SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
BURUNG SIALAN


__ADS_3

Melewati jalan yang cukup sepi, Bulan merasa motornya seperti mau oleng. Ia lalu menyadari kalau Ayahnya berkali-kali menoleh ke arah belakang.


" Ih.. Ayah.. kenapa menoleh ke belakang terus? Bulan jadi nggak tenang, bawa motornya. Seperti mau oleng."


" Eh, maaf Bulan.. Sepertinya mobil itu mengikuti kita. Sebaiknya, kita segera mempercepat jalan kita. Tambah lagi kecepatan motornya."


" Memangnya kenapa dengan mobil itu? siapa tahu dia saudara kita. Atau mungkin itu teman Ayah."


" Bulan, Ayah tidak pernah punya teman yang punya mobil mewah seperti itu. Ayah takut mobil itu mau mencelakai kita."


" Ayah... jangan buat Bulan takut. Bulan jadi gugup. Lebih baik Bulan yang bonceng, Ayah yang bawa motornya "


" Hemhh..baiklah kalau begitu. Lebih baik kita berhenti disini. Lalu tukaran."


" Iya, Ayah.."


Di depan sebuah gubuk kecil di pinggir jalan, Tanu dan Bulan berhenti untuk bertukar mengemudikan motornya. Tanu membawa Bulan hingga kecepatan seratus kilometer perjam. Namun, mobil yang mengikutinya terus saja membuntuti mereka. Tanu pun lalu membelokkan motornya.


" Hemhh.. sepertinya Guru brengsek itu sudah mengetahui kalau aku mengikutinya. Baiklah, aku akan mendahuluinya. Sepertinya memakai mobil ini terlalu mencolok jika aku mengikutinya. Baiklah.." gumam Wijaya. Ia pun melajukan mobilnya dengan kencang mendahului Tanu.


Tiba di tikungan, Wijaya turun dari mobilnya. Ia lalu menyetir mobilnya dengan remote control dan mengarahkan mobilnya ke tempat yang tersembunyi.


Wijaya pun masuk menyusuri hutan-hutan mengawasi Tanu. Ketika Tanu sudah melajukan motornya lagi ke rumahnya, Wijaya pun segera mengikutinya dari belakang.


Tiba-tiba saja sebuah motor melaju dengan cukup kencang mengikuti Tanu. Tanu tak sadar jika Bagus mengikutinya.


Namun Wijaya mengetahui jika Bagus mengikuti Tanu.


" Bukankah itu, Bagus.. kenapa dia mengikuti Tanu? Apa yang akan dia rencanakan. Bodoh! untuk apa dia mengikuti Guru sialan itu. Apa dia tahu kalau aku juga mengikutinya.." gumam Wijaya lalu dengan segera menyusul mengikuti Bagus dan Tanu.


Hingga satu jam lamanya, Tanu dan Bulan telah sampai di rumahnya. Sebelum masuk rumah, Tanu melihat di sekeliling untuk memastikan tak ada orang yang mengikutinya.


Setelah dirasa aman, Tanu bergegas masuk ke dalam rumahnya lalu dengan cepat mengunci pintu.


" Ayah, Bulan.. ada apa kalian berlari-lari seperti dikejar macan. Pakai mengunci pintu rumah, segala."


" Ibu tidak tahu.. kami tadi, diikuti orang yang tak dikenal. Mengendarai mobil mewah dan mengikuti kami pulang."


" Hah! yang benar saja.. terus dimana orang itu? Ayah.. kumpulkan anak-anak kita."


"Tenang dulu Ibu. Orang itu sudah pergi. Mungkin saja dia tahu, jika Ayah mengetahui jika orang itu mengikuti kami. Sehingga dia berhenti mengikuti kita."


" Mudah-mudahan saja dia bukan Wijaya, Ayah.. Ibu sangat takut jika dia Wijaya. Ibu nggak berharap bisa bertemu dengannya."


" Tenangkan dirimu, Ibu. Lebih baik kita telepon Bono agar bisa melindungi keluarga kita lagi."


" Ibu akan menelponnya, Ayah. Tunggu sebentar."

__ADS_1


" Kalau begitu, Rama biar sama Bulan, Bu." ucap Bulan lalu mengambil Rama dari gendongan Ibunya.


Tepat seratus meter dari rumah Tanu, Bagus menghentikan motornya. Tiba-tiba saja Wijaya lompat dan tepat berada didepan Bagus.


" Oh, Pak Wijaya.." Bagus terkejut, jantungnya berdegup cepat.


" Bagus.. kenapa kau bisa datang kemari? Apa tujuanmu?"


" Eh, tidak Pak Wijaya.. Saya hanya ingin mengetahui rumah Pak Tanu saja. Tidak punya maksud lain."


" Jangan coba-coba membohongiku, Gus! Apa kau mengikutiku? jawab!"


" Ti.. tidak Pak.. saya benar-benar tidak mengikuti Anda. Saya hanya ingin tahu rumah Pak Tanu."


" PLAAKK..." Wijaya menampar pipi Bagus hingga terbanting ke tanah.


" Aduhh.. ampun Pak. Maafkan saya. Saya berkata apa adanya. Saya tidak mengikuti Anda." ucap Bagus sembari memegangi pipinya yang merah dan berdarah karena tamparan Bagus.


" Pulanglah! jika kau masih sayang dengan nyawamu.. atau kau ingin jadi tulang belulang seumur hidup di tempat ini?"


" Saya tidak mau, Pak Wijaya. Baik.. saya akan pulang. Maafkan saya Pak Wijaya.."


Bagus bergegas mengambil motornya dan dengan segera memutar motornya untuk pulang ke rumahnya.


" Akhhh.. sakit sekali tamparan orang itu.. Aku sudah menduga, dia bukan orang biasa. Jika saja, aku tak dibekali dengan ilmu kebal, aku pasti langsung mati ditampar keras seperti tadi. Aduhh.." rintih Bagus sembari memegang pipinya yang terasa nyeri.


" Akhh.. siall! kenapa aku harus berurusan dengan orang itu? Aku tak mau mati, tapi bagaimana dengan nasib Pak Tanu dan keluarganya? Maafkan saya Pak Tanu.."


Bagus menghentikan laju motornya. Ia duduk di tepi jembatan sembari menangis. Ia menyesali perkataannya sehingga membuat Wijaya murka lalu berniat mencelakai Tanu dan keluarganya.


" Tuhan... beri aku kekuatan untuk bisa menghentikan orang itu! Aku telah melakukan kesalahan besar. Aku tak mau Pak Tanu yang telah berbuat baik kepadaku, menjadi celaka gara-gara mulutku yang terlalu tajam. Tolonglah, Tuhan.."


Di atas jembatan kecil, yang dibawahnya mengalir air yang sangat dingin Bagus berteriak meminta tolong pada Tuhannya.


Putus asa dalam dirinya membuat tubuhnya lemas. Rasanya, ia ingin segera mengakhiri hidupnya. Ia tak ingin mendengar, apalagi melihat kejadian buruk yang menimpa Tanu dan keluarganya.


" Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan.. Kenapa aku tidak bisa berpikir dengan tenang! Ahh..." Bagus merasa kesal dengan dirinya, kemudian mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke sungai.


" Tidak, aku tidak akan membiarkan Pak Tanu dan keluarganya menderita. Aku harus bertanggung jawab. Aku tak boleh lari dari masalah yang aku perbuat."


Bagus mengambil Handphone dalam saku celananya. Ia bermaksud menghubungi keluarganya. Ia mencoba menghubungi Kakaknya, namun tak ada respon. Ia kemudian menghubungi adiknya, namun adiknya juga tak kunjung mengangkat telponnya. Hanya satu yang bisa Bagus harapkan. Hanya Ibunya lah yang selalu ada disaat Bagus menelpon. Ibunya selalu cepat mengangkat telpon Bagus jika dia menelponnya. Ia pun mencoba menghubungi nomer Ibunya.


Belum juga tersambung, Bagus membatalkan niatnya menghubungi Ibunya.


" Ibu.. aku takut jika menghubungi Ibu, dia malah kepikiran hal yang aneh-aneh. Aku nggak mau membuat beban dipikirannya. Siapa lagi yang harus ku hubungi. Setidaknya aku punya pesan yang tersampaikan jika aku tak kembali ke rumah."


Sesaat Bagus merenung. sembari menggenggam hpnya dengan kedua tangannya, ia memejamkan matanya. Berharap pikirannya tenang lalu mendapatkan petunjuk apa yang harus ia perbuat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian dia terperanjat dari tempat duduknya karena ia mendengar suara burung gagak yang melintas di atasnya menuju ke jalan ke rumah Tanu.


" Astaga! burung sialan! mengagetkan saja.. Tapi, burung itu bisa jadi pertanda hal buruk akan terjadi. Mungkin benar, Wijaya pasti akan melakukan sesuatu pada keluarga Pak Tanu. Aku harus berbuat sesuatu."


Bagus berniat menancap gas motornya dan kembali menuju ke rumah Tanu. Namun ia dilanda keraguan. Ia memikirkan hidup dan matinya. Jika ia pergi membantu Tanu, pasti ia akan berhadapan dengan Wijaya. Namun jika ia lebih memilih pulang, sama saja ia membiarkan orang yang telah berbuat baik kepadanya, mati begitu saja.


Bagus pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Tanu. Ia mematikan motornya dan kembali duduk di atas jembatan sembari *******-***** rambutnya berulang kali.


" Ahhh... kenapa aku jadi bingung seperti ini. Kenapa aku harus memikirkan sesuatu yang tidak penting! Siall.."


Bagus kembali mengambil Hp di saku celananya. Ia kemudian menghubungi Sastro, guru di SMA BANGUN JAYA.


" Halo, Pak Sastro.."


" Halo juga, Pak Bagus. Ada Apa menelpon saya? Ini saya sudah sampai rumah. Apa ada hal penting yang mau dibicarakan?"


" Begini Pak Sastro.. kemungkinan dalam beberapa hari ini, saya tidak pulang ke rumah. Apakah Pak Sastro mau, datang ke rumah saya menemui keluarga saya. Tolong bilang sama kakak saya atau Ibu saya, beberapa hari ini saya tidak pulang. Ada hal penting yang akan saya kerjakan.."


" Oh, baiklah Pak Bagus. Saya akan menyampaikan pesan Anda. Tapi bagaimana dengan disekolah, Pak Bagus? Apa juga akan libur?"


" Iya, Pak Sastro. Saya izin libur dulu selama beberapa hari ke depan."


" Eh, maaf Pak Bagus.. sebenarnya Pak Bagus itu mau kemana? Apa Pak kepala sekolah sudah tahu?"


" Saya mau pergi jauh, Pak Sastro. Mau menghilangkan penat di pikiran saya. Pak Kepala sekolah belum tahu kalau saya mau libur Pak. Saya juga belum mengajukan surat izin resmi kepada beliau. Besok kalau Kepala sekolah tanya, saya mohon Pak Sastro katakan saja yang sebenarnya saya kemana."


" Baik, Pak Bagus.. tapi apa Pak Bagus tidak takut kalau Kepala Sekolah memberhentikan Anda dari sekolah ini?"


" Haha.. saya tidak takut kalau harus keluar dari sekolah tercinta Pak Sastro. Mungkin saya sudah mengalami penat yang terlalu dalam. Saya sudah bosan pak. Ingin suasana yang baru."


" Pak Bagus, Pak Bagus.. santai saja Pak. Saya saja yang sudah lebih dari dua puluh tahun disini, mampu bertahan, kok. Saya juga belum berkeluarga, tapi saya menikmati hidup saya. Tak perlu bersedih jika belum mempunyai jodoh Pak Bagus. Siapa tahu kelak, dapat jodohnya seorabg bidadari surga. Hehe.."


" Ah.. Pak Sastro bisa saja. Ya sudah kalau begitu, terimakasih Pak Sastro. Sampai ketemu lagi di lain hari. Semoga kita bisa bercanda tawa lagi seperti biasanya, Pak."


" Aamiin.. baiklah kalau begitu, Pak Bagus. Saya mau istirahat siang dulu. Sambung lagi kapan-kapan ya. Nanti atau besok jika saya sudah ke tempat Ibu Pak Bagus, saya akan menyampaikan pesan Anda. Jangan khawatir Pak Bagus."


" Terima kasih, Pak Sastro. Anda memang teman terbaik saya. Maafkan saya, Pak. Selama ini saya kalau bercanda, suka kelewatan. Jika Pak Sastro tersinggung, katakan saja Pak. Saya akan meminta maaf seratus kali sekarang juga. Kalau Pak Sastro menyimpan dendam sama saya, atas perkataan yang keluar dari mulut saya selama ini."


" Aduhh.. tidak masalah Pak Bagus. Saya tidak pernah tersinggung kok. Namanya juga bercanda. Kalau bukan bercanda, saya pasti marah."


" Baiklah kalau begitu, Pak Sastro. Saya mau meneruskan perjalanan saya dahulu. Selamat siang dan selamat beristirahat Pak Sastro."


" Silahkan, Pak Bagus. Hati-hati dijalan. Selamat meneruskan perjalanan Pak Bagus. Terima kasih."


Bagus menutup telponnya. Ia lalu membulatkan tekad untuk menuju ke rumah Tanu di Lereng Puncak Bukit Timur.


Dalam perjalanan, Bagus mengingat-ingat kenangan-kenangan yang ada di memori ingatannya. Ia merasa kalau ia sudah tak akan lagi bertahan di dunia ini. Untuk itu sembari menunggu tiba dirumah Tanu, Bagus mengingat kembali kenangannya di masa lalu. Ia juga sempat menulis pada pesan yang ditujukan kepada nomer Hp semua orang yang ada di Hpnya. Kalau ia akan pergi jauh untuk menggapai surga.

__ADS_1


......................


__ADS_2