SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Luka Lamaku Kembali Terbuka


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Tama tersadar. Ia terlalu lama berendam di dalam air. Sembari berdiri, ia mengusap air matanya yang masih tersisa.


" Kata Ayah, laki-laki itu harus tegar. Aku tidak boleh terlalu sering menangis. Meskipun aku hanya hidup sendiri, aku harus bisa bertahan. Aku ingat kata Ayah. Ayah.. Aku akan selalu mengingat kata-katamu." ucap Tama lalu segera keluar dari kamar mandi.


Lalu ia kebingungan saat dia hendak memakai baju. Semua pakaiannya hangus termakan api saat kebakaran terjadi. Ia berjongkok lalu berpikir.


" Aku tak punya baju lagi. Baju itu satu-satunya pemberian Paman. Apa aku harus memakainya lagi? Tapi baju itu basah dan kotor." keluh Tama.


Setelah berpikir cukup lama, ia menemukan cara agar dia bisa memakai baju itu lagi.


Tama pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci pakaiannya. Dengan tenaga kecilnya, ia menyikat lalu mengucek baju kotornya dengan lembut. Terkadang ia memainkan busa sabun cuci untuk membuat gelembung.


Gelak tawa yang ia ciptakan sendiri, membuat suasana dirumahnya menjadi lumayan ramai meskipun dia hanya sendiri. Sembari mencuci, ia berdiri dan melompat-lompat, meniup busa sabun yang membumbung tinggi di dalam kamar mandi.


" Ahhahaha.. balonnya banyak sekali. Ibu, aku bisa membuat balon sabun." ucap Tama sambil berteriak dan tertawa kegirangan.


Tak berapa lama, ia merasa keletihan dan mengantuk. Tama pun segera menyelesaikan cuciannya dan menjemurnya di dalam rumah.


Rasa kantuk yang semakin menjadi, membuat Tama tak bisa menahan matanya. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas kursi tanpa mengenakan pakaian apapun.


...----------------...


Sementara itu, Bono dan Bara telah tiba di depan puing-puing rumah Tama. Sejauh mereka mencari, tak menemukan siapapun. Mereka telah menyusuri ke segala arah, namun tak ada jejak adanya Tama. Tama seperti lenyap ditelan bumi.


Keputusasaan membuat mereka berhenti dan beristirahat di depan reruntuhan rumah Tama.


" Bon, kemana lagi kita akan mencari anak itu. Kita sudah seharian mencarinya. Namun kita tidak menemukannya. Lebih baik kita mencari bantuan, kalau perlu kita lapor polisi saja. Kita tidak punya keahlian dalam mencari sesuatu. Apalagi di tengah hutan seperti ini. Mustahil kita bisa menemukannya."


" Apa kamu sudah putus asa, Bar? Jika kamu sudah tak mau lagi mencarinya, aku akan mencarinya sendiri. Meminta bantuan Polisi? Apa kamu lupa, kita pernah meminta bantuan Polisi untuk mencari tahu siapa pelaku pembakaran rumah Pak Tanu. Apa yang kita dapat sekarang? Mereka tak memberikan kabar apapun. Mereka seperti tak niat dalam mencari siapa pelakunya. Sudahlah.. Kita tak perlu meminta bantuan pada siapapun. Aku rasa ada yang tidak beres dengan aparat di negeri ini."


" Ah.. Maaf, Bon. Kau benar. Sejak awal aku sudah curiga. Kenapa sampai saat ini, Polisi tak memberi kabar kepada kita. Sepertinya pencarian sudah dihentikan secara sepihak."

__ADS_1


" Mereka bukan menghentikan pencarian mereka, tapi mereka memang tidak mencarinya. Sudah.. Aku tidak mau pusing-pusing memikirkan hal itu. Yang jelas, kita sebaiknya tak berurusan dengan Polisi."


" Baiklah.. aku ikut saja denganmu. Aku sudah tak punya ide lain."


" Itu lebih baik. Ayo, kita teruskan lagi pencarian kita."


" Kita akan mencarinya kemana lagi? Seharusnya dari rumah sakit hingga ke sini, pasti membutuhkan waktu lama. Apalagi dia hanya berjalan. Mustahil dia bisa sampai sini. Apa dia..."


" Jangan menyangkut pautkan dengan hal mistis. Aku yakin, dia selamat. Aku yakin dia masih di sekitar sini. Kemana lagi tempatnya kembali, selain dirumahnya."


" Tapi.. Bagaimana dia bisa sampai di tempat ini. Jarak rumah sakit dengan rumahnya sangat jauh. Naik motor saja, membutuhkan waktu satu jam lebih. Apa dia memiliki ilmu?"


" Tepat sekali dugaanmu. Iya.. Mungkin saja dia mempunyai ilmu. Tapi aku tidak tahu, ilmu apa yang dia miliki."


" Apa mungkin? Bocah sekecil itu bisa memiliki ilmu. Darimana dia mendapatkannya?"


" Kita tidak tahu silsilah keluarganya. Mungkin saja itu dari warisan Kakeknya. Aku pernah dengar, orang tua Bu Rani memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat. Siapapun tak bisa menang melawannya. Jadi aku rasa, Tama memang mewarisi ilmu dari Kakeknya."


" Kau benar. Aku ingat, Pak Wira juga memiliki tenaga dalam yang sangat hebat. Semua orang segan kepadanya. Sayang sekali, dia mati karena Ba****an itu!"


Aku tahu dia Penjahat yang kejam, tetapi.."


" Tetapi kenapa, Bon? Apa ada yang kau sembunyikan?"


Bono menghela nafasnya kuat-kuat. Ia sangat berat untuk mengatakannya. Namun ia harus mengatakannya meskipun sekarang dia sudah tak ingin mengharapkannya.


" Tetapi, dia telah membesarkanku. Memberiku makan meskipun dengan uang kotor. Dia mengajarkanku ilmu bela diri yang hebat. Sebenarnya, dia banyak sekali membantuku."


" Bono, apa kamu terima dengan sikapnya? Walaupun dia membesarkanmu dan merawatmu, tapi itu semua dengan uang haram. Seharusnya itu jangan kau anggap jasa. Orang jahat tetap jahat. Apapun yang ia lakukan, tetap saja itu tidak membuatmu menjadi baik.


Apa kau ingat, sebelum menjadi Kau yang sekarang, Kau adalah seorang penjahat yang kejam. Kau hampir membunuh salah satu warga Lereng Bukit Barat. Kau juga melukai banyak warga yang lain. Kau sempat menodai Rika, gadis lugu yang belum pernah mengenal laki-laki. Lalu, apa untungnya mengenang kebaikan yang ia lakukan terhadapmu. Lagipula kau tahu, siapa pembunuh orang tuamu yang sebenarnya."

__ADS_1


" Cukup.. Cukup, Bar! Jangan teruskan. Luka lamaku kembali terbuka ketika aku mengingat kebenaran yang ku dengar. Sudahlah.. Lebih baik kita teruskan pencarian kita. Kita coba cari di Puncak Bukit sana. Mudah-mudahan kita mendapatkan petunjuk."


" Ah.. Maafkan aku, Bon. Aku tak bermaksud membuat lukamu terbuka. Kalau begitu, ayo kita cari sekarang juga. Sebentar lagi sore, jika kita tidak menemukannya di atas sana, kita teruskan saja besok pagi."


" Ayo.." ucap Bono lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju Puncak Bukit diikuti Bara disampingnya.


Hari semakin sore, Bono dan Bara terus melakukan pencarian Tama hingga ke Puncak Bukit. Sementara, kabut tipis mulai berdatangan hingga ke atas Puncak Bukit.


Bara mulai khawatir ketika sudah tiba di atas Puncak, berangsur-angsur kabut tipis itu mulai menebal dan menutupi pandangan. Ia menjadi tak bisa melihat dengan baik.


" Bono.. Apa kau yakin akan melanjutkan perjalanan kita, kabut ini semakin tebal. Pandanganku menjadi kabur."


" Jika kita tak bisa menemukan anak itu hari ini, aku takut dia tidak selamat. Jika ia mempunyai ilmu sekalipun, jika tidak makan pasti dia akan mati. Aku tak mau menyia-nyiakan waktuku. Kau ikuti aku saja. Jalan tepat dibelakangku dan jangan jauh-jauh dariku."


" Apa kau bisa melihat dengan kabut setebal ini? Lebih baik aku turun saja, lagipula apa yang bisa ku cari dengan kabut setebal ini."


" Jangan meremehkanku. Aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Mataku sudah terlatih."


" Tapi bagaimana denganku, bukankah aku hanya menghambat perjalananmu saja."


" Tidak.. Kau cukup berguna untukku. Kau bisa membantuku saat aku kesulitan."


" Di tempat berkabut seperti ini, apa yang bisa ku lakukan untukmu?"


" Sudah..diam saja, dan ikuti saja aku. Nanti pasti aku akan membutuhkanmu."


" Baiklah..aku berharap bisa menemukannya disekitar sini. Kalau tidak, sia-sia saja kita berada di tempat sulit seperti ini."


" Jangan banyak mengeluh. Kita tidak akan menemukan apapun jika kamu selalu mengeluh. Fokus.. lakukan apa yang bisa kau lakukan."


" Iya..iya.." ucap Bara sambil menggerutu.

__ADS_1


Hingga satu jam berada di Puncak Bukit, Bono dan Bara tak mendapatkan apapun. Mereka tak menemukan tanda-tanda Tama berada di tempat itu. Setelah berpikir lama, Bono memutuskan untuk menuruni Puncak Bukit karena hari sudah mulai petang.


......................


__ADS_2