
Siang hari saat sinar matahari mulai teriknya, Rika dikejutkan dengan kabar bahagia dari dokter. Kakeknya hanya luka ringan dan hanya membutuhkan obat luar saja untuk menyembuhkan luka-luka lebam dan lecet di bagian wajah dan kakinya.
" Asyik, Kakek tidak kenapa-kenapa, syukurlah. Berarti langsung boleh pulang kan, Kek?"
" Iya, tapi tunggu tebus obatnya dulu." Ucap Kakek Rika sembari mengelus rambut Rika yang panjang dan indah.
" Kakek, Rika, kalian tunggu disini dulu. Aku akan mengambil obatnya, lalu kita pulang." Ucap Bono lalu melangkah meninggalkan Rika dan kakeknya di ruang tunggu pasien.
" Eh, Bono memangnya kamu punya uang? Ini uangnya yang untuk nebus obatnya." Ucap Rika sembari memberikan uang dua lembar seratus ribuan pada Bono.
" Rika, simpan saja uangmu. Aku masih memiliki uang kok. Biar aku saja yang membayarnya."
" Eh, jangan.. Aku nggak mau, uangmu itu hasil kejahatan. Aku nggak mau pakai uang haram."
" Sstttss.. Jangan keras-keras, Rika. Nanti orang akan mengira aku orang jahat. Aku juga memiliki tabungan sendiri hasil dari usahaku yang halal kok. Jangan khawatir." Ucap Bono sembari membungkam mulut Rika dengan rapat.
" Iiiihh... Bono, lepaskan. Aku nggak bisa bernafas! Plaakkk..." Ucap Rika lalu memukul Punggung Bono dengan tangan kanannya.
" Aduh.." Ucap Bono sambil memegang punggungnya.
" Sakit tidak?"
" Tidak.. Pukulanmu seperti hembusan angin saja."
" Oh, jadi begitu? Mau ku pukul lagi?"
" Eh, jangan.. Sakit Tuan Putri. Jangan memukulku lagi."
" Salah siapa tadi bilang nggak sakit, jangan salahkan aku kalau ku ulangi lagi."
" Boleh kalau mau memukul lagi, yang keras juga boleh. Tapi aku mau ganti rugi.."
" Beneran? Terus apa ganti ruginya? Kalau sanggup ku ganti ya ku ganti, kalau nggak sanggup ya kamu cari sendiri."
" Ganti ruginya, aku mau kamu menjadi milikku, Hehehe." Ucap Bono sambil tertawa kecil menahan malu karena ucapannya.
Rika pun juga tertawa mendengar ucapan Bono, sejenak dia melamun memandangi mata Bono yang tajam.
" Huuftt.. Kenapa melamun? Terpesona ya? Haha.."
" Enggak, jangan terlalu percaya diri. Aku hanya sedang melihat kejujuran dan ketulusan dari caramu berbicara."
" Lalu apa yang kau temukan, Rika? Apa aku sesuai dengan yang kau harapkan?"
" Aku belum menemukannya, aku masih ragu padamu. Aku takut kamu hanya ingin mempermainkanku, Bono."
" Huuuhh!" Bono menghela nafas, lalu pergi ke ruang pengambilan obat.
" Eh, kenapa? Kok bilang huuuhh? Jengkel sama aku? Kalau jengkel, berarti kamu sama saja dengan Reza."
" Tidak kok.." Ucap Bono lalu bergegas melangkah menuju ke tempat pengambilan obat.
Rika berlari mengikuti Bono yang berjalan dengan cepat. Dia masih belum puas dengan jawaban Bono.
" Bono, tunggu dulu. Katakan kenapa tadi bilang huuuh? Aku nggak mau kamu jengke dan membenciku." Rika merangkul lengan kekar Bono lalu mendekatkan kepalanya di lengan Bono.
" Aku tidak kenapa-kenapa Rika, kenapa kamu malah meninggalkan Kakek sendirian disana?"
" Eh iya, aku nggak sadar. Kenapa ku jadi begini sejak mengenal kamu? Hemhh." Rika melepaskan tangan Bono lalu melangkah kembali ke tempat Punto.
Bono melihat Rika yang lemah lembut seperti bidadari. Lalu hatinya bergetar ingin sekali memiliki dan melindunginya. Ia tak ingin ada laki-laki lain yang mampu membuat dia tergoda dan lebih memilihnya daripada Bono.
" Rika.." Panggil Bono sembari memegang tangan kanan Rika.
" Iya, kenapa?" Ucap Rika lesu.
__ADS_1
" Rika, mungkin bagiku sulit untuk meyakinkanmu kalau aku sudah berubah. Memang, sudah takdirku menjadi penjahat. Namaku akan terus tercemar sebelum aku membuktikan diriku bahwa aku telah berubah. Rika, aku tak tahu diriku ini apa pantas untukmu, dan aku tak tahu sampai kapan kau akan mengerti kalau aku sangat tulus ingin memiliki dan menjagamu."
" Bono, kita lihat dulu perkembangan hubungan kita. Kalau jodoh, yakinlah meskipun kita berjauhan, namun akan tetap dipersatukan. Jangan putus asa ya."
" Baiklah kalau begitu Rika. Aku akan menunggu kabar itu tiba. Kita akan menikah dan memiliki anak yang banyak." Ucap Bono sambil tersenyum.
Rika pun ikut tersenyum mendengar kata-kata Bono, lalu dia memuji Bono berharap Bono semakin luluh hatinya.
" Bono, kalau kamu senyum ternyata manis juga ya.." Ucap Rika.
" Hehe, apa yang kau katakan Rika? Jangan menggodaku."
" Aku berkata yang sebenarnya Bono, aku mencintaimu."
" Rika, sudahlah, aku tak ingin kau mengucapkan itu berkali-kali. Kau selalu bilang kalau masih ragu padaku, lalu buat apa kau bilang mencintaiku?"
" Bono, aku memang mencintaimu. Tapi jika bersamamu, aku masih takut. Setelah mendapatkan apa yang kau mau, lalu pergi meninggalkanku. Aku takut Bono. Aku nggak mau disakiti. Keinginanku hidup didunia ini hanya ingin menikah sekali. Aku harus mencari orang yang tepat, yang mampu setia bersamaku."
" Rika.. kamu boleh berbuat apa saja kepadaku jika aku menyakitimu dan hanya mempermainkanmu. Aku takkan menghindar, takkan berlari. Aku akan tetap disini sampai kau puas dengan balasanmu."
" Kau mudah bilang begitu. Tapi suatu saat jika terjadi seperti itu, kau akan menghindar dariku dan pergi menghilang tak tahu kemana. Lalu jika begitu, kemana aku harus mencarimu? Bono aku sungguh takut."
" Sudah Rika, jika itu hanya akan membebanimu. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Untuk mempertimbangkan lagi keputusan yang akan kau ambil. Sekarang kembalilah kepada Kakekmu, lihatlah dia seperti kebingungan. Aku akan mengambil obatnya dulu."
" Baiklah Bono, aku janji akan segera menghilangkan keraguanku."
" Itu harus, Rika."
Rika kembali menemani Punto yang duduk di ruang tunggu pasien. Dalam kesendiriannya di tinggal Rika dan Bono,dia sedang berpikir keras melawan rasa lelah yang hebat di sekujur tubuhnya.
" Kakek, maaf ya Rika meninggalkan Kakek sendiri disini. Tadi ada yang Rika ingin bicarakan dengan Bono. Nggak apa-apa kan, Kek?"
" Tidak apa-apa. Rika, Kakek mohon percayalah pada Bono. Jangan sampai membuatnya digantung. Dia butuh kepastian dari jawabanmu. Kakek takut, terlalu lama kau memberi keputusan, dia malah akan pergi meninggalkanmu. Kakek tahu kau menyukainya. Kakek pun juga sangat menyukainya. Dia sangat istimewa bagi Kakek. Kau akan sangat beruntung jika mendapatkannya, Rika. Kakek sangat yakin akan hal itu."
" Apa kakek bisa menjamin? Rika sungguh takut kalau setelah mendapatkan Rika, Bono lalu mencari kesenangan lain dan pergi meninggalkan Rika, Kek. Apa Kakek tidak khawatir dengan nasib Rika?"
" Maksud kakek bagaimana? Apa jika Bono pergi keluar, banyak wanita diluar sana yang menggodanya?"
" Bukan hanya itu Rika, tapi tentang teman-temannya diluar sana yang menjadi teman dalam kejahatannya. Kau harus bisa menguatkannya agar jangan sampai dia terbujuk rayu teman-temannya, untuk kembali kepada kebiasaan lamanya yang buruk."
" Baik kalau begitu Kek. Nanti Rika akan coba membuat janji dengannya. Jika melanggar ada hukuman yang harus di jatuhkan kepadanya."
" Hehehe.. Hukuman apa Rika? Kau membuatku menjadi tertawa. Setelah beberapa hari tak melakukannya. Rasanya lega sekali, ibarat Kakek tidak bisa buang air besar selama tiga hari."
" Rika belum tahu apa hukumannya, Kek. Tapi Rika memang harus membuat perjanjian dengannya. Rika nggak mau Bono hanya memanfaatkan kecantikkan Rika saja Kek."
" Hehe, ya sudah.. Kau pikirkan saja apa hukumannya jika dia berani melanggar janjinya. Rika, Bono sudah kembali. Kita sudahi saja membahas tentangnya."
" Oh, iya baik kek." Ucap Rika lalu diam menunggu Bono menuju kepadanya.
" Kakek, Rika, ini obatnya. Diminum sesuai petunjuk yang ada di wadah obat itu ya. " Ucap Bono lalu memberikan obat untuk Punto pada Rika.
" Iya Bono, terima kasih sudah mau membantu Kakek. Aku senang sekali, ternyata di rumah sangat membutuhkan sekali tenaga laki-laki." Ucap Rika sambil tersenyum dan berharap Bono mengerti akan maksud Rika.
" Nak Bono, Aku juga berterima kasih kepadamu. Sudah menjadi malaikat penolong bagi kami. Aku tak tahu apa jadinya jika tak ada kamu. Terlambat semenit saja, pasti akan menimbulkan gangguan mental untuk Rika."
" Sama-sama Kakek, Rika.. Aku senang bisa membantu kalian. Mudah-mudahan apa yang kulakukan, akan membuat masalah yang kalian hadapi menjadi sangat mudah untuk dilalui."
" Iya Bono, itu pasti. Kalau begitu kita segera pulang saja. Kakek perlu istirahat."
" Oh iya, wajah kakek juga pucat. Kakek tak apa-apa kan? Apa masih merasa sakit kek?" Ucap Bono sembari mengamati wajah Punto yang tiba-tiba memucat.
" Kalau begitu cepat kita pulang Bono. Kakek sepertinya kelelahan."
" Baiklah Rika, ayo Kek, naik kursi roda untuk keluar dari sini."
__ADS_1
" Iya nak Bono, kamu sungguh luar biasa. Aku sangat mengagumimu Nak Bono."
" Eh, terima kasih Kek. Sudahlah Kakek istirahat saja. Jangan banyak bicara dulu. Nanti kalau sampai rumah aku akan membangunkan kakek."
Punto pun terdiam. Dia memang sedang memaksakan tenaganya untuk bisa berbicara pada Bono. Ada sesuatu hal yang mengganjal dipikirannya untuk di bicarakan dengan Bono.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Punto kembali berbicara pada Bono meskipun harus menguras tenaganya.
" Nak Bono, aku ingin memohon dengan sangat kepadamu. Berjanjilah kepadaku kalau kau akan benar-benar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, untuk Rika."
" Kakek, aku berjanji kepadamu. Tak perlu kakek berjanji begitupun, aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku akan menjaga Rika dengan segenap jiwa dan ragaku. Kakek tak perlu memikirkan hal yang tak ada gunanya. Percayalah padaku Kek."
" Baiklah Nak Bono, Kakek senang mendengarnya. Kakek lega sekarang. Rika, kau sudah mendengar ucapan Nak Bono. Tak ada alasan lagi, kau untuk ragu kepadanya."
" Iya, kek.. Rika akan membuang perasaan ragu Rika kepada Bono." Ucap Rika dengan wajah malu hingga membuatnya tertunduk karena Bono melirik ke arahnya.
Usai berkata, Punto merasakan tubuhnya seakan sangat ringan. Sepertinya beban yang selama ini dia pikul, kini telah banyak bekurang. Bahkan sudah tak ada lagi beban yang memberatkan dirinya.
" Rika, kakek lega sekarang kau sudah menemukan orang yang tepat untukmu. Sekarang tugas kakek di dunia ini sudah selesai. Kakek harus pergi meninggalkan kalian. Sepertinya Malaikat maut sudah datang menjemputku. Dia sudah berada disampingku Rika. Selamat tinggal Kalian. Jaga diri kalian baik-baik." Ucap Punto dalam hati, lalu melepaskan hembusan nafasnya yang terakhir tanpa memberikan pertanda kematiannya pada Rika maupun Bono.
Hingga separuh lebih perjalanan dari rumah sakit, Bono memecah keheningan didalam mobil. Dia mengerem mendadak secara lembut mobilnya, berharap membuat Rika terbangun dari tidurnya.
" Eh, ada apa Bono? Apa kau melihat sesuatu?" Tanya Rika sembari mengucek matanya, karena pandangannya kabur setelah terbangun dari tidurnya.
" Rika, sepertinya Kakek merasa lelah sekali. Tidurnya sepertinya sangat nyenyak." Tebak Bono pada Punto setelah melihat dari spion dalam mobilnya.
Rika kembali tidur lalu menyahut kata-kata Bono dengan singkat.
" Iya Bono."
Bono tersenyum kecil, berharap Rika menemaninya bicara di sepanjang perjalanan, namun Rika malah kembali tertidur.
Tiba di perbatasan desa, Bono mulai merasa curiga dengan Punto yang tertidur namun sepertinya perut dan dadanya tak terlihat mengembang mengempis tanda bernafas. Dia lalu menghentikan mobilnya dan mencoba membangunkan Rika dengan memanggilnya.
" Rika, Rika.. Bangunlah."
" Hemm.. Ada apa Bono? Sudah sampai?" Ucap Rika sembari menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.
" Coba periksa Kakekmu, aku sepertinya merasakan sesuatu yang buruk terjadi padanya."
" Kakek, kek.." Rika mencoba membangunkan Punto, namun Punto tak bergerak sedikitpun.
" Rika, coba periksa detak jantungya. Sepertinya.."
" Kenapa Bon? Baiklah aku akan memeriksanya. Maaf ya Kek." Rika mengalungkan tangan kiri kakeknya ke lehernya lalu dia memeluk Punto dan menempelkan telinganya di dada kiri Punto.
" Bagaimana Rika?" Bono mulai was-was dengan apa yang akan terjadi setelah itu.
" Bono! Kakek? Kakek sudah meninggal!" Ucap Rika lalu menangis memeluk Punto dengan erat.
" Apa? Apa mungkin Rika? Dokter berkata Kakek tidak kenapa-kenapa."
Bono lalu turun dari mobilnya dan bergegas berpindah ke belakang untuk mengecek keadaan Punto.
Setelah mencoba berbagai cara untuk mengembalikan detak jantung Punto, Bono merasakan keputusasaan. Dia sudah terlambat menyadarinya.
" Kakek!!! Jangan tinggalkan Rika Kek!! Kakek!!!" Rika menangis menjerit meratapi kepergian Punto.
Bono mencoba menenangkan Rika agar tak menjerit lagi yang akan mengundang orang datang menuju ke arah mobilnya.
" Rika, tenangkan dulu hatimu. Jangan menangis. Masih ada aku disini. Ayo kita lanjutkan perjalanan ke rumah. Jangan mengundang perhatian warga. Jika sudah tiba dirumah, kita akan umumkan kematian Kakek."
" Baik Bono." Rika menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk Punto dengan erat.
" Rika, Kakek, maafkan aku. Aku tak menyadari semuanya. Namun semua sudah terlambat. Ba****an, kalian akan menanggung semua perbuatan kalian! Beraninya kalian mengkhianatiku! Aku akan mencari kalian dan membunuh kalian!" Teriak Bono dalam hati, merasa marah besar karena pengkhianatan dan kebohongan dokter juga perawat yang menjadi temannya."
__ADS_1
......................