
Di dalam ruang IGD, suasana menjadi hening ketika Vina mulai berbicara aneh. Hanya ada isak tangis mereka yang berada di dalamnya. Diantara mereka berfikir apakah Vina akan menutup usianya?
Akan tetapi, Vina masih dalam keadaan baik dan tidak sakit sedikitpun.
" Ibu... Maafkan Vina, Ibu jangan sampai menyerahkan Pak Tanu pada Orang seperti saya. Jika ada yang melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Vina, jangan di tanggapi ya. Vina mohon.. " Vina berpindah bicara pada Rani dan memohon kepadanya.
" Iya Ibu janji Vin, akan Ibu jaga suami Ibu. Takkan ku biarkan siapapun mengambilnya dari Ibu." Ucap Rani lirih.
" Pak Tanu, Ibu, mana tangan kanan kalian? " Pinta Vina lalu meraih dua tangan kanan Tanu dan Rani.
Tanu dan Rani segera memberikan tangan kanan mereka. Dan mereka saling bertatapan, apa maksud semua ini.
" Bapak, Ibu, Vina ingin kalian menjaga kebersamaan kalian. jangan sampai terpecah belah ya. Apapun yang terjadi. " Vina menyatukan tangan kanan Tanu dan Rani, dan memintanya agar jangan sampai berpisah satu sama lain.
" Iya kami janji Vina.. " Ucap Tanu yang di susul ucapan Rani.
" Iya kami berjanji Vina.."
" Nah gitu dong, kan Vina jadi seneng dengarnya." ucap Vina di barengi senyuman manis Vina yang tak semua perempuan memilikinya.
" Kami juga senang kalau kamu senang Vin, Ya sudah sekarang jangan memikirkan sesuatu yang terlalu jauh. Jalani saja apa yang ada sekarang. Mudah mudahan kamu akan menemukan kebahagiaan yang belum pernah kamu rasakan selama ini." ucap Tanu menyemangati Vina.
" Iya Vin, masa depan kamu masih panjang. Kami siap membantumu, menemanimu, jangan merasa hidup kamu sendirian ya. " Ucap Rani menambah dorongan semangat untuk Vina.
" Iya Bu, Terima kasih Pak Tanu dan Ibu sudah memberikan semangat yang luar biasa kepada Vina. Saya melihat kalian seperti Orang Tua saya sendiri. Vina ingin sekali jika suatu saat Vina mati, Vina ingin di lahirkan kembali menjadi anak kalian." ucap Vina yang mulai berbicara aneh - aneh lagi.
" Stttttts... Kamu ini ngomong apa? Vina, mulai saat ini juga Ibu dan Bapak bersedia menjadi orang tuamu. jika memang orang tuamu saat ini tidak memperhatikanmu. " Rani menawarkan dirinya menggantikan orang tua Vina.
" Bapak juga bersedia menjadi Ayahmu vin. Bapak akan menggantikan Orang Tuamu yang menelantarkanmu. Kok bisa ya Anak perempuan di biarkan hidup sendirian sementara orang tuanya nggak tahu dimana. " ucap Tanu dengan kesal karena Vina ditelantarkan orang tuanya.
" Pak Tanu salah, Orang tua Vina tidak menelantarkan Vina. Mama Vina meninggal saat pergi mencari Vina. Waktu itu VIna sedang bermain di rumah teman selepas pulang sekolah. Sampai jam 10 malam Vina belum juga pulang dari rumah teman. Menurut cerita Papa Vina, mama gelisah memikirkan Vina, lalu berniat mencari Vina di kala hujan lebat. Papa sudah melarangnya untuk pergi, namun Ibu terlalu khawatir kalau Vina kenapa - kenapa. Waktu itu Papa sedang sakit jadi tidak bisa menemani mama mencari Vina.
Mama mencari Vina kemana - mana namun tak juga menemukan Vina. Hingga pada akhirnya Saya mendapat kabar dari orang tua teman saya kalau mama mengalami kecelakakaan tunggal di tikungan tajam tak jauh dari lokasi sekolah. Kepalanya membentur pohon besar sampai tak sadarkan diri.
Vina sedih pada saat itu, nggak tahu harus bagaimana. Lalu orang tua teman Vina mengantarkan Vina ke rumah sakit, setelah hujan reda. Disana sudah ada Papa Vina yang menunggu mama. Vina menemui Papa, namun Dia membentak dan menampar Vina.
Vina menangis, Namun Papa malah semakin memarahi Vina. Dia bilang semua gara - gara Vina. Mama mencari Vina seharian kemana - mana. Tanya kesana kemari namun tak ada yang tahu keberadaan Vina. selepas Isya', mama pulang ke rumah. Dia beristirahat sebentar karena kelelahan. Dia menunggu kabar Vina dari beberapa teman sambil melayani Papa yang saat itu belum sembuh dari sakit.
__ADS_1
Namun semakin larut malam Vina tak juga kembali. Itu membuat kegelisahan di dalam hati Mama. Dia memutuskan mencari Vina lagi, meskipun di luar sedang hujan lebat dengan petir menyambar - nyambar. Dengan mengendarai motor, mama mencari Vina sampai ke perbatasan kota. Dan akhirnya tak menemukan apa-apa.
Hingga dia kembali ke sekolah untuk memastikan apakah Vina mungkin terjebak di toilet sekolah, atau terkunci di ruangan lain. Setelah meminta bantuan penjaga sekolah, mama tetap tak menemukan Vina. Dan tepat pada pukul 12.00, saat perjalanan pulang Mama mengalami kecelakan itu. Kepalanya robek karena membentur pohon besar dengan keras. Hingga banyak darah yang keluar dari kepalanya.
Begitu lah ceritanya hingga Vina sampai di Rumah sakit. Saat Papa memarahi Vina, Mama berteriak memanggil Vina dari Ruang perawatan. Vina bergegas berlari menemuinya. Saat Vina sudah bertemu dengannya, Mama tersenyum lega sudah melihat Vina ada di depannya dalam keadaan baik- baik saja. Namun itu senyuman terakhir Mama. Dia menghembuskan nafas terakhirnya tepat pukul 03.00 dini hari.
Melihat itu, Papa sedih, dia menangis menjerit, memukul barang - barang yang ada di sekelilingnya. Vina nggak tahu harus bagaimana lagi. Untungya Penjaga sekolah dan beberapa orang yang menjadi saksi perjalanan Mama mencari Vina, menenangkan Papa .
Sampai Mama di kebumikan, Papa mendiamkan Vina. Dia setiap malam pergi keluar untuk minum - minum. Hingga pagi hari dia baru pulang dan tidur di teras rumah sampai siang. Begitu lah kebiasaan Papa setiap hari saat Mama nggak ada.
Vina nggak berani menegur Papa, Vina takut Papa memukul Vina. Dia sering bilang akan membunuh Vina jika berbuat macam - macam di luar sana. Vina terima itu semua. Vina sadar Papa seperti itu karena Vina.
Hingga empat puluh hari kepergian Mama, Papa meninggalkan rumah membawa adik Vina perempuan satu-satunya. Waktu itu dia berpesan pada Vina saat pergi meninggalkan rumah, Dia bilang mau ke luar kota dan membawa adik Vina pergi bersamanya. Dia menyuruh Vina menjaga dan merawat Rumah dengan baik. Dan menyuruh Vina mengunjungi Makam Mama setiap dua minggu sekali.
Dia juga memberikan setumpuk uang kertas pada Vina, jika habis dia akan mengirimnya lewat Pos. Setelah itu Papa pergi membawa Adik Vina yang masih berumur 4 bulan.
Hemmhhhh... Itulah cerita Vina, Mudah mudahan pak Tanu dan Ibu tidak menyalahkan orang Tua Vina."
Tanu, Rani dan Tasya hanya terdiam. Mereka seakan terhipnotis dengan cerita Vina.Seakan mereka terbawa ke dalam kehidupan Vina. Berbeda dengan Tama, dia lebih asyik bermain sendiri dengan Robot- robotan miliknya.
Hal ini membuat mereka terbangun dari angan mereka.
Tanu yang pertama tersadar dan menjawab panggilan Vina, " Iya Vin... Ehh maaf Bapak terlarut dalam kesedihan atas apa yang Vina ceritakan. Bapak sangat terharu sekali."
" Ibu juga Vin, sebagai perempuan Ibu sangat mengerti akan apa yang Vina alami. Ini sangat membuat Ibu sedih. Jika Ibu yang jadi Vina mungkin Ibu tak sanggup menjalaninya." Rani pun tersadar dari lamunannya dan menanggapi kata - kata Vina.
Tasya juga tak ingin ketinggalan bicara, " Vin.. ternyata kamu cewek yang tangguh yang selama ini aku kenal. Sebelumnya aku tahu kamu orang yang tidak menyukai tantangan. Dan lebih suka menjauhinya. Kamu tidak suka berdebat dengan siapapun meskipun kamu benar. ku pikir kamu itu penakut yang nggak suka hidup susah. Ternyata aku salah. Aku pun jika jadi kamu, pasti aku sudah tidak akan sanggup Vin. "
" Sudah.. biar ini Vina saja yang mengalami. Biar Vina yang merasakannya. Vina akan terus berusaha menerima ini semua. " Ucap Vina membesarkan hatinya sendiri yang sebenarnya sudah remuk.
" Permisi.. Maaf ini pengunjung tidak bisa masuk lebih dari satu orang. Silahkan Bapak atau Ibu yang bergantian menunggu di luar. " ucap seorang Dokter yang tiba - tiba masuk untuk melihat keadaan Vina.
" Ee maafkan kami Dok. Kami khawatir saat Vina memanggil kami. ucap Tanu membela diri.
" Oke nggak apa - apa, tapi untuk saat ini Bapak atau ibuk bergantian di luar ya. "
" Baik dok, Biar saya saja yang keluar." ucap Tanu lalu meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Rani pun ikut meninggalkan ruangan saat Tanu berjalan keluar, dan membawa Tama yang masih sibuk dengan mainannya. Dia meminta Tasya untuk menemaninya.
Dokter segera memeriksa keadaan Vina, dan hasilnya Vina sudah tidak kenapa - kenapa. Dia hanya kekurangan cairan dan kurang asupan makan.
" Nah sekarang sudah nggak merasakan apa - apa kan dek?" tanya Dokter pada Vina yang masih terbaring dan bersandarkan bantal rumah sakit.
" Sudah lumayan Dok, terus kapan Vina boleh pulang Dok? Vina bertanya balik pada Dokter.
" Siang ini kamu sudah bisa pulang dek." jawab Dokter sambil tersenyum melihat Vina. Dokter pun tahu kecantikan dan kemolekan Vina, Dia pun menyukainya.
" Asyikkk.. Vina bentar lagi pulang. " teriak Vina saking gembiranya.
Si Dokter melihat Vina tertawa bahagia, tiba-tiba hatinya berdebar saat matanya tertuju pada mata Vina. "Sungguh cantik benar anak ini, masih SMA saja sudah seperti ini. Apalagi kalau sudah besar." gumam Dokter dalam hati.
Tasya melihat Dokter itu tak berhenti menatap Vina, Dia kemudian memberikan sebuah Isyarat agar Dokter berhenti memandang Vina.
" Ehemmm.. ehemmm.. " Tasya berdehem.
Dokter pun kaget dan salah tingkah. Dia bergegas pergi meninggalkan Vina dan Tasya.
"Owhh maaf Saya harus memeriksa pasien di ruangan lain, semoga lekas membaik ya buat kamu dek. Selamat siang."
" Siang juga Dok.. " Jawab Vina dan Tasya bebarengan.
Setelah Dokter meninggalkan Ruang IGD, Tasya tertawa terbahak - bahak. Kelucuan yang ditimbulkan Dokter itu membuatnya geli.
Vina yang nggak tahu apa yang membuat Tasya tertawa merasa keherann.
" Kamu kenapa Sya ? tanya Vina pada Tasya yang belum juga bisa berhenti tertawa.
" Kamu nggak tahu Vin? "
" Enggak.." Jawab Vina singkat .
" Tadi itu Si Dokter tak bisa berhenti melihatmu. Dia seperti terpesona kepadamu. Makanya tadi aku berdehem agar dia berhenti memandang kecantikanmu. Hahahaha..." Setelah menjelaskan apa yang terjadi Tasya kembali tertawa lebih keras lagi.
" Owh jadi gitu.. Tapi kamu jangan sampai tertawa keras, ingat di sini Rumah sakit lho Tasya.." ucap Vina mengingatkan Tasya.
__ADS_1