SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
BERJANJI UNTUK RIKA


__ADS_3

Tiba di rumahnya Rika masih menangis memeluk Kakeknya yang sudah tak bernyawa, Bono menyuruhnya untuk turun, namun dia menolaknya.


"Rika, ayo turun. Aku akan membawa jasad Kakekmu turun dari mobil untuk segera dimandikan."


" Bono, aku ingin memeluk kakekku lebih lama lagi. Aku nggak mau turun."


" Rika, kasihan Kakekmu. Dia harus segera di mandikan lalu kita akan kebumikan secepatnya."


" Aku nggak mau Bono. Biarkan aku memeluknya lebih lama lagi."


" Rika, aku tahu perasaanmu. Tapi aku lebih kasihan melihat kakekmu seperti itu. Ayo lah Rika, dia sudah tiada. Lepaskan dan biarkan aku membawanya turun."


" Aku tak mau Bono, aku nggak mau kehilangan Kakekku !"


" Rika, percayalah padaku. Kasihan kakekmu terlalu lama menunggu takdirnya."


Rika mengusap air matanya. Dia kemudian membenarkan ucapan Bono. Lalu bersedia turun dari mobil dan membiarkan Bono membawa Kakeknya.


Di teras rumah Rika, Harjo, Bara dan Wira sudah menunggu kedatangan Punto, Rika dan Bono. Mereka terkejut dengan Rika yang turun dari mobil dan dalam keadaan menangis.


" Rika, ada apa?" Tanya Wira lalu mendatangi Rika yang masih berdiri didepan pintu mobil.


" Kakek saya, Pak Wira. Dia meninggal dunia." Ucap Rika lalu menangis lagi.


" Apa? Kenapa bisa? Apa yang terjadi?" Tanya Wira lalu melihat keadaan Punto yang sedang dikeluarkan dari dalam mobil oleh Bono.


" Kakek meninggal tadi dalam perjalanan pulang. Maafkan aku tidak menyadari semuanya." Ucap Bono sembari menggendong jasad Punto.


" Kamu? Bono? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah kamu anak buah Wijaya?"


" Benar, tapi aku sudah berbeda jalan dengannya. Sudahlah, jangan membicarakan tentang dia. Sebaiknya kita urusi jasad Kakek Rika ini. Dan jangan bertanya apapun sebelum Kakek di kebumikan."


" Oh, baiklah. Aku mengerti Bono." Ucap Wira lalu membantu membawa jasad Punto ke dalam rumah.


" Rika, apa yang terjadi?" Tanya Bara pada Rika yang masih menangis.


" Aku tidak tahu mas, tiba-tiba saja dia tak bangun saat aku bangunkan. Lalu Bono menyuruhku memeriksa detak jantungnya. Tapi detak jantung kakek sudah berhenti."


" Lalu kenapa dia bisa dibawa pulang jika keadaanya masih buruk. Apa atas kemauan kakekmu sendiri atau Dokter yang menganjurkan, jika sudah boleh dibawa pulang?"


" Dokter yang menyarankan Kakek sudah bisa pulang. Rika nggak tahu mas, tapi memang sama dokter tidak diberi apa-apa, tidak disuntik juga. Hanya diberi obat merah pada bagian yang luka."


" Lalu bagaimana dengan kakinya saat Kakekmu dibolehkan pulang? Apa sudah bisa jalan sendiri?"


" Belum bisa jalan mas." Jawab Rika sambil kembali menangis.


Harjo keluar dari rumah Rika setelah melihat keadaan Punto, dia kemudian menegur Bara.


" Bara, kamu jangan bertanya apapun dahulu kepadanya. Dia sedang berduka. Lebih baik carikan dia teman agar menghiburnya. Dia butuh teman wanita untuk menenangkan hatinya. Dan segera umumkan warga tentang berita meninggalnya Mas Punto."


" Baik Pak, Rika maafkan aku. Kamu duduklah disini. Aku akan mencarikan teman untukmu."


" Iya, terima kasih mas Bara.." Ucap Rika lalu duduk di kursi di teras rumahnya.


Bara kemudian berlari ke masjid untuk mengumumkan berita kematian Punto. Diapun tak lupa mencarikan teman untuk Rika.


" Santi.. maaf, aku sedang terburu-buru. Kamu adalah teman karib Rika bukan?"


" Iya mas, ada apa dengan Rika?" Ucap Santi penasaran.

__ADS_1


" Pergilah kerumahnya dan temui dia. Rika sangat membutuhkan teman untuk menenangkan hatinya."


" Memangya Rika kenapa mas? Apa terjadi sesuatu dengannya?"


" Kakeknya meninggal. Aku akan mengumumkan kepada warga melalui pengeras suara masjid."


" Meninggal? Kalau begitu aku akan segera kesana. Kasihan dia jika tak ada orang yang menemaninya."


Santi segera pergi ke rumah Rika. Dia merasa iba dengan nasib Rika. Di desanya, hanya mereka berdua saja perempuan yang seusia. Hal itu membuat Rika tak mempunyai banyak teman. Hanya Santi saja teman bermain Rika.


" Rika.." Panggil Santi saat dia tiba dirumah Rika.


" Santi.." Sahut Rika dan kemudian memeluk Santi dengan erat.


" Aku turut berduka atas meninggalnya Kakekmu, Rika. Kamu yang sabar ya. Masih ada aku disini. Kita adalah sahabat, juga keluarga. Jangan merasa kamu seorang diri setelah ditinggal Kakekmu."


" Terima kasih Santi, tapi aku sangat sedih aku tak punya keluarga sedarah lagi yang tersisa. Bagaimana kalau aku menikah nanti?"


" Itu dipikirkan nanti Rika, kita akan pikirkan bersama. Yang penting kita memikirkan pemakaman Kakekmu dulu."


" Iya San, Kakek nggak berpesan soal itu. Lalu mau dimakamkan dimana?"


" Nanti biar dirundingkan dulu sama warga, Rika. Kamu tak perlu memikirkan hal yang macam-macam. Sebaiknya kamu tenangkan dulu pikiranmu."


" Baik Santi. Terimakasih ya, sudah mau datang kemari."


" Iya Rika, sama-sama."


Hari menjelang magrib, proses pemakaman Kakek Rika dilaksanakan. Punto dimakamkan di makam keluarga Punto lima kilometer dari desa lereng Bukit. Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman Punto.


" Kek, kenapa Kakek sudah buru-buru pergi meninggalkan Rika. Kepada siapa lagi Rika akan berbagi cerita suka duka Rika? Hanya Kakek tempatku bercerita dan berkeluh kesah. Kini Kakek sudah tiada, apakah Rika sanggup menjalani hidup ini sendiri tanpa Kakek?" Ucap Rika didepan makam Kakeknya.


" Bono, aku tak ragu padamu. Tapi Posisi Kakek dihatiku tidak bisa tergantikan. Dia adalah orang yang sedarah denganku Bono. Apa yang terjadi padanya, jika dia senang akupun merasakan tenang. Jika dia susah, akupun juga merasakan kesedihan. Hubungan batin kami sangat kuat Bono. Apapun yang aku sembunyikan dari kakek, dia pasti tahu. Dan apapun yang kakek sembunyikan dariku, akupun pasti tahu. Tapi kenapa, baru kali ini, Kakek mampu menyembunyikan rasa sakitnya dariku. Ada apa denganku?" Ucap Rika, sembari menggemgam dan meremas tanah kuburan Kakeknya.


Bono melihat ekspresi Rika yang sedih bercampur marah. Bono tak tega melihat kekasihnya penuh dengan kesedihan. Dia bersumpah akan menghabisi dokter dan perawat yang berkhianat kepadanya.


" Haaaaahhh!!!" Tanpa disadari Bono berteriak kesal dan marah.


Rika yang berada disampingnya terkejut lalu menangis.


" Bono! Apa yang kamu lakukan? Aku takut.." Ucap Rika sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Eh, maafkan aku Rika. Aku tak bermaksud menakutimu. Aku hanya kesal pada diriku sendiri." Ucap Bono dengan gugup lalu merangkul tubuh indah Rika dengan lembut.


" Bono,aku mohon berubahlah untukku. Jangan jadi penjahat, jangan mudah marah dan jangan kasar lagi pada siapapun."


" Aku janji, Rika. Aku akan berubah, semua yang kulakukan itu demi kamu. Aku ingin kamu bahagia, Rika. Aku mencintaimu. Melihatmu, aku seperti melihat adikku, yang mungkin jika masih hidup, dia sudah seusiamu. Aku ingin melindungi dan menjagamu Rika. Percayalah, aku takkan menyakitimu."


" Berjanjilah untuk selalu menepati kata-katamu Bono. Aku mohon, kamulah satu-satunya harapanku. Aku juga ingin hidup bersamamu. Aku mohon jangan pergi dan meninggalkanku sendiri. Tinggallah disini bersamaku, Bono."


" Iya aku berjanji akan selalu menepati ucapanku Rika. Jangan khawatir, jangan takut aku akan berubah seperti dulu lagi."


Rika mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Bono, dan meminta janji kepadanya. Bonopun mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Rika.


Adzan maghrib pun berkumandang. Matahari sudah tak menampakkan lagi batang hidungnya. Hari menjadi gelap, Bono pun mengajak Rika untuk pulang.


" Rika, ayo kita pulang. Disini sudah mulai gelap."


" Kamu pulang saja dulu Bono, aku masih ingin disini menemani Kakekku. Biar saja gelap, aku bisa menangis sesuka hatiku."

__ADS_1


" Eh jangan begitu, ini kuburan Rika. Kamu berani sendirian disini?"


" Aku nggak sendiri, ada kakek di dalam sini. Kenapa aku harus takut."


Rika tetap menolak untuk diajak pulang, lalu Bono mencari cara agar Rika mau pulang bersamanya.


" Rika, katanya disini angker lho. Ada berbagai macam makhluk halus disini. Bagaimana jika mereka mengganggumu? Kakekmu sudah meninggal, dia takkan lagi bisa menolongmu Rika."


" Ihh.. Bono! Jangan menakutiku.. Aku takut hantu!"


" Hahaha.. Kalau begitu mari kita pulang, mumpung aku masih disini. Jalan ke rumah jaraknya lima kilo meter. Kalau kmu dikejar hantu, berapa meter kamu kuat berlari?" Ucap Bono dan kembali membuat Rika semakin takut.


" Bono! Jahat! Aku takut, jangan tambah membuatku takut! Iya aku akan pulang bersamamu. Huhh." Ucap Rika kesal lalu mencubit perut bagia samping Bono.


" Aduhh.. Sakit Rika, lebih baik aku kamu pukul pakai batu daripada kamu cubit pakai tanganmu itu. Pedas sekali cubitanmu."


" Salah siapa menakutiku terus dari tadi! Rasakan sendiri akibatnya! Huhh.."


" Iya aku yang salah. Aku minta maaf sayangku. Ayo sekarang kita pulang. Sebelum.." Bono menghentikan kata-katanya saat Rika mulai mengarahkan tangannya bersiap untuk mencubit Bono lagi.


" Jangan diulangi lagi! Mau ku cubit sampai berdarah?"


" Hehe.. Iya tidak.. Aku tidak akan menerima cubitan lagi untuk kedua kalinya."


Bono dan Rika mulai meninggalkan tempat pemakaman. Dengan menggunakan mobil milik Rendra, Bono melaju dengan kecepatan penuh menuju ke rumah Rika.


Di rumah Rika, Harjo Wira dan Bara sudah menunggu kedatangan Bono dan rika. Mereka cemas akan keselamatan Rika. Mereka khawatir Bono mencari kesempatan saat mereka hanya berdua saja di tempat yang sepi. Hal ini menimbulkan kecemburuan di hati Bara. Dia pun berusaha membuat semua orang tidak boleh langsung percaya dengan Bono, dan berharap Bono dilarang untuk dekat dengan Rika.


" Pak Wira, saya khawatir dengan keselamatan Rika. Kenapa kita meninggalkannya seorang diri dan membiarkannya bersama pemuda asing itu."


" Kamu benar Bara, aku tidak berpikir sampai disitu. Kita tidak boleh asal percaya sama orang yang baru kita kenal. Itu sangat membahayakan sekali buat kita. Dan aku takut, terjadi apa-apa dengan Rika."


" Maksud kalian Bono? Kenapa kalian mengkhawatirkannya? Pak Wira, saya sangat percaya pada Bono. Dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Dia tidak akan menodai kekasihnya sendiri. Saya pernah sekali mendengarkan ucapan yang keluar, dari mulutnya sendiri." Harjo memotong pembicaraan Wira dan Bara.


" Tapi Pak Harjo, apa Anda bisa menjamin keselamatan Rika?" Bara kembali mempengaruhi Harjo.


" Aku akan bertanggung jawab jika Bono berani menyakiti Rika dan membuatnya terluka. Aku berjanji padamu Bara."


" Pak Harjo, lebih baik sebelum terlambat kita harus menyelamatkan Rika. Aku kasihan pada Rika jika terjadi hal yang tidak diinginkan, yang menimpanya."


" Benar Pak Harjo, aku akan kembali ke pemakaman dan membawa Rika pulang." Ucap Bara lalu berdiri bersiap menjemput Rika ke pemakaman.


" Tidak perlu repot-repot mencari kami. Kami sudah tiba disini." Tiba-tiba Bono dan Rika sudah tiba dihalaman rumah Rika dalam keadaan baik-baik saja.


Wira, Harjo dan Bara terkejut setengah mati. Sedari tadi mereka bicara, tak ada satupun yang mendengar dan melihat suara langkah kaki manusia. Namun apa yang dilihatnya sangat nyata, Bono dan Rika sudah kembali.


" Bono, Rika, sedari kapan kalian tiba disini? Aku tak melihat kalian berjalan dari jalan ini, Apa kalian lewat jalan belakang?" Tanya Bara dengan hati berdebar karena terkejut melihat kedatangan Bono dan Rika yang datang secara tiba-tiba.


" Apa kamu lupa Bara, siapa aku? Aku bisa berlari cepat seperti angin. Dan aku bisa lebih cepat dari kecepatan angin sesuai keinginanku." Ucap Bono sedikit pamer.


" Oh, maaf saya hampir lupa. Bono, kamu memang orang yang hebat." Puji Bara sambil melirik kepada Bono dengan tatapan cemburu.


Rika melihat gelagat Bara yang berbeda. Rika tahu Bara cemburu pada Bono. kemudian Rika menegur Bara dengan lembut.


" Mas Bara, sekarang Rika sudah menemukan laki-laki pilihan Rika, Mas Bara jangan mempunyai perilaku yang buruk pada Bono. Lupakan keinginan mas Bara."


Mendengar ucapan Rika, Bara menjadi tak bisa berkata apa-apa. Dia menjadi seperti orang gagu. Dia terkejut Rika mengetahui perasaannya.


......................

__ADS_1


__ADS_2