SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
APAKAH INI SUATU PERTANDA?


__ADS_3

Dalam tangisnya Wira memaki-maki dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya karena tak bisa menjaga foto keluarga bersama mendiang istri dan anak-anaknya.


" Aku memang bodoh! Aku sering kali melepas foto ini dan memeluknya hingga aku tertidur. Kenapa aku tak melihat kondisi paku yang menancap di dinding untuk gantungan fotonya. Kenapa ini harus terjadi!"


Wira terus memeluk foto keluarganya, lalu mencoba mengaitkan kembali sisi-sisi bingkai yang terlepas. Kemudian ia memunguti serpihan-serpihan kaca yang berserakan di sekitar foto keluarganya terjatuh.


" Ah.. besok aku harus membeli bingkai baru untuk menggantikan ini. Tapi, ah tidak, tidak.. aku tak ingin merubah apapun. Ini adalah kenangan berharga. Walaupun aku mengganti dengan yang baru, tetapi rasanya akan sangat berbeda. Lebih baik aku memperbaikinya saja."


Wira mengambil lem, paku, dan palu di gudang belakang. Meskipun semua sudut gudang ia susuri, namun Wira tak menemukan apa-apa. Dia mencoba mencari di ruangan lain. Dikamar hingga ke dapur ia telusuri. Namun dia tak menemukan apa-apa juga.


" Ah.. kemana aku menaruh peralatanku?" ucap Wira lalu kembali lagi ke gudang untuk mencarinya.


" Nah.. ketemu! tadi aku mencari disini tapi tak ada. Kenapa tiba-tiba ada disini? Ahh.. apa aku kurang fokus mencarinya? baiklah, aku tak mau pusing-pusing memikirkan itu. Lebih baik aku langsung saja, memperbaiki bingkainya."


Wira melangkah ke ruang tamu dan mengambil bingkai dan serpihan kaca yang telah ia kumpulkan dan meletakkannya di atas meja tamu.


" Pertama aku akan mengelem bingkainya dulu, baru setelah itu kacanya. Tapi bagaimana aku mengelem kaca yang sudah hancur menjadi beberapa bagian begini.. Ahh.. sudahlah itu bisa kupikirkan nanti. Yang penting bingkainya jadi."


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Wira bisa menyelesaikan bingkainya. Dia kemudian mengotak-atik serpihan kaca dan menggabungkannya dengan sangat teliti.


Hingga dua jam lamanya, Wira masih sibuk dengan pekerjaannya. Berkali-kali dia merubah serpihan kaca yang ia pasang karena tidak sesuai tempatnya.


Jam pun terus berputar, tak terasa ayam telah berkokok. Menandakan waktu sudah mendekati waktu subuh. Tetapi Wira masih belum bisa menggabungkan serpihan-serpihan kaca dengan benar. Dia masih harus menyelesaikan tiga serpihan kaca yang masih belum terpasang.


" Ya Tuhan.. kepalaku pusing sekali. Bantu aku untuk menyelesaikan pekerjaan ini." keluh Wira, sembari memijit-mijit kepalanya yang terasa sangat berat.


Usai berkata, Wira tertidur. Sekilas ia memimpikan mendiang istri dan anaknya. Mereka memanggil namanya lalu tersenyum padanya, sebelum mereka menjauh dan menghilang diantara cahaya.


" Istriku... anakku..." teriak Wira diantara sadar dan tak sadar.


Tiba-tiba saja dering telpon berbunyi. Wira pun terbangun dari tidurnya. Ia kemudian mengangkat telponnya.


" Halo.." sapa Wira dengan suara serak.


" Pak Wira.." jawab seorang wanita dalam telpon yang ternyata Novi.


" Iya, ada apa Nov?" tanya Wira.


Wira mencoba mendengarkan suara Novi yang terdengar lirih. Ia menunggu mengangkat telponnya hingga lebih dari sepuluh menit. Namun Novi tak berkata apa-apa lagi. Wira hanya mendengar suara nafas Novi yang terdengar seperti mendengkur.


" Hehe... Novi, Novi.. bisa-bisanya kau tidur sambil ngelantur menelponku. Ada-ada saja, pasti kau sedang merindukanku." ucap Wira sambil cengar-cengir.


" Ah... aku masih belum menyelesaikan pekerjaanku. Aku harus menyelesaikannya sebelum hari sudah pagi."


Wira kembali mengotak atik serpihan kaca yang masih tersisa. Lima menit kemudian ia berhasil menyelesaikannya. Lalu ia menyiram serpihan kaca yang sudah tertata rapi dengan lem cair.

__ADS_1


setengah jam kemudian, kaca yang sudah ia lem pun kering dan sudah berbentuk kaca lagi. Namun saat ingin dipasang di bingkai, foto yang ada di dalamnya tak terlihat jelas. Wira terduduk lemas. semalaman ia mengerjakan pekerjaan yang sia-sia. Wira bingung dengan apa yang dilakukannya. Dia pun melempar kaca yang sudah ia perbaiki, ke dinding.


" Praannng..." kaca terbentur ke dinding namun tak pecah sama sekali.


" Kenapa? Kenapa tak bisa? semalaman aku mengerjakannya tetapi aku tak menyangka hasilnya seperti ini. Kenapa aku begitu bodoh!"


Wira membenturkan dahinya ke dinding berulang kali. Dahinya hingga terlihat memerah. Darah perlahan keluar dari tepi dahinya yang memar. Dia lalu berteriak memaki dirinya sendiri.


" Novi, maafkan aku.. meskipun saat ini kau sudah sah menjadi istriku, tapi aku tak bisa melupakan kenanganku bersama istri dan anak-anakku. Aku sangat menyayangi mereka melebihi segalanya. Maafkan aku Nov. Jauh ataupun dekat, dirimu memang tak bisa menggantikan sosok mendiang istriku.


Sekilas aku merindukanmu, tetapi saat merindukanmu, aku lebih dan lebih merindukan mendiang istriku. Aku sangatlah bodoh! Aku tak seharusnya begini!"


Usai berkata, kembali telpon Wira berdering. Novi menelponnya lagi. Awalnya Wira tak ingin mengangkat telponnya, tetapi akhirnya ia pun mengangkatnya.


" Halo, Nov..."


" Halo Pak Wira, maaf tadi saya ingin menelpon Anda, tapi malah tertidur pulas. Novi kangen sama Pak Wira."


" Tak apa-apa Nov, sama.. aku juga kangen sama kamu." Ucap Wira dengan setengah tersenyum. Ia tahu, bukan Novi yang sebenarnya ia rindukan.


" Hehe... tak usah membohongi Novi, Pak. Novi tahu, yang selalu Pak Wira rindukan itu istri pertama Anda, kan."


" Tidak Nov, aku sudah melupakannya. Kumohon jangan membahas tentang dia lagi. Sekarang hidupku hanya kamu. Biarlah dia tenang di alam sana. Dia pasti lebih bahagia hidup bersamaNya."


" Hemm.. baiklah Pak Wira. Nanti mau makan apa? Maaf ya, Novi nggak bisa masak untuk Anda."


" Jangan kebanyakan makan mi, nanti jadi penyakit, lho. Lagipula kalau makan mi saja, mana bisa kenyang.."


" Iya, paling nanti aku makan di Resto. Kalau kepepet, ya sudah buat mi saja sama telur."


" Hemm.. ya sudah. Yang penting Pak Wira jangan sampai nggak makan. Boleh makan mi, tapi jangan sering-sering."


" Iya, Nov. Kamu sudah sampai mana? Apa sudah dekat dengan tempat tinggal Bibi kamu?"


" Masih belum, Pak. Belum ada seperempat perjalanan. Perjalanannya kan dua hari dua malam."


" Astaga.. kupikir cuma beberapa jam saja. Kenapa aku membolehkanmu ikut dengan mereka, padahal kamu sedang hamil tua."


" Kemarin Pak Wira yang mau. Saya hanya mengikuti kemauan Pak Wira. Kalau Anda tak mengizinkan, saya juga nggak mau pergi, Pak."


" Baiklah, yang penting jaga kesehatanmu dan kandunganmu, Nov. Aku tak mau kalian kenapa-kenapa."


" Iya Pak Wira, jangan khawatir. Saya baik-baik saja, kok. Ya sudah kalau begitu sambung nanti lagi, ya. Saya masih terasa ngantuk."


" Ya sudah kalau begitu. Aku juga mau istirahat dulu. Semalam aku tak bisa tidur. Rasanya sepi. Biasanya kita tertawa berdua. Sekarang aku tak tahu, bagaimana caranya menciptakan rumah ini agar kembali ramai."

__ADS_1


" Sudah, jangan terlalu dihiraukan. Meskipun disini ada Paman dan Bibi, tapi saya juga kesepian. Soalnya belahan jiwa saya sedang jauh dari saya."


" Doakan aku agar aku bisa segera menyusulmu Nov. Aku berharap, bisa menemanimu saat kau akan melahirkan."


" Iya... saya terus berdoa, kok. Anak kita butuh kedatangan Ayahnya. Jadi jangan sampai nggak datang, ya."


" Baiklah, tapi aku tak bisa janji. Tapi akan kuusahakan aku datang."


" Ya sudah, saya tunggu kedatangan Anda, Pak Wira. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya. Selamat istirahat, Pak Wira."


" Selamat istirahat juga istriku." Wira kemudian menutup telpon dari Novi.


Ia kembali menatap pada foto keluarganya. Karena putus asa, ia akhirnya mengambil kembali kaca yang telah ia banting dan memasangnya pada bingkai.


" Ah, biarlah.. yang penting tak ada satupun yang berkurang dari foto ini. Biarkan saja kacanya pecah, yang penting fotonya aman." gumam Wira, lalu memasang kembali foto keluarganya, pada dinding yang telah ia beri paku baru.


" Akhhh... ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku menjadi gemetaran? Apa aku lapar lagi?" Wira tersentak, ketika tanpa disadari tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaganya.


Keringat deras mengucur dari sela rambut hingga ke seluruh tubuhnya kebagian bawah. Pikirannya mulai kacau, dia seperti bisa merasakan aura kematian yang sangat mengerikan. Tapi dia tak tahu siapa yang akan mati.


" Siapa yang akan kubunuh? atau siapa yang akan membunuhku? Kenapa pikiranku menjadi tidak stabil begini. Apa yang terjadi dengan diriku?"


Tak tahu apa yang sedang dialaminya, Wira menjadi bingung dengan dirinya. Dia berpikir mungkin ada orang jahat yang menuju kepadanya. Atau ada orang jahat yang akan mencelakai keluarga adiknya. Tanpa berpikir panjang, Wira mengambil Hpnya lalu menelpon Bono.


" Halo... Bono, apa kau masih di sekitar rumah adikku?"


" Masih Pak Wira, ada apa? apa Anda sudah mendapatkan sinyal kemunculan Wijaya?"


" Belum, Bon. Tapi perasaanku tidak enak akhir-akhir ini. Bon, kamu awasi terus keluarga adikku. Jangan sampai anggota keluarga adikku keluar dari rumah tanpa pantauanmu."


" Beres, Anda tak perlu khawatir. Saya selalu siap siaga. Siapapun yang berani mendekati rumah pak Tanu, takkan segan-segan saya menghabisinya."


" Hehe.. Kau terlalu seram Bon. Bagaimana jika yang datang kerumahnya itu, aku? apa kau akan menghabisiku?"


" Eh, maksud saya bukan begitu. Kalau Anda yang datang, pasti saya tahu kalau itu Anda. Tak mungkin saya tak mengenalinya."


" Hehe.. Tak apa Bon... aku hanya bercanda. Kau jangan terlalu serius. Yang penting selalu siaga. Awasi setiap ada yang mencoba menyelinap ke lereng bukit timur, yang hendak naik ke puncak bukit."


" Baik Pak Wira." ucap Bono lalu menutup telponnya dan kembali ke ruangan yang disediakan Rani untuk berjaga di depan rumahnya.


" Rani, Tanu, istriku... mungkinkah aku sedang sakit? aku takut tak bisa membantu kalian. Pikiranku kacau, akan sangat bahaya jika musuh datang menyerangku. Pasti aku takkan siap dan mampu menghadapi serangannya."


Wira kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang teramat letih. Dalam hati dia berkata. "Apakah ini suatu pertanda, kematianku sudah dekat?"


Setelah beberapa kali menggulingkan tubuhnya dan berganti-ganti posisi tidurnya, Wira akhirnya tertidur pulas. Mimpi baru segera dimulai.

__ADS_1


......................


__ADS_2