
Sore hari pukul 15.00, hujan deras mengguyur seluruh kota. Angin besar mengayunkan pepohonan, disertai petir yang menyambar. Membuat suasana menjadi semakin mencekam, saat Vina berselisih dengan Papanya.
" Brak brak brakk brakk.." Berulang kali Wijaya menggedor pintu kamar Vina.
Namun dari dalam kamarnya, Vina tidak menghiraukan Papanya. Dia fokus menulis pesan untuk Dua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya.
Di mulai dari Tasya, Vina menuliskan pesan singkat terlebih dahulu untuknya. Tak banyak yang dia tulis. Dia hanya menitipkan pesan agar menjaga rumahnya, dan mengirimkan bunga setiap hari jumat untuk Mamanya di tempat Mamanya dikebumikan.
Lalu Vina menulis dilembar kedua untuk Tanu. Dia mulai menulis pesan, namun Vina kebingungan ingin menulis apa. Konsentrasinya hilang ketika Wijaya semakin keras menggedor pintu kamarnya.
"Brak brak brak brakkk "
" Vina buka pitunya. Papa minta maaf Nak. Cepat buka pintunya."
Sembari menggedor pintu, Wijaya meminta Vina membuka pintu. Namun tak ada jawaban dari dalam. Seluruh tubuh Wijaya bergetar. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya.
" Vina, apa yang kamu lakukan Nak. Tolong buka pintunya. Papa menyesal berkata seperti itu. Papa mohon sayang. Papa benar-benar minta maaf." Ucap Wijaya dibarengi dengan tangisannya.
Wijaya tersujud di depan pintu kamar Vina, dia menangis menyesali ucapannya pada Vina. Berharap Vina membuka pintunya dan memeluknya. Namun sudah beberapa menit berlalu Vina tak juga keluar dari kamarnya.
Wijaya mencoba berdiri dan mencoba melihat suasana kamar Vina dari lubang kunci pintu kamar. Dia melihat Vina sedang memegang gunting besar sambil melihat ke arah pintu. Tanpa basa basi Wijaya mendobrak pintu kamar Vina.
Dengan tiga kali dorongan, Wijaya mampu menjebol pintu kamar Vina. Saat berhasil masuk, Wijaya mendapati Vina sedang mengarahkan gunting besar di tangannya ke arah dada sebelah kiri. Dengan sigap, Wijaya berlari ke arah Vina dan menendang gunting besar dalam genggaman Vina.
" Prakkk..." gunting berhasil terlepas dari gemgaman Vina dan mengenai dinding kamar .
Melihat gunting ditangannya terlepas, Vina tak tahu lagi harus berbuat apa. Usahanya gagal ketika dia sudah berniat untuk mengakhiri hidupnya.
Vina terduduk lemas. Pandangannya kabur oleh derasnya air mata yang mengalir keluar. Dia menutup mata dengan kedua tangannya. Nafasnya terengal- engal karena menahan tangis yang tak bisa dia tahan.
" Vina anakku.." Wijaya mendekati Vina dan memeluknya. Air matanya tak kalah derasnya dengan Vina.
" Orang tua macam apa Papamu ini. Tega sekali membuatmu menangis. Maafkan Papa Nak. Papa hilang kendali." ucap Wijaya lalu melanjutkan tangisnya.
__ADS_1
Vina yang dipeluk Wijaya hanya diam. Air matanya semakin deras mengalir oleh pelukan Papanya yang selama dia hidup, baru beberapa kali dia mendapatkannya. Juga karena kata- kata Wijaya yang mencoba meminta maaf pada Vina atas semua kesalahan yang dilakukan.
" Nak, jangan pernah mencoba menyelesaikan masalahmu dengan membunuh dirimu sendiri. Papa tak suka cara kamu Nak. Papa yang salah. Semua masalah yang terjadi, Papa yang menyebabkannya. Harusnya yang kamu bunuh itu Papa, jangan kamu." Ucap Wijaya menegur Vina.
Berkali kali Wijaya bicara, namun tak satu patah kata pun Vina membalas kata-kata Wijaya. Tetapi kali ini tak membuat Wijaya naik darah, karena ucapannya tak di pedulikan oleh Vina. Dia terus berusaha menenangkan dirinya agar tidak lagi terjadi konflik.
" Vina, berhentilah menangis dan dengarkan ucapan Papa."
Wijaya mengangkat bahu vina ke atas, dan mendudukkannya di tempat tidur.Vina mengikuti kemauan Wijaya, namun kedua tangannya masih menutupi seluruh wajahnya.
Wijaya pun mencoba menarik kedua tangan Vina, agar dia bisa melihat wajah Vina dan berharap mendengarkan ucapannya.
" Apa yang Vina inginkan dari Papa. Bicaralah. Apa yang kamu mau Nak? Katakan saja. Papa akan berusaha melakukannya untukmu, walaupun nyawa Papa taruhannya."
Sedikit demi sedikit Vina yang dari tadi menangis sudah bisa menenangkan pikirannya. Hati dan pikirannya yang kacau, sekarang sudah bisa dia atasi.
" Papa, jika Vina ditanyai apa yang Vina inginkan itu banyak sekali. Vina yakin Papa tak mungkin bisa memenuhi permintaan Vina."
" Apa Papa sungguh berjanji?" Ucap Vina mempertanyakan kesungguhan janji Papanya.
" Papa sungguh akan berjanji sayang. Lihat sekali lagi mata Papa. Apa kamu menemukan ketidaksungguhan di dalam diri Papa?"
Vina mencoba memberanikan diri melihat mata Papanya yang masih memerah dan berair karena tangisannya. Dia menatap tajam mata Wijaya. Setelah beberapa saat Vina tak menemukan kebohongan di mata Papanya.
" Iya Vina bisa melihat kejujuran pada diri Papa. Kali ini Vina percaya pada Papa."
" Ya sudah kalau begitu, sekarang katakan pada Papa. Apa yang Vina inginkan dari Papa."
" Vina hanya ingin Papa berubah, kembali menjadi orang tua yang baik untuk Vina juga adik Vina. Kami semua perempuan. Tanpa didikan Papa yang baik, bagaimana kami bisa menjadi orang baik?"
" Papa mengerti, Papa akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi orang tua yang baik."
" Baiklah, sekarang Vina akan mempercayai Papa. Tapi Papa sungguh akan berubah?"
__ADS_1
" Papa berjanji, mulai detik ini juga. Papa akan berusaha."
" Vina pegang ya, janji Papa." Ucap Vina sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
" Iya... " Wijaya pun mengulurkan jari kelingkingnya dan di kaitkan dengan jari kelingking Vina.
Sementara itu, hujan yang mengguyur seluruh kota kini telah reda. Wijaya bermaksud mengajak Vina jalan bersama. Wijaya tahu, Vina sangat membutuhkan kasih sayangnya. Untuk merayakan kebahagiaannya,Wijaya mempersiapkan sesuatu untuk putri Sulungnya. Namun karena masalah yang terjadi, Wijaya membatalkan niatnya.
" Papa, Vina lapar. Vina tidak masak dari kemarin. Di rumah tidak ada makanan." Ucap Vina memelas.
" Oh, kebetulan hujannya sudah reda. Kita makan di luar saja." Ajak Wijaya kepada Vina yang lemas karena lapar
" Boleh Pa, Vina mau. Asyik.." Ucap Vina kegirangan.
" Baiklah, sana Vina mandi dulu. Pintu kamar ini besok Papa ganti. Nanti kamu bisa pakai kamar Papa jika tak nyaman tidur tanpa pintu."
" Iya Papa, Terima kasih..." Ucap Vina lalu mengambil pakaian di almari dan bergegas menuju kamar mandi.
Sembari menunggu Vina, Wijaya membereskan kamar tidur Putrinya. Akibat dorongan tubuhnya, pintu kamar Vina jebol. Pintunya rusak menjadi beberapa bagian.
Saat membereskan serpihan kayu yang berserakan, Wijaya menemukan kertas berisi tulisan untuk seseorang di atas meja belajar Vina.
Satu lembar untuk seorang perempuan dan satunya lagi untuk laki - laki.
Dalam lembar kertas sobekan yang pertama, Vina menuliskan pesan kepada seorang perempuan. Isi tulisannya membuat Wijaya seperti tersayat hatinya.
Namun di lembar kedua, Wijaya melihat Vina menuliskan pesan untuknya yang berisikan perasaan hati Vina yang sebenarnya.
Dalam hati Wijaya dia berkata, "Ternyata putriku sudah mengenal yang namanya laki laki. Dan dia sudah menyatakan perasaannya pada laki- laki itu. Pak Tanu, Siapa dia, Apa aku mengenalnya?"
" Kenapa Vina bisa jatuh hati pada yang lebih tua? Siapa Tanu itu, Kenapa Vina memanggilnya Pak?" Berbagai pertanyaan muncul di benak Wijaya.
......................
__ADS_1