
Wira menghentikan teriakannya. Ini kesempatan Satya membawa Reza menjauh dari Wira. Ia lalu menyandarkan Reza dibawah pohon besar.
" Reza, sudahlah. Jangan teruskan.. Kau sudah kehilangan banyak tenaga. Beristirahatlah, biarkan aku yang menggantikanmu."
" Baiklah, Satya jika itu mau kamu. Lawanlah dia, kalahkan dia untukku. Balaskan rasa sakit raga ini." ucap Reza lalu berjalan gontai menjauhi Satya.
" Wira, Reza sudah menyerah. Dia sudah tak sanggup lagi melawanmu. Ayo, kita lanjutkan lagi pertarungan kita."
" Baik, Satya.. tunggu apalagi? aku sudah bersiap menunggu seranganmu.."
" Jadi, kau menungguku? baiklah.. bersiaplah Wira. Hiaaaattt..."
Satya berlari maju ke arah Wira dengan cepat. Sembari berlari, ia mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan dan kakinya. Lalu menyerang Wira dengan cepat.
Berkali-kali Wira terpukul oleh serangan Satya. Ia pun tak mempunyai waktu untuk mengeluarkan jurusnya. Serangan Satya terlalu cepat. Jika Wira lengah, bisa saja serangan Satya mampu mengenai titik lemahnya.
Wira pun berlari menjauh dari Satya sembari mencari cara untuk mematahkan serangannya. Namun, Satya terus saja menempelnya dan terus melakukan serangan. Berbagai pukulan keras Satya layangkan ke arah Wira. Hingga sepuluh menit lamanya, Satya tak berhenti menyerang Wira.
" Wira, ada apa denganmu? Kenapa kau terus menghindar? Apa kau kewalahan dengan seranganku?"
" Hahaha.. sepertinya kau tahu kenapa aku hanya menghindar darimu. Aku baru pertama kali ini melawan musuh yang kecepatannya tak bisa ku imbangi. Tapi aku belum kalah, aku akan mempelajari setiap pukulanmu."
" Hahaha... coba saja kalau kau bisa. Atau kalau tidak, aku akan memberimu kesempatan untuk mengeluarkan jurusmu."
" Jangan membuatku malu, Satya. Dan jangan lengah. Aku bisa saja membalikkan keadaan."
Satya menghentikan serangannya. Meskipun menyerang secara bertubi-tubi, ia belum merasa kelelahan.
" Kenapa kau berhenti, Satya? Apa kau ingin memberikanku kesempatan untukku?"
" Silahkan, Wira. Tapi aku ingin bertanya kepadamu. Darimana kau mengenal Wijaya? Kau sama sekali tak takut padanya?"
" Satya, Wijaya itu adalah teman sekolahku dulu. Di sekolah, dia adalah murid yang paling lemah. Dia selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Tapi aku tak mengerti, apa yang membuatnya berubah. Dia menjadi kuat dan jahat. Terakhir aku bertemu dengannya, sebelum kejadian di rumah adikku. Dia berkunjung ke Restoranku, bersama Putrinya."
" Oh, begitu.. menarik sekali, ternyata Bosku awalnya seorang yang lemah.
" Kelemahannya membuat dirinya menjadi kuat. Aku tak tahu seberapa hebat dirinya yang sekarang."
Ketika sedang membicarakan Wijaya, muncul Reza yang tiba-tiba menyerang dengan jurus Sapu Anginnya. Kali ini ia menggunakan kaki kanannya untuk menyerang.
" Awas, Wira.." teriak Satya.
Wira pun melompat menghindari serangan Reza. Hampir saja dia terkena serangan Reza yang lebih kuat dari sebelumnya.
" Kurang ajar! Bocah tak tahu diri! Masih berani kau menyerangku, dasar pengecut! menyerang dari belakang.. " Wira memaki Reza dengan keras. Ia sangat kesal dengan kelakuan licik Reza.
Kali ini Wira tak bisa membendung amarahnya. Ia lalu mengerahkan tenaga dalamnya sembari berteriak keras. Angin seperti ****** beliung menerpa ke arah Reza. Namun dengan mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya, Reza mampu menahan terpaan angin yang menimpanya.
Tak lama kemudian, Wira menghentikan teriakannya. Sebelum angin besar yang menerpa ke arah Reza berhenti, Wira kembali mengeluarkan jurusnya yang lain.
__ADS_1
Dari tangannya keluar cahaya merah yang membentuk mata tombak. Ia lalu melemparkannya ke arah Reza dengan cepat.
" Hiiiiaaaaaaattttt....." Cahaya berbentuk tombak dari tangan Wira melesat ke arah Reza.
" Reza... awas..." Teriak Satya, lalu dengan sangat cepat melesat ke arah Reza dan mendorong Reza ke arah samping untuk menghindari serangan Wira.
" Akkkkhhhhh...." Teriakan keras yang cukup mengerikan di malam hari.
Satya terkena serangan Wira. Cahaya berbentuk tombak yang dihasilkan oleh Wira, mengenai tubuh Satya.
" Satya....." teriak Reza, ia kemudian berlari mendatangi Satya.
Wira terkejut. Satya mampu mengimbangi kecepatan serangannya. Dan ia lebih terkejut lagi, demi menyelamatkan Reza, Satya merelakan tubuhnya terkena serangan mematikan Wira.
" Satya... kau.. kenapa kau menyelamatkanku! Kenapa?" tangis Reza mulai pecah. Ia kemudian memangku tubuh Satya di pangkuannya.
" Reza, apakah kau masih menganggapku sebagai saudaramu?" tanya Satya sambil menahan nafasnya yang terengah-engah.
" Apa yang kau katakan, Satya. Aku sudah pernah bilang kalau kita ini saudara. Aku akan terus menganggapmu saudara. Sampai kapanpun kita tetap saudara meskipun kita bukan sedarah."
" Baiklah, aku senang mendengarnya. Kalau begitu, apa kau masih memegang janjimu?"
" Janji? janji yang mana, Satya?" Reza kebingungan. Ia tak tahu harus melakukan apa. Luka Satya sangat parah, ia tak tahu bagaimana mengobatinya.
" Kau pernah berjanji akan menjaga keluargaku. Tolonglah, tepati janjimu. Aku percaya kau bukan seorang pembohong bagiku, Reza."
" Tidak perlu, Za.. waktuku sudah tak banyak lagi. Lukaku ini sangat parah, tak mungkin lagi bisa diobati."
" Tidak, Satya.. aku akan memanggil Bos agar memberikan bantuan kemari." Reza mencoba mengambil Hp dari sakunya, tangannya gemetar untuk memberitahu Wijaya tentang kegagalannya mendapatkan tanah Wira.
Tetapi demi Satya, ia memaksakan dirinya menghubungi Wijaya. Namun, tangannya tak sanggup memegang Hpnya dengan benar. Ia pun menjatuhkan Hpnya tepat di dada kiri Satya. Tak sengaja saat ia mengambil Hpnya lagi, ia melihat rajah yang ada pada dada kanan Satya.
" Satya, kau memiliki rajah di dada kananmu?"
" Iya, ini rajah pemberian orang tuaku. Siapapun yang mempunyai rajah ini, dialah saudaraku."
" Jadi, kau.. kau saudaraku? Aku juga memiliki rajah yang sama denganmu Satya. Kita adalah saudara sedarah." ucap Reza sembari memperlihatkan dada kanannya yang mempunyai rajah yang sama dengan Satya.
Satya tersenyum, ia senang Reza adalah saudaranya. Ia pun bercerita sedikit kepada Reza tentang masa lalunya.
" Reza, izinkan aku menutup lukanya agar dia tak banyak mengeluarkan darah." Ucap Wira lalu dengan tenaga dalamnya ia menutup sementara aliran darah yang mengalir keluar dari tubuh Satya.
Reza hanya diam, ia mengabaikan Wira yang sedang berbicara dengannya. Namun Wira tetap mencoba menutup luka Satya.
" Terima kasih, Wira. Usahamu mampu membuatku bertahan meskipun takkan lama. Setidaknya, membantuku hingga aku selesai bercerita pada Reza."
Wira mengangguk. Hatinya teriris karena ia telah melukai orang yang tak ingin dia lukai.
" Reza, dulu aku dilahirkan oleh seseorang yang aku sendiri tak tahu namanya. Waktu aku berumur tiga tahun, aku diajak orang tuaku berjalan-jalan ke suatu tempat. Saat itu ada kerusuhan yang menimbulkan kemacetan. Kami nekad menerobos kerumunan orang.
__ADS_1
Mungkin tak sadar saat melewati kerumunan orang, genggaman tanganku terlepas. Kami terpisah. Aku telah mencoba berteriak memanggil Ayah, tapi Ayahku tak kembali. Hingga aku ditolong oleh seorang laki-laki lalu menjadikanku sebagai anak angkatnya. Aku dibawa ke tempat yang jauh, dan pergi entah kemana..
Hingga aku dewasa, aku telah berpindah-pindah tempat mengikuti orang tua angkatku. Hingga aku menjadi anak buah Rendra, aku tak tahu siapa orang tua kandungku. Reza, jika kau bertemu dengan orang yang yang lebih tua dariku, tanyakan padanya. Siapapun itu, yang mempunyai rajah yang sama dengan kita. Tanyakan padanya, apakah pernah kehilangan seorang anak sekitar empat puluh tahunan yang lalu. Di saat kerusuhan yang terjadi pada waktu itu."
" Aku pasti akan menanyakannya. Aku janji Satya. Tolonglah.. hiduplah untukku Satya. Aku akan membawamu ke keluarga kita. Aku akan bertanya pada Kakek." Ucap Satya sembari mengusap air matanya yang terus berjatuhan.
" Tidak, Reza. Waktuku tinggal sebentar lagi. Ingatlah pesanku Satya. Dan ku mohon, saat kau kembali. Sampaikan pesanku juga pada istriku dan anak-anakku. Katakan padanya, aku takkan pernah kembali. Aku mempunyai dua sertifikat tanah di kota, hasil pemberian orang karena aku membantunya menemukan anaknya yang hilang.
Tolong serahkan sertifikat tanah itu pada istriku. Jika dia mau, biarkan dia menjualnya untuk beaya hidupnya dan untuk sekolah anak-anakku sampai kuliah. Aku mohon, Za.. jangan sampai kamu lupa pesan-pesanku. Reza, maafkan aku jika aku merepotkanmu. Maafkan aku juga, karena selama dalam perjalanan kita kemari, telah membuatmu kesal dan marah.
Itu saja permintaanku, Za.. selamat tinggal.. jaga dirimu baik-baik."
Usai berkata, Satya menghembuskan nafas terakhirnya. Reza tak bisa berkata-kata lagi. Ia tak bisa lagi membendung air matanya yang jatuh terurai.
" Satyaaaa....." teriak Reza.
Reza memeluk Satya yang sudah tak bergerak sedikitpun. Ia mencoba menggoncang-goncangkan tubuh Satya. Namun Satya tetap tak bergerak. Berkali-kali Reza berteriak memanggil Satya. Tangis dan teriakannya menggambarkan kesediahan yang sangat dalam.
Lalu ia tersadar, kematian Satya adalah perbuatan Wira. Ia kemudian meletakkan tubuh Satya dan menyandarkannya di bawah pohon.
Ia kemudian melangkah menghampiri Wira. Dan mengancam akan membalaskan kematian Satya.
" Wira! Kau memang Ba****an! Aku tak akan pernah memaafkanmu! Bersiaplah menjemput ajalmu, Wira..."
" Reza! dia sendiri yang menghadang seranganku. Aku tak bermaksud menyerangnya. Dia menghadang seranganku yang seharusnya ku tujukan kepadamu.."
" Ahhh... persetan dengan kata-katamu, Wira! Rasakan pembalasan atas kematian Saudaraku.. Hiaaaaattt...."
Reza mengamuk, ia melayangkan serangan pada Wira dengan bertubi-tubi. Serangannya sangat mematikan, namun emosi yang menguasai Reza, membuat serangannya tak beraturan dan sering salah sasaran.
" Apa kau mau membuang tenagamu dengan sia-sia, Reza? Seranganmu sama sekali tak mengenaiku. Jika kau bertarung seperti itu, kau akan kalah."
" Diam!!! aku akan membunuhmu dengan caraku, Wira! Tak ada lagi ampunan untuk mu. Nyawa harus dibayar nyawa.. Matilah Kau Wira! Hiaaaattt..."
Reza mempercepat serangannya. Ia juga mengerahkan semua tenaganya yang masih tersisa.
" Tenagaku masih banyak, aku harus mengerahkan seluruh tenagaku untuk membunuh Wira. Seandainya dia masih lebih kuat dariku, dan aku kalah menghadapinya. Itu sudah takdirku. Tapi aku tak boleh mati sebelum menyampaikan pesan untuk keluarga Satya."
" Ayo, Reza. Apa hanya segitu saja kemampuanmu? Mana kekuatanmu yang kau bilang sudah mewarisi semua kekuatan Wijaya?"
" Tungu Wira, aku masih belum bisa mengeluarkannya."
" Tunggu apalagi? Ayo.. cepat keluarkan semua jurusmu!
Reza mencoba mengumpulkan tenaganya. Jiwanya yang sedang dilanda kemarahan yang sangat besar mampu menyuplai hampir semua kekuatannya yang terkumpul.
Wira menunggu dengan sabar, kesiapan Reza. Ia begitu tenang menghadapi Reza karena ia sangat tahu kemampuan Reza, meskipun Reza mampu menambah kekuataanya menjadi lebih besar dari sebelumnya.
......................
__ADS_1