SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
LAHIRNYA CALON -CALON ORANG HEBAT


__ADS_3

Pada hari senin pagi tanggal dua mei, di rumah Rika dan Santi mendadak ramai orang. Mereka berdua melahirkan secara bersamaan di rumahnya masing-masing.


Mereka diberikan keturunan yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki. Betapa bahagianya Bono dan Bara karena harapan mereka untuk memiliki anak laki-laki, terkabul.


Bono telah memberikan nama untuk bayinya dengan nama Narendra MahaMeru. Sedangkan Bara menamai anaknya dengan nama Dahana Bara Putra.


Mereka memberikan nama sesuai dengan harapan mereka. Menjadi anak yang kuat. Walaupun Rika dan Santi tak menyetujui penggunaan nama itu, Bono dan Bara tetap memilih nama itu untuk anaknya.


" Narendra... kenapa aku memberikan namamu mirip dengan Rendra. Aku jadi teringat kepadanya. Tapi tak apa, dia memang penjahat. Akupun bekas penjahat. Sekarang aku sudah sadar. Ku harap dengan nama itu kau kelak menjadi orang besar, menjadi seorang penguasa." ucap Bono sambil menggendong anaknya dan menimang-nimangnya.


Di rumah Bara, Bara juga sedang menimang anaknya. Ia sangat bahagia melihat bayinya yang terlihat sangat tampan. Perpaduan gen antara Santi dan Bara sungguh hebat. Anaknya terlahir dengan tubuh yang sempurna. memiliki wajah yang tampan dan aura kewibawaannya sudah terlihat walaupun masih bayi.


" Alhamdulillah, Dahana... kau telah lahir ke dunia. Aku sangat bahagia, apalagi keinginanku untuk memiliki putra benar-benar terwujud. Terima kasih, Tuhan." Ucap Bara sembari menciumi pipi anaknya dengan sangat lembut.


Setelah melahirkan, Santi langsung bisa untuk berdiri dan berjalan. Walaupun hati dan sikapnya sangat lembut namun Santi memiliki tubuh yang kuat. Jarang sakit, dan mampu menahan rasa sakitnya meskipun sakit yang ia derita sangat parah.


" Ayah..." Sapa Santi pada Bara yang sedang menggendong anaknya di ruang tamu.


Bara terkejut, ia pun menoleh ke arah Santi. Setelah tahu kalau yang memanggilnya adalah Santi, Bara tersenyum.


" Ayah? Ayah siapa Santi?"


" Ayah itu, ya kamu Mas Bara. Sekarang kamu sudah menjadi Ayah."


" Hehe.. kalau begitu, aku akan memanggilmu Ibu." ucap Bara.


" Itu sudah seharusnya, Ayah... Benar kan, Dahana?" ucap Santi sembari mencium pipi Dahana.


Tak berapa lama, Dahana menangis. Bara menjadi panik lalu menimang-nimangnya.


" Aduh, kenapa malah menangis. Cup... cup... cup..." Bara mencoba menenangkannya namun Dahana tak mau berhenti menangis.


" Mungkin dia haus, Ayah... bawa kemari biar aku susui dulu."


" Baiklah, Ibu... Aku juga takut terlalu lama menggendong bayi yang sedang menangis." Bara menyerahkan Dahana dari gendongannya, pada Santi.


" Tidak apa-apa, besok Ayah akan terbiasa. Jangan takut, kalau takut bagaimana nanti kalau lahir anak kedua."


" Hehehe... Ibu saja yang menggendongnya, sedari dia lahir sampai dia bisa jalan. Setelah itu, Ayah yang akan mengurusnya."


" Ayah nggak adil, nanti kalau Ibu sibuk, siapa yang akan menjaga Dahana?"


" Hehe... Ya, pastinya Ibu."


" Semuanya, Ibu? Mencuci, memasak, mengurus anak semuanya yang mengerjakan Ibu? Kalau begitu, kita buat anaknya cukup sekali saja."


" Hehehe... Ayah cuma bercanda, jangan dimasukkan ke dalam hati."

__ADS_1


" Habisnya, Ayah ingin enaknya saja. Nggak mau berbagi tugas. Kalau Ibu capek, terus sakit... siapa yang akan merawat Dahana?"


" Iya, mulai sekarang... selama Ibu masih menyusui, Ayah yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci, memasak, membersihkan rumah. Pokoknya Ibu fokus saja sama Dahana. Dia harus tumbuh dengan baik."


" Hehe... Ayah serius?"


" Serius..."


" Kalau begitu, tolong cucikan baju Ibu. Sepertinya sudah menggunung. Ditinggal dua hari istrinya mau melahirkan saja, pakaiannya sudah menumpuk."


" Maaf... Ayah kan, juga sambil bekerja. dua hari kemarin, wakil kerja Ayah sedang sakit. Ayah terpaksa mengambil alih lagi pekerjaan Ayah. Sembari menunggu dia sembuh."


"Ya sudah, nggak apa-apa Ayah. Ibu ke kamar dulu ya, Dahana sudah mulai mengantuk. Ibu mau menidurkannya."


"Iya, Bu..."


...----------------...


Tak kalah bahagianya dengan Bara, Bono sangat menikmati dalam menggendong Narendra. Bahkan saat anaknya menangis, Bono ingin terus bisa menenangkannya. Ia tak langsung memberikannya pada Rika jika anaknya menangis.


" Ayah, Naren sepertinya haus... Sini aku susui dulu." ucap Rika dari dalam kamarnya.


" Sebentar, Bu... aku masih ingin menggendongya. Narendra masih ingin digendong Ayah, kan?" ucap Bono lalu bertanya pada anaknya.


" Ihh... Ayah... bawa kemari, Narendra. Ibu juga ingin melihatnya. Cepat, dia ingin minum."


" Ayah... nanti dia semakin menangis kalau nggak segera disusui. Cepat... bawa kemari anaknya."


" Ambil saja sendiri kalau Ibu bisa. Hahaha..."


" Ibu belum kuat berjalan. Ayah... cepat... kasihan dia haus."


" Hehe.. iya baiklah... Naren, lihat Ibumu kalau marah, ayah saja takut padanya."


" Memangnya Ibu hantu, ada-ada saja Ayahmu ini, Naren.."


Bono tertawa keras, selain karena melihat wajah Rika yang lucu saat cemberut, ia juga terlalu bahagia atas kelahiran putranya.


Pada akhirnya, Bono telah menjadi Ayah, setelah ia sadar dari segala kejahatannya di masa silam. Ia sangat beruntung dan lega, jalan yang ia pilih sekarang tida lagi salah. Ia sangat menikmati hidupnya yang sekarang. Meskipun pekerjaanya sebagai petani, namun karena ketekunannya, ia bisa menghasilkan uang yang melimpah setiap kali panen.


Bono pun telah mencintai hidupnya yang sekarang. Baru kali ini dia merasakan hidup yang benar-benar hidup. Bermanfaat dan tidak merugikan orang lain. Pekerja berat namun tak pernah mengeluh, suka memberi tanpa meminta balas. Bono sudah benar-benar berubah.


...----------------...


Sementara itu, karena belum ada pergerakan dari Wijaya, Wira pergi menyusul istrinya di pulau seberang. Beberapa hari ini, dia memimpikan Novi yang terus menangis karena kesepian. Ia takut saat melahirkan, suaminya tak ada di sampingnya. Novi pun meminta Wira untuk menyusulnya ke pulau seberang.


Namun, di saat Wira berada di Pulau seberang, Novi belum juga melahirkan. Seharusnya, anaknya lahir bersamaan dengan lahirnya Narendra dan Dahana.

__ADS_1


Ini sangat membuat Novi cemas. Apalagi Paman dan Bibinya sudah tak sabar menantikan cucu dari Novi lahir.


" Pak Wira, kenapa anak kita belum juga lahir. Seharusnya hari ini dia akan lahir. Tetapi sampai sekarang, saya belum merasakan kontraksi. Saya takut sekali kalau dia..." Ucap Novi lalu kata-katanya tertahan karena dia tak bisa menahan tangisnya.


" Sabar, istriku... jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Mungkin Tuhan belum mengizinkannya lahir karena sebab. Jadi, tunggu saja sampai Tuhan memberikan jawabanNya."


" Tapi usia kandungan saya sudah lebih dari sembilan bulan sepuluh hari, Pak Wira. Apa kita pilih jalan Cesar saja?"


" Apa yang kau katakan,Nov.. jelas saja kau belum mengalami kontraksi. Lalu, kau mau cesar. Apa untungnya? itu malah akan merugikan kita. Aku juga tak mau kamu dioperasi. Berusahalah untuk melahirkan lewat jalannya."


" Iya, saya memang belum kontraksi. Tapi kalau kelamaan di dalam, saya takut anak kita akan mati atau malah dia sudah ma..." Novi tak melanjutkan katanya karena Wira menutupi mulut Novi.


" Nov... aku mohon, jangan berpikiran yang negatif. Bayi dalam perutmu ini, adalah calon penerusku, penggantiku. Dia harus lahir dengan selamat. Tidak kurang satu apapun. Lebih baik kita terus berdoa memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa, agar anak kita bisa segera lahir ke dunia ini dengan selamat."


" Saya selalu berdoa, Pak Wira. Tapi kenapa sudah lebih dari waktu yang ditentukan, anak kita belum lahir. Apa yang harus kita lakukan?"


" Sabar, Nov... kita hanya butuh kesabaran. Sudah kubilang, nanti akan ada saatnya. Apa kita ke dokter saja untuk konsultasi?"


" Hemmhh..." Novi menghela nafas. Ia berusaha menenangkan hatinya yang sedang gundah.


" Ada apa? Jangan mengeluh... sebaiknya kita perbanyak mengingat dan menyebut namaNya. Aku yakin, Tuhan takkan membuat kita kecewa."


" Baiklah, Pak Wira.. Saya akan turuti nasehat Pak Wira. Terima kasih sudah membuat saya merasa tenang."


Wira sedikit lega melihat Novi kembali tenang. Lalu ia mencium kening istrinya dan memeluknya.


" Novi, aku ingin kita selalu seperti ini terus, meskipun kelak usia kita tak lagi muda. Bisa memelukmu seperti ini saja membuatku merasakan kebahagiaan yang sempurna."


" Pak Wira, kenapa Anda baru bicara sekarang. Kita sudah hampir memiliki anak, dan saya setiap hari mendapatkan pelukan yang seperti ini. Seharusnya dari dulu Anda mengatakannya."


" Novi, sebenarnya dulu aku ingin mengatakan kepadamu. Namun lidahku sulit untuk bergerak. Aku tak kuasa untuk mengatakannya. Lagipula aku bukan seorang penyair, yang bisa berkata-kata dengan bahasa yang indah."


" Pak Wira, memang saya lebih suka Anda mempraktekkannya langsung daripada hanya sekedar berkata-kata. Kata-kata yang indah yang seperti kata penyair itu hanya kata rayuan. Saya tak suka dengan laki-laki yang suka merayu. Saya pastikan, orang yang seperti itu, biasanya menggunakan keahliannya, dalam menarik pasangannya."


" Apa menurutmu aku ini seorang perayu?"


" Saya tidak tahu, mungkin hanya anda sendiri yang tahu."


" Aku ini memang seorang perayu. Tapi merayu kekasihku. Bukan kekasih orang lain."


" Lalu... berapa gadis yang pernah Anda rayu dan Anda nikmati mahkotanya?" Ucap Novi jengkel. Ia tak terima suaminya bekas penjahat kelamin."


" Aku takkan menjawab, kau bisa temukan jawabannu lewat rekan-rekan kerjaku."


Wira meninggalkan Novi sendirian di ruang tamu. Ia tak enak menjawab berapa gadis yang pernah ia renggut mahkotanya.


Semasa hidupnya, Wira telah berkali-kali ganti pasangan. Ia pun telah berhubungan badan untuk setiap wanita yang ia kencani. Namun ia tak ingin berkata jujur pada novi. Ia takut Novi marah, dan mengakhiri hubungannya dengan Wira.

__ADS_1


Dan setelah kehilangan istrinya yang pertama, Wira mencoba untuk tidak menikah. Bertahun-tahun ia menjalani hidup dalam kesendirian. Hingga akhirnya, ia memilih Novi dan menikahinya beberapa bulan kemudian, setelah ia merasa Novi bisa membuatnya bahagia.


__ADS_2