
" Keparat! Beraninya kau mengganggu kesenanganku, pemuda asing!" Teriak Reza lalu melepaskan tubuh Rika yang hampir pingsan karena dekapan Reza yang kuat.
" Bono!" Rika berlari ke arah Bono sambil menangis histeris.
Bono menyambut pelukkan Rika, lalu melepas jaket kulitnya untuk menutupi bagian dada Rika, yang hampir terlihat buah dadanya.
" Tenang Rika, aku akan mengurusnya. Bawa kakekmu keluar, agar tak terjadi hal yang tak diinginkan."
" Baik, Bono." Rika menuruti perintah Bono lalu membawa Punto ke tempat yang lebih aman.
" Hei Pemuda sombong! Kali ini kau tak bisa lari dariku. Berani menyentuh tubuh kekasihku berarti menginjak-injak harga diriku. Kau akan mendapat hukuman dariku."
" Haha! Kehormatan apa yang ingin kau dapatkan dari wanita pengkhianat itu? Kau sungguh bodoh orang asing. Hahaha.."
" Tentu saja dia memiliki kehormatannya sebagai wanita. Dan kau bahkan hampir merenggut kehormatannya. Apa kamu buta?"
" Brengsek! Beraninya kau mengatakan buta, padaku! Hei pemuda asing, asal kau tahu. Dia bukanlah wanita baik-baik. Aku sudah berkali-kali bermain dengannya. Dia sudah tak perawan. Apa kau masih mau mendapatkannya?"
" Aku tahu dia masih perawan atau tidak. Jika dia sudah tak perawanpun, aku tetap akan mendapatkannya. Aku mencintainya, bukan masalah perawan atau tidak. Tapi aku mencintainya karena hatiku pun mencintainya. Bukan mulutku yang bicara, namun hatiku juga. Siapapun yang berani menyakitinya akan berurusan denganku."
" Haha, bagaimana kamu tahu dia masih perawan? Lihat saja, tadi aku hampir bermain dengannya, dia pasrah saja saat aku melepas bajunya. Itu tanda dia mau melakukannya denganku pemuda asing. Hahaha.."
" Bohong! Bono, kamu percaya padanya? Dia berkata bohong. Aku tak kuasa menahan dekapannya. Aku sudah lemas dan hampir pingsan makanya aku tak bisa lagi memberontak. Percayalah padaku Bono." Ucap Rika, yang telah kembali masuk ke dalam rumah menemui Bono, khawatir Bono dihasud oleh Reza.
" Rika, kamu tak perlu khawatir. Aku percaya padamu. Siapapun takkan bisa mempengaruhiku. Apalagi pemuda sombong seperti dia. Terlihat alim namun bejat."
"Apa katamu laki-laki brengsek! Dasar banci! Kau rebut jodoh orang yang sudah bertunangan. Apa kau tidak laku? Hahaha.. Wajar saja kalau tidak laku, Kau tampak kumel seperti kurang mandi. Wanita manapun tak sudi mendekatimu. Namun kau beruntung karena masih ada gadis bodoh yang mau denganmu!"
" Reza! Namamu Reza kan? Sebaiknya kau berhenti berkata buruk tentang kekasihku. Atau kau akan ku kirim kepada yang telah menciptakanmu!"
" Cih! aku tidak takut denganmu! Ayo kita selesaikan pertarungan kita kemarin yang belum selesai.. Hyattt.." Reza berlari ke arah Bono. Bono pun keluar dari rumah Rika mencari tempat yang luas untuk bertarung.
Mendengar suara ribut-ribut, warga mulai berdatangan mendatangi rumah Rika. Seakan di rumah Rika sedang ada pertunjukkan, warga memadati halaman rumah Rika.
" Hei pemuda asing! Ada apa, pagi-pagi kamu kemari? Kami tak melihatmu masuk gapura desa ini. Bagaimana kamu bisa sampai ke tempat ini tanpa pengawasan dari kami?" Tanya Ketua pemuda pada Bono.
Dengan adanya ketua pemuda, Reza menggunakan kesempatan baik itu untuk menghasut Bono dengan Warga.
" Ketua, pemuda asing ini menggunakan ilmu hitam untuk bisa masuk ke desa kita. Dia mampu mengelabuhi kita. Saat aku ingin menemui Rika, Pemuda ini sudah berusaha melepas baju yang dikenakan Rika dan hampir saja memperkosanya. Aku marah padanya, saat aku dan teman-temanku mencoba menangkapnya, dia melemparkan kami keluar. Hingga salah satu diantara kami, terlempar jauh hingga ke atap tetangga."
" Benar ketua, kami tak sanggup menahan serangannya yang mendadak." Ucap salah satu teman Reza.
Tetangga sebelah Rika yang atap rumahnya rusak, akibat tertimpa tubuh teman Reza yang terlempar oleh serangan Bono pun, angkat bicara.
" Benar Ketua, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, saat saya dan istri saya sedang makan, kami di kagetkan dengan suara benda jatuh mengenai genteng. Hingga pecahan genteng terjatuh, di tengah-tengah kami yang sedang makan."
" Itu tidak benar ketua, Bono lah yang menyelamatkan saya. Mas Reza yang berusaha memperkosa saya. Kakek saya juga dianiaya oleh mas Reza. Lihatlah kakek saya, bibir dan hidungnya berdarah akibat pukulan mas Reza."
" Diam kamu Rika! Aku tak menyuruhmu bicara! Disini aku yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Hei Pemuda asing, kau dinyatakan bersalah karena memasuki wilayah kami tapa Izin. Dan tentu saja kamu akan mendapat hukuman karena menuduh orang lain tanpa bukti yang jelas."
" Ketua, aku datang memenuhi panggilan Rika yang terdesak. Pemuda tak tahu tata krama itu yang mencoba memperkosa Rika. Aku hanya ingin menolongnya." Bono membela diri.
" Diam! Aku belum menyuruhmu untuk berbicara. Sekarang aku yang akan bicara. Reza, apa yang kau lakukan di rumah Rika pagi-pagi. Dan ada kepetingan apa teman-temanmu kau bawa kemari?"
" Ketua, aku disini hanya ingin bertemu Rika. Aku ingin memperkenalkan Rika dengan teman-temanku. Tiba disini, kami di kejutkan dengan suara minta tolong Rika. Kami pun mencoba masuk ke dalam rumah, namun pintunya dikunci. Kami berusaha mendobraknya. Dan kami sangat menyayangkan, saat itu Rika telah di tunggangi oleh Pemuda bejat itu! Kami pun berusaha menangkapnya, namun kami terlempar hingga keluar rumah, setelah dia mengeluarkan ilmu berbahayanya." Pelan-pelan, Reza mengarang cerita agar Ketua pemuda dan warga lainnya mempercayai kata-katanya.
Tetangga Rika yang rumahnya berdekatan dengan Rika membantah pernyataan Reza.
" Mas Reza, saya yang tetangga dekatnya saja tidak mendengar suara teriakkan Rika, bagaimana Mas Reza bilang kalau dia berteriak meminta tolong. Kami mendengar keributan setelah kalian berdua keluar dari rumah Rika."
__ADS_1
" Apa kamu sudah tuli? Saya yang baru tiba dirumah Rika mendengar dengan jelas teriakkan Rika." Ucap Reza sembari mengedipkan mata kanannya pada warga yang mempersulit Reza.
" Oh maaf mas Reza, saya tidak mendengarnya. Mungkin saya sedang di kamar mandi. Saya tak mendengar karena bunyi suara kran air yang saya buka."
" Tentu saja kau tak mendengarnya. Aku bisa memahamimu. Memang kalau menyalakan kran air dari dalam kamar mandi, suara dari luar takkan terdengar."
" Prokk.. prokk..prokk.. prokk.." Suara tepuk tangan Bono, karena akting yang bagus dari Reza.
" Aku kagum pada kalian bertiga, sungguh akting kalian sangat sempurna. Ketua, apa istimewanya pemuda sombong ini bagimu? Kenapa kamu takut padanya? Dan kau tetangga Rika, mengapa kamu tak berbicara yang sebenarnya dihadapan tetangga-tetanggamu? Siapa sebenarnya Pemuda ini?"
" Kamu tak perlu tahu siapa dia, dan kami tidak sedang berakting. Jangan menuduh tanpa bukti!" Ucap ketua pemuda dengan wajah yang memerah karena malu, Bono tahu mereka sedang berakting.
" Tapi aku ingin tahu, siapa sebenarnya dia. Kenapa kalian takut padanya. Apa ada yang kalian sembunyikan? Warga semuanya, dengarkan aku. Pemuda bejat ini adalah seorang yang bejat. Dia sering berkenalan dengan beberapa wanita hingga mengajaknya menginap di sebuah hotel dikota. Bahkan dia seorang pengedar narkoba. Bagiku dia hanya seorang sampah yang tak pantas kalian lindungi apalagi kalian takuti."
" Bono, apa benar yang kamu katakan? Jangan berucap sembarangan, nanti kamu akan semakin kesulitan menghadapi banyaknya warga. Jangan membuat berita yang akan semakin menyudutkanmu." Tegur Rika pada Bono yang menurutnya menuduh Reza secara berlebihan. Padahal dia tahu, Bono belum pernah bertemu Reza sebelumnya.
" Apa kamu mau bukti, Rika?" Ucap Bono sembari mengeluarkan amplop kecil dari saku celananya, lalu menyerahkannya pada Rika.
" Ini apa Bono? Uang atau apa?" Tanya Rika karena penasaran.
" Buka saja Rik, kau akan tahu setelah membukanya."
Rika pun membuka amplop yang diberikan Bono dengan perlahan dia mengambil satu lembar yang ternyata adalah foto.
" Ha? Ini foto-foto mesra mas Reza kan?" Bono, aku tak mau melihatnya. Darimana kamu mendapatkannya?
Bono mengambil kembali amplop yang diberikan pada Rika. Rika pun merasa lega karena sekarang doa telah mengetahui kelakuan Reza saat berada di luar desa.
" Hei pemuda brengsek! Apa yang kau bawa? Kenapa Rika seperti jijik melihatnya?" Tanya Reza yang penasaran dengan apa yang dipegang Bono.
" Oh ini? Baiklah akan ku perlihatkan padamu." Bono melempar amplop yang berisi foto-foto mesra bersama wanit-wanita cantik di beberapa cafe.
" Hahaha.. Pemuda sombong, apa kau lupa aku adalah seorang penjahat yang kejam. Aku mempunyai jaringan yang luas. Aku bisa melacak keberadaan siapapun yang ku inginkan. Walapun aku tidak mengenalmu, tapi siapapun orang yang pernah masuk di tempat-tempat kotor, aku selalu mendapatkan identitasnya."
" Kenapa kau bisa mendapatkan fotoku? Siapa yang memfotonya? Ba****an!"
" Kau tak perlu tahu bagaimana aku mendapatkannya. Dan aku sudah bilang, kalau jaringanku sangat luas. Aku mengenal banyak orang yang memiliki profesi berbeda-beda."
" Maksudmu yang memfotoku berprofesi sebagai fotografer?"
" Tepat! Ternyata kau cukup pintar juga pemuda sombong. Hahaha.."
" Kurang ajar! Jadi fotografer wanita yang bekerja di cafe itu orangmu?"
" Bukan, aku tak punya partner seorang wanita. Tapi aku mengenalnya, dan dia selalu memberikan informasi apapun yang aku inginkan."
" Reza! Ada apa ini sebenarnya? Apa yang sedang kalian bicarakan, orang asing!"
" Tanya saja pada wargamu itu Ketua. Seharusnya kau lebih tahu daripada aku. Hahaha.."
" Reza! Apa yang kau bawa? Jangan membuat malu keluarga!" Tanya Harjo pada cucunya yang sedang beradu mulut dengan Bono.
" Eh, kakek.. Tidak apa-apa Kek. Ini hanya kertas biasa. Tak ada apa-apa di dalamnya. Ini milik pemuda asing itu." Reza mencoba menyembunyikan isi dalam amplop yang dia bawa.
" Jangan bohong! Cepat, berikan pada Kakek!"
" Aku tidak mau, kek. Kenapa kakek ikut campur? Pergi sana! Kembali ke rumah! Orang tua tak tahu apa-apa, jangan mengurusi hidupku. Ini adalah urusanku! Kau pulang saja dasar orang tua bau tanah!"
" Plaaakk..." satu tamparan keras mendarat di pipi Reza.
__ADS_1
" Kau berani berkata begitu pada Kakekmu sendiri? Apa kamu sudah merasa jagoan? Sudah merasa hebat ka bocah?" Harjo melangkah ke arah Reza. Reza pun berjalan mundur menghindari kakeknya.
" Pergi sana! Sekarang kau bukan kakekku! Aku muak denganmu!"
Teriakkan Reza membentak Kakeknya membuat Bono naik darah, dia berlari ke arah Reza untuk memberinya pelajaran, namun Harjo melarangnya.
" Hentikan pemuda asing! Dia biar aku yang urus, lebih baik kau bantu Mas Punto berobat saja. Lukanya cukup serius bagi orang renta seperti dia."
" Oh, maafkan aku Kek, aku hampir saja melupakannya. Rika, ayo bantu aku menggendong kakekmu."
" Bono, kau mau bawa kakekku kemana?" Ucap Rika sembari memegang lengan kekar Bono.
" Aku mau bawa kakekmu ke rumah sakit. Dia hanya terluka luar. Bukan karena tenaga dalam, jadi aku tidak bisa mengobatinya. Biarkan dokter saja yang menangani luka kakekmu."
" Bono!" Rika menangis, terharu karena sifat baik yang ditunjukkan Bono padanya.
" Ssttts.. Jangan menangis, ayo cepat bantu aku. Kakekmu sudah renta, aku tidak bisa mengukur seberapa kuat tulangnya. Jika aku salah menggendongnya, aku takut meretakkan bagian tulangnya."
Rika pun menuruti perintah Bono, lalu mengusap air matanya dan bergegas membantu Bono menggendong kakeknya.
" Maaf, bapak Ibuk sekalian. Tolong berikan kami jalan." Pinta Bono pada Warga lereng bukit.
Warga melihat ketulusan Bono saat meminta izin melewati mereka, Banyak para Ibu yang tiba-tiba mengidamkan Bono untuk menjadi warganya.
" Nak Bono, tinggal saja di desa kami. Siapa tahu kamu sangat dibutuhkan di desa ini. Membangun desa ini lebih maju." Ucap Ibu-ibu dengan penuh harap pada Bono.
" Eh, saya akan memikirkannya lagi Bu. Kalu desa ini membuat saya nyaman tinggal disini, saya berjanji akan menetap disini." Ucap Bono sambil berjalan menggendong kakek Rika yang terluka akibat pukulan Reza.
Tiba di gapura desa, Rika berkata pada Bono.
" Bono, sepertinya kamu mendapat tempat di hati warga sini. Maukah kamu tinggal disini bersama kami?"
" Rika, aku akan memikirkannya dulu. Aku tak mau terburu-buru."
" Iya, setidaknya kamu sudah punya keinginan tinggal disini saja aku sudah senang."
" Hehe, syukurlah kalau kamu senang Rik. Tujuanku kemari, salah satunya agar kau bahagia."
" Gombal.. Kek, lihat si Bono itu. Orangnya kira-kira bisa dipercaya nggak Kek?"
Punto hanya tersenyum di gendongan Bono. Dia ingin bicara tetapi malu mengakuinya. Bono memang anak yang baik. Tapi Punto tak tahu, apa yang melatarbelakangi Bono melakukan tindak kejahatan.
" Nak Bono.." Panggil Punto dengan lirih.
" Apa kakek memanggilku?" Tanya Bono pada Punto setelah dirinya merasa ada yang memanggil namanya.
" Iya, aku memanggilmu. Kalau aku sudah dirawat, aku ingin mengobrol banyak denganmu."
" Wah, kakek mau ngobrol apa dengan Bono? Rika ikut, kek."
" Rika, ini hanya antara aku dengannya. Kamu lebih baik tidak usah menguping. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Bono."
" Yaahh.. Kakek ini masih menganggap Rika keluarga atau tidak? Kenapa Rika nggak diajak bicara?"
" Sudahlah Rika, tidak apa-apa kalau hanya Kakek yang ingin mengobrol berdua denganku. Nanti pada waktunya kau juga akan mendapat giliran mengobrol denganku." Ucap Bono sambil tersenyum ke arah Rika.
Rika pun membalas senyuman Bono. Rika merasa hatinya terikat dengan Bono. Hingga merasa sedih, jika memikirkan Bono tiba-tiba pergi meninggalkannya.
......................
__ADS_1