
(PENGUMUMAN)
Assalamualaikum Wr Wb
Selamat malam para pembaca karyaku, saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena Novel DENDAM YANG TERBALAS kini selalu update lama. Pasti ada banyak dari kalian yang menunggu kelanjutan kisah dari novel ini.
Sebenarnya ada sebab saya terlambat dalam update. Itu karena saya membuat novel baru yang ingin saya ikutkan dalam lomba menulis novel bertema urban. Disini saya mengikutkan Novel terbaru saya yang berjudul MERINDUKAN BULAN.
Sudah empat episode yang telah saya buat. Namun berhubung waktu luang saya tidak banyak, membuat saya terlambat dalam menulis cerita. Apalagi harus membuat dua cerita dalam tema yang berbeda. Ini membuat keterlambatan dalam mengupdate episode terbarunya.
Nah, setelah dipikir-pikir, saya memang tidak bisa membagi waktu saya untuk meluangkan waktu dengan membuat dua novel sekaligus. Saya berharap setiap hari bisa update episode terbaru dari dua novel saya. Namun saya tak sanggup. Ini membuat salah satu diantara novelku menjadi terlambat update hingga lebih dari tiga hari.
Untuk itu, agar karya saya bisa lebih eksis lagi, saya memilih untuk melanjutkan menulis novel yang ini dibanding yang terbaru. Yah mudah-mudahan saja suatu saat novel ini banyak pembacanya. Dan saya sangat berharap sekali, kalian bisa memahami cerita yang aku tuliskan dalam cerita ini.
Terima kasih buat kalian yang masih selalu setia, semoga kalian selalu diberikan kesehatan, dan rejeki yang lancar. Sekian dari saya, mungkin banyak salah kata yang tertulis disini maupun di episode-episode sebelumnya, saya minta maaf sebagai manusia biasa. Akhir salam, Assalamualaikum Wr Wb🙂🙏
...----------------****************----------------...
" Oh, jadi itu yang membuatmu menyerangku. Aku tahu kamu ingin merebut posisiku, Satya."
" Hahaha. Aku tidak memungkiri keinginanku, Za. Aku memang ingin menjadi yang teristimewa di mata Bos. Aku heran, mengapa orang sepertimu lebih dipercaya daripada aku. Jelas saja, aku lebih mengenal lama dibanding kau. Apa Bos sadar telah memilihmu? Apa kau yang terlalu pintar mengambil hatinya? Sedangkan bagiku, Kau bukanlah siapa-siapa. Kau bergabung dengan kami, dalam keadaan yang mengenaskan. Kau pemabuk, penjudi, pemain, tapi kau sangat lemah dan payah!"
" Satya! Apa kau sudah puas dengan menghinaku seperti itu? Katakan saja sepuasmu. Jika kau sudah puas, bersiaplah untuk menemui ajalmu!"
" Hahaha.. Reza, aku tak kan semudah itu kau kalahkan. Ayo, kita bertarung sekarang. Kita buktikan siapa yang terkuat! Seberapa hebat, manusia menyedihkan sepertimu yang terpilih menjadi abdi setia Bos!"
" Satya! Sudah bosan hidup kau rupanya. Baiklah kalau kau sudah tak sabar menjemput ajalmu. Hyaaattt!!!"
Reza menyerang maju ke arah Satya. Dua kekuatan yang lumayan cukup besar beradu di tengah hutan.
" Hyaaatt.." Satya pun tak ingin kalah dengan Reza, dia melompat-lompat ke segala arah untuk menghindari serangan Reza yang bertubi-tubi.
" Satya! Jangan jadi pengecut! Serang aku, jangan hanya bisa menghindar! Ayo kita tunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya!"
" Hahaha.. Sabar dulu Za, kita lakukan pemanasan dahulu. Jangan terburu-buru. Aku masih mempunyai banyak tenaga yang tersimpan. Kalau kau lelah, menyerahlah. Hahaha.."
" Cihhh! Menyerah katamu! Bahkan aku belum menggunakan seperempat kekuatanku. Aku takkan terkalahkan Satya!"
" Hahaha... Kalau begitu, ayo keluarkan semua kekuatanmu Za. Aku sama sekali belum menggunakan kekuatanku seujung kuku sekalipun. Tapi kau sangat payah! Kau bilang sudah mengeluarkan seperempat tenaga dalammu tapi kau sudah tampak kelelahan. Hahaha.."
" Kurang ajar! Berani kau menghinaku Satya! Akan ku bungkam mulut busukmu itu!"
" Hahaha.. Teruslah, lampiaskan amarahmu Za. Hahaha.. Ayo, serang aku. Jangan hanya seperti menabok nyamuk." Ledek Satya, berharap Reza terbakar api kemarahannya.
__ADS_1
" Sialan! Apa dia hanya memancingku? Bos pernah bilang, jika menyerang jangan gunakan amarahmu. Itu akan membuat gerakan jurusmu menjadi kacau dan tak terkendali. Hemmhh, pantas saja seranganku tak ada yang berarti baginya. Tenagaku malah semakin terkuras habis." Gumam Reza dalam hati.
" Ada apa za? Apa kau mau menyerah? Katakan saja, dan bicara sama Bos kalau kau akan mengundurkan diri dari jabatanmu dan bersedia mengembalikan hak-hak istimewa yang kau dapatkan."
" Hahaha.. Sudah ku bilang aku takkan menyerah Satya! Kini aku tahu, kau lah yang sebenarnya manusia lemah. Kau ingin membuatku lemah dengan cara memprovokasiku agar aku marah dan seranganku tak terarah, kan?"
" Hemm, akhirnya kau menyadarinya juga Za. Tapi itu hanyalah trik bagiku. Bukan berarti aku mudah kau kalahkan. Ayo za, kita lanjutkan kembali pertarungan kita!"
" Baiklah Satya! Akan ku akhiri pertarungan ini dengan cepat! Hyaaattt..."
Reza melompat ke arah Satya lalu menendang mengarah ke kepalanya, namun serangan Reza berhasil ditepis. Tak mengenai sasaran dengan mulus, Reza kembali menyerang bagian perut Satya dengan cepat.
" Buukk.." Pukulan Reza mengenai perut Satya.
Seperti tak merasakan apapun, Satya menjauh dari Reza dan tertawa terpingkal-pingkal.
" Hahaha.. Reza, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah mengerahkan semua tenaga dalammu? Kenapa pukulanmu hanya terasa seperti saat aku duduk di bawah pohon jambu, dan bunganya jatuh ke kepalaku. Sungguh sangat menyedihkan. Hahaha.."
" Ba****an! Bisa-bisanya dia bilang aku menyedihkan. Hemhh! Kau memang pintar memprovokasi Satya! Aku harus tenang. Aku tak boleh kalah dengan manusia licik sepertinya!"
Reza berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia tepiskan kemarahan yang timbul akibat dari kata-kata Satya. Lalu dia mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh. Tak berapa lama, tangan kanannya mengeluarkan cahaya yang menyilaukan lalu dia melemparkan cahaya itu ke arah Satya.
Kilatan cahaya melesat ke arah Satya. Namun Satya berhasil menghindarinya, dia melompat ke atas dan bergelantung di atas pohon.
" Blaaarrr..." Kilatan cahaya dari serangan Reza tak mengenai Satya, tetapi mengenai puluhan pohon pinus yang berada di belakang Satya. Lalu meledak dan menimbulkan kepulan asap tebal.
" Ha? Kenapa dia tak ada? Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Satya brengsek itu terkena seranganku. Tubuhnya terpotong-potong dan terlempar ke berbagai arah di sekitaran kepulan asap. Tapi, ini sungguh aneh. Satya! Keluar! Kemana kau bersembunyi?" Ucap Reza lalu berteriak memanggil Satya.
Sementara itu, Satya yang telah berhasil lolos dari serangan Reza masih terengah-engah mengatur nafasnya. Dia terheran dan kagum pada kekuatan yang Reza miliki. Lalu dia kemudian menyadari kenapa Wijaya lebih memilih Reza menjadi anak buah yang paling di percaya.
" Kalau saja aku terkena serangan itu, pasti aku sudah mati. Kau memang hebat Za. Aku telah salah menilaimu dan meremehkanmu. Sekarang aku tahu, kau bukan lawan yang sepadan denganku." Ucap Satya lirih.
" Satya... Keluar kau! Jangan jadi pengecut! Atau kau mau menyerangku disaat aku lengah? Dasar Banci! Kau bilang aku mirip perempuan, tapi kau lebih menyedihkan dariku! Satya..." Reza berteriak-teriak mencari Satya.
" Aku tahu kau masih berada di sekitar sini Satya! Keluar atau aku akan menemukanmu dengan paksa!"
Mendengar teriakan Reza, Satya melompat turun dari pohon yang berjarak lima puluh meter dari puluhan pohon pinus yang roboh.
" Prok prok prok..." Tepuk tangan dari Satya yang baru saja turun dari atas pohon.
" Reza, sekarang aku mengakui kehebatanmu. Aku bukanlah lawan yang sepadan denganmu. Kau sangat luar biasa. Aku takkan sanggup mengalahkanmu."
" Jadi kau mau menyerah? Menyerah bagiku berarti mati. Bersiaplah untuk bertemu penciptamu, Satya!"
__ADS_1
" Reza! Kita akhiri pertarungan ini. Tak ada gunanya diteruskan. Kita adalah rekan satu tim saat ini. Jika kau membunuhku, aku yakin Bos takkan tinggal diam tentang hal ini. Kau pasti akan menanggung akibatnya."
" Kau benar Satya. Maafkan aku, aku telah terbawa emosi. Aku juga tak mau tujuan kita menjadi berantakan karena masalah kita."
" Iya Za, aku juga minta maaf. Aku terlalu meremehkanmu. Tapi aku sadar, kau pantas mendapatkan hak-hak istimewa dari Bos Wijaya."
" Satya? Apa kau menginginkan apa yang ku punya sekarang?" Tanya Reza.
" Oh, tidak Reza. Aku hanya bercanda. Kau lebih pantas mendapatkannya. Sudahlah, aku sudah cukup tahu tentang kehebatanmu. Aku tak menginginkan posisimu. Sekarang sebaiknya kita segera saja pergi ke puncak bukit. Dengan berjalan begini kita butuh waktu selama tiga hari tiga malam."
" Apa? Ini akan banyak memakan waktu. Kita harus mencari kendaraan untuk segera tiba disana."
" Tidak Za, ini adalah salah satu latihan untuk kita. Dengan berjalan kaki sampai kesana, akan membuat tulang-tulang kaki kita menjadi kuat. Ini perintah dari Bos, jangan sampai kita mencari jalan yang paling mudah. Karena semakin kita mengalami kesulitan. kita akan menjadi semakin kuat dan tahan banting. Kau akan merasakannya saat dirimu mencobanya."
" Aku sudah merasa lebih kuat Satya, aku sudah puas dengan ilmu yang ku miliki saat ini."
" Kau jangan sombong dulu Za, di luar sana masih banyak orang hebat. Meskipun kau mempunyai jurus yang hebat, tapi gerakanmu justru sangat lambat. Bagaimana kalau kau bertemu dengan musuh yang mempunyai keahlian berpindah tempat dengan cepat?"
" Oh, aku tahu kelemahanku Satya. Aku tertipu olehmu. Padahal aku tahu, kau sudah terkena seranganku dan meledak. Tapi buktinya kau masih hidup dan masih utuh."
" Itu adalah tipuan mata, Za. Mungkin jika lawanmu bukan aku, dan menguasai jurus itu kau pasti akan kewalahan menghadapinya."
" Iya, aku memang belum bisa melatih ketajaman mataku, Satya. Saat Bos kembali, aku ingin berlatih lagi dengannya. Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan kita."
" Tak perlu terburu-buru. Bos bilang, tugas kita hanya tugas santai. Jadi kita tak perlu terlalu cepat untuk sampai ke puncak bukit. Oh iya, sebaiknya kita ambil jalan melewati hutan saja. Akan lebih nyaman dan lebih menyenangkan."
" Melewati hutan? Kita tak tahu di hutan itu ada binatang buas atau tidak. Dan lagipula kalau malam, dihutan sangat menyeramkan. Aku tak mau. Lebih baik aku melewati jalan utama saja. Lebih bersih, kita tak perlu was-was untuk berjalan. Kalau dihutan, tentu saja kita harus berjalan melihat kanan kiri. Membuatku tak nyaman."
" Reza, karena itu lah bagian dari pelatihan. Matamu harus sering kau asah. Dengan melewati hutan, apalagi di malam hari, akan membuat mata dan telinga kita terbiasa mendengar dan melihat sesuatu di kegelapan. Suatu saat kau akan lebih peka, jika ada seseorang yang menyerangmu secara tiba-tiba."
" Hemmh.. Satya, kau cukup berguna juga menjadi rekanku. Terima kasih banyak. Aku sadar kau bahkan lebih pintar dariku. Aku yakin kau sebenarnya kuat, tapi kau tak ingin memperlihatkannya kepadaku."
" Reza, kalau aku lebih kuat darimu seharusnya aku lah yang saat ini berada di posisimu. Tapi, kau bisa lihat sendiri. Aku sama dengan anak buah Bos yang lain. Aku harus membeli rumah sendiri untuk tempat tinggalku."
" Tidak Satya, kamu tak perlu menutupi kehebatanmu. Aku bisa merasakannya. Aku saja yang terlalu sombong."
" Hahaha.. Reza, sudahlah. Kita tak perlu memperdebatkan hal ini. Kita ini adalah rekan. Siapapun yang paling kuat, saat musuh mendesak rekan kita, dialah yang akan menyelamatkannya."
" Satya, aku kagum padamu. Mengapa di dalam pekerjaan buruk yang sedang ku jalani, kutemukan orang baik sepertimu. Satya, apa kau sadar melakukannya?"
" Hahaha, aku senang menjalani ini semua Reza. Makanya aku mau melakukannya. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita."
" Satya, aku seperti menemukan keluargaku saat bicara denganmu. Maafkan aku, aku sedikit sedih." Ucap Reza sambil mengedipkan matanya berulang kali.
__ADS_1
Mata Reza menjadi merah, air matanya melingkar di tepian matanya. Dia ingin menangis tapi tidak bisa. Dia malu untuk mengakui kalau sebenarnya dia adalah orang yang sangat cengeng. Waktu semakin berlalu, Reza dan Satya kembali meneruskan perjalannya menuju puncak bukit.
......................