
Hati Tanu teriris, jiwanya seperti ditusuk dengan seribu pedang melihat Rani terlempar jauh dan tubuhnya hangus seperti terbakar. Ia tak tahu, Rani sudah mati atau belum. Namun ia tahu, tubuh Rani sudah tak bergerak.
" Ibu.. kau bertaruh nyawa demi keluargamu. Semoga kau ditempatkan di SurgaNya." ucap Tanu lirih.
Sementara itu Wijaya setengah tak percaya, Reza telah membunuh Rani. Orang yang sejak dulu menjadi bunga dalam pikirannya. Ia pun memarahi Reza karena terlalu gegabah.
" Reza! Beraninya kau membunuhnya tanpa perintahku!"
" Maaf, Bos. Dia hampir saja membunuh Bos. Saya hanya mencoba untuk melindungi Bos saja. Maafkan atas keputusan saya, jika memang itu salah." ucap Reza lalu menununduk dan bersujud didepan Wijaya.
" Reza! asal kau tahu, aku sangat mencintainya! Aku punya rencana untuk hidup bersamanya. Lalu kau merusak rencanaku begitu saja!"
"Ampun, Bos. Saya siap menerima hukuman apa saja sesuai dengan kesalahan saya. Tapi ketahuilah, saya hanya bermaksud melindungi Anda."
" Ahhh.. sudahlah! semua telah terjadi. Rani memang kurang ajar. Beraninya dia menipuku. Untung saja kau cepat, Reza. Kalau tidak, aku sudah mati ditangannya."
" Saya hanya berusaha melindungi Anda, Bos. Jika Anda terluka, reputasi saya bisa jatuh. Saya tak ingin itu terjadi."
" Reza, kau memang orang terbaikku, Namun kemampuanmu masih jauh dibanding dengan yang lainnya. Berlatihlah yang keras, Reza. Kelak kau akan bersaing dengan mereka."
" Baiklah, Bos. Saya akan tetap berlatih dan mengembangkan ilmu saya. Saya tak ingin mengecewakan Anda."
" Bagus.. kau memang bisa ku andalkan, Reza."
" Terima kasih, Bos. Lalu bagaimana dengan yang lainnya yang tersisa, Bos. Apa kita langsung habisi mereka semua?"
" Reza, apa kau itu laki-laki?" tanya Wijaya sambil tersenyum.
" Ha.. apa maksud Bos? Jelas saja saya ini laki-laki. Kenapa Bos bertanya tentang itu?" Reza bertanya balik pada Wijaya. Ia merasa risih dengan pertanyaan Bosnya.
" Kau lihat disana hanya ada orang-orang lemah, apa kau akan membunuhnya juga?"
" Oh, maksud Anda saya ini tak jantan karena beraninya sama yang lemah?"
" Ya begitulah. Dan disana, ada gadis manis yang montok. Apa kau tak ingin bermain dengannya, atau kau mau menjadikannya istri?"
Reza melirik ke arah Bulan yang menangisi Ibunya yang telah mati. Sedikit ia tersentuh hatinya. Hawa nafsunya mulai bergejolak ketika ia melihat halus lembut rambut Bulan, dan celana pendeknya yang tersingkap ke atas hingga terlihat pahanya yang putih berseri. Ia lalu mendekati Bulan dan mencoba berbicara dengannya.
" Hei, gadis manis. Apa yang kau tangisi. Sudahlah, dia sudah mati. Apa kau takut, tak ada yang mengurusmu lagi?"
Bulan pura-pura tak mendengar kata-kata Reza. Ia terus menangis memanggil Ibunya sembari memeluk jasadnya.
"Apa kau tak punya telinga? Aku bicara baik-baik denganmu. Kenapa kau mengacuhkanku?!"
" Hei, Orang jahat! kau telah membunuh Ibu kami! Kau tak perlu bertingkah sok baik seperti itu! Pergi dan menyingkir dari adikku!" teriak Riko sembari mendekati adiknya dan menjauhkannya dari Reza.
" Kau orang buta! tak perlu ikut campur urusanku! Pergilah, jika kau tak ingin mati! Aku masih mempunyai kesabaran. Gunakan kesabaranku untuk pergi dari sini."
" Aku tidak mau! Ini rumah kami, tempat tinggal kami. Kau tak berhak mengusir kami! Seharusnya kau yang pergi dari sini!"
" Kurang ajar! Bocah tak tahu diri!" teriak Reza lalu berdiri kemudian menendang tubuh Raka dengan cukup keras.
__ADS_1
" Akhhh..." Rintih Raka. tubuhnya terdorong dan bergulung hingga dua meter dari Bulan.
" Kakak!" teriak Bulan lalu segera menolong Raka.
" Belum cukup kau membunuh Kakakku dan Ibuku, kau masih mau membunuh Kakakku yang tinggal satu-satunya?!"
" Salah dia sendiri, aku sudah menyuruhnya pergi tapi dia menolak. Dan dia malah berbicara yang membuatku ingin muntah!"
" Ini rumah dan tanah kami, kamu tak berhak mengusir kami!" ucap Bulan, geram.
" Tanah ini akan menjadi milik Bos Wijaya. Kalian akan hengkang dari tempat ini. Jika kau tak ingin meninggalkan tempat ini, kau harus menjadi kekasihku. Layani aku setiap hari, dan kau akan aman bersamaku. Hahaha.."
Mendengar kata-kata Reza membuat Bulan ingin muntah, dia meludahi wajah Reza dan mengenai tepat di mata kirinya.
Reza masih sabar meskipun ia diludahi. Lalu ia mengusap ludah yang menempel dimatanya lalu menghirupnya.
" Ahhh.. ludahmu saja wangi, apalagi tubuhmu. Ayo gadis manis.. ikut denganku. Layani aku sampai aku puas. Hahaha.."
" Tidak mau, laki-laki kurang ajar! Pergi dari sini!" Bulan memberontak ketika tangannya ditarik oleh Reza.
" Lepaskan tangan adikku, Ba****an! Berani kau menyentuhnya! Aku bersumpah akan membunuhmu!"
"Hahaha.. aku tak peduli dengan ucapanmu. Lebih baik kau tetap disini, hidup seorang diri. Dan kau akan mati bersama jasad Kakak dan Ibumu."
" Biadab! Kau memang kejam. Aku berdoa kelak kau akan merasakan hal yang sama dengan keluargaku!"
" Diamlah kau, anjing! rasakan ini!" teriak Reza lalu kembali menendang tubuh Raka dan bergulung hingga tujuh meter darinya.
" Kakak! lepaskan aku penjahat!" teriak Bulan lalu berusaha melepaskan diri dari Reza dan berlari mendekati Raka.
" Tapi aku tak bisa meninggalkan kalian. Ayah sepertinya juga masih hidup. Bulan bingung harus bagaimana, Kak. Bulan nggak bisa melakukan sesuatu untuk kalian."
" Jadi Ayah masih hidup? Kalau begitu pergilah pada Ayah. Selamatkan dia."
" Lalu bagaimana dengan Kakak? Aku tak bisa membiarkan Kakak disini sendirian."
" Hei.. apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Reza setelah ia mendatangi Raka dan Bulan.
" Jangan dekati kami, orang jahat! Pergi!" Pinta Bulan.
" Jadi, namamu Bulan. Namamu seindah wajahmu. Aku menyukaimu, Bulan."
" Pergi! kamu orang jahat. Aku nggak suka kepadamu!"
" Hei! masih berani kau berteriak kepadaku?! Apa kau tidak takut mati? Aku menawarimu sesuatu yang membuatmu panjang umur. Tapi kau menolak?"
" Tolong, aku masih kecil. Tidak tahu apa- apa tentang orang dewasa. Jangan memaksaku."
" Bulan, aku akan mengajarimu. Kita lakukan secara perlahan. Ayo ikuti aku."
Bulan menjadi bingung. Ia tak tahu harus melakukan apa. Disaat Reza berusaha memeluknya, Bulan menangis dengan keras, lalu Raka tersulut emosinya.
__ADS_1
Ia kemudian mendekati Bulan, lalu meraba-raba pundak Bulan dan setelah dia mendapatkan tangan Reza yang sedang berusaha memeluk Bulan, ia menggigitnya.
" Akhhh.... kurang ajar! kau menggigit tanganku!" teriak Reza lalu menjauh dari Bulan dan Raka.
" Bulan, lari lah sebisa kamu. Aku tak ingin kau ternoda. Jangan terbujuk rayuannya. Cepat lari sebelum kau tak punya pilihan lain. Cepatlah, Bulan.!"
" Baik, Kak. Aku akan mencari bantuan. Bertahanlah, Kak."
" Baik, Bulan. Aku akan menunggu kedatanganmu. Syukur-syukur kau bisa membawa Paman Bono kemari."
" Aku akan berusaha, Kak." Bulan diam diam berjalan lalu dengan cepat berlari dan menyusuri hutan yang gelap.
Reza yang sibuk dengan tangannya yang terasa sakit karena digigit Raka, tak tahu jika Bulan berhasil melarikan diri.
Sementara Wijaya sedang mendapatkan telpon dari Xena. Ia pun tak melihat kepergian Bulan.
Namun, salah satu teman Reza yang sejak awal sudah terpesona dengan kecantikkan Bulan, mengetahui kalau Bulan mencoba kabur. Ia lalu memberitahu Reza.
Reza pun geram, ia memerintahkannya untuk mengejarnya.
"Goblok! sudah tahu dia kabur kau malah diam saja. Kejar dia, cepat!"
" Baik, Ketua.. dengan senang hati aku akan mengejarnya dan membawanya kemari untukmu."
" Pergilah, cepat!" teriak Reza sembari menahan tangannya yang sangat sakit.
Teman Reza pun dengan segera mengejar Bulan. Karena terbiasa berlari ditrmpat gelap, ia dengan mudah mengetahui jejak krmana Bulan melarikan diri.
Tiba di perbatasan antara puncak Bukit Timur dan Puncak Bukit Barat, teman Reza berhasil menemukan Bulan.
Nafas Bulan yang terengah-engah membuat teman Reza dengan mudah menemukannya.
" Haa... mau kemana kau gadis manis? Ayo ikut Kakak. Kakak takkan menyakitimu."
" Nggak mau, kau teman penjahat itu. Aku nggak mau ikut bersamamu! Pergi.."
" Aku bukan orang jahat seperti mereka. Aku ikut mereka karena mereka memaksaku dan ingin membunuhku jika aku tak mau bergabung dengannya. Aku sama sepertimu. Dulu orang tuaku dibunuh oleh Bos mereka. Dan aku yang masih kecil, dibawa dan dijadikan mereka sebagai pesuruh. Hidupku memang pahit."
" Apa kau tak berbohong?" ucap Bulan dengan lembut.
" Aku sama sekali tak pernah punya niat berbohong kepadamu. Percayalah kepadaku. Jika kau percaya padaku, aku akan membawamu pergi, kita pergi bersama menjauhi mereka." ucap teman Reza yang sebenarnya hanya merayu Bulan.
" Baiklah, aku ikut denganmu. Kemana kita akan pergi?" tanya Bulan pasrah. Ia berharap orang yang ada dihadapannya itu benar-benar akan menolongnya.
" Ayo, kita lewat jalan setapak ini. Disana ada gubuk kecil tempat untuk berteduh pemilik lahan saat hujan. Tak ada yang tahu tempat itu. Kita akan bermalam disana, menunggu Wijaya dan Reza pergi. Setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan kita."
" Baik, Kak. Ayo lebih baik kita segera kesana."
Bulan terpedaya oleh rayuan teman Reza yang sebenarnya ingin menikmati tubuh indah Bulan. Tubuh dan wajah cantik Bulan memang sangat menggoda. Sekilas dia seperti anak kecil, namun tubuh dan wajahnya sudah seperti orang dewasa. Tak heran jika Reza dan temannya tertarik dengannya.
Setelah berjalan sekitar lima menit dari perbatasan, Bulan dan teman Reza tiba di gubuk yang ia maksud.
__ADS_1
Teman Reza menyuruh Bulan untuk berbaring di dalam. Sementara dia keluar dan melihat di sekitarnya untuk memastikan tempat itu aman untuk melancarkan aksinya.
......................