
" Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Pak Tanu. Hanya Tuhan dan kalian yang tahu. Saya tidak ingin menduga - duga. Dan tidak ingin berprasangka apapun. " Terang Bagus dengan tegas, namun terlihat ada rasa kecemburuan dan amarah yang besar dalam hatinya.
Vina tahu Bagus seperti tidak suka dengan kedekatannya bersama Tanu, lalu dia pun berkata,
" Pak Bagus.. sudah lah.. ini tidak seperti apa yang Pak Bagus pikirkan. Kami baik baik saja. Dan tidak melakukan apa - apa. Percayalah pada kami. Pak Tanu tadi hanya ingin membantuku berdiri karena terjatuh. Dan aku sempat jatuh pingsan disini."
Bagus kesal Vina membela Tanu, membela kesalahan yang mereka lakukan. Bagus menjadi kesal. " Oh jadi begitu.. saya tidak akan pernah tahu, kalau saya tidak datang kesini melihat kalian. Dan mungkin saja kalian akan berbuat lebih jauh lagi jika saya tidak memergoki kalian.Tapi ya sudah nggak jadi masalah. Sebaiknya kalian segera tinggalkan tempat ini. Jangan takut, saya nggak akan melaporkan kejadian ini ke kepala sekolah."
" Ehh.. Saya berharap Pak Bagus tidak melaporkannya ke kepala sekolah. Karena ini tidak seperti yang di bayangkan. Ini salah paham." Ucap Tanu gemetaran.
" Awas ya Pak Bagus kalau menyebarkan berita ini. Apalagi Pak bagus mengarang cerita yang semakin tidak benar. Pak Bagus akan tahu akibatnya jika berani melaporkannya. Saya nggak mau jika pak Bagus melaporkannya hingga sampai ke telinga-telinga orang lain. Jika itu sampai terjadi maka akan menimbulkan berita bohong. Semakin di teruskan akan semakin terlihat di reka- reka." Vina mencoba mengancam Bagus.
" Vina Vina... Kamu mengancamku? Memangnya kamu siapa? sudah sok jagoan? Bagus berbicara di depan Vina dan ingin sekali menamparnya.
" Saya nggak akan berani kalau saya melakukan kesalahan. Kalau Bapak membuat kabar yang tidak-tidak, saya akan melaporkan Bapak ke polisi!" Ucap Vina dengan nada keras.
" Jangan Vin... saya nggak ingin berurusan dengan polisi. Maafkan saya. "
" Akan saya maafkan jika Bapak tidak melaporkannya ke kepala sekolah."
" Oke.. saya nggak akan melaporkan ke kepala sekolah.. Terima kasih. "
" Terima kasih Pak Bagus." ucap Tanu sambil merunduk.
" Ya..." ucap Bagus singkat lalu pergi menuju pos satpam untuk berjaga kembali.
__ADS_1
" Iiihh.. Nyebelin banget tuh orang.. Jawab saja singkat banget. Nggak menghargai orang. Huuhh....! " Ucap Vina karena kesal, ucapan terima kasih Tanu hanya di balas dengan satu kata.
" Sudahh Vina. Dia mempunyai hak untuk bersikap begitu. Kita di sini yang membuat masalah." Tanu mencoba menenangkan hati Vina.
" Tapi kita tidak berbuat macam-macam Pak. Kalau dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya jangan seenaknya marah pada orang. Ngeselin banget.."
" Vina.. dengarkan bapak, di sini kita yang salah. Walaupun kita tidak melakukan apa-apa. Tetapi saat Pak bagus datang kemari, dia melihat kita sedang berdekatan. Hampir bersentuhan. Sekarang tenangkan hatimu."
" Hemhh.. baik Pak Tanu.." Vina menuruti kata Tanu.
" Kalau begitu ayo kita lekas pulang!Nggak baik kelamaan di sini. Nanti Pak Bagus berprasangka buruk dan datang kemari lagi." Tanu mengeraskan nada bicaranya.
Vina merasa Tanu kesal padanya. Dia pun balik kesal pada Bagus. " Ini gara-gara Pak Bagus. Kenapa juga dia datang kemari saat aku ingin mengutarakan isi hatiku pada Pak Tanu. Mengganggu saja."
" Sudah cukup.. Vina! Berhenti menyalahkan Pak Bagus." Tanu mulai semakin jengkel pada Vina.
" Vina... Hilangkan keinginanmu itu. Bapak tak suka kamu melakukannya. Keinginanmu sungguh melewati batas kewajaran. Bapak sudah mempunyai istri dan anak. Bapak tak akan mengkhianati mereka."
Mendengar kata Tanu, Vina terdiam. " Apa mungkin Pak Tanu Tahu perasaanku? Kalau benar tahu, seharusnya ini membuatku bahagia . Tetapi mengapa Pak Tanu melarangku? Apa Dia tidak menyukaiku? Kenapa Pak? Vina berusaha menjadi terbaik agar Bapak mengakui keberadaan Vina. Menjadi terkenal agar Bapak memberikan perhatiannya pada Vina. Semua itu untuk mendapatkan tempat di hati Bapak. Vina rela melakukan apapun demi Bapak. hanya untuk Bapak. Kenapa Bapak menolakku ?" Dalam batin Vina menjerit .
" Pak Tanuuu..." Panggil Vina pada Tanu yang masih kesal padanya. Namun dia tidak bisa melanjutkan kata katanya. Hasrat ingin mengungkapkan perasaan hatinya, Namun karena Tanu lebih dulu menolaknya membuatnya menangis tersedu. Air mata keluar deras dari kedua mata Vina.
Tanu yang sedang membelakangi Vina mendengar isak tangis Vina. Dia pun menoleh, lalu berkata. " Astagaa... Apa lagi Vin.. sudah berhenti menangis. Bapak nggak mau Pak Bagus semakin berfikiran buruk kepada kita. "
Tanu menjadi bingung. Dia tidak pernah membiarkan seorang perempuan menangis. Apalagi karenanya. Bagaimana cara membuat Vina berhenti menangis.
__ADS_1
" Pak.. Apakah salah jika Vina menginginkan Bapak? Vina tahu Bapak sudah berkeluarga. Vina juga nggak ingin Merusak kebahagiaan Bapak. Tetapi Hidup Vina sudah bergantung sama Bapak. Sudah tak ada siapapun di hati Vina kecuali Bapak. Vina sayang sama Ba..."
" Sssttts... Vina sebaiknya kamu fokus sama sekolah kamu dulu. Agar fikiran kamu tidak terganggu. Jangan memikirkan masalah yang berat. Apalagi memikirkan seauatu yang tidak mungkin . " Tanu menghentikan Vina bicara. Dia memegang kedua tangan Vina dan mencoba terus untuk menenangkannya.
" Ingat tujuan kamu dari awal, sebelum datang ke sekolah ini. Belajarlah, kejarlah cita citamu . Tuntutlah ilmu sampai kamu menjadi orang hebat. Ini pesan untukmu. Bapak tak ingin merusak cita citamu. Buanglah perasaan kamu itu. minimal kamu bisa menyingkirkannya."
" Tapi Vina..."
Tanu terus menerus memotong bicara Vina dan berkata, " Tidak ada kata tapi-tapian.. Lakukan saja perintah Bapak. Anggap aja ini tugas dari bapak. Jadilah murid yang berbakti dan penurut selama itu baik. Ya sudah Bapak akan ke parkiran motor bapak dulu. " Tanu meninggalkan Vina yang wajahnya masih menyisakan air mata.
" Pak Tanu! Kenapa Bapak tega membiarkan Vina menangis?" Teriak Vina keras sekali.
Tanu mendengar teriakan Vina, lalu dia berlari kembali menuju ke arah Vina.
" Viin.. Apa yang kamu lakukan? Teriakanmu bisa membuat banyak orang mendengarnya. Kamu mengerti tidak? Apa kamu mau kita mendapatkan masalah yang lebih serius lagi?" Ucap Tanu dengan emosi, namun lirih.
" Biarkan saja orang tahu, Vina kecewa pada Pak Tanu."
" Kecewa kenapa? Sudah Bapak bilang, urungkan niat kamu itu Vin."
" Pak Tanu tidak mengerti Vina, Vina tersiksa dengan perasaan ini Pak. Vina tak tahu bagaimana menghapusnya."
" Lupakan saja Bapak,dan jangan pernah di ingat lagi. Fokuskan hati dan pikiran kamu ke dalam materi pelajaran.
Vin, kamu masih mempunyai waktu yang panjang untuk menggapai cita-citamu.
__ADS_1
Kamu masih mempunyai hak memliki sesuatu yang lebih. Jangan kamu mengejar sesuatu yang tak bisa kamu gapai."