
Tiba dirumahnya, Harjo tampak sangat kelelahan. Ia merasa sangat putus asa. Demi membeayai kedua cucunya, ia harus berpikir keras untuk mencari uang yang tak sedikit diusia senjanya. Tama merasa sangat sedih. Ia lalu pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Harjo.
Harjo pun meminum segelas air putih dari Tama. Keringat mulai bercucuran setelah ia menghabiskan satu gelas air minum dengan cepat. Namun perasaannya sedikit tenang. Tama memberinya angin sejuk dengan mengipasinya menggunakan kipas yang terbuat dari bambu.
Harjo tersenyum, Ia lalu menatap Tama dalam-dalam. Tama tak tahu apa yang sedang Harjo lihat. Namun ia membiarkan Harjo menatap dirinya.
" Tama.."
" Ia, Kek.."
" Kakek bangga padamu. Jadilah anak yang hebat. Kakek yakin orang tuamu juga menginginkan apa yang Kakek inginkan. Pupuklah persaudaraan diantara kamu dengan Khalid. Jangan sampai kalian tercerai berai. Itu pesan Kakek. Berjanjilah untuk Kakek."
" Aku janji, Kek. Aku akan ingat selalu pesan Kakek. Tapi meskipun Kakek tidak berpesan kepadaku, aku pasti akan selalu bersama Kak Khalid."
" Bagus..itu yang Kakek harapkan." ucap Harjo sembari tertawa hingga terbatuk-batuk.
Tak berapa lama kemudian, Khalid tiba di rumah. Ia pulang dengan wajah yang tampak muram. Tubuhnya lesu seperti tak berdaya. Setelah Ia menyandarkan sepedanya di pohon, Ia lalu masuk ke dalam rumah. Ia menemukan Harjo yang sedang berbicara dengan Tama.
" Kakek aku pulang." ucap Khalid sembari mencium tangan Harjo.
" Syukurlah kamu sudah pulang, Khalid. Kemarilah.." ucap Harjo dengan terbatuk-batuk.
" Iya, Kek. Ada apa, Kakek menyuruhku kemari?"
" Duduklah..Kakek ingin bicara pada Kalian." ucap Harjo sembari mengatur nafasnya.
Khalid dan Tama penasaran dengan Harjo. Mereka tidak berharap Harjo mengatakan hal yang buruk pada mereka. Apalagi tentang sekolah. Tama dan Khalid sama-sama tak ingin putus sekolah.
" Ada yang ingin Kakek sampaikan pada kalian. Apa kalian sudah siap?" ucap Harjo sembari mengusap keringatnya yang mengalir di wajahnya.
" Kakek ingin menyampaikan apa?" tanya Khalid.
" Kami sudah siap, Kek." ucap Tama.
" Khalid, ambilkan buku berwarna hijau di almari itu." pinta Harjo sembari mengacungkan tangannya ke sebuah almari tua yang sudah hampir rapuh dimakan usia.
" Baik, Kek." ucap Khalid lalu dengan segera mengambil sebuah sertifikat tanah milik Harjo, setelah Ia membuka almari.
" Iya benar, yang itu Khalid. Tolong bawa kemari."
" Iya, Kek.."
Tama penasaran dengan Buku hijau yang dibawa Khalid. Ia seperti mengetahui buku itu. Buku itu mirip dengan buku hijau yang ada dirumahnya. Ia lalu iseng bertanya pada Harjo.
" Kek, itu apa?" tanya Tama.
" Ini adalah sertifikat tanah milik Kakek. Yah..walaupun lahannya kecil, tapi sekarang harganya sangat mahal."
__ADS_1
" Lalu untuk apa Kakek mengambil sertifikat itu?" tanya Khalid.
" Khalid, Tama..ini adalah harta Kakek satu-satunya. Kakek tak punya apa-apa lagi."
" Lalu Kakek mau apakan sertifikat itu?" tanya Tama sembari memegangi tangan Harjo yang terasa dingin.
" Tama, Khalid..apa kalian akan tetap ingin melanjutkan sekolah hingga selesai?"
" Iya, Aku sangat menginginkannya." ucap Khalid.
" Kakek, aku juga ingin sekolah seperti Kakak kembarku. Aku ingin menjadi anak yang pintar." ucap Tama.
" Baiklah..aku senang mendengarnya. Khalid..aku percayakan buku ini kepadamu. Berikan sertifikat ini pada Kepala Sekolah untuk jaminan pendidikan kalian."
" Jadi, Kakek akan menjual rumah Kakek? Lalu kita akan tinggal dimana?" ucap Khalid karena terkejut dengan ucapan Harjo.
" Kalian masih bisa tinggal disini. Sertifikat itu bukan sertifikat tanah ini. Tapi tanah Kakek di tempat lain. Berikan saja pada Kepala Sekolah agar kalian tetap bisa sekolah hingga perguruan tinggi."
" Tapi, Kek.. Ini milik Kakek. Aku tidak mau menerimanya. Lebih baik aku tidak bersekolah daripada menyusahkan Kakek." ucap Khalid.
" Kamu harus menerimanya. Khalid. Itu jalan satu-satunya untukmu dan Tama bisa sekolah. Jangan pikirkan Kakek. Kakek sudah tak punya siapa-siapa lagi. Kalian lah yang akan mewarisi apa yang Kakek miliki."
" Kakek, aku janji akan sekolah dengan uangku sendiri. Aku akan mencari uang yang banyak agar bisa sekolah." ucap Tama.
" Tama..kamu mau cari uang dimana? Dan bagaimana kamu akan mencari uang? Fokuslah belajar. Biar Kakek yang menjamin beaya sekolah kalian."
" Percayalah pada Kakek, tanah ini berharga ratusan juta. Cukup untuk beaya kalian berdua sekolah. Jangan Khawatir."
" Kalau begitu biar Kakek saja yang simpan. Kenapa harus dikasihkan aku?"
" Khalid.. Besok, sertifikat itu berikan pada Pak Zamani. Kakek menuliskan surat juga untuknya. Ambilkan amplop di bawah bantal Kakek di tempat tidur."
" Baik, Kek."
Khalid segera pergi ke kamar Harjo. Ia lalu membuka bantal yang tertata rapi. Ia lalu mengambil sebuah amplop dari bawah bantal itu.
" Ini, Kek?"
" Iya.. Nah, besok berikan amplop ini pada Pak Kepala Sekolah beserta buku hijau yang kamu bawa itu. Katakan saja padanya, kalau Kakek memberikan itu untuk jaminan sekolah kalian."
" Kenapa tidak Kakek sendiri saja yang ke sekolah? Aku takut salah, Kek. Aku selalu dimarahi Guru-Guruku meskipun aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku tidak ingin sekolah di situ lagi."
" Bersabarlah, Khalid..kuatkan dirimu. Jangan putus asa dengan kelakuan mereka terhadapmu. Kamu harus bisa mengendalikan dirimu jika kamu ingin sukses."
" Kak, apa benar Guru-Guru Kakak itu jahat?" tanya Tama yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Harjo dan Khalid berbicara.
" Iya..aku tidak tahu salahku apa, yang penting mereka suka memarahiku tanpa sebab. Aku jadi malu sama teman-temanku."
__ADS_1
" Tama, Khalid..Sudah tidak usah mempedulikan sikap mereka. Itu malah akan membuat kalian menjadi kuat. Kuat mental dan kuat fisik. Percaya pada Kakek. Yang penting kalian jangan putus asa. Pasti mereka juga akan lelah sendiri dengan sikap mereka, kalau kita itu tak mempedulikannya."
" Baik, Kek." ucap Khalid dan Tama bersamaan.
" Ya sudah..kalau begitu Kakek mau istirahat dulu. Hari ini Kakek sangat lelah sekali." ucap Harjo lalu masuk ke dalam kamarnya.
" Tama..apa kamu merasa aneh dengan sikap Kakek?"
" Aneh kenapa, Kak. Dia tetap Kakek, bukan orang lain."
" Ah..kamu itu tidak tahu. Aku merasa ada yang aneh dengan Kakek. Wajahnya tidak segar seperti biasanya. Apa mungkin semalam Kakek tidak tidur karena menulis surat ini?"
" Iya..wajah Kakek juga agak pucat hampir seperti keluargaku yang telah meninggal."
" Hushh..jangan begitu. Apa kakek sakit, ya?"
" Coba Kakak tanyakan saja pada Kakek. Kalau sakit kita harus bawa Dia ke Dokter."
" Baiklah, aku akan coba menanyakannya. Tapi aku tidak berani mengetuk pintu kalau Kakek sudah masuk kedalam Kamar. Aku takut membuatnya terkejut."
" Biar aku saja, Kak. Aku akan memanggilnya dari luar."
" Baiklah, Tama. Hati-hati jangan sampai membuat Dia Kaget. Dia sudah sangat tua."
Tanpa rasa takut, Tama mendekati kamar Harjo. Ia lalu memanggilnya lalu menanyainya.
" Kek, apa Kakek sakit?"
Harjo menjawab dengan nada serak." Tidak, Tama. Kakek hanya merasa kelelahan. Jangan Khawatir."
" Kalau begitu biar Tama pijit, boleh tidak? Aku bisa kok, memijit."
" Tidak usah, Tama. Lebih baik kamu bermain sama Kakakmu. Atau kalau mau mencari ikan, boleh. Tapi jangan lama-lama. Jangan jauh-jauh." ucap Harjo.
" Tapi bagaimana dengan Kakek?"
" Nanti juga sembuh sendiri kalau Kakek sudah istirahat. Pergilah, Tama."
" Hemhh..baik, Kek. Aku akan mengajak Kak Khalid mencari ikan."
" Kenapa, Tama?" tanya Khalid.
" Kakek tidak apa-apa. Katanya hanya kelelahan. Kakek bilang kita disruh mencari ikan."
" Baiklah..kalau begitu, ayo kita ke sungai! Kita cari ikan yang banyak!" seru Khalid.
Tanpa curiga, Khalid dan Tama pergi ke sungai untuk mencari ikan. Dengan berbekal alat pancing seadanya, mereka pergi menuju sungai yang tak jauh dari rumah Harjo. Sementara itu, Harjo merasakan tubuhnya sangat dingin. Ia mengambil selimutnya lalu menyelimuti dirinya hingga sampai kepala. Dalam hati dia bertanya-tanya, ada apa dengan dirinya.
__ADS_1
......................