
Suasana di Puncak Bukit yang sejuk, membuat Reza dan Satya tertidur terlalu pulas. Meskipun telah tidur hingga berjam-jam lamanya, mereka juga tak kunjung bangun.
Hari berganti malam, Reza dan Satya masih tertidur. Semilir angin yang berhembus lembut, seperti membius mereka. Memanjakan tubuh mereka sehingga terjebak kedalam dunia mimpi terlalu lama.
Beberapa menit kemudian, Satya terbangun karena mendengar teriakan seseorang.
" Tolong... mataku... mataku... Akkhh..." Jerit Reza karena matanya tak bisa melihat.
" Bocah geblek... Reza... Ini sudah malam, kenapa kau ribut-ribut sendiri. Ambil Hpmu dan nyalakan senternya." teriak Satya.
" Ah, jadi ini sudah malam. Kampret! ku pikir aku sudah tak bisa melihat lagi."
" Kita tidur terlalu lama, Za. Rasanya tempat ini punya daya magis yang tinggi. Kita dibuat tertidur lama. Beruntung kita masih bisa terbangun, kalau tidak nyawa kita bisa melayang di sini."
" Tempat ini memang menarik, seperti berada di surga. Aku juga tertarik menginginkannya."
" Tak sadar, kau pun juga bermimpi terlalu tinggi, Za. Kau takkan pernah memiliki tempat ini."
" Hahaha... kau membalasku, Satya. Tak apa... aku akui kalau aku pun, punya mimpi memiliki tempat ini."
" Sudahlah, ayo kita naik. Cari rumah orang itu. Kita akan menumpang menginap dirumahnya jika diizinkan."
" Hahaha..Satya.. apa kau pikir datang kemari, masuk tanpa permisi meskipun ada tanda larangan masuk, orang akan memberimu tumpangan tidur?"
" Apa ada tanda larangan masuk? Dimana?"
" Tertulis jelas di depan sebelum memasuki area bukit ini, dilarang masuk. Apa kau tak melihatnya?"
" Aku tidak melihatnya, jadi kita ini maling Za. Kenapa aku tak menyadarinya."
" Kita ini bukan hanya maling, tapi perampas, bahkan bisa jadi kita ini pembunuh. Tergantung bagaimana sikap Wira kepada kita."
" Za, aku hanya bertugas mengawalmu saja. Jika ada pertikaian, aku tak mau turun tangan. Sebaiknya kau saja yang menangani."
" Pengecut... Hahaha.. Satya, tenang saja. Aku takkan melibatkanmu. Aku lah yang akan membunuh Wira jika dia menolak memberikan tanahnya."
" Kita sepakat, Za. Aku takkan membunuh orang. Aku sudah berjanji untuk tidak membunuh lagi."
" Serahkan padaku, Satya. Ini biar menjadi tanggung jawabku. Lagipula ini adalah tugasku. Aku mempunyai harapan yang besar dengan mengambil tugas ini."
" Apa harapanmu, za?"
" Tentu saja memiliki tanah ini. Bos berkata kepadaku, di bukit ini terbagi menjadi dua wilayah. Yang disini adalah milik Wira, dan di sebelah timur milik adiknya. Jika aku bisa mendapatkan keduanya, Bos akan memberikanku Bukit ini."
Satya terkejut mendengar perkataan Reza. Ternyata Reza sangat beruntung, selama dia menjadi anak buah Wijaya, hanya Reza lah yang mendapatkan tempat istimewa di mata Wijaya.
" Owh begitu, jika Bos berkata begitu, sudah pasti kau akan memilikinya, Za. Selamat ya, kau sungguh sangat beruntung."
" Satya, aku akan memberikannya untukmu jika aku berhasil mendapatkannya."
" Tidak, Za.. aku tak berhak mendapatkannya. Lagipula tanah ini terlalu luas. Aku tak bisa mengelolanya."
" Satya, kau itu saudaraku. Aku tahu kau masih banyak kekurangan. Kau masih banyak berhutang karena kau masih sering kalah judi."
" Eh... aku tak mau, Za. Sudahlah.. yang penting aku tak mau, Za."
Reza tersenyum, lalu dia menepuk pundak Satya dan mengajaknya kembali berjalan ke atas bukit.
__ADS_1
" Ayo, kita jalan lagi dan segera temukan rumah Wira. Aku sudah lapar."
" Baiklah, sayangnya disini tak ada hewan buruan. Jadi, kita tak bisa makan jika tak meminta pada Pemilik bukit ini."
" Tenang.. jika disini tak ada, aku akan meminta pada penduduk. Kalau tak ada yang mau memberi, aku akan menghabisinya."
"Za, hilangkan pikiran kotormu. Hasrat membunuhmu itu harus kau kendalikan. Jika tidak, ia akan menguasaimu dan saat kau berseteru dengan orang, pastinya kau akan berniat membunuhnya meskipun itu saudara kandungmu."
" Aku terbiasa begitu, Satya. Lagipula aku tak mempunyai saudara. Aku bebas membunuh siapapun."
" Termasuk aku?"
" Oh tidak, Satya... jangan berpikir negatif dulu. Maksudku aku tak punya saudara kandung. Sedangkan kamu, kamu sangat berharga Satya. Aku tak mungkin membunuhmu."
" Hemhh... Reza, disana ada lampu. Kemungkinan, rumah pemilik tanah itu ada disana. Ayo kita kesana. Aku perlu membersihkan badanku."
" Baiklah, ayo kita bergegas. Tubuhku juga sudah gatal-gatal. Nyamuk disini juga sangat banyak. Kita butuh tempat untuk berlindung dari nyamuk-nyamuk itu."
Reza dan Satya mempercepat langkahnya menuju rumah Wira di Puncak Bukit. Tiba disana, mereka melihat rumah Wira, sepi. Satya mencoba mengetok pintu rumah Wira.
" Tok tok tok..."
Tak ada jawaban. Satya mengulang mengetok pintu rumah Wira hingga berkali-kali. Namun tak ada orang yang keluar membukakan pintu untuk mereka.
" Satya... minggir..." Reza tak sabar menunggu lalu mendobrak rumah Wira yang terkunci dari luar.
" Brakkkkk...." Sekali dobrak, pintu rumah Wira berhasil terbuka.
" Reza! Aku tak suka kelakuanmu.. Kita masih bisa membukanya dengan cara lain tanpa merusaknya. Kenapa kamu terlalu gegabah!"
" Apa salahnya kau gunakan otakmu untuk berpikir, Za.. Sikapmu itu bisa membuatmu celaka."
" Halah.. aku cuma melakukannya sekali, Satya. Kau tak perlu membesar-besarkan masalah ini. Kau itu memang orang yang unik, Satya. Kau sebenarnya orang yang baik, tapi kau bekerja dan berkumpul dengan orang-orang jahat."
" Itu bukan urusanmu, Za. Lebih baik kau diam. Aku sedang malas berdebat. Aku tak ingin terpancing kata-katamu dan membuat kita berseteru lagi."
" Hemhh.. baiklah, Satya. Aku mau melihat di dalam. Apa ada orang atau tidak."
Reza mencoba masuk kedalam rumah Wira. Ia menyenteri seluruh ruangan yang gelap. Tak ada apapun yang masih tersisa. Semua isi rumah sudah ludes dibawa menyusul ke Pulau Seberang.
" Sial... kenapa nggak ada makanan disini. Aku pikir aku akan mendapatkan makanan untuk makan malamku."
" Jadi kau masuk kemari hanya untuk mencari makan?"
" Satya, kamu pikir aku tidak lapar setelah perjalanan jauh sampai disini. Tentu saja aku lapar. Aku tak bisa menahan laparku."
" Kalau kau lapar, turun dan cari kakekmu. Siapa tahu dia masih mempunyai sedikit makanan."
" Apa? Kau saja yang turun. Jangan seenaknya memerintahku... lagipula dia sudah tidak menganggapku sebagai cucu lagi. Aku juga sudah muak bertemu dengannya. Aku berharap saat bertemu dengannya lagi, dia sudah mati..."
" Reza, apa kau tak pernah diajari mengasihi keluargamu? Meskipun aku pembunuh, meskipun aku ini penjahat, tapi aku mencintai keluargaku. Reza, seharusnya kau senang masih memiliki orang tua meskipun dia kakekmu."
" Satya! berhenti mengurus hidupku... kau tidak tahu rasa sakitnya hatiku! Jadi, sebaiknya kau diam saja kalau tak tahu apa-apa!"
" Reza! aku ikut campur karena aku sayang padamu! Kau boleh jadi penjahat untuk orang lain, tapi untuk keluargamu, jangan. Suatu saat kau akan membutuhkan kasih sayang mereka. Suatu saat kau akan membutuhkan mereka."
" Satya brengsek! ucapanmu mengacaukan pikiranku! Satya.. dengar, Kakek keparat itu orang yang telah menghancurkan hatiku. Dia orang yang paling besar kesalahannya daripada Rika wanita sialan itu. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku, Satya. Cobalah gunakan otakmu, mencoba berpikir menjadi diriku. Renungkan... apa jika aku seperti ini, aku bersalah?"
__ADS_1
" Reza, ada masalah pasti ada sebab. Kakekmu seperti itu, mungkin karena kesalahanmu. Jangan berpikir dangkal, Za. Ada sebab Kakekmu tak menyukaimu. Kau pasti tahu, coba renungkan dalam hati."
" Ahh... persetan denganmu, Satya.. Aku takkan mendengarkan kata-katamu. Lebih baik aku tidur saja. Berbicara denganmu membuat perutku semakin mual."
Satya tersenyum mendengar kata-kata Reza. Sebenarnya Reza masih bisa dirubah menjadi orang baik. Namun, waktu bersama Reza sangatlah singkat. Mengubah Reza, butuh waktu yang lama. Sementara, setelah mendapatkan tanah Wira, mereka harus kembali berpisah karena perbedaan tugas mereka.
...----------------...
Di Pulau Seberang, Wira sedang tawar menawar dengan Novi. Ia meminta izin pada Novi untuk kembali ke Puncak Bukit miliknya, karena mendapat telpon dari Harjo tentang kedatangan Reza dan Satya.
" Novi, boleh atau tidak kalau aku kembali ke rumah untuk melihat keadaan disana?"
" Pak Wira, bersabarlah menunggu anak kita lahir... Memangnya kenapa kalau cucu Pak Harjo itu datang ke Puncak Bukit?"
" Sayang, di depan pagar masuk menaiki Puncak Bukit sudah aku tulis larangan untuk masuk. Jadi, kalau mereka nekad masuk, mereka tak menghiraukan pelakat larangan yang ku pasang. Artinya, mereka menantangku. Kalau tidak, mereka takkan berani masuk ke wilayahku."
" Mungkin saja mereka tidak tahu papan petunjuk larangan itu, Pak Wira. Jangan berprasangka buruk dulu."
" Novi.. menurut kata Pak Harjo, Reza membawa seorang temannya. Ia sangat kuat, Reza juga sudah bukan Reza yang dulu lagi. Pak Harjo juga berkata, menurut salah satu warga Reza dan temannya memiliki energi yang sangat jahat. Aura pembunuh, ada di dalam diri mereka."
" Apa? lalu apa yang ingin Pak Wira lakukan? Pak wira ingin kembali dan menemui mereka?"
" Iya, Nov... aku ingin tahu apa yang mereka inginkan. Kenapa mereka ada disana.."
" Pak Wira, coba Anda hubungi Bono. Siapa tahu dia bisa membantu. Hanya untuk memastikan Reza dan temannya saja. Kalau bisa, suruh dia menemui dan menanyakan maksud kedatangan mereka ke Puncak Bukit."
" Tidak, Nov.. Bono sedang sibuk dengan keluarganya. Ia juga mempunyai tugas mengawasi pergerakan dari luar menuju rumah Tanu. Aku tak ingin membebani dirinya dengan pekerjaan yang berat."
" Lalu bagaimana jika anak kita lahir, Pak Wira tak ada disini? Kasihan anak kita, Pak Wira."
" Novi, disini masih ada Paman dan Bibimu. Mereka akan menemanimu. Saat Acala lahir, mintalah Paman untuk mengadzaninya."
" Tapi, bukankah Ayah kandungnya yang seharusnya mengadzaninya, Pak Wira?"
" Tak apa, Paman boleh mengadzaninya. Suatu saat dia akan berbakti pada Pamannya juga. Aku ingin Paman juga merasakan memiliki anak seperti kita, Novi. Kasihan mereka, tolonglah mengerti maksudku."
" Baiklah Pak Wira, jika itu sudah menjadi keputusan, Pak Wira. Saya hanya bisa menurutinya. Kapan Anda akan kembali ke rumah?"
" Malam ini juga aku akan pergi. Tolong jangan bilang Paman dan Bibi kalau aku pergi. Katakan saja pesanku untuk mereka."
" Tapi, bukankah lebih baik Pak Wira berpamitan terlebih dulu pada mereka?"
" Tidak, Nov. Mereka pasti akan melarangku dan memarahiku jika aku pergi. Aku tak ingin berdebat dengan mereka."
" Ya sudah kalau begitu, nanti atau besok kalau mereka bangun, saya akan menyampaikan pesan Anda."
" Terima kasih banyak istriku.. Kalau begitu aku permisi dulu."
Wira mencium perut istrinya dan mengatakan sesuatu kepada bayi yang masih dalam kandungan istrinya. Tak lama kemudian ia berdiri dan memeluk serta menciumi wajah Novi dengan mesra. Novi sangat menikmati pelukan dan ciuman hangat dari Wira.
Beberapa menit kemudian Wira melepaskan pelukannya dan berhenti mencium Novi. Ia kemudian diam-diam keluar dari kamar, lalu menuju pintu keluar diikuti Novi.
" Pak Wira... hati-hati.." Pesan Novi.
" Iya Sayang.." ujar Wira lalu dengan secepat angin berlari menyusuri jalan setapak menerobos kegelapan malam.
......................
__ADS_1