SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PERJALANAN PULANG BERSAMA BONO


__ADS_3

" Bos, lalu bagaimana kita akan pergi? tak ada kendaraan yang bisa dipakai. Apa mau pakai mobil rongsokan begini?"


" Kita akan jalan kaki Bon."


" Ha? Kalau begitu cukup sampai disini saja saya menemani Bos. Lebih baik saya kembali."


" Bon, kamu mau kembali kemana? Sudah pasti, kamu meninggalkan Bos besar tanpa sepengetahuannya dan tanpa Izinnya, berarti kamu sudah dianggap melanggar aturan. Jika kamu kembali, berarti siap saja untuk menerima hukuman."


" Iya juga, kalau begitu saya akan meninggalkan keanggotaan ini dan memakai uangku untuk hidup tentram di lereng bukit. Dan menikahi Rika, cucu orang tua itu."


" Tidak semudah itu Bon. Pasti kamu akan jadi buronan Bos besar. Apa? Kamu jatuh cinta dengan gadis desa itu?"


" Apa Bos akan melindungiku jika mereka menangkapku? Hehe, aku sudah jatuh cinta saat memandang wajahnya. Aku merindukannya Bos."


" Tentu saja aku akan melindungimu Bon, tapi kalau kamu mau pergi sendiri, aku tidak bisa menjamin. Kalau begitu, nikahlah dengannya. Gunakan uangmu untuk hidup bersamanya."


" Eh, saya tidak jadi pergi Bos. Saya akan terus setia menemani Bos. Kalau soal itu, saya pikir-pikir dulu Bos."


" Baiklah, kalau begitu ayo jalan. Bon, dia gadis baik-baik. Jangan merusaknya. Aku sudah pernah melukai istriku, aku tak ingin kamu melakukan hal yang sama."


" Baik Bos, saya bersedia jalan kaki. Bos, saya tidak hanya mencintainya, tapi juga ingin hidup bersamanya. Melindunginya. Tidak seperti Bos, yang meninggalkan istri demi wanita lain."


" Hushh.. Jangan membahas masa lalu. Aku sudah melupakannya Bon. Aku tak ingin mengenang masa lalu yang membuatku sakit."


" Haha, Badan sekekar begini masih bisa merasakan sakit ya Bos?" Ejek Bono sambil memegang lengan Wijaya yang besar.


" Aku juga manusia Bon, bisa merasakan sakit. Jangan samakan aku dengan mesin."


" Mesin juga bisa merasakan sakit lho Bos. Buktinya saja mereka bisa rusak. Seandainya mereka punya mulut, tak bisa dibayangkan, betapa ngeri suara jeritanya."


" Kamu itu bisa saja jawabnya Bon. Sudah pintar ngejawab sekarang ya, sudah berani melawan Bos besar juga. Siapa yang ngajarin, Bon?"


" Hahaha.. Jangan bawa-bawa namaku. Kamu lebih parah daripada aku Bon."


" Saya kan tidak bilang nama Bos, Kalau say bilang Bos, bisa saja kan yang saya maksud Bos besar. Terlalu sensitif Bos ini."


" Hahaha, pintar sekali kamu Bon. Mulutmu terlalu lancar ngejawab. Sini!mana mulutmu? Belum pernah makan sepatu kan?" Wijaya melepas sepatunya dan mencoba memasukkan sepatunya kedalam mulut Bono.


" Ampun Bos.. Saya hanya bercanda. Jangan begitu sama partner kerja." Bono berlari meninggalkan Wijaya, yang terus berusaha memasukkan sepatu ke mulutnya.


" Bon, jangan lari kamu!" Wijaya terus mengejar Bono yang lari kencang seperti rusa.


" Saya tidak mau Bos, sepatu itu buat Bos saja." Sahut Bono, sambil berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Wijaya.


Merasa dirinya sudah tak mendengar teriakkan Wijaya lagi, sambil berlari, Bono menoleh ke belakang. Dia tak melihat Wijaya mengejarnya.


" Ha? Kemana Bos pergi? Hahaha.. Anda sudah terlalu tua Bos, tak mungkin bisa mengalahkan kecepatan anak muda ini."


Bono tertawa, Wijaya yang mengejarnya, belum terlihat batang hidungnya.


" Ahh, sebaiknya ku tunggu saja disini. Paling lima menit lagi Bos baru bisa mengejarku." Haha.. Payah kamu Bos tua."


" Huuh.. nafasku terengah-engah. Meskipun punya kekuatan besar, namun jika berlari seperti inipun menguras tenaga. Aku pikir, tenagaku tidak akan berkurang."


Bono melepas bajunya, dan dengan bajunya dia mengipasi tubuhnya yang kepanasan. Keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya, Bono pun melapnya dengan baju satu-satunya yang ia bawa.


" Jorok sekali kamu Bon."


" Ha? Booss! Sejak kapan Anda di belakang saya? Seharusnya Anda lewat sana kan? Kenapa sudah di belakang saya?"


" Aku sudah sampai sini sebelum kamu berhenti di sini. Aku naik di atas pohon di atasmu."

__ADS_1


" Apa?" Bono kaget setengah mati.


" Kenapa Bon?"


" Jadi, Bos mendengar kata-kata saya?"


Wijaya mengangguk. Kemudian dia tersenyum melihat ekspresi Bono yang ketakutan.


" Bos, maafkan saya. Saya khilaf. Saya hanya bercanda. Tidak tulus dalam hati." Bono sujud di kaki Wijaya.


" Bon, Bon.. Kamu tak pernah berubah. Kesombonganmu itu menjengkekan sekali. Apalagi meremehkanku."


" Bos, ampuni saya. Saya tetap anak buah Anda, jadi jangan kasar-kasar pada saya."


" Hahahaha.. Bono, lepas bajumu, pergi sana ke toko baju. Beli pakaian Wanita!"


" Maksud Bos?" Bono kebingungan.


" Kamu tidak pantas jadi laki-laki jika takut aku kasar padamu. Aku tidak punya anak buah pengecut seperti itu."


" Bos! Saya menghormati Anda. Jika saya berkata begitu, bukan karena takut. Saya hanya tak ingin berselisih dengan Anda Bos."


" Begitu rupanya? Baiklah." Wijaya berlalu meninggalkan Bono yang masih duduk bersujud ke arahnya.


" Bos, tunggu. Apa maksud Bos begitu?" Bono mengejar Wijaya yang berjalan dengan wajah dingin.


" Tidak apa-apa."


" Bos, jangan begitu. Saya jadi tak nyaman. Bos, maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulangi lagi." Bono bersujud lagi di kaki Wijaya. Namun karena Wijaya terus berjalan, Bono terpaksa mendekap kedua kaki Wijaya, sehingga Wijaya tak bergerak dari tempatnya.


Wijaya tak bisa menyembunyikan lagi keinginan untuk tertawanya melihat kelakuan Bono. Dia kemudian melepaskan tawanya.


" Hahaha..Bono.. Cukup. hentikan. Aku tidak marah. Aku hanya mengerjai kamu saja. Sudah, jangan memegang kakiku lagi. Aku jadi tidak bisa berjalan. Aku ingin sekli segera sampai ke rumah."


Wijaya dan Bono kembali melanjutkan perjalanannya. Mereka menyusuri jalanan sepi melewati pegunungan dan hutan-hutan. Tak jarang, sungai deraspun mereka seberangi. Hingga hampir petang, Wijaya dan Bono sudah berjalan hampir tigaperempat perjalanan, ke rumah Wijaya. Bono merasakan lelah. Dia meminta untuk beristirahat sebentar.


" Bos, saya lelah. Saya ingin beristirahat sebentar. Jika Bos keberatan, Bos jalan dulu saja tidak apa-apa. Nanti saya menyusul."


" Jangan disini Bon. Kita keluar dari hutan ini dulu jika mau beristirahat. Sekalian, kita cari warung makan. Kita akan istirahat dan makan disana."


" Tapi Bos, saya sudah lelah. Nafas saya sesak. Jantung saya terlalu cepat berdetak. Saya tidak berani melanjutkan perjalanan lagi Bos. Saya butuh memulihkan tenaga dulu sebelum melanjutkan perjalanan."


" Bono, Bono. Katanya kamu masih muda. Jalan baru dapat sekitar empat ratus kio saja sudah menyerah. Kamu harus banyak berlatih lagi Bon. Akan ada peristiwa besar yang akan menanti kita."


" Peristiwa besar? Maksud Bos bagaimana?"


" Sudah, kamu tak perlu mengetahuinya. Kelak kamu akan tahu sendiri. Tetaplah bersamaku, maka kamu akan aman dan terjamin."


" Baik, Bos. Saya akan setia, menjadi abdi Bos selama saya mampu."


" Baiklah, aku akan menunggumu. Pulihkan tenagamu. Habis ini kita keluar dari hutan ini, lalu cari makan. Aku juga sudah lapar."


" Baik Bos, tunggu Sepuluh menit, saya akan kembali."


" Bagus, aku tunggu kamu di atas batu itu. Carilah tempat yang nyaman, agar konsentrasimu tidak terganggu."


" Siap Bos, Saya akan segera kembali." Bono pergi ke bawah jurang. Dia mendapati sungai kecil yang mengalir. Dia duduk di atas batu besar di tepi sungai, lalu mulai memulihkan energinya.


Sambil menunggu Bono, Wijaya iseng-iseng membuka Hpnya. Dia melihat pesan-pesan masuk yang sudah dia baca. Dia khawatir ada pesan yang terlewatkan.


" Kenapa ya, mendadak diriku menjadi tak enak lagi. Aku merasa khawatir yang sangat luar biasa. Tapi aku tak tahu apa penyebabnya." Ucap Wijaya dalam hati.

__ADS_1


" Ada apa sebenarnya ini, kenapa Tubuhku bergetar. Apa yang terjadi. Apa ada masalah dengan Bono?"


" Ah, tidak mungkin. Bono orang yang kuat. Tak mungkin dia kenapa-kenapa."


Wijaya merenung sesaat. Dia menyangga dagu dengan tangannya. Tiba-tiba saja Bono datang dan memanggilnya.


" Bos!" Teriak Bono.


Teriakkan Bono membuatnya terkejut, dan jatuh dari atas batu tempat dia duduk.


" Ada apa teriak-teriak. Membuatku kaget saja." Wijaya sedikit kesal.


" Maaf Bos, saya pikir sudah meninggalkan saya. Soalnya sudah gelap. Tak tahu kalau Bos masih disitu."


" Hiih.. Makanya kalau mau mencari ditempat gelap itu, di dekati dulu, baru di panggil. Masih jauh sudah teriak-teriak. Ada-ada saja kamu ini Bon."


" Hehe, maaf Bos. Mana yang sakit Bos? Saya akan obati." Bono mencoba meraba-raba kaki Wijaya hingga ke pahanya.


" Bon, hentikan! Aku jadi ngeri. Kamu pikir aku seorang gadia yang bisa kamu gerayangi? Sembarangan saja kamu itu."


Lagi-lagi Bono tertawa, dia tak kuasa menahan tawanya melihat Bosnya marah-marah kepadanya karena mencoba meraba-raba sampai hampir ke daerah vitalnya.


" Saya itu hanya mau melihat, dimana yang sakit Bos."


" Kalau aku sakit, pasti ku beritahu. Kalaupun memang sakit, aku tidak akan memberitahukannya padamu. Aku tidak akan mengatakan keluhannku."


" Aduh, galak sekali Bos. Baiklah. Mungkin Bos sedang lapar. Ayo kita sekarang lanjutkan perjalanan dan makan."


Wijaya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia setuju dengan pendapat Bono.


" Mungkin benar katamu Bon, aku hanya kelaparan. Sehingga mengusik ketenangan pikiranku."


" Mungkin saja Bos, Ya sudah. Sebelum hari semakin malam, dan sebelum warung makan tutup, lebih baik kita segera bergegas."


" Tak usah menyuruhku Bon, Aku disini yang jadi Bos."


" Haha, kalau begitu Bos saja yang menyuruh saya."


" Halah, tak penting. Ayo jalan."


Wijaya dan Bono kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya. Mereka keluar menyusuri jalanan setapak di hutan, ke jalan ramai, untuk mencari makan terlebih dahulu.


Tiba di warung makan, Pikiran Wijaya masih terusik. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Sekilas tampak Bayangan putrinya di benaknya. Wijaya tersentak, pikirannya kembali semakin tak tenang. Lalu Wijaya berteriak memanggil Putrinya.


" Vinaa!!!"


Teriakkan Wijaya menggemparkan seisi warung makan. Bahkan seorang pelayan yang kebetulan sedang membawa tiga gelas minuman di samping Wijaya mendadak retak dan Pecah hingga berserakkan ke lantai.


Semua orang tertuju pada Wijaya.Semua menyangka gelas pecah yang dibawa pelayan, pecah karena ulah Wijaya.


Namun saat semua orang mulai melirik benci padanya, Wijaya membantu pelayan memberihkan serpihan-serpihan gelas yang pecah. Ini membuat semua orang simpati kepadanya.


" Kenapa Bapak berteriak? Itu membuat pelayan ini kaget dan menjatuhkan gelasnya." Tanya seorang pembeli yang


duduk di sebelah Wijaya."


" Maaf Pak, saya tidak sengaja. Saya ketiduran, kemungkinan saya ngigau Pak." Wijaya kebingungan, dia tak sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.


" Jelas saja Bapak ini duduk, matanya melek. Kok bilang ketiduran. Ada-ada saja."


Dalam hati Wijaya mengumpat berkali-kali mendengar orang disebelahnya menyangkal kata-katanya. Wijaya memang orang yang keras yang tidak suka dibantah, apapun itu perkataannya. Siapapun yang pernah melihat aksi kejahatannya, pasti akan lari. sembunyi darinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2