
Wijaya menutup telponnya. Dia tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya. Antara percaya atau tidak, namun dia masih meyakini kalau Vina masih hidup.
" Bos, jika benar Vina meninggal. Lalu bagaimana dengan puncak bukit yang akan Bos berikan padanya?"
" Diam! Putriku masih hidup. Jangan bilang dia sudah meninggal. Aku tidak bisa menerimanya!" Wijaya memarahi Bono.
" Maaf Bos, saya hanya bertanya, bukan membenarkan jika Vina sudah meninggal. Saya berharap Vina masih hidup "
" Cukup! Aku sedang tak ingin bicara. Bon, tolong tinggalkan aku sendiri."
" Bos, saya tidak akan meninggalkan Bos sendirian dalam keadaan begini."
" Bon, aku butuh waktu untukmenyendiri. Tinggalkan aku."
" Lalu Bos akan berdiam diri disini? Daripada begitu, lebih baik kita segera saja melanjutkan perjalanan, agar segera sampai ke rumah Bos."
" Bon, aku tak tahan lagi. Sepertinya keyakinan hatiku mulai merapuh. Vina, tunggu Papa Nak. Papa akan segera pulang."
Wijaya mengatur nafas sejenak, lalu dia mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh. Kini tubuh Wijaya seakan menjadi ringan. Ia pun meneruskan perjalanan pulang, dengan berlari secepat angin.
Bono menyusul Wijaya berlari, tanpa berkata-kata. Dia tak ingin membuat Wijaya semakin marah kepadanya.
Untuk mengimbangi kecepatan Wijaya, Bono juga kembali mengatur nafasnya, kemudian mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh. Akhirnya Bono mampu menyamai kecepatan Wijaya berlari.
" Kasihan sekali Bosku, Harus kehilangan putri sulungnya. Sebenarnya aku juga merasa bahwa Vina sudah tidak ada di dunia ini. Namun aku tak ingin Bosku tahu lebih dulu. Jika sampai terjadi, kemungkinan sebelum sampai dirumahnya, dia sudah mengamuk." Gumam Bono, sambil mengamati pergerakkan Wijaya dari belakang.
Di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, Wijaya tak henti-hentinya mengalirkan air mata, semangat ingin bertemu putrinya sepertinya sudah pupus. Namun Wijaya terus dan terus berlar secepat angin. Bono yang berada tepat dibelakangnya merasakan tetesan-tetesan air yang jatuh, tetes demi tetes ke wajahnya.
" Air apa ini? Sepertinya tidak turun hujan, kenapa ada air yang menerpa wajahku berkali-kali."
Saat Bono memikirkan itu, ia mendengar teriakan Wijaya yang memanggil putrinya berkali-kali.
" Vina.. Vina anakku.. Jangan pergi dulu Nak. Papa rindu.. Aaaaa.." Sambil berlari kencang, Wijaya masih meneteskan air matanya.
" Bos menangis? Jadi air yang mengenai wajahku itu, air mata Bosku? Kasihan sekali Bos, maafkan aku. Seharusnya aku diberi tugas menjaga putrimu, bukan malah menjagamu. Seandainya saja aku bisa mengulang waktu, jika harus memilih, kerjaan apa yang harus ku kerjakan, lebih baik aku menjaga putrimu Bos." Ucap Bono dalam hati.
" Vina, jika kamu tiada, siapa lagi yang akan menemani Papa? Vin, kamu putri, juga teman hidup Papa. Tanpamu, Papa kesepian Nak. Tolonglah hiduplah kembali demi Papa. Papa sangat rindu ingin bertemu kamu Nak."
Bono terdiam, dia tidak bisa mencegah Wijaya menangisi putrinya. Dia tidak tahu bagaimana caranya agar Bosnya tenang. Lalu dia hanya mengikuti Wijaya di belakangnya.
" Vina, aku sudah mempersiapkan kado spesial untukkmu. seminggu lagi kamu ulang tahun yang ke enam belas kan. Tolonglah Vin, tunggu Papa. Katakan pada Papa kalau kamu masih hidup."
" Bos! Sudahlah, berhenti menangis. Ayo kita tambahkan kecepatan kita lagi. Setengah jam lagi kita akan sampai."
Bono berusah membarengi Wijaya dan menenangkannya, namun Wijaya sama sekali tak bergeming. Meskipun dalam keadaan berlari kencang, ia seperti hanya duduk di tempat dan menangis. Dia tak mempedulikan apapun di sekitarnya.
" Bos, kesedihanmu terlalu dalam. Aku sama sekali tidak bisa menyentuh hatimu. Apa yang bisa aku lakukan. Bersamamu pun aku seperti tak berguna." Ucap Bono dalam hati.
Setengah jam perjalanan berlalu, Wijaya dan Bono telah tiba di kota kelahirannya. Mereka segera keluar dari jalur hutan dan masuk ke jalur ramai.
" Bos, tunggu." Bono menghentikan langkah Wijaya tepat di depannya.
Wijaya terkejut, dia hampir saja menabrak Bono yang tiba-tiba menghadangnya.
" Ada apa Bon? Kenapa kamu menghalangi jalanku?"
" Bos, kita sudah keluar dari hutan. Kita sudah sampai di jalanan ramai. Kita tidak bisa sembarangan berlari. Saya khawatir Anda menabrak orang. Apalagi, Bos sedang dalam keadaan gundah seperti itu."
__ADS_1
" Tak usah menghiraukanku Bon. Aku bisa mengontrol laju lariku."
" Tapi saya melihat Bos seperti melamun, tidak mendengarkan kata-kata saya."
" Sudah cukup Bon, berhenti menggangguku. Aku harus segera sampai ke rumahku."
Bono tak berkutik menghadapi kata-kata Wijaya. Terpaksa ia membiarkan Wijaya meneruskan langkah kakinya.
" Baiklah, sebaiknya aku mengikutinya saja. Aku tak ingin ucapanku menambah murung di hatinya." Gumam Bono sambil berlari mengejar Wijaya yang telah meninggalkannya sejauh dua ratus meter.
Tepat pukul 05.00, Wijaya dan Bono tiba dirumahnya. Wijaya tak sabar ingin bertemu putrinya. Dia mencoba mebuka pintu gerbang rumahnya, namun dikunci.
" Vina, Vina.. Papa pulang." Wijaya menggoyang-goyangkan pintu gerbang yang terkunci.
" Bos, pintu gerbang ini dikunci dari luar. kemungkinan tidak ada orang didalam."
" Vina, Papa rindu ingin bertemu denganmu. Kemana kamu pergi, Nak?" Wijaya terus memanggil putrinya tanpa mendengarkan perkataan Bono.
Beberapa saat kemudian, Tasya datang. Dia menyapa Wijaya dan Bono.
" Om.." Sapa Tasya pada Wijaya.
Wijaya terkejut, dia memandang ke arah Tasya.
" Tasya, kemana putriku? Kenapa pintu pagar rumah ini dikunci dari luar?"
Tasya hanya menunduk. Sudah berkali-kali dia bilang Vina sudah meninggal, namun Wijaya masih terus bertanya dimana putrinya kepadanya.
" Tasya, apa kamu dengar tanyanya, Papanya Vina? Kenapa diam saja? Jangan membuatnya semakin kalut." Ucap Bono.
"Jadi, jadi benar Vina sudah meninggal?" Tanya Wijaya dengan terbata-bata.
Tasya hanya menganggukkan kepalanya.
" Tidak mungkin!"
" Braakkk.." Wijaya menendang pintu pagar rumahnya hingga ambruk.
Tasya hanya bisa menangis dan menyaksikan Wijaya mengamuk.
Wijaya masuk kedalam rumahnya. Dia melihat di sekeliling rumahnya. Lalu wijaya naik ke lantai atas untuk melihat kamar Vina.
" Apa-apaan ini? Apa kamu yang membersihkan ini sendirian, Vin?"
" Semua bersih, tertata rapi. Apa kamu terlalu takut pada Papa, sehingga kamu membersihkan semua ini. Vin, jangan sembunyi. Keluarlah, kamu mau memberikan kejutan apa untuk Papa?"
Tasya dan Bono menyusul Wijaya naik ke lantai atas. Mereka menemui Wijaya di kamar Vina.
" Om, ikhlaskan saja kepergian Vina. Dia sudah tenang disana bersama Mamanya. Om yang sabar ya." Ucap Tasya.
" Ikhlas? Sabar? Apa maksudmu? Vina pasti akan pulang. Dia pasti akan memberikan kejutan untukku. Aku yakin itu."
" Om! Vina itu sudah meninggal, sampai kapan Om akan mengharapkan dia pulang?"
Wijaya merasa tidak nyaman dengan perkataan Tasya. Dengan cepat dia memegang kedua pundak Tasya.
" Dia belum meninggal, dia masih hidup. Kamu berbohong kepadaku. Kamu pembohong!" Ucap Wijaya lirih, dia kemudian menangis. Lalu bersujud di depan Tasya.
__ADS_1
" Tasya, aku menghargai kamu sebagai sahabat baik Putriku. Katakan yang sebenarnya, yakinkan aku, apa yang sebenarnya terjadi pada Vina."
" Om, ini buku diary Vina. Di halaman terakhir tertulis untuk Om. Pesan terakhir Vina. Bacalah, jika Om sudah paham. Tasya akan cerita awal mula kejadiannya."
" Jadi ini buku diary Vina. Aku belum pernah tahu, dia membuat tulisan di buku seperti ini."
" Itu karena perhatian Om kepadanya kurang. Vina selalu merasa hidupnya sendiri. Walaupun dia memiliki keluarga."
" Maafkan Papa Vin, Papa tidak mempedulikan kata-katamu."
Wijaya mulai membaca pesan terakhir untuknya. Di halaman terakhir, tertulis untuk dirinya.
Wijaya menangis keras setelah membaca pesan Vina, air matanya tak berhenti mengalir. Dihidupnya, inilah duka terberat yang ia rasakan.
" Vina.. Maafkan Papa, Papa selalu berbuat jahat. Ampuni Papa Nak."
Bono dan Tasya hanya terdiam melihat Wijaya berduka. Mereka membiarkan Wijaya menangisi kepergian Vina untuk selamanya.
" Andai saja Papa menuruti kemauanmu, pasti semua takkan seperti ini. Aku memang Papa yang tak berguna! Vina anakku, bahkan rindu ini belum sempat terobati, kenapa kamu lebih dulu pergi meninggalkan Papa. Kemana Papa akan mengobati rasa rindu ini Vin. Papa ingin sekali memelukmu, menciummu. Papa ingin mengajakmu jalan-jalan. Di dunia ini masih banyak tempat yang indah, yang belum kamu kunjungi Vin."
" Bos, sebaiknya kita ziarah saja ke makam Vina dan istri Bos. Disanalah Vina berada. Disini hanya ada kenangan Vina saja yang tertinggal. Sekarang, disanalah rumah Vina, Bos." Ucap Bono sembari mengangkat bahu Wijaya untuk berdiri.
" Bon, rasanya aku sudah tidak mempunyai semangat untuk hidup. Tubuhku seperti tak bertenaga. Aku sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi."
" Bos, apa Bos sudah lupa. Bos masih mempunyai xena. Adik Vina yang saat ini dalam asuhan tetangga Bos diluar negeri.
" Kamu benar, aku akan membawanya pulang dan mengasuhnya. Aku tak ingin kehilangan putriku untuk kedua kalinya."
Pukul 07.00 Wijaya, Bono dan Tasya pergi menuju ke tempat peristirahatan terakhir Vina.
" Sebelah sini makam Vina Om, dekat dengan Makam Mamanya." Ucap Tasya sembari menunjukkan dimana Vina di makamkan.
Wijaya terduduk, dia langsung memeluk makam Vina.
" Vina.." Kembali, Wijaya menangis keras.
" Jadi kamu benar-benar sudah meninggal Vin. Kenapa kamu pergi secepat ini. Papa rindu kamu Nak. Bahkan Papa rindu kita bercanda dan tertawa bersama-sama."
" Om, tidak ada gunanya Om menangis. Vina sudah pergi menghadap Sang Pencipta. Biarkan arwahnya tenang di sisiNya. Lebih baik kita mendoakannya saja."
" Tidak.. Vina, kamu belum meninggal. Kamu hanya tertidur. Dan orang- orang dengan seenaknya menguburkan kamu disini. Ayo, Bon. Bantu aku mengeluarkan Vina dari sini." Sambil menangis, Wijaya berusaha menggali makam Vina dengan tangannya.
" Om.. Om mau ngapain? Vina sudah meninggal, Om. Tasya saksinya. Dia meninggal di tempat kejadian karena kecelakaan."
" Tidak.. Dia masih hidup. Dia menangis ingin keluar dari sini. Bono! Ayo cepat bantu aku!"
" Bos, Anda hanya akan merusak tempat peristirahatan Vina. Hentikan!" Bono mencoba menarik lengan Wijaya agar mundur dari makam Vina.
" Bon, kamu tak tahu perasaanku sebagai orang tuanya. Vina meninggal Bon, Putri kesayanganku meninggal. Aku belum lama berdamai dengannya. Dan saat ini, aku sedang sayang-sayagnya kepadanya, tapi dia meninggalkanku."
" Ini sudah takdir Bos, saya bisa mengerti perasaan Bos. Tapi dengan berbuat seperti itu tak ada gunanya. Sebaiknya kita mulai mendoakannya. Agar Vina tenang disana."
" Iya, Kita harus mendoakannya." Ucap Bono sambil meminta Tasya memimpin doa.
Suasana hening ketika mereka mulai berdoa. Di tempat peristirahatan terakhir Vina, Wijaya masih memendam sejuta rindu yang sebenarnya ingin dia luapkan kepada Vina.
......................
__ADS_1