
Sekitar Pukul 11.00 siang Tanu, istri dan anaknya tiba di Rumah Sakit Besar. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menitan.
" Parkirannya sebelah mana ya Bu? Rumah sakit ini terlalu besar, Ayah juga belum pernah ke sini. " Tanya Tanu pada istrinya karena kebingungan mencari tempat parkir.
" Ibu juga tidak tahu Yah, Ibu kan nggak pernah pergi ke Rumah Sakit. Paling kalau sakit minta obat ke dokter dekat rumah kita . "
" Iya juga ya Bu, Kita nggak pernah ke Rumah Sakit. Ini sekali ke sini malah jadi bingung. " ucap Tanu dan lagi - lagi dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
" Kita tanyakan saja ke Satpam Yah, pastinya mereka akan menunjukkan tempat parkirnya. " ucap Rani memberi saran.
" Betul juga Bu. Kenapa nggak dari tadi pas kita masuk saja tanya sama satpam di depan. Aduhhh... " Tanu menggelengkan kepalanya dan kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal .
" Ya sudah biar Ibu tunggu di sini dulu, Ayah akan kembali ke pos tanya dimana parkirnya Bu. " ucap Tanu lalu kembali ke Pos Satpam.
" Baiklah Ayah.. Tanya yang detail ya Yah. Jangan sampai salah parkir lho. "
" Iya beres Bu.. " ucap Tanu lalu segera membelokkan motornya kembali ke Pos penjaga depan Rumah Sakit.
" Permisi Pak... " sapa Tanu pada Pejaga Pos .
" Iya, ada yang bisa saya bantu Pak? " jawab Satpam yang berjaga di depan.
" Maaf Pak Mau numpang tanya, Parkiran untuk pengunjung sebelah mana ya Pak? "
" Parkiran pengunjung ada di.... Owh Bapak ini mau ke mana? " Belum sempat memberitahu, Satpam malah ganti bertanya pada Tanu.
" Saya mau menjenguk murid saya yang sakit Pak. " Jawab Tanu berharap Satpam segera memberitahunya. Dia khawatir kalau kelamaan meninggalkan istri dan anaknya.
" Di ruang mana , di lantai berapa dan atas nama siapa Pak kalau boleh saya tahu ?" Satpam tadi menanyai Tanu secara mendetail .
" Saya kurang tahu Pak, Saya baru kali ini ke rumah sakit. Ruangan berapa, lantai berapanya saya belum tahu. Soalnya saya belum mendapat kabar. Hanya saja kalau namanya dia saya tahu, namanya Vina Pak. "
" Sudah berapa hari murid Bapak ada di Rumah Sakit ini Pak? " tanya Satpam pada Tanu yang seperti tak ada habisnya.
" Dia di bawa kemari baru pagi ini Pak, memakai ambulans. "
" Owh sebentar Pak, baru tadi ya Pak. Saya tanyakan dulu di bagian pendaftaran. " Ucap satpam lalu menelpon ke bagian pendaftaran.
" Tuuuuuttt..... tuuuuuut.. tuuuutt... tuuuuuut.."
" Haloo .. selamat pagi.. ada yang bisa saya bantu? " ucap suara wanita dari dalam telpon .
" Mbak ini dari Pos penjaga depan. Mau tanya apakah ada nama pasien yang bernama Vina ? " Tanya satpam pada perempuan bagian pendaftaran.
" Sebentar saya carikan dulu Pak.." Sambil menerima telpon wanita dalam telpon membuka buku daftar orang yang dirawat di rumah sakit itu.
__ADS_1
" Ini ya Pak, mungkin maksudnya namanya Arista Syavina putri Wijaya. "
Mendengar nama itu dari dalam telpon , Tanu mengiyakan . bahwa benar nama itu yang dia cari.
" Iya benar itu Pak. Itu murid saya. "
" Owh jadi ini ya Pak, yang bapak cari? " Tanya satpam pada Tanu .
" Iya Benar Pak .."
" Ya sudah, sudah ketemu mbak. benar nama itu kata bapak ini. Ada di lantai berapa dan di ruangan mana ya mbak?
" Anak ini ada di lantai Dasar Pak. Sekarang lagi di rawat di Ruang IGD. "
" Oke mbak terima kasih atas informasinya. Selamat siang. " ucap Satpam lalu menutup telponnya.
Usai menelpon , Satpam memberitahu di mana Vina berada.
" Pasien Yang bernama Vina ada di lantai dasar Pak, lagi di rawat di Ruang IGD. Untuk parkirannya, di sebelah barat gedung ini pak. Itu parkiran terdekat dari Ruang IGD. "
" Baik Pak, terima kasih sudah bantuin kami. Permisi Pak." Tanu pergi meninggalkan Satpam menuju tempat dimana istrinya menunggu
" Iya , Siaapp Pak..."
" Iya Bu, tanya di mana Vina di rawat dulu, baru nanti ditentukan parkirnya agar nggak kejauhan dari tempat Vina di rawat. "
" Terus di mana Yah Parkirannya? Sebaiknya kita cepat cepat Yah. "
" Di sebelah barat Bu kata satpam. Ya sudah langsung saja kita ke sana Bu."
Tanu , istri dan anaknya segera memarkirkan motornya. dan lagsung menuju lantai dasar di ruang IGD.
Ketika sudah sampai di lantai dasar, Tasya memanggil Tanu.
" Pak Tanuu... " Teriak Tasya memanggil Gurunya, dan berlari ke arahnya.
" Iya Tasya.. Bagaimana keadaan Vina? " Tanya Tanu penasaran ingin segera tahu keadaannya.
" Dia baru tersadar dari pingsannya Pak. Sekarang dia seperti linglung. Tasya minta tolong Pak Tanu temani dia dulu ya, Tasya mau mencarikan dia minuman. " Tasya menjelaskan keadaan Vina lalu pergi membeli minuman untuk Vina.
" Baik lah Bapak akan menemuinya... " kemudian Tanu istri dan anaknya menuju ruang IGD.
" Maaf, Bapak siapa ya? " Tanya seorang suster kepada Tanu yang ingin masuk ke Ruang IGD.
" Saya Gurunya suster. Dan ini istri dan anak saya. Kami ke sini ingin melihat keadaanya. "
__ADS_1
" Owh iya silahkan Pak, mohon bergantian ya Pak menjenguknya. Tidak di Izinkan lebih dari satu orang kecuali yang menunggu. " Suster mempersilahkan Tanu masuk sementara Rani di auruh menunggu di kuri tunggu di luar IGD.
Saat Tanu masuk ke IGD, Vina sedang memandang ke arah langit- langit sudut ruangan.
" Vinaa... " Tanu mencoba untuk memanggilnya.
" Pak Tanuuu..." ia melihat ke arah Tanu, lalu dia menangis..
" Ssstttts... jangan nangis... Bapak di sini. " Tanu mebelai wajah Vina , dan mengusap air matanya.
" Pak..... Kenapa Pak Tanu bisa keras sama Vina? Vina sakit hati sama Bapak.. Kenapa saat Vina bisa mengobati rasa rindu Vina , Bapak malah membentak di depan banyak orang. " Curhat Vina sambil tersedu, Air matanya seolah tidak mau berhenti mengalir.
" Vina.. Bapak minta maaf atas kejadian tadi. Bapak kehilangan kendali dan tidak bisa berfikir jernih. Bapak menyesali perbuatan Bapak kepada kamu. "
" Vina malu Pak, dan sampai sekarang rasa itu belum bisa hilang. Vina ingin membuang muka ini.. hu..hhuu hhuu..."
Tangis Vina semakin menjadi saat Tanu membiarkan Vina mengatakan unek-uneknya.
Tanu tak tahu lagi harus berkata apa, kata - kata Vina yang terus saja ia ucapkan membuatnya ikut bersedih dan menyesal membuat Vina sakit hati padanya.
" Viiinnn.. cukup.. sudah jangan bicara apapun lagi. tenangkan dirimu, jangan mengatakan apa yang membuatmu semakin bersedih. Sekarang apa yang harus Bapak lakukan untukmu agar kamu tak bersedih lagi."
" Apa Pak Tanu akan mengabulkan keinginan vina jika Vina bicara? "
" Iya , Bapak akan kabulkan permintaanmu. Sekarang katakan saja.. "
" Pak.. setahun lagi Vina akan lulus SMA, Vina ingin sekali sehabis lulus SMA menikah, dan Pria pendamping Vina adalah Bapak.. Apakah Pak Tanu tetap nggak mau?"
" Viiinn.. Bapak sudah berkeluarga kan.. Jika Bapak menikah denganmu , Bagaimana dengan istri Bapak? Minta lah sesuatau yang sewajarnya saja."
" Tapi Pak, Hanya itu yang saya inginkan. Pak sejak Vina kenal Pak Tanu, Vina menjadi bersemangat belajar. Hidup Vina jadi berwarna. Saat libur sekolah Vina sedih karena nggak bisa ketemu Pak Tanu, rasanya Vina nggak bisa jauh - jauh dari Pak Tanu."
" Tapi Vin, Bapak itu nggak mau menghianati istri Bapak. Saya dan istri bapak sudah berjanji untuk setia. Tak ada satupun yang bisa mendekati Bapak .."
" Pak izinkan Vina hidup bersama Bapak.. Vina mohooonn.." Meskipun Tanu bilang tidak mau tapi Vina terus memohon kepadanya.
" Vina.. Kalau mau hidup bersama Bapak, Vina boleh tinggal di rumah Bapak. Malah bisa untuk teman Bulan anak Bapak. soalnya dia anak perempuan sendiri. kakak adiknya semua cowok ."
" Vina nggak mau cuma tinggal di rumah Bapak, sementara bapak tetap milik istri Bapak. Vina juga ingin menjadi istri Bapak.. "
" Vin.. pikiran kamu terlalu jauh.. sebaiknya kamu pikirkan dulu masa depanmu. Menikah itu kalau kamu sudah bisa mengendalikan emosi, ego kamu dan lainnya itu baru benar benar siap menikah. Tetapi kalau egomu pun masih tinggi , sama saja kamu belum siap untuk berumah tangga. "
Tanu menjelaskan pada Vina syaratnya menikah dan kesiapan menikah. Dan berharap pada Vina semoga kata katanya membuat Vina mengerti dan berhenti mengejarnya.
Namun semakin dia menjelaskan, Vina semakin ingin sekali menikah dengannya. Tak ada lagi yang bisa Tanu katakan, dia sudah kehabisan kata kata.
__ADS_1