
" Tasya." Bisik Tanu di belakang Tasya.
" Pak Tanu." Tasya memeluk gurunya sambil menangis.
" Sttss.. sudah jangan menangis. Mungkin ini sudah jalannya, Tuhan mengambil Vina dari kita. Tenangkan dirimu, Sya."
" Pak, mungkin jika Pak Tanu tahu pesan yang disampaikan Vina, pasti akan bersedih membaca kata-katanya. Tasya saja tak bisa berhenti menangis, meskipun pesan itu bukan untuk Tasya."
" Maksudmu, Vina menulis pesan untuk Bapak?"
Tasya mengangguk. Dia kemudian berdiri dan menarik tangan Tanu, lalu keluar rumah Vina untuk mengambil buku diary milik Vina di jok motornya.
" Kamu mau menunjukkan apa Sya?" Tanya Tanu penasaran.
Tasya membukakan lembaran terakhir pesan Vina untuk Tanu. Lalu memberikannya pada Tanu agar membacanya.
" Jadi? Jadi semalam itu, Vina.." Tanu berhenti berkata, matanya memerah. Tak bisa menahan sedihnya, Tanu meneteskan air matanya.
" Pak, saya tak tahu harus bagaimana lagi mengungkapkannya. Saya benar-benar tidak bisa menerima semua ini. Bagaimana saya ikhlas, dia terlalu baik untuk diambil terlalu dini."
" Vina, maafkan bapak, semalam Bapak mematikan telponmu sebelum kamu bicara banyak. Bapak Takut istri bapak tersinggung. Bapak tidak tahu, ternyata itu, kata-kata terakhir kamu di dunia ini." Tanu semakin tidak bisa menyembunyikan air matanya. Dia terus menangisi kepergian Vina.
" Vina, maafkan bapak Nak, Bapak bukanlah laki-laki yang terbaik untukkmu. Bapak berdoa, disana Vina bisa menemukan pengganti Bapak, yang pantas untuk Vina miliki."
Tanu mengembalikan buku diary Vina kepada Tasya. Dia kembali bergabung dengan Rani, Tama, Wira dan Novi.
" Ayah, yang sabar ya. Vina sudah tenang disana. Jangan membuat dia berat untuk meninggalkan dunia ini. Ibu tadi sempat melihat Vina meninggal dalam keadaan tersenyum. Sepertinya dia menemukan kebahagiaanya, Ayah tak perlu mengkhawatirkannya lagi."
" Ibu, ada hal yang Ayah sesalkan dengan kepergian Vina."
" Apa Ayah menyesal Vina pergi? Ayah mempunyai rasa pada Vina?" Rani bertanya, seperti sedang cemburu.
" Nah, benar kan. Ibu pasti mikirnya seperti itu. Bukan itu Bu, masalahnya."
" Terus apa yang Ayah sesalkan?"
" Sebenarnya semalam Vina telpon, karena kita sedang membahas pernikahan Mas wira dan dik Novi, Ayah memutus telponnya. Tadi Tasya menyampaikan pesan Vina pada Ayah. Sebenarnya Vina ingin bertemu Ayah, namun karena takut mengganggu Vina membatalkan keinginannya. Bu, mungkin ada banyak sekali yang ia ungkapkan sebelum ia meninggal. Mungkin ada banyak pesan yang masih ia simpan, Bu."
" Tan, maafkan aku. Gara-gara diriku, aku jadi membuatmu melewatkan hal yang penting. O iya, memangnya keluarga anak ini dimana? Kenapa tak ada satupun keluarganya yang datang." Ucap Wira.
" Tak apa-apa Mas. Ini tak ada hubungannya dengan Mas Wira. Aku sendiri juga belum tahu siapa orang tuanya Mas. Aku belum pernah sekalipun bertemu dengan Orang Tua Vina."
" Apa dia Yatim Piatu? Kasihan sekali dia, Tan. Seandainya aku tahu, aku ingin mengangkatnya menjadi anakku."
" Lalu mau memperistrinya?" Tiba-tiba Novi menyela.
Wira tersenyum lalu berkata,
" Tidak, walupun aku mengangkat anak perempuan seratus pun, aku hanya ingin menikah denganmu Nov."
__ADS_1
" Pak Wira yakin? Sepertinya anak itu cantik sekali. Di usia segini saja, dia sudah secantik itu, apalagi kalau sudah dewasa. Pasti saya tak ada apa-apanya."
" Mas, sepertinya dik Novi cemburu. Jangan membicarakan perempuan lain dulu. Fokus pada pernikahan Mas dan dik Novi." Bisik Tanu pada Wira.
" Mas Tanu, sedang berbisik apa? Jangan membuat saya curiga." Tanya Novi sambil melirik ke arah Wira.
" Hehe, tidak Nov. Hanya masalah kecil."
" Sttts.. sudah, jangan bicara terus. Kita itu sedang berada dirumah duka lho." Tegur Rani.
Tanu, Wira dan Novi saling memandang lalu melihat di sekeliling mereka. Merasa malu, mereka terdiam dan menunduk sambil ikut membacakan doa bersama yang lain.
Sementara itu, Tasya tampak gelisah di depan jenazah Vina. Dia menangis bercampur cemas. Dia terus menggenggam Hpnya dan melihatnya berulang-ulang. Tak ada pesan maupun panggilan masuk. Lalu dia keluar untuk mencoba menghubungi Wijaya lagi.
Melihat Tasya keluar, Tanu menyusulnya. Wira pun juga ikut menyusul Tanu keluar karena penasaran dengan Tanu.
" Tasya, sepertinya kamu ketakutan begitu? Tanya Tanu setelah sampai di depan Tasya.
" Pak, Tasya itu sedih bercampur cemas. Ini sudah siang, tapi Papanya Vina belum membalas ataupun menelpon balik Tasya. Saya jadi bingung harus bagaimana."
" Memangnya dia kemana Sya?"
" Papanya bekerja diluar kota. Tapi saya tidak tahu dimana Pak."
" Terus mau bagaimana? Apa kita mau menunggu orang tua Vina datang? Kalau menunggu, kita tidak tahu, mereka akan kembali kapan. Dan kita tidak tahu kapan mereka akan tiba kemari. Kalau saran Bapak, sebaiknya segera saja kita makamkan jasad Vina sekarang juga."
" Tasya juga maunya begitu Pak, tapi Tasya nggak berani memutuskan. Takutnya, saat Vina sudah di kebumikan, Papa Vina menelpon. Dan jika dia tahu Vina sudah di kebumikan, lalu dia murka. Itu yang Tasya takutkan."
" Tan, sebenarnya kenapa? Saya setuju denganmu. Kita segera saja makamkan anak itu secepatnya. Kasihan dia terlalu lama disini." Wira menyela pembicaraan Tanu dan Tasya.
" Pak, masalahnya Tasya itu takut dengan Papanya Vina. Dia itu orangnya sepertinya baik, tapi didalamnya seperti memiliki aura yang sangat jahat. Saya pernah mendengar cerita dari Vina. Papanya Vina berkelakuan buruk. Suka mabuk, judi, main wanita, bahkan main tangan dengan Mama Vina. Vina pun bercerita, kalau akan membunuhnya jika berani melanggar peraturan-peraturan Papanya."
" Ya Tuhan, Orang tua macam apa dia itu. Jika bertemu dengannya ingin sekali ku beri pelajaran. Sama anak sendiri bisa-bisanya bilang begitu." Ucap Wira sambil mengelus dadanya.
" Pak, Anda tidak tahu seperti apa Papa Vina itu. Dia bukan orang biasa. Dia itu seperti Raja iblis. Dia pandai menyembunyikan sifat jahatnya kepada semua orang. Namun saat dia marah, aura jahatnya begitu kuat."
" Mas, kalau Mas Wira berurusan dengannya, aku siap membantu. Lagipula kita benar kok. Salah siapa, anaknya meninggal, susah sekali dihubungi."
" Pak Tanu, Papa Vina itu tidak bisa menerima kata-kata kebenaran. Jika dia tidak setuju, pasti dia akan menentangnya meskipun pendapat kalian ada benarnya."
" Aku jadi penasaran, siapa Papanya Vina itu. Memangnya orangnya seperti apa dik? Tanya Wira pada Tasya.
" Orangnya tinggi, besar, berkulit agak hitam, badannya kekar dan memiliki tato. Hanya itu yang saya ingat Pak."
"Hem, berbadan kekar ya. Pantas saja dia berani. Siapa namanya kalau boleh saya tahu?"
" Namanya Wijaya, Pak." Jawab Tasya.
" Wijaya? Terus anak ini namanya Vina?"
__ADS_1
" Iya Mas, kan dari tadi kita menyebut nama itu." Tanu menyela.
Tubuh Wira bergetar seketika setelah tahu kalau Vina yang meninggal itu anaknya Wijaya. Namun dia berusaha meyakinkan dirinya dengan bertanya lagi pada Tasya.
" Dik, apa kamu tahu gambar apa dan dimana orang itu menorehkan tatonya?"
" Tahu Pak, Papa Vina memiliki Tato di lengan kanannya yang cukup besar. Bergambar Orang berwajah singa, yang mengenakan jubah, dan membawa kapak bermata satu." Jawab Tasya.
Tubuh Wira merasa lemas. Dia seperti ketakutan. Rasanya ingin pergi dari tempat itu. Dia tidak mau berurusan dengan Wijaya.
" Mas, kamu kenapa? Tiba-tiba mandi keringat begitu." Tanya Tanu keheranan.
" Eh, Wijaya itu teman kita Tan. Orang yang dulu kita kerjain waktu sekolah dulu."
" Ha? Yang benar Mas?"
" Iya."
" Oh, jadi kalian ini berteman dengan Papanya Vina? Tanya Tasya lalu sedikit lega karena ada orang dekat dengan Papa Vina.
" Iya, kami teman Papanya Vina dik." Jawab Wira sembari mengusap keringatnya yang keluar dari sela-sela rambutnya, da mengalir hinga ke wajahnya.
" Mas, tapi ada apa denganmu? Ini tak begitu panas lho. Mengapa kamu seperti berkeringat terus." Tanu semakin heran melihat perubahan pada mimik wajah Wira.
" Tan, aku mau pergi dulu. Mungkin sebaiknya pemakaman anak itu menunggu kedatangan Papanya saja."
" Kenapa tiba-tiba Mas? Iya, kalau pemakamannya sebaiknya menunggu Wijaya kembali. Tapi masalahnya kapan dia kembali kita tidak tahu. Tidak mungkin kan, kalau menunggu besok pemakamannya."
" Sebaiknya dibicarakan dengan kepala desa dan warga setempat saja,Tan. Kita bukan keluarganya. Takutnya, kita malah akan disalahkan oleh Wijaya karena kita berani memutuskan pemakaman Vina tanpa persetujuan Wijaya."
" Sebaiknya begitu saja, Mas. Kamu benar. Kita tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan kapan Vina akan dimakamkan."
" Begini saja Tan. Jika sampai jam dua Wijaya tidak memberi kabar, mau tak mau kita harus memakamkannya detik itu juga. Kita harus memutuskan jalan yang terbaik. Tak apa jika harus berurusan dengan Wijaya."
" Baiklah mas, aku setuju dengan pendapatmu."
" Kalau begitu, aku pergi dulu Tan. Aku sudah berjanji untuk menemukan jejak keluarga Novi. Mumpung ini masih siang, aku harus segera berangkat." Ucap Wira lalu berjalan ke arah Novi, lalu bergegas meninggalkan rumah Vina.
" Bagaimana Sya? Apa sudah ada kabar dari Wijaya?"
Tasya menggelengkan kepalanya." Belum Pak."
" Bapak akan tanya pada kepala desa dulu, biar nanti kita musyawarahkan kapan sebaiknya Vina dimakamkan."
" Baik Pak, terima kasih banyak Pak Tanu."
" Iya Vin, sudah seharusnya aku membantu murid kebanggaanku."
Tanu masuk ke dalam rumah Vina, bertemu kepala desa untuk membahas pemakaman Vina. Namun Kepala desa tidak berani memutuskannya.
__ADS_1
Setelah Tanu menyampaikan gagasannya, Kepala desa mengikuti saran Tanu untuk memakamkan Vina pukul 04.00, jika Wijaya tidak segera kembali.
......................