SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MELAMAR RIKA


__ADS_3

Keesokkan harinya, Bono terbangun dari pingsannya, saat matahari pagi menyinari tubuhnya, dan membuat silau kedua matanya.


" Ahh, dimana aku? Tubuhku terasa lemas sekali." Ucap Bono lirih, lalu berusaha bangkit merayap lalu meraih dinding untuk mencoba berdiri.


" Kamu sudah siuman Bon?" Ucap seseorang dari belakang Bono.


Bono terkejut lalu terjatuh kembali. Dia kemudian berkata pada Wijaya.


" Wijaya? Sial! Kenapa kamu menemuiku lagi! Sudah ku bilang jangan ikuti aku! Aku sudah tak sudi bertemu kamu lagi!"


Wijaya mendekat dan mengulurkan tangan pada Bono. Dia bermaksud menolong Bono yang tak sanggup lagi untuk berdiri sendirian.


" Singkirkan tangan kotormu itu dariku! Tangan kotormu itu yang telah tega membunuh Ibuku. Kau memang Ba****an Wijaya!"


Wijaya menunggu beberapa saat, dia tetap mengulurkan tangan pada Bono yang masih duduk bersandar pada dinding.


" Plllaakkk.. Ku bilang singkirkan! Dasar keras kepala!" Bono menolak uluran tangan Wijaya, sambil menampel tangan Wijaya.


Wijaya mundur dua langkah dari Bono, lalu dia berjongkok agar lebih nyaman berbicara pada Bono.


" Bon, memangnya kamu mau kemana? Kau tak tahu saudara dan sanak keluargamu dimana. Kau tak lagi memiliki keluarga. Hanya akulah keluargamu Bon."


" Aku tak peduli! Jangan cari-cari aku. Pergilah Kau Wijaya! Aku muak melihat wajahmu! Tinggalkan aku!"


" Bon, kematian Rendra akan terdengar di seluruh negeri. Pasti mereka mencari siapa pelaku pembunuhnya. Dan rekan bisnis Rendra pasti akan mencari kita. Apa yang akan kau katakan padanya jika bertemu dengan mereka?"


" Aku takkan bertemu dengan siapapun rekan bisnis Rendra. Setelah ini aku akan meninggalkan dunia hitamku. Dan lebih memilih menjadi rakyat biasa. Aku akan pergi ke puncak menemui anak pak Tua di lereng bukit itu. Aku akan melamar dan menikahinya."


" Apa kau sudah terikat hubungan dengannya?"


" Tentu saja belum! Dia berlari dariku karena melihat kelakuanku. Dia membenciku, apalagi setelah melukai banyak warga."


" Apa kau bisa menjamin, saat kembali kesana, dia mau menerimamu?"


" Diam! Kamu tak perlu ikut campur dalam urusanku. Pergilah dan jangan menggangguku! Diterima atau tidak, itu bukan urusanmu dan tak ada hubungannya denganmu!"


Bono tetap menolak ajakan Wijaya untuk bergabung bersama dirinya. Wijaya lalu pergi meninggalkan Bono lalu berkata,


" Bon, aku akan menggantikan posisi Rendra menguasai dunia hitam. Jika kau tak mau bergabung denganku, itu tidak masalah bagiku. Aku bisa mencari orang lain yang lebih bisa kuandalkan daripada kamu. Ingat, aku akan jadi penguasa. Jika kau hidup susah, carilah aku."


" Pergilah! Biarkan aku sendiri! Brengsek!" Bono berteriak dan memaki Wijaya.


Wijaya pun berlalu meninggalkan Bono di markas Rendra sendirian. Setelah Wijaya pergi, Bono lalu teringat dengan jasad Rendra dan kedua gadis, kekasih Rendra.


" Ah, aku hampir saja lupa. Bagaimana aku membawa mereka? Dan bagaimana aku menguburkan mereka?" Pikir Bono, lalu berjalan masuk untuk melihat jasad Rendra dan kekasihnya di dalam.


" Hah? Kemana mereka? Siapa yang telah membawanya? Apa jangan-jangan Wijaya."


Bono kemudian keluar, untuk mencari Rendra. Namun Rendra sudah hilang dari pandangannya. Bono berteriak memanggil Wijaya.


" Wijaya! Dimana kamu membawa jasad mereka! Wijaya! Kembalikan mereka padaku!"

__ADS_1


Bono hendak berjalan keluar menuju halaman, namun dia dikejutkan dengan adanya secarik kertas yang ditindih dengan batu kecil. Dia kemudian mengambil kertas itu.


" Bon, kamu tak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menguburkan mereka. Karena aku sudah menyewa orang untuk menguburkan mereka secara layak. Dia dikubur tak jauh dari sini, di makam keluarga milik penduduk desa, beberapa kilometer dari markas Rendra."


" Jadi kamu telah membawanya, sialan! Aku harap kamu tak menganiaya jasad mereka, sebelum mereka dikuburkan!"


Beberapa menit kemudian, Bono melangkahkan kakinya menuju garasi mobil. Disana dia menemukan banyak jenis mobil. Semua masih dalam kondisi prima. Lalu dia mencoba menaikinya satu persatu. Akhirnya dia mengendarai mobil yang paling bagus kondisinya.


Bono meninggalkan markas Rendra dan pergi ke puncak bukit untuk menemui gadis pujaan hatinya. Dia berharap Ayah Rika mau menerima lamarannya.


" Rika, aku datang. Aku sungguh merindukanmu. Aku janji akan menjadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk anak-anak kita. Tunggulah aku Rika." Ucap Bono penuh dengan rasa percaya diri.


...****************...


Sore hari ketika matahari mulai condong ke barat, Bono tiba di lereng puncak bukit barat. Di dusun tempat Rika dan kakeknya tinggal. Dia memarkirkan mobilnya di depan gerbang masuk menuju dusun.


Warga yang mengetahui kedatangan Bono berlari dan mulai memukul kentongan tanda bahaya.


" Thok thok thok thok thok..." Bunyi kentongan yang dipukul berulang kali.


Warga yang saat itu berada di rumah, mendadak keluar dari rumahnya dan melihat apa yang terjadi diluar.


" Pemuda asing itu datang...Pemuda asing itu datang..." Teriak seoarang pemuda yang memukul kentongan.


Bono tampak tenang. Dia tetap berjalan beberapa meter sebelum Warga mulai mengepungnya.


" Hei Pemuda! Mau apa kau kemari lagi? Bukankah kau sudah mati? Tanya Reza pada Bono.


" Sombong sekali kamu orang asing! Tuhan takkan memberi keselamatan bagi orang sombong sepertimu! Bertobatlah dan berdoalah, meminta pada Tuhanmu, agar segera diampuni kesombonganmu. Dan mungkin karena kau jauh dari Tuhanmu, Kau datang ke tempat yang salah. Kau datang kemari hanya untyk mengantar nyawa, bukan? Hahaha..."


Semua warga tertawa mendengar perkataan Reza. Seketika wajah Bono memerah, kepalanya seakan mendidik. Dia mengepalkan tangannya lalu menanggapi gurauan Reza.


" Bukan aku yang mengantar nyawa, tapi aku yang akan mencabut nyawamu Pemuda sok jagoan!"


" Kurang ajar! Kau mau mencoba bermain denganku? Majulah!" Ucap Reza, Pemuda berbakat yang telah di didik Wira menjadi Pemuda yang cukup hebat saat ini di desanya.


" Mas, kalahkan dia! Jangan beri dia ampun! Dia pernah hampir memaksaku dan melukai banyak warga di desa ini!" Bunuh saja pengacau itu!" Ucap Wanita yang tak lain adalah Rika yang ditemani oleh Kakeknya.


" Benar Za, dia hampir membantai warga kita. Untung saja ada orang baik yang bisa mengalahkannya. Hingga kita bisa aman oleh kekejamannya." Ucap Ketua pemuda.


" Rika! Kenapa kamu menyuruh dia membunuhku? Aku datang kemari untuk melamarmu, bukan untuk membuat kerusuhan. Percayalah padaku. Aku sudah berubah. Aku ingin hidup bahagia disini. Membangun desa ini menjadi desa maju."


" Bohong! Aku tak percaya kamu bisa menjadi suamiku yang baik. Lagipula aku tak menyukaimu. Kau kasar dan kejam. Carilah wanita yang lain. Kau tak pantas untukku!"


" Rika, sejak awal aku sudah mencintaimu. Sifatku berubah setelah aku mengalami banyak hal yang sulit ku jelaskan. Aku kembali kemari. ingin menjadi bagian dari desa ini. Menjadi pelindungmu dan warga. Juga akan melindungi desa ini dari segala macam gangguan."


" Hahaha.. Anak muda, desa ini dari dulu sudah aman-aman saja. Tak ada gangguan sedikitpun. Kaulah yang sebenarnya, yang menjadi pengganggu di desa ini." Ucap ketua Pemuda.


" Sudahlah Ketua, dia biar aku yang urus. Kalian duduk dan menonton saja. Aku akan mengalahkannya hanya dengan beberapa jurus saja."


" Rika! Kakek! Bantu aku meyakinkan mereka. Saya sangat serius datang kemari dengan niat baik. Aku mohon. Aku tak ingin melukai siapapun. Aku tak ingin ada pertumpahan darah didesa ini lagi. Aku mohon Rika, Kakek." Bono menghampiri Rika dan kakeknya.

__ADS_1


Reza melompat dan menghadang Bono, Dia tak ingin Bono mendekati Rika.


" Hei! Mau kemana kamu? Jangan dekati kekasihku! Dia milikku, dan sebenyar lagi akan menikah. Dia lebih cocok denganku daripada manusia jelek sepertimu. Hahaha.."


" Minggir! Aku tak ada urusan denganmu! Lagipula kalian baru akan menikah, Kalian belum sah menjadi suami istri. Aku masih bisa memiliki Rika."


" Siapa bilang belum sah? Kami sudah bertukar cincin. Seminggu lagi kami akan berada di kursi pelaminan, berdua. Ku harap jangan mengganggu acara kami. Pergilah, sebelum kamu ku lenyapkan dari muka bumi ini. Hahaha.."


" Sama saja belum sah, minggir kamu!" Bono memaksa untuk mendekati Rika.


" Aku takkan membiarkanmu mendekati calon istriku! Jika kau memaksa, ku bunuh kamu!"


Bono mundur beberapa langkah, dia tak ingin menyulut kemarahan Reza dan Warga.


" Kakek, Rika, apa kalian buta? Lihat laki-laki ini, dia begitu sombong. Dan aku tahu, dia bukanlah laki-laki yang baik untuk Rika. Aku tak rela, jika kau menikah dengannya Rika!"


" Kamu! Memangnya kamu siapa? Tak perlu mengurusi hidupku. Aku menyukainya. Aku bisa menerima segala kekurangannya. Aku yakin dia akan berubah setelah menika nanti. Kau tak boleh menuduh orang sembarangan. Siapa tahu dia jauh lebih baik darimu!"


" Rika, aku tak ingin kau salah pilih. Lihatlah kesombongannya, dia hanya akan membuatmu sengsara. Kau akan merasa terhina."


" Tutup mulutmu orang asing! Pergi! Kau tak perlu mengaturku! Hidupku adalah pilihanku, kau tak bisa memaksaku! Pergilah! Jangan ganggu kami!" Rika semakin naik darah ketika Bono menjelek-jelekkan kelakuan Reza di depan orang banyak.


Rika tahu, Kakek Rika pun tahu bahwa Reza orang yang sombong. Namun kekayaan yang dia miliki telah dia serahkan sebagian, untuk membangun desa mereka. Reza sangat berjasa untuk desa tempat tinggal mereka. Warga sangat mendukung apapun yang Reza lakukan. Pada akhirnya warga menjadi simpati pada Reza. Setiap malam minggu para pemuda dikumpulkan untuk minum alkohol, merokok bareng di pagar perbatasan desa. Kelakuan Reza yang semakin keterlaluan membuat Rika dan Kakeknya tak tahu harus berbuat apalagi. Yang mereka bisa lakukan hanyalah menuruti apa kata Reza.


" Rika, ku harap kau tak menyesali pilihanmu! Aku takkan memaksamu! Tapi jika kau kenapa-kenapa aku takkan segan-segan membunuhnya!"


Rika dan kakeknya hanya tertunduk, mereka tak tahu lagi harus menjawab apa. Rika dan Kakeknya saling berpelukkan, dan pasrah siapa yang akan mau meminangnya dengan tulus.


" Hei! Apa kau bilang? Kau akan membunuhku? Aku yang akan mengalahkanmu duluan."


Reza bersiap menyerang Bono, Wargapun mundur untuk melihat pertarungan mereka. Diantara para warga, semua memihak pada Reza.


" Za, kalahkan pemuda sialan itu! Dia dulu telah menyerangku hingga babak belur. Bahkan dia hampir saja membunuh tiga orang kuat di desa ini. Kalahkan dia! Lenyapkan pengganggu itu dari desa ini!"


" Ya benar! Ya benar!" Para warga serentak membenarkan ucapan Ketua pemuda.


" Ayo Orang asing brengsek! Maju, serang aku!" Ucap Reza sembari bersiap-siap melakukan kuda-kuda.


" Pemuda sombong! Mungkin kamu belum pernah diajari hal yang baik pada orang tuamu. Sekarang aku akan mengajarkannya padamu."


Bono bersiap menyerang Reza, dia melompat dan memukul Reza berulang kali. Namun Reza masih sempat menangkis serangannya, walaupun sesekali dia terkena pukulan Bono.


" Hahaha.. Apa cuma segitu kemampuanmu orang asing? Sudah bisa ku tebak, kau memang payah. Kau tak pantas menjadi pendamping Rika. Bela diri saja kau tak menguasai, bisa-bisanya mau melindungi Rika dan desa ini. Hei! Bangun dari tidurmu Nak, hari sudah siang. Hahaha.." Reza tertawa terbahak-bahak melihat Bono yang tak bisa memukulnya hingga membutnya terjatuh. Dia berpikir, apa yang dikatakan warga, tak semenakutkan dengan kenyataannya.


" Baiklah! Jika kau ingin melihat kekuatanku. Bersiaplah kau. Jangan pernah lari dari pertarungan ini. Aku takkan melepasmu Bocah sombong!"


" Jangan banyak mulut! Tunjukkan padaku! Hahaha.."


Bono mulai mengalirkan tenaganya ke seluruh tubuh, dan dia memusatkannya ke bagian kakinya. Warga berteriak agar Reza menghindari serangan Bono yang mematikan. Namun Reza tak mempedulikannya. Dia menunggu serangan Bono.


Bonopun melepas energinya dan mengehentakkan kakinya yang sudah teraliri tenaga dalam ke tanah. Angin pun datang bergulung-gulung, yang tak terlihat oleh pandangan Reza, ke arah Reza. Dia tak mengira bahwa jurus Bono mampu membuatnya mati jika terkena serangannya. Namun, Reza tetap berdiri kokoh sebelum serangan menuju kepadanya."

__ADS_1


......................


__ADS_2