
Tak kuat menahan lapar dan dahaga, Tama hanya bisa menangis. Ia terus memanggil-manggil Ayah dan Ibunya. Orang gila disampingnya terbangun karena terusik oleh tangisan bocah kecil yang berada disampingnya.
" Hei.. Bocah kecil! Diam! Bisa tidak kamu jangan mengganggu tidurku!" teriak orang gila itu.
" Maaf, Paman.. aku lapar sekali. Aku tidak punya makanan." sambil menangis, Tama berkata pada orang gila itu.
" Kamu lapar dan kamu tidak punya makanan? Hahaha... itu deritamu! Aku tidak peduli. Hahaha.. Sekarang.. pergi dari istanaku! Kau telah menginap semalaman disini dan kau pasti tak bisa membayar sewa menginapnya. Sekarang cepat tinggalkan tempat ini, atau ku seret dan ku lempar kamu ke jalan! Cepat minggat!" ucap Orang gila itu sembari berteriak.
Tama ketakutan mendengar teriakan orang gila itu. Selama ini dia tidak pernah mendengar perkataan keras dan kasar. Ia kemudian berhenti menangis. Lalu mencoba bangun dan merangkak meninggalkan gubuk tempatnya berteduh.
Ia terus merangkak sembari melihat ke arah orang gila itu. Terlihat, orang gila itu terus melotot ke arah Tama. Tama menjadi semakin ketakutan. Ia teringat dengan orang-orang jahat yang membuatnya kehilangan keluarganya.
Tanpa sadar Tama berteriak meskipun hanya bersuara lirih.
" Orang jahattt!!!" teriak Tama.
" Hahaha.. Aku memang jahat! Aku bukan orang baik! Cepat pergi.. Jika tidak, aku akan melemparmu ke jurang!" Ucap Orang gila sembari tertawa lebar.
Tama memalingkan wajahnya lalu kembali merangkak ke jalan. Ia terus menangis tersedu-sedu. Nafasnya terengah-engah dan kepalanya berkunang-kunang. Perutnya sangat merasakan perih yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dengan sisa-sisa tenaganya, Tama membawa tubuh mungilnya merangkak menuju jalan kembali ke rumahnya. Ia tak tahu apakah dia akan sampai ke rumahnya atau tidak. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, dia tak ingin meneruskan perjalanan mencari orang baru. Ia takut jika bertemu orang jahat lagi.
Sementara itu, orang gila yang masih berdiri dan melotot memandangi Tama tiba-tiba kembali merebahkan tubuhnya lagi di bawah gubuk miliknya.
Ia mencoba memejamkan matanya. Berharap, bisa meneruskan mimpi indahnya menjadi seorang guru kaya yang tampan dan dikelilingi banyak wanita. Namun ia terhenyak lalu berdiri dan memandangi Tama yang sudah berhenti merangkak di tengah jalan.
" Ah.. Kenapa dengan tuyul kecil itu? Dasar bocah goblok. Jalan saja tidak bisa, kenapa keluyuran sendiri di tengah hutan seperti ini." ucap orang gila itu lalu berjalan menghampiri Tama yang sudah tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Tiba di depan Tama, Orang gila itu tertawa dan memaki Tama dengan sepuas hatinya.
" Hei! Bocah bandel... apa kau sudah tak sanggup berjalan? Apa kau sudah merasa sangat lapar? Kasihan sekali.. Ini.. makanlah makanan ini, dan cepat tinggalkan hutan belantara ini. Pulang pada orang tua bodohmu, sana!" ucap Orang gila itu sembari melemparkan bungkusan makanan tepat di samping wajah Tama.
__ADS_1
Tama masih mampu mendengar kata-kata orang yang berdiri disampingnya. Ia juga tahu, orang gila itu melemparkan makanan kepadanya. Namun tubuhnya yang lemah sudah tak mampu untuk melakukan hal yang orang gila itu perintahkan. Tama hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang pedih.
Beberapa menit berlalu, kondisi Tama semakin mengkhawatirkan. Tak mendapat jawaban dari Tama,orang gila itu membalikkan badan Tama yang sudah sangat lemah.
" Wajahmu pucat seperti mayat. Hahaha.. Sebentar lagi kamu akan mati!Tapi tenang saja, kau tak perlu khawatir. Aku akan membangunkanmu istana kuburan yang megah untukmu jika kau mati. Hahaha.." ucap Orang gila itu pada Tama.
Semakin lama Tama sudah tak mampu lagi merasakan penderitaanya. Nafasnya semakin terputus-putus. Tubuhnya menjadi kejang-kejang dan matanya melotot.
Melihat Kondisi itu, Orang gila itu merasa kasihan pada Tama.
" Ah.. Jika dia mati, aku yang akan disangka sebagai pembunuhnya. Aku tak tahu apa-apa soal tuyul ini. Jika ibu tuyul marah, apa yang harus aku katakan?" ucap orang gila itu sembari menggaruk-garuk kepalanya lagi.
" Ah.. Tidak.. Aku tak mau kamu mati. Aku akan membawamu ke rumah sakit dekat sini. Disana kau akan bisa makan enak. Dan kau akan dilayani oleh suster-suster yang cantik jelita. Hahaha.." ucap Orang gila itu lalu bergegas berlari membawa tubuh mungil Tama.
Beberapa menit kemudian, Orang gila itu sampai di rumah sakit yang tak jauh dari gubuknya. Awalnya, orang-orang yang sedang berkunjung ke rumah sakit berteriak karena ada orang gila yang membawa lari bocah kecil. Namun setelah beberapa orang berteriak agar membolehkannya masuk, orang gila itu masuk dan mencari dokter agar segera menolong Tama.
" Dok.. Dokter.." teriak Orang gila itu dengan nafas terengah-engah.
" Apa kamu tak melihat, anak ini butuh segera di obati. Cepat bantu aku, sebelum dia tewas!" ucap orang gila yang bernama Bejo dengan suara keras.
" Astaga!!! I.. Ini anak siapa Pak? Ya Tuhan.. Kenapa dengan anak ini?" tanya Suster lagi. Ia mendadak terkejut dan cemas melihat kondisi anak yang dibawa Bejo.
" Tak perlu bertanya! Cepat beri dia pertolongan.. Ayo!!!" ucap Bejo lagi.
" Ba.. Baik Pak. Saya akan panggilkan Dokter. Ayo kita bawa masuk dulu anak itu, Pak." ucap Suster itu dengan nada gemetar.
Tak berapa lama, seorang Dokter keluar dan segera menangani Tama di ruangan khusus.
" Dokter.. tolong selamatkan bocah itu. Saya tak mau dia kenapa-kenapa. Kalau dia mati, aku akan menghajarmu! Hahaha.."
__ADS_1
Dokter hanya bisa menganggukan kepalanya lalu fokus untuk membantu menyelamatkan Tama.
" Pak Bejo sebaiknya tunggu diluar. Anak ini harus segera ditolong. Jika tidak, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak ini. Silahkan, Pak Bejo." ucap Suster itu.
Bejo kemudian keluar dari ruangan. Ia pun mengomel-ngomel tak jelas karena disuruh keluar oleh suster. Dia tak terima ada orang yang mengusirnya.
Ia pun berlalu meninggalkan ruangan dan berlalu begitu saja meninggalkan rumah sakit.
Di halaman depan dan masih di kompleks rumah sakit, Bono tak sengaja menabrak Bejo dengan cukup keras. Bejo pun terpental beberapa langkah dan jatuh tersungkur. Sontak saja, Bejo memaki-maki Bono dengan keras.
" Kampret! Matamu dimana?! Jalan saja tak becus, kaya bocah bandel. Ada orang ganteng disini kok ditabrak." Maki Bejo dengan lantang.
" Eh, maaf Pak. Saya tidak sengaja. Saya terburu-buru." Ucap Bono sembari menyalami Bejo dan meminta maaf.
" Ahh! Aku tak butuh permintaan maafmu! Aku butuh uang! Cepat beri aku uang!" pinta Bejo.
" Iya.. Iya jangan teriak-teriak, Pak. Saya akan kasih bapak uang. Sebagai permintaan maaf saya."
Bono kemudian mengambil dompetnya dan memberikan uang lembaran lima ratus ribu kepada Bejo.
" Apa ini?! Aku tidak butuh uang merah. Aku butuh uang biru, karena aku suka warna biru. Hahaha.." ucap Bejo lalu membuang uang dari Bono ke tanah.
Melihat sikap Bejo, Bono merasa sangat marah. Emosinya tersulut karena Bejo membuang uangnya. Namun ia mencoba sabar dan mengganti uangnya dengan pecahan lima puluh ribuan sebanyak lima ratus ribu juga.
" Baik, Pak. Saya akan kasih Bapak uang biru. Ini, Pak.. mudah-mudahan bermanfaat untuk Bapak."
" Hemmm.. Uang yang aku buang itu, hanya lima. Jika kau menggantinya, kau cukup beri aku lima saja. Selebihnya, ku kembalikan kepadamu."
Bono merasa heran dengan sikap Bejo. Ia bertanya-tanya dalam hatinya. "Kenapa orang ini seperti tak mengerti tentang uang. Seandainya dia tahu, pasti dia tak kan menolak uang yang ku berikan."
__ADS_1
......................