SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEDATANGAN TAMU


__ADS_3

" Tama.. Ada apa Nak?" Tanya Rani penuh keheranan.


Tama mengacungkan jari telunjuknya ke luar rumah. Rani mengikuti kemana Tama mengacungkan jari telunjuknya.


Rani pun keluar rumah diikuti Tama yang memegang tangan kanan Ibunya dengan sangat erat.


" Eh, ada tamu. Ada perlu apa Mas, kok kamu datang kemari hingga membuat anak saya ketakutan?"


" Apa kamu pemilik lahan di puncak bukit ini?" Tanya Wijaya dari luar pagar.


" Iya, ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?"


" Aku mau membeli tanahmu ini. Berapapun harga yang kamu patok, aku akan membelinya."


" Maaf, aku tidak menjualnya. Ini adalah peninggalan leluhur kami yang harus kami lestarikan."


" Peninggalan leluhur? Maksudmu warisan dari orang tuamu?"


" Iya, tentu saja. Kami diberikan amanah untuk menjaganya. Kami tidak diizinkan untuk menjualnya kepada siapapun."


" Apa orang tuamu masih ada? Aku ingin bertemu dengannya."


" Maaf, kedua orang tuaku sudah meninggal. Disini hanya aku yang diberikan amanah untuk menjaga tanah ini."


" Jadi begitu, apa aku boleh masuk ke rumahmu?"


" Eh maaf, di rumah hanya ada aku dan anak-anakku yang masih kecil. Aku tidaj diizinkan membawa masuk orang lain, terutama seorang laki-laki masuk kedalam rumahku."


" Siapa yang menyuruhmu demikian? Apa suamimu?"


" Tentu saja, Orang tuaku dahulu juga pernah berpesan seperti itu."


" Eh, sebentar. Kalau boleh tahu, siapa namamu? Aku benar-benar ingin membeli lahanmu ini. Berapapun yang kamu minta, akan ku berikan."


" Namaku Rani. Maaf tapi sayang sekali aku tak menjualnya. Kalau sudah tak ada yang ingin dibicarakan, pergilah. Aku nggak mau kedatanganmu membuat anakku ketakutan."


" Kenapa kamu keras kepala? Apa kamu tak butuh kemewahan? Semua wanita butuh kemewahan, butuh banyak uang. Punya mobil rumah bagus dan sebagainya. Apa kamu tak tertarik?"


" Maaf, aku tidak tertarik. Aku lebih suka hidup apa adanya. Hidup begini saja sudah membuatku bahagia. Aku tak membutuhkan sesuatu yang lebih dari ini."


Wijaya terdiam, dia kehabisan akal untuk bisa melunakkan hati Rani agar mau menjual tanahnya. Baru kali ini dia menemui wanita yang teguh pendiriannya. Tidak banyak wanita yang seperti dirinya.


" Siall.. kenapa wanita ini sangat teguh. Aku tak bisa membujuknya sedikitpun. Dan suaranya sangat lantang. Aku tak suka wanita seperti ini. Apa ku bunuh saja dia dan merebut sertifikat tanahnya." Ucap Wijaya dalam hati.


" Kenapa kamu diam? Pergilah, saya juga akan masuk ke dalam rumah untuk mencuci." Ucap Rani lalu membawa Tama bergegas melangkah masuk ke dalam rumah.


" Tunggu! Aku belum selesai bicara." Wijaya mencegah Rani masuk ke dalam rumahnya.


" Ada apa lagi? Jika kamu masih ingin membahas tanahku ini, kembalilah nanti saat suami dan anak-anakku yang lain pulang. Sebagai wanita, aku tak berhak berunding tentang sesuatu dengan laki-laki yang bukan mahramku."


" Cihh.. Sok suci! Ku akui kamu sangat cantik bagiku. Tapi kamu bukan seleraku. Ucapanmu keras seperti pendirianmu. Aku tak suka wanita sepertimu."


" Kalau begitu pergilah, kenapa masih berada disini. Pergilah dan jangan pernah kembali lagi."


Mendengar kata-kata Rani yang semakin keras, tiba-tiba saja emosi Wijaya menjadi memuncak. Dia kemudian menatap wajah Rani dengan sangat tajam. Kemudian dia mulai tertarik dengan bagian bawah tubuh Rani. Karena sudah terbiasa memakai daster pendek saat sehabis melahirkan, Rani menjadi keterusan memakai daster pendek. Wijaya melihat ke bagian bawah perut Rani. Nafsu Wijaya menguasai seluruh tubuhnya. Dia pun mencoba memasuki pagar rumah Rani dengan melompat ke atas.


" Apa yang kamu inginkan? Jangan masuk ke rumah orang tanpa izin. Aku tidak mengizinkanmu masuk. Pergi!" Ucap Rani ketakutan.

__ADS_1


" Hahaha.. Siapapun tak kan ada yang bisa menghentikan niatku Rani. Kemarilah, ayo bermain denganku. Kamu sungguh membuatku tergoda. Aku mencintaimu Rani." Ucap Wijaya sembari melangkah maju mendekati Rani.


" Jangan mendekat! Ku mohon! Pergilah!" Ucap Rani sembari menangis dan berjalan mundur.


" Rani, aku sudah lama menduda. Aku sudah lama tidak bercinta. Hari ini kamu sungguh membuatku bergairah. Ayolah, layani aku dan aku akan memberimu kepuasan yang selama ini belum pernah ki berikan pada wanita lain. Hahaha.."


"Kurang ajar! Dasar laki-laki mesum. Pergi!" Bentak Rani sambil terus berjalan mundur mendekati pintu rumahnya.


Tama hanya berdiri dan memegang tangan Rani dengan erat. Dia pun ikut menangis melihat Ibunya menangis.


" Ayolah Rani.. Jangan membuatku kecewa. Atau kau akan menyesal. Minimal sepuluh menit saja bermain denganku. Untuk mengobati hasrat dalam diriku yang sudah lama terpendam."


" Pergi! Aku bilang pergi!" Ucap Rani lalu meraih gagang pintu lalu masuk ke rumah dan mengunci pintu depan rumahnya.


" Brengsek! Rani! Buka pintunya!" Wijaya menggedor-gedor pintu rumah Rani.


" Pergi! Jangan ganggu kami. Pergi!" Pinta Rani sambil menangis dan menjerit.


Melihat Ibunya menangis dan berteriak, Tama pun ikut membantu mengusir Wijaya.


" Pergi.. Pergi.." Pinta Tama sembari melihat ke arah Wijaya dari jendela depan rumahnya.


" Rani! Buka. Baiklah kalau kau tidak mau. Aku akan memintamu dengan jaln menikahimu! Rani, keluar!"


" Aku sudah mempunyai Suami, aku hanya ingin menikah sekali dalam hidupku. Pergi! Tinggalkan kami!"


" Wanita sialan! Aku sudah siap bercinta Rani! Cepat keluar!" Teriak Wijaya sambil menggedor-gedor pintu rumah Rani semakin keras.


Tak lama kemudian, melesat mobil sedan hitam yang di tumpangi Wira dan Novi. Lalu berhenti di depan pintu pagar rumah Rani.


" Hei Kamu! Apa yang kau lakukan di rumah adikku?" Teriak Wira setelah tahu ada seorang laki-laki bertubuh kekar yang mencoba mendobrak pintu rumah Rani.


" Ada apa Pak Wira?" Tanya Novi kemudian ikut turun dari mobil dan mengikuti Wira.


" Lihat Novi, ada seorang laki-laki yang mencoba mendobrak pintu rumah adikku."


" Memangnya dia siapa, Pak Wira?"


" Aku tidak tahu Nov, pintu ini di gembok. Aku akan melompati pagar ini."


" Baiklah Pak, saya akan menunggu dalam mobil terlebih dahulu."


Wira mencoba melompati pagar. Dengan sekali lompatan, dia berhasil melewati pagar setinggi tiga meter dan turun tepat di depan teras rumah Rani.


" Hei Ba****an! Ada apa kau datang kemari dan menggedor-gedor pintu rumah adikku! Pergi!"


Wijaya menoleh ke arah suara itu. Lalu dia tersenyum sinis.


" Oh, kau Wira. Kenapa kamu sampai disini? Ada urusan apa kamu kemari?"


" Tentu saja aku mau bertemu pemilik rumah ini. Apa yang kau lakukan Wijaya!"


" Aku menyukai wanita yang ada di rumah ini. Dia membuatku terpesona. Aku sangat menginginkannya."


" Dia Adikku Jay! Dia masih mempunyai suami. Kau tak berhak mengambilnya!"


" Apa? Kau bilang adikmu? Hahaha.."

__ADS_1


" Iya, kenapa? Apa kau puas?"


" Aku baru tahu kalau kau mempunyai adik wanita. Wira, aku meminta izin padamu. Aku ingin menjadikannya sebagai istriku."


" Dia sudah bersuami Jay! Apa kau tak mendengarku?"


" Aku tak Peduli Wira! Kalau perlu, aku akan membunuh suaminya agar dia kehilangan suaminya dan menjadikan dia sebagai milikku."


" Jangan gila Jay, pergilah! Cari wanita lain yang pantas untukmu. Rani adalah wanita yang terlindungi. Kau tak boleh menyentuhnya sembarangan."


" Terlindungi katamu? Bahkan dia sudah memiliki dua orang anak, berarti dia sudah tak suci. Minggir Wira! Jika kau terus melawanku, kau akan mati ditanganku!"


" Kau tetap keras kepala Jay? Baiklah aku akan mengusirmu dengan paksa! Hyaatt!!" Wira menendang punggung Wijaya dengan kuat hingga dia terlempar keluar pagar.


" Kurang ajar kamu Wira! Jangan sampai kau menyesal telah menyerangku! Aku akan kembali dan membuat perhitungan denganmu!" Ucap Wijaya lalu bergegas meninggalkan rumah Rani.


" Rani, buka pintunya. Kamu sudah aman. Keluarlah adikku." Pinta Wira pada Rani yang masih merasa ketakutan di dalam rumahnya.


" Tama, itu suara Kakak Ibu. Ayo kita keluar. Lihat apa yang terjadi."


Rani perlahan membuka pintu. Di depan pintu, Wira sudah berdiri di dampingi Novi yang mengenakan daster sama seperti Rani.


" Mas Wira, Novi.. Aku takut banget. Siapa orang tadi? Kenapa dia tiba-tiba datang ke rumah dan mengganggu kami?"


" Ran, kamu tak mengenalnya?"


Rani menggelengkan kepalanya. Lalu dia bertanya lagi pada Wira.


" Siapa dia Mas? Untung saja Mas Wira datang, kalau tidak aku mungkin sudah diperkosa olehnya. Aku takut mas sendirian dirumah."


" Hem, sudah ku duga. Dia pasti masih jahat seperti dulu. Dia Wijaya, Ran. Eh Rani, apa dia tahu kalau kamu Rani teman sekolahnya?"


" Tidak mas, dia tahu namaku tapi.. Jadi dia itu Wijaya teman sekelas kita Mas?"


" Iya Ran. Dia sangat kejam. Sekarang dia menjadi penguasa nomer satu di dunia kejahatan. Ya bisa dibilang dia seorang mafia Ran."


" Mas aku takut. Bagaimana kalau dia datang lagi kemari. Aku nggak mau berada disini sendirian. Kalian tinggal dirumahku saja ya."


" Ran, untuk sementara ini kamu aman. Dia tak kan datang lagi dalam waktu dekat. Dia itu orang yang sangat sibuk. Tak mungkin baginya untuk meluangkan waktu ditempat ini hingga berhari-hari."


" Lalu bagaimana? Jadi ini mungkin bahaya yang mengancam keluargaku dalam mimpi itu Mas."


" Bisa jadi ini hanya kebetulan saja Ran, jangan mengait-ngaitkan mimpi-mimpi kalian dengan kejadian yang belum tentu akan terjadi. Itu hanya akan membuat kalian dilanda keresahan."


" Mas, kamu nggak tahu perasaan kami seperti apa. Mimpi itu seperti nyata, kami semua mengalami mimpi yang sama. Dan semua bilang kalau mimpi yang kami alami seperti nyata."


" Aku tahu itu Ran, tapi sebaiknya jangan terlalu memikirkan itu. Apa yang ada dipikiranmu itu bisa jadi yang akan menimbulkan bencana untuk kalian sendiri. Berpikirlah positif Ran."


" Mas, kata-katamu saat ini membuatku merasa lebih tenang. Tapi kalau kamu ta disini, aku sangat khawatir Mas. Apalagi tadi Wijaya berniat ingin memaksaku bercinta dengannya."


" Hemh, Wijaya memang sudah gelap mata. Lain kali aku akan memberinya pelajaran lebih agar jangan berbuat kurang ajar."


" Pak Wira, saya akan menghentikannya. Saya sudah lama tak mengasah kemampuan saya. Rasanya badan saya menjadi berat karena tak pernah berlatih lagi dan tak pernah beradu dengan musuh." Novi menyela pembicaraan Wira dan Rani.


" Nov, badanmu berat bukan karena lama tak berlatih. Tapi kamu sedang hamil tua. Apa kamu tak menyadari kalau kamu sudah hamil tua?"


Novi tersenyum, dia malu mengatakannya. Karena apa yang dirasakannya, memang karena sedang hamil tua. Novi pun terdiam dan mengelus-elus perutnya yang buncit sambil berdoa agar kelak lahir dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2