
Sungguh tak pernah terpikirkan di dalam benak Riko dan Tanu, Wijaya dengan pintarnya mengatur strategi untuk menghancurkan keluarganya. Tiga anak buah Wijaya berhasil masuk melalui pagar belakang rumah Tanu. Mereka diam-diam membuka pintu rumah belakang milik Tanu.
" Hahaha... Reza! kau memang pintar. Aku tak salah memilihmu. Kau memang orangku yang paling bisa membuatku senang."
" Terima kasih atas pujiannya Bos. Lihatlah.. Bos takkan pulang dengan tangan kosong. Hahaha.."
" Jangan kau apa-apakan Ibu dan adik-adikku, orang jahat! Berani kau melukai mereka, aku takkan pernah membiarkanmu lolos!" teriak Riko pada Reza, yang berhasil membawa Bulan dan Rani serta Riko yang masih pingsan, keluar dari rumahnya.
" Hei, Bocah ingusan! Jika kau tak ingin keluargamu kenapa-kenapa, bawa kemari sertifikat tanah itu kepadaku, dan kita lakukan perjanjian." Ucap Wijaya.
" Perjanjian apa maksudmu?" tanya Riko sembari mengernyitkan dahinya.
" Tanu harus menandatangani surat atas hak tanah itu kepadaku. Kalau tidak, nyawa keluargamu dan kau sendiri akan lenyap ditanganku."
" Kalian memang licik! Kami tak pernah memberikan tanah itu pada siapapun!" Ucap Riko.
" Jadi begitu, Reza.. tubuh anak perempuan itu sangat indah. Apa kau tak menginginkannya?" Ucap Wijaya pada Riko lalu ia mengalihkan pembicaraan pada Reza.
" Bos, meskipun perempuan ini baru usia belasan tahun, tapi dia telah tumbuh dewasa. Aku ingin sekali bercinta dengannya." ucap Reza lalu dengan tangannya ia membelai wajah Bulan yang masih pingsan.
" Kalau begitu tunggu apalagi, Za. Dia milikmu. Karena kau yang telah mendapatkannya." Suruh Wijaya sembari tersenyum sinis.
" Jangan! Berani kau menodai Adikku, ku bunuh kau!" Teriak Riko dengan suara kerasnya.
" Hahaha.. Jika kau tak mau, adikmu ternoda, cepat berikan sertifikat yang dibawa Ayahmu itu kepadaku. Aku mendapatkan itu, dan Kau akan mendapatkan adikmu. Bagaimana?"
" Ayah, bagaimana ini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita harus mencari cara." Ucap Riko pada Tanu yang sedang berdiam diri.
" Riko, aku tahu sifat Wijaya. Seorang Penjahat itu, susah dipercaya. Bisa saja dia melepaskan Bulan setelah mendapatkan Sertifikat ini. Tapi, bagaimana jika setelah lepas, dia lalu membunuh kita semua. Kita tahu, Wijaya itu memang akan membantai keluarga kita."
" Lalu bagaimana Ayah? Kita tidak punya cara lain. Andai saja Paman Bono, ada disini. Kita takkan sepanik ini. Paman Bono kan, setara dengan orang itu."
" Kita tidak bisa mengharapkan orang lain, Riko. Mungkin ini sudah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita mendapatkan nasib yang seperti ini.
Ayo, kita hadapi mereka. Kita harus percaya dengan kemampuan kita. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Percayalah.. jika Tuhan meridhoi kita menang, pasti kita akan menang. Jika Tuhan tak meridhoi kita, mungkin Tuhan lebih sayang pada kita. Ayo, bersiaplah Riko."
" Baik, Ayah."
" Wijaya, mungkin ini sudah takdir kehancuran keluargaku. Aku akan menghadapimu. Tapi aku mohon, jangan bawa-bawa keluargaku. Kalau kau memang jantan, jangan main sandera-sanderaan."
" Hahaha.. baiklah, Tanu. Aku akan membiarkan mereka. Tapi kau harus mati ditanganku!"
" Aku sudah siap mati, Wijaya. Ayo kita bertanding!" Ucap Tanu, geram.
__ADS_1
Usai berkata, Wijaya dan Tanu saling beradu kekuatan. Segala macam pukulan dan tendangan mereka lakukan.
Sementara Riko mengalami hal yang paling pahit dalam hidupnya karena harus melawan Reza dan dua bawahannya."
" Hei, bocah ingusan! menyerah saja dan jangan menyerangku. Kalau kau tetap memaksa aku akan membunuhmu." ucap Reza.
" Persetan dengan ucapanmu! Seberapa besar kemampuanmu, aku tak kan takut melawanmu!"
" Kurang ajar! dasar keras kepala! Matilah kamu!"
Reza menyerang maju ke arah Riko diikuti dua anak buahnya. Dengan sekali serang, Riko berhasil dipukul mundur oleh Reza. Setelah jatuh ke tanah, Kedua anak buah bawahan Reza memegang kedua tangan Riko dan memaksanya berdiri.
Merasa sangat jengkel dengan Riko, Reza menampar wajah Riko berkali-kali hingga memar. Darah mengucur dari lubang hidung dan mulutnya.
Sementara Tanu yang terus melawan Wijaya, terpaksa menyerah setelah tangan kanannya patah, akibat menahan tendangan Wijaya yang sangat keras. Ia sudah tak mampu lagi melawan. Tenaganya terkuras habis setelah melawan anak buah Wijaya yang telah berhasil ia kalahkan.
" Hahaha.. Tanu, sekarang apa yang bisa kau lakukan? Tenagamu sudah habis, aku tahu kau takkan sanggup melawanku. Harusnya kau juga sadar, kalau kau sendiri tahu, dirimu tak kan lagi bisa menyerangku. Menyentuhku pun kau takkan bisa, Tanu."
" Kau memang hebat, Wijaya. Aku tak pernah membayangkan dan tak pernah menyangka, kalau kau akan menjadi seperti ini. Dugaanku selama ini ternyata benar, bahwa ada orang di masa lalu yang menginginkan keluargaku hancur. Sekarang, aku telah bertemu dan berhadapan dengannya."
" Hahaha.. jadi selama ini kau sudah tahu akan kehadiranku, Tanu? Itu sebenarnya pertanda. Tuhanmu masih menyayangimu. Tetapi kau sangat bodoh! setelah kau tahu, kenapa kau tak menghindar dan meninggalkan tempat ini. Apa kau memang mau mencari mati, Tanu?"
" Wijaya, aku masih tetap bertahan disini bukan karena aku menghadang bahaya. Tetapi, ini warisan leluhur yang harus kami jaga. Kami tak ingin tempat ini dikuasai orang lain."
" Wijaya, percayalah tempat ini takkan membawa keuntungan apa-apa untukmu. Apalagi jika tempat ini hasil rampasan."
" Ahhh... terserah kau mau bicara apa, Tanu! Yang penting aku harus membunuhmu, untuk membalas dendam atas kematian Putriku!"
" Wijaya, kau tak tahu apa-apa tentang kami. Dan kau pasti terkena hasutan dari seseorang, yang ingin agar hidupku hancur."
" Aku tak pernah terpengaruh hasutan orang lain Tanu. Tapi kali ini aku percaya pada orang yang telah bicara kepadaku. Dan setelah aku tahu, Tanu itu adalah kau. Amarahku semakin bergejolak! Aku akan membunuhmu, Tanu!"
Amarah Wijaya memuncak, setelah ia mengingat semua kejadian di masa lalu dan menghubungkannya dengan kematian Vina. Tubuhnya panas seperti di depan api unggun yang sangat besar. Ia lalu mengeluarkan jurus andalannya dan bersiap menghabisi Tanu. Namun saat ia ingin mengeluarkan jurusnya, Rani tersadar dari pingsannya lalu berteriak.
" Jangan.... Mau kau apakan suamiku, Wijaya!" Apa kau belum puas telah membuat anakku cacat?"
" Rani, ini semua salahmu! Andai saja kau dulu tak menolakku, aku takkan menjadi orang seperti ini. Dan kau takkan mengalami nasib seperti ini. Inilah akibatnya karena kau telah melukai hati seseorang sepertiku, Rani!"
" Kita sudah tua, Wijaya. Kenapa kau masih menyimpan dendam seperti itu? Berikirlah dewasa, Wijaya."
" Tidak, Rani! dendam adalah dendam. Aku tak bisa membiarkan dendamku tersimpan. Aku harus melepas dendam dalam tubuh ini."
" Lepaskan, Wijaya.. lepaskan tanpa menyakiti orang lain. Apa pantas seorang Ayah sepertimu berbuat seperti ini?"
__ADS_1
" Diam! aku tak butuh ocehanmu! Rani aku akan membunuh suamimu, dan anakmu. Aku ingin kau melihat mereka mati ditanganku! Kau akan merasakan betapa hidupmu yang berharga akan hilang. Hahaha.."
" Kau memang kejam, Wijaya. Aku bersumpah, jika kau membunuh mereka kelak kau akan merasakan hal yang sama denganku!"
" Hahaha.. sayangnya aku sudah tak punya siapa-siapa lagi, Rani. Jadi aku takkan tersiksa seperti dirimu. Lihatlah, Rani. Anakmu yang gagah dan tampan itu kini jadi mainan si Reza dan teman-temannya. Wajahnya sudah memar, tapi aku salut padanya. Ternyata dia masih sanggup menahan serangan Reza. Tapi sepertinya, dengan tiga tamparan yang terakhir saja, dia akan mati."
" Ya Tuhan, Riko..." teriak Rani lalu berlari ke arah Riko.
" Ibu.. jangan kesana. Mereka sangat licik. Lebih baik Ibu jauhi, Penjahat-penjahat itu." Cegah Tanu agar Rani tak mendekati Reza dan kawan-kawannya.
Rani menjadi bingung mendengar larangan Tanu. Ia pun berhenti lalu hanya bisa menangis. Tangisannya membuat Bulan tersadar dari pingsannya. Ia lalu membangunkan Raka yang juga masih pingsan.
" Ibu.. Raka.. Raka, bangun. Ayo bangun.." Bulan berusaha menyadarkan Raka dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Raka pun tersadar, namun ia berteriak karena matanya tak bisa melihat.
" Akhhhh... aku tak bisa melihat! Kenapa dengan mataku?"
" Raka, matamu terkena zat kimia. Kau sudah tak bisa melihat lagi." ucap Bulan sedih.
" Aku tak bisa melihat? Siapa yang melakukannya! Aku akan membalas perbuatannya, orang jahat!"
" Raka, tenanglah. Ibu sedang menangis. Ayo kita dekati dia."
" Apa? Ibu menangis, siapa yang telah membuatnya menangis?"
" Yang telah membuatnya menangis adalah kau, anak ingusan. Hahaha." jawab Wijaya, meskipun Raka tak berbicara dengannya.
" Siapa itu, Bulan? Apakah penjahat itu masih disini?"
" Masih, Raka. Mereka telah membuat Ayah dan Riko babak belur. Makanya Ibu menangisinya."
" Jadi.. kita kalah, Bulan. Ibu, dimana Ibu? Ayo kita ke tempat Ibu."
" Ayo, Raka. Aku akan membantumu berjalan."
Bulan dan Raka berjalan mendekati Rani yang sedang terduduk dan menangis, sementara Reza dan kawan-kawannya masih menunggu aba-aba Wijaya, kapan akan membunuh Riko.
Suasana semakin mencekam ketika malam semakin meninggi. Suara tangisan, rintihan dan teriakan orang yang berada di halaman rumah Tanu tak terdengar oleh siapapun.
Dari dalam rumah, Rama dan Tama sedang nyenyak tidurnya. Mereka tak tahu jika kedua orang tua dan kakak-kakak mereka sedang dalam bahaya.
......................
__ADS_1