SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Derita Dan Kesendirian BAB 2


__ADS_3

" Wah... ini buah kesukaanku. Paman.. siapapun yang punya buah ini, aku mohon. Aku ingin memakannya. Berikan aku satu saja. Aku lapar sekali." Tama berucap sendiri.


Setelah berkata, Tama langsung mengambil satu buah pisang dan langsung memakannya.


" Ahh.. ini enak sekali.. Ayah, Ibu.. maafkan aku. Aku telah memakan makanan di tanah orang. Aku lapar sekali, tapi aku berjanji hanya akan memakan satu buah saja." ucap Tama lagi.


Hingga satu jam lamanya, hujan juga belum berhenti. Angin yang berhembus cukup kencang membuat daun pisang bergoyang-goyang. Sekujur tubuh Tama pun basah. Karena disaat daun pisang itu bergoyang, air dengan mudah turun ke bawah membasahi tepat di tubuh Tama yang mungil.


" Hiiii.. Aku kedinginan. Kenapa hujan ini tak berhenti-berhenti. Aku ingin pulang. Aku rindu dengan ikan-ikanku." ucap Tama sembari memeluk tubuhnya sendiri dengan tangannya yang lembut.


Hari semakin sore, hujan pun mulai reda. Tama merasa lega. Akhirnya ia bisa kembali meneruskan perjalanannya mencari teman-teman baru.


" Asyik.. hujannya sudah berhenti. Aku akan berjalan lagi. Tapi aku masih lapar. Aku sudah berjanji tidak akan makan buah itu lagi. Ah.. tak apa-apa, mudah-mudahan disana aku akan mendapatkan makanan yang lebih enak lagi." ucap Tama menghibur hatinya.


Di dalam kesunyian itu, tampak bocah kecil mungil yang berjalan tertatih-tatih menuju suatu tempat. Dia tak tahu akan pergi kemana. Hutan belantara yang menyelimutinya, seakan menjadi saksi hidup Tama yang terlunta-lunta setelah keluarganya dibantai.


" Apa aku sudah berjalan jauh? Kenapa aku tak bertemu dengan siapapun. Ayah.. Ibu, dimana aku bisa menemukan teman? Aku lapar, siapa yang akan memberikanku makanan? Aku sangat merindukan kalian.. Kembalilah.. Ayah.. Ibu.. Kakak..


Rama.. Seandainya kamu masih hidup, aku senang bisa menggendongmu kemanapun kita akan pergi. Sekarang aku sendiri. Aku tak punya teman untuk bicara." Keluh Tama setelah sekitar tiga ratus meter ia berjalan.


" Tuhan.. Apakah kamu benar-benar ada, seperti yang dikatakan oleh Ibuku? Kata Ibuku, Engkau Maha penolong? Apa kau mau menolongku? Aku sudah lelah berjalan. Aku hanya ingin bertemu dengan Ayah dan Ibuku." ucap Tama sembari menengadahkan kepalanya ke langit.


" Bagaimana ini, kenapa tak ada yang mengajakku berbicara. Tuhan.. kembalikan orang tua, kakaku dan adikku. Aku ingin bertemu dengan mereka dan pulang kembali ke rumah."


Tak henti-hentinya Tama berkeluh kesah. Ia terus meratapi dirinya. Namun tak ada air mata yang menetes dari matanya. Seakan dia telah mengerti akan nasib dirinya. Kini dia tahu, setelah kepergian orang tuanya. Ia harus bisa mandiri seperti apa yang telah dikatakan Rani, beberapa hari sebelum pembantaian oleh Wijaya dan anak buahnya.


Setelah beristirahat beberapa saat,Tama kembali melanjutkan perjalanannya. Terkadang ia merangkak untuk membantu meringankan beban kakinya, dalam menopang tubuhnya.


Tak berapa lama, udara kembali dingin. Kabut putih tipis mulai menyelimuti area sekitar hutan. Tama merasa ketakutan. Ia mengehentikan langkahnya.

__ADS_1


" Aku ingin pulang.. Aku takut.."ucap Tama tiba-tiba.


Kabut putih dan udara dingin yang turun, adalah pertanda akan datang hujan. Tama telah bisa mengartikan kondisi alam seperti itu. Ia merasa ketakutan, namun ia tak punya pilihan lain selain harus meneruskan perjalanannya. Dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya yang sudah sangat lelah, dijalan licin dan becek di area hutan sekitar Puncak Bukit.


Di persimpangan, Tama menemukan gubuk kecil di tepi jalan yang terbuat dari dahan-dahan pohon yang ditata asal-asalan. Walaupun atapnya hanya terbuat dari pakaian-pakaian bekas dan plastik jas hujan, namun sepertinya mampu untuk melindungi diri dari hujan deras.


" Sepertinya sudah mau malam. Aku takut disini gelap. Kenapa aku belum menemukan siapapun? Apa aku ini hanya hidup sendirian?" keluh Tama lagi sembari merebahkan tubuhnya yang lemas, dibawah gubuk kecil tempatnya berteduh.


" Duaaarrrrr!!!" suara ledakan keras petir yang menyambar pohon kelapa yang paling tinggi, tepat dua puluh meter dari tempat Tama berteduh.


" Aaaaaaaaa....." Tama terkejut lalu menangis dengan keras.


Dan hujan pun turun lagi. Suara keras tangisan Tama tak mampu mengalahkan suara derasnya hujan disekitar hutan itu.


Tama terus menutup telinganya rapat-rapat. Ia lalu melingkarkan tubuhnya sembari menangis tersedu-sedu.


Tak hanya sekali, petir itu menyambar-nyambar. Namun hingga puluhan kali suara menggelegar terdengar oleh telinga Tama.


Sebenarnya Tama telah merasakan kelelahan yang sangat hebat. Dan rasa lapar yang terus mengoncang perutnya membuat dirinya tak bisa melakukan apa-apa.


Lalu ia memasrahkan hidupnya pada Tuhan lalu mencoba menutup matanya dan berdoa saat ia kembali membuka matanya nanti, ia telah kembali kepada keluarganya dirumah.


Tak lama setelah itu, Tama pun tertidur. Meskipun cacing dalam perutnya terus memaksanya untuk makan, namun kelelahan yang ia rasakan tak bisa terhindarkan. Tak menunggu waktu lama untuk Tama tertidur pulas.


...----------------...


Dua jam telah berlalu, hujan pun berhenti. Namun waktu sudah berganti malam. Tama pun belum terbangin dari tidurnya. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berusia sekitar empat puluh tahunan, menuju ke gubuk tempat Tama berteduh.


" Haa?? Ada anak tuyul tidur di rumahku. Ah biarkan saja, aku tidak akan mengganggunya. Lagipula istanaku ini sangatlah besar. Hahaha.." ucap orang yang sudah kehilangan akal sehatnya sejak satu tahun yang lalu.

__ADS_1


Meskipun ia bukan orang waras, namun dia tetap mengenakan pakaian yang rapi. Ia suka kebersihan dan kerapian. Gubuk kecil yang ia buat pun menurutnya adalah istana yang megah yang pernah ia bangun.


Dalam kegelapan itu, Orang gila itu melahap makanan yang ia dapatkan dari hasil meminta-minta di warung yang ia datangi. Karena terlalu banyak, ia tak bisa menghabiskan makanannya sendirian. Ia pun lalu membungkus makanannya kembali kemudian merebahkan tubuhnya dan tertidur pulas.


...----------------...


Pagi telah tiba. Tama mencoba membuka matanya yang sulit sekali untuk ia buka. Air matanya semalam karena menangis, telah mengering dan membuat mata Tama seperti tertutup lem.


Ia mencoba mengusap matanya dengan kedua tangannya, namun malah membuat matanya menjadi perih. Ia kebingungan lalu mengusap kembali matanya dengan cepat.


Hingga pada akhirnya, setelah susah payah ia mencoba. Bekas air matanya yang mengering dan menusuk hingga ke dalam matanya, terkelupas dan jatuh. Tama merasa lega. Namun satu masalah yang ia hadapi sekarang adalah kelaparan yang melanda dirinya. Kini tubuh Tama terasa semakin kurus. Perutnya gepeng dan paru-parunya seperti kelihatan dari luar.


Tubuhnya seakan mengecil karena beberapa hari ia tak makan dan minum. Namun tubuhnya yang kuat mampu untuk bertahan hidup.


" Aku lapar sekali.. Aku ingin makan dan minum susu. Tuhan berikan aku makanan dan susu." gumam Tama dalam hati.


Ia kemudian memiringkan tubuhnya. Ia terkejut saat ada orang di sampingnya yang sedang tidur mendengkur. Ia pun teringat dengan Ayahnya.


" Ayah?Apakah kamu Ayahku?" ucap Tama.


Namun orang gila yang tidur disamping Tama tak bergerak sedikitpun.


Tama mencoba mendekati orang itu, lalu mencoba membangunkanya. Ia sangat berharap jika orang yang tidur disampingnya adalah Ayahnya.


Berkali-kali Tama menggoyangkan tubuh orang itu, namun tak ada gerakan apapun. Orang gila itu juga tak bersuara apapun.


Tama menghela nafasnya panjang-panjang. Ia tahu tubuhnya sudah sangat lemah. Usahanya menggoyangkan tubuh orang gila itu sangat menguras tenaganya.


Ia pun kembali merebahkan tubuh mungilnya disamping orang gila itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2