
Reza dan anak buahnya mulai memasuki gerbang desa yang tak dijaga. Suasananya kini sudah mulai sepi. Tak seperti dulu lagi, yang setiap hari ramai orang berlalu lalang. Anak kecil berlarian di sepanjang jalan desa. Kini sudah sepi karena beberapa warga sudah pindah ke kota lain.
Tiba di depan Gerbang desa, langkah Reza terhenti karena melihat Kakeknya sedang membersihkan halaman rumahnya. Ia lalu menyapa Harjo dengan suara yang lembut.
" Kek.."
Harjo terkejut lalu membalikkan badannya. Ia menatap dalam-dalam wajah orang yang secara tiba-tiba berada di halaman rumahnya.
" Reza! Masih berani kau datang kemari?! Anak durhaka! Mau apa lagi kau kemari? Mau mengacau desa ini lagi?!" teriak Harjo dengan keras setelah mengetahui orang di depannya adalah Reza dan teman-temannya.
" Kakek masih membenciku?" tanya Reza dengan lirih. Tak terasa air matanya menetes.
" Reza.. Sebagai Kakek, aku tidak membenci keturunanku. Meskipun kau bertindak kurang ajar pada Kakekmu sendiri. Tapi aku sakit hati dengan kata-katamu. Sampai sekarang aku masih mengingatnya. Cucuku yang ku banggakan, yang ku besarkan dengan kasih sayang, membalasku dengan cara seperti itu. Siapapun akan merasakan perasaan yang sama denganku, Reza."
Mendengar rentetan kata yang keluar dari mulut Harjo, Reza tak kuasa menahan tangisnya. Ia lalu berlutut dan mencium kaki Harjo sembari menangis.
" Kakek.. Sudah, jangan katakan lagi. Aku mengaku bersalah, Kek. Aku sadar, ternyata selama ini aku salah jalan. Aku meninggalkan Kakek untuk kesenanganku sendiri. Kini aku mengerti. Apa yang aku cari selama ini, tak membuatku tenang. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan, Kek.
Aku sudah puas-puaskan hidupku dengan berfoya-foya. Hidupku hancur dari dalam. Kini aku kembali, aku akan memperbaiki semuanya. Kakek, bantu aku untuk bisa menebus kesalahanku."
" Reza..apa kau sungguh-sungguh mengatakannya kepadaku? Jika kau berbohong, aku akan menyumpahimu. Hidupmu tak akan pernah tenang meskipun kau mati, Reza."
" Aku bersungguh-sungguh. Jangan doakan aku dengan hal yang tidak baik, Kakek. Aku mohon..aku akan perbaiki semua kesalahanku. Aku berjanji kepadamu."
" Baiklah, Reza. Aku senang akhirnya kau kembali. Aku harap kau bisa menjaga kata-katamu, Za."
" Aku tak akan mengubah kata-kataku, Kek. Percayalah, nyawaku taruhannya."
__ADS_1
" Baiklah, Reza. Syukurlah.. akhirnya kau menemukan jalan pulang."
" Satya.. Satya lah yang membuatku seperti ini, Kek. Dia hadir di mimpiku dan membuatku gundah. Setelah merenung, hatiku sedikit-sedikit mulai terketuk untuk meninggalkan dunia hitamku. Kek, aku sangat merindukan Paman Satya. Aku menyesal, bertemu orang sebaik dirinya hanya beberapa hari saja. Kini dia sudah tenang di alam sana, Kek."
" Reza.." ucap Harjo sembari menepuk bahunya.
Reza menunduk, dan tak berani menatap wajah Kakeknya. Ia mendadak malu menatap orang renta di depannya yang telah ia maki-maki sepuasnya. Ia juga mengatakan kata-kata yang tak pantas pada Harjo pada waktu dulu, dan menganggap Harjo tidak pernah ada dalam hidupnya.
" Ayo, kita bicara di dalam saja. Ajak teman-temanmu masuk." ucap Harjo lalu berjalan menaiki tangga dan masuk kedalam rumahnya.
Reza menatap Rio dan teman-temannya lalu menyuruh mereka mengikuti langkahnya. Terlihat senyum di wajah Reza yang sangat mengejutkan. Rio belum pernah melihat senyum Reza yang sangat lepas. Namun senyum yang lain itu seperti memberikan satu isyarat kalau senyum Reza tak akan pernah ia lihat lagi di kemudian hari.
" Duduk lah, Reza. Kau mau aku buatkan minum apa? Kakek hanya memiliki persediaan teh dan kopi saja. Jangan tanya anggur di rumah kakek." ucap Harjo sembari menyindir Reza.
" Kakek..jangan begitu. Mulai saat ini, cucu Kakek ini tak akan mau lagi menyentuh minuman itu. Aku sudah tobat, Kek. Jangan menyinggung tentang kebiasaan burukku."
" Tidak, Kek. Aku sudah berjanji tak akan berbuat buruk lagi. Ah, sudahlah.. Biar aku saja yang membuatkan minum. Kakek duduk disini saja menemani teman-temanku. Ajak bicara mereka."
" Ah..baiklah kalau itu mau kamu. Kakek tak perlu di buatkan, Kakek sudah minum teh tadi pagi."
" Kakek kan, biasanya minum teh lima kali sehari. Kenapa tidak mau aku buatkan. Aku tidak akan menaruh racun ke dalam minuman Kakek. Jangan berprasangka buruk padaku."
" Reza.. aku sudah mengurangi minum teh, sejak aku sakit batuk yang tak kunjung sembuh. Menurut Dokter aku harus mengurangi minuman manis. Makanya, Kakek tidak berani terlalu banyak minum minuman manis."
" Maafkan aku, Kek. Aku tidak tahu kalau Kakek sakit. Kalau begitu, bagaimana kalau air putih saja?"
" Tidak usah..kau saja yang minum. Aku masih kenyang."
__ADS_1
" Baiklah, Kek. Aku tidak akan memaksa. Kalau begitu aku ke dapur dulu."
Reza segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk teman-temannya. Ia terkagum-kagum setelah masuk ke dapur. Meskipun Harjo tinggal dirumah sendirian dan sudah tua, ia masih sanggup untuk membersihkan rumahnya. Dapurnya pun juga bersih. Kompor yang sudah puluhan tahun, masih terlihat baru.
" Ah.. Kakek ternyata merawat rumah ini dengan baik. Kakek menjaga rumah ini sehingga rumah ini tak ada yang berubah sedikitpun. Semua masih tertata rapi. Aku tak akan pernah membiarkan Bos Wijaya merebut desa ini. Apalagi menghancurkan rumah Kakekku." gumam Reza sembari mengaduk-aduk minuman teh, lalu meletakkannya ke nampan dan membawanya keluar ke ruang tamu.
" Maaf sudah menunggu, kalian pasti sangat haus. Ayo diminum dulu." ucap Reza sembari menyuguhkan minuman teh manis ke atas meja.
" Wah..baru kali ini aku dilayani dengan baik oleh seorang Bos. Reza, aku benar-benar kagum padamu. Tak ku sangka, dirimu berbeda secepat ini. Sebenarnya, kepala kamu itu kepentok apa?" ucap Rio hingga membuat suasana di rumah Harjo menjadi ramai.
Gelak tawa Reza dan teman-temannya membuat Harjo merasa senang. Namun pertanyaan besar datang menghampirinya.
" Aku tak tahu apa maksud dan tujuan Reza dan teman-temannya kemari. Bisa saja dia berpura-pura menjadi baik demi sesuatu. Pasti ada yang dia sembunyikan dariku."
" Kakek, kenapa malah melamun? Apa yang sedang Kakek lamunkan? Kakek pasti tak percaya dan tak menyangka aku akan membawa temanku datang kemari. Kakek pasti bertanya-tanya, sebenarnya apa tujuanku datang kesini, sampai-sampai aku membawa teman-temanku ikut bersamaku."
" Eh..maaf, Reza. Kakek memang sempat berpikir seperti itu. Kakek seperti tidak bisa percaya, cucu Kakek yang bandel ini, kini kembali dengan niat yang baik menemui Kakek. Rasanya senang sekali, tapi Kakek juga tak bisa menyembunyikan ketakutan Kakek. Apa ada maksud tertentu yang kamu sembunyikan."
" Hahaha..Kakek, Kakek. Sudah pasti aku datang kemari dengan maksud dan tujuan tertentu. Tapi tak seperti yang Kakek pikirkan. Begini, Kek..kedatangan kami kesini yang pertama, ingin memperbaiki kesalahan kami di masa lalu. Aku ingin membersihkan namaku yang sudah aku kotori. Yang kedua, aku ingin mengabdi untuk desa ini. Aku ingin melindungi desa ini dari bahaya, Kek."
" Bahaya.. Maksudmu bahaya apa, Reza?" tanya Harjo setengah terkejut.
" Kek.. Aku akan jujur kepadamu. Sebenarnya aku mendapatkan tugas untuk mengusir warga sini dan merusak rumah-rumah warga. Desa ini akan dijadikan tempat maksiat. Awalnya aku menerima tugas itu meskipun aku berat mengatakannya. Tapi dalam perjalanan kemari, aku berubah pikiran. Aku menolak tugas itu. Dan ini membuat Bosku marah besar kepadaku. Lalu dia memecatku, dan menyerahkan tugasku pada anak buahnya yang lain. Mereka akan datang kemari untuk mengusir warga kita, Kakek. Aku tak terima, makanya aku datang kemari untuk mencegah mereka. Aku ingin membantu warga desa kita."
" Reza.. Ku kira kamu akan membawa berita baik, ternyata sebaliknya. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kenapa banyak sekali orang mau merebut wilayah kita. Kenapa orang-orang meginginkan desa yang indah ini,menjadi rusak? Kenapa, Reza?"
Seketika Harjo menangis mendengar kabar dari Reza. Dari awal dia sudah merasakan firasat yang tidak baik sejak kedatangan Reza. Dan kini firasatnya semakin terasa. Ia tertunduk lalu berdiri dan menatap keluar dari jendela rumahnya yang terbuka. Tubuhnya yang sudah tua mendadak lemas. Ia seperti tak mampu menahan beban dipikirannya. Tak berapa lama, ia mendadak jatuh pingsan.
__ADS_1
......................