Beliau saya lihat, semalam sehat-sehat saja." Jawab Novi tenang, meskipun hatinya cemas.
" Tetapi ada yang aneh disini Bu. Lihatlah, sepertinya pagar ini baru selesai di perbaiki. Semalam saya pulang, posisinya masih sama. kalau sekarang ini, lihatlah. Ini masih baru. semennya saja masih basah." Ucap Nabila.
Novi terkjut melihat pagar restorannya seperti baru di renovasi. Dia pun mulai teringat kejadian semalam.
" Ya Tuhan, maafkan saya Pak Wira. Ini kelakuan saya. Pasti Anda sepulang mengantarkan saya, lalu kembali ke sini untuk membenahi pagar restorannya." Ucap Novi dalam hatinya.
" Pagar ini memang masih baru di perbaiki, kemungkinan Beliau sendiri yang memperbaikinya. Kalau begitu aku ke rumah Pak Wira dulu ya. Mungkin saja ia memang masih tertidur pulas." Novi berkata lalu pergi melajukan motornya.
Tiba sampai rumah Wira, Novi mengetuk pintu rumanya.
"Tok, tok, tok.." Tak ada yang menjawab.
" Pak Wira, ini Novi. Apa Pak Wira libur hari ini? Tanya Novi sembari mengamati di sekeliling rumah Wira.
Tak ada yang menyahut dan membukakan pintu, Novi bertekad masuk rumah Wira. Saat mencoba peruntungan dengan membuka pintu rumah Wira, Novi terkejut. Lalu dia berkata,
" Oh, ternyata tidak dikunci pintunya. Kenapa tidak dari tadi aku mencoba membukanya." Ucap Novi lirih.
Novi mencoba memasuki rumah Wira lalu memanggil Wira.
" Pak Wira," Novi terkejut tiba-tiba mendengar suara orang tidur mendengkur.
Novi perlahan mendekati Wira. Dia mencoba membangunkannya. Dan berharap Wira terbangun.
" Pak Wira, bangun Pak. Hari sudah siang."
Wira sesaat terbangun, matanya terbuka sedikit, dan akhirnya tertidur lagi.
Melihat sikap Wira, Novi menjadi tak enak hati. Dia tak ingin mengganggu tidurnya. Dia lalu menunggu Wira di sofa tepat di depan Wira tertidur.
__ADS_1
......................