SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEMUNCULAN BAGUS


__ADS_3

" Bagus? apa yang sedang kau lakukan disini?! Apa kau mengikuti kami?!" tanya Wijaya setelah Bagus muncul dihadapannya.


" Jadi, Bos mengenalnya?" tanya Reza.


" Iya, dia security di sekolahnya Vina. Aku tak tahu, ada angin apa dia menuju kemari."


" Tuan Wijaya yang terhormat, hentikan perbuatan Anda. Saya merasa sangat bersalah karena telah berkata yang membuat Anda menjadi murka pada Pak Tanu."


" Apa maksudmu, Gus? Kau ingin menghentikanku?"


" Saya tak ingin keluarga Pak Tanu hancur. Cukup sudah Anda membunuh anak dan istrinya. Jangan teruskan lagi, Tuan."


" Bagus... kau pikir dirimu siapa? Aku adalah Wijaya, tak ada siapapun yang bisa menahanku ketika aku sudah bergerak. Apa kau mau mencari mati, Gus?"


" Bos, kita habisi saja dia. Saya sudah tak sabar ingin bermain dengan gadis itu." ucap Reza sembari menelan ludahnya karena menahan gejolak nafsunya ketika melihat Bulan.


" Tuan Wijaya, saya mohon. Dengarkan perkataan saya. Saya sangat menghormati Anda, tolong jangan teruskan lagi perbuatan Anda. Pak Tanu adalah orang yang sangat baik. Dia selalu membuat saya merasa berhutang budi dengannya.


Dan ketika Ibu saya sakit, Pak Tanu lah orang pertama yang memberikan Ibu saya bantuan. Saya akan sangat merasa berdosa sekalu jika sampai Anda membantai semua anggota keluarganya."


" Hahaha.. itu tak ada hubungannya denganku, Gus. Aku melakukan ini bukan hanya karena perkataanmu. Tetapi aku memang telah punya dendam yang masih tersimpan rapat dalam darahku, Gus. Kau tak bisa mempengaruhiku."


" Saya mohon, Tuan. Hentikan perbuatan Anda. Jika tidak, saya yang akan menghentikan Anda."


" Hahaha.. Bagus, Bagus. Apa yang kau punya sekarang ini? Beraninya kau melawanku! Apa kau tak sayang nyawamu?"


" Saya melakukannya karena saya ingin Anda menghentikan kejahatan Anda, Tuan. Pak Tanu orang yang sangat baik, saya takkan membiarkan Anda menghabisi seluruh anggota keluarganya. Sudah cukup, Tuan Wijaya!"


" Kurang ajar! Reza.. beri dia pelajaran!" Wijaya murka lalu menyuruh Reza menghajarnya.


" Baik, Bos. Hei kamu.. serang orang itu!" Perintah Reza pada bawahannya yang tinggal satu-satunya yang masih hidup.


" Baik, Ketua.." ucap teman Reza lalu dengan segera menyerang ke arah Bagus.


Perkelahian kembali terjadi. Kali ini Bagus melawan teman Reza. Sementara Wijaya dan Reza lebih memilih menonton pertarungan Bagus dan anak buahnya.


" Bos.. sepertinya orang itu cukup hebat. Anak buah saya bisa kalah. Bolehkah saya membantunya?" pinta Reza ketika ia melihat temannya sudah mulai kewalahan menghadapi Bagus.


" Tidak perlu, Za. Biarkan anak buahmu mati. Dia harus membuktikkan kesetiaannya kepadamu."


" Tapi.. dia teman saya yang tersisa, Bos. Teman saya yang saya suruh mengejar gadis itu ternyata sudah tewas. Orang itu juga yang telah membunuhnya."


" Reza.. kau salah memilih teman. Aku bisa merasakan teman-teman yang kau jadikan anak buah, bukanlah orang yang baik untukmu. Biarkan mereka mati ditangan orang lain, tapi bukan ditanganmu sendiri."


" Apa? apa Bos bisa membaca hati mereka? Maafkan saya yang telah gegabah dalam memilih anak buah, Bos."

__ADS_1


" Aku hanya bisa merasakan hal yang buruk saja pada anak buahmu, Za. Tapi aku tak bisa membaca hati mereka."


" Baiklah, Bos.. lain kali, saya akan lebih berhati-hati dalam memilih orang menjadi pengikut saya."


" Itu harus, Za. Kalau begitu kita tinggal melihat kematian temanmu saja. Aku yakin si Bagus bisa mengalahkannya."


" Saya juga merasa begitu, Bos." ucap Reza lalu kembali mengamati pertarungan Bagus dan temannya.


Hingga pertarungan berjalan sepuluh menit, teman Reza sudah tak mampu melawan Bagus. Bagus pun berhenti menyerangnya. Lalu ia melangkah maju mendekati Reza dan Wijaya.


" Ketua, maafkan aku. Aku tak bisa mengalahkanya." ucap teman Reza lirih karena menahan sakit.


" Tak apa.. apa kau terluka dan sakit parah?" tanya Reza.


" Tenagaku sudah habis. Aku juga terluka parah. Tolong aku, Ketua.


" Baiklah, aku akan menolongmu. Luka ditubuhmu itu sepertinya membuatmu sangat menderita, aku akan membantumu mengurangi rasa sakitmu."


" Maksudmu apa, Ketua?" tanya teman Reza dengan nada gemetar. Ia merasakan ketakutan yang hebat.


Usai berkata, teman Reza tiba-tiba meledak dan tubuhnya hangus seperti terbakar, setelah Reza dengan diam-diam mengeluarkan jurus andalannya.


Bagus terkejut melihat kejadian itu, Bulan dan Tanu yang sudah tak lagi berdaya juga merasa sangat putus asa. Orang yang mereka hadapi sekarang ini, bukanlah orang biasa. Tak ada yang bisa menghentikannya.


" Tuan, itu adalah anak buah Anda. Kenapa Anda juga membunuhnya?! Anda sangat kejam sekali!" ucap Bagus pada Wijaya.


" Hei, kamu! memangnya kenapa kalau aku membunuhnya?! Kau pun akan merasakan hal yang sama dengannya. Bersiaplah!"


" Tunggu, Reza! Jangan terburu-buru! Tunggu perintahku!" bentak Wijaya.


" Maaf, Bos.. saya haus membunuh. Lagipula dia hanyalah seorang penghalang."


" Itu urusanku! Kau tak perlu ikut campur. Jangan merasa dirimu seorang Bos, Za! Masih ada aku disini!"


" Maafkan saya, Bos. Saya telah lancang. Baiklah, terserah Bos saja. Lakukan apa yang ingin Bos lakukan terhadap orang ini."


" Bagus.. menyingkirlah dari sini. Aku harus memusnahkan Tanu dan keluarganya. Kau tak tahu tentangnya, Gus. Akulah yang lebih tahu, karena dia temanku. Aku pernah sakit hati kepadanya. Kau tak tahu apa-apa tentang dia. Aku lah yang lebih mengerti dia daripada kamu, Gus."


" Tuan Wijaya, jangan kaitkan masa lalu dengan masa sekarang. Orang itu tidak selamanya akan menjadi buruk. Buktinya, Pak Tanu selama saya mengenalnya, dia sangat baik pada semua orang."


" Berhentilah mengoceh, Gus! aku muak dengan pujian yang kau berikan padanya. Sekarang kau mau pilih, pergi meninggalkan tempat ini atau kau ingin ku kirim ke neraka?!"


" Jadi, Anda tetap ingin Pak Tanu mati?"


" Keputusanku sudah bulat, Gus! menyingkir atau kau akan mati, sekarang ?!"

__ADS_1


" Saya tetap tak akan tinggal diam, Tuan Wijaya! Saya akan membela mereka walaupun saya mati!"


" Kurang ajar! Reza... bunuh dia!" ucap Wijaya geram.


" Baik, Bos.. dengan senang hati akan saya lakukan."


Atas perintah Wijaya, Reza menyerang Bagus dengan segera. Tangannya yang sudah gatal tak mampu ia bendung lagi. Ia menyerang Bagus dengan sangat ganas.


" Hahaha.. ayo, tunjukkan kemampuanmu! Kau berani menentang kami, berarti kau siap mati!"


" Aku memang sudah siap mati semenjak aku datang kemari. Tapi setidaknya, kematianku takkan aku biarkan menjadi sia-sia."


" Percayalah, kau kemari hanya akan mengantar nyawa. Kasihan sekali nasibmu mas Bagus.. Hahaha.."


" Ah.. aku tak tahu kedatanganku di sini akan membantu atau malah membuat beban bagi keluarga Pak Tanu. Apa yang harus ku lakukan. Jika hanya bertarung tangan kosong saja, aku masih bisa mengimbanginya. Tapi, jika dia sudah mengeluarkan jurusnya, matilah aku." gumam Bagus dalam hati.


" Hei! apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau mau mencoba kabur dariku, setelah kau pikir, tak ada gunanya melawanku? Kau terlambat, mas Bagus. Kau akan kalah ditanganku dan kau akan mati. Hahaha.."


" Aku tak akan pernah kabur, nasi sudah menjadi bubur.. aku takkan mundur!"


" Hahaha.. boleh juga kata-katamu, mas Bagus. Tapi aku akan mematahkan sedikit, kepercayaan dirimu itu."


" Aku tidak takut. Dan aku takkan pernah menyerah dengan apa yang ku yakini."


" Baik.. baik mas Bagus. Kau boleh saja merangkai kata. Indah atau lucu itu terserah kamu. Puas-puaskan hidupmu sebelum kau menghadap pada sang Pencipta."


" Aku tak takut mati, semua yang ku lakukan hanya untuk menolong. Jikapun aku harus kalah dan mati, aku tak akan menyesalinya."


" Kita lihat saja nanti, mas Bagus. Kau atau aku yang akan kembali lebih dulu kepada Sang Pencipta."


Pertarungan berlangsung kembali. Kali ini Bagus tak segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menyerang Reza. Reza yang masih belum menguasai ilmu dasar dalam bela diri, merasa kewalahan menghadapi Bagus. Setelah serangannya berkali-kali ditepis oleh Bagus, Reza mengerahkan kekuataanya dan berniat segera mengakhiri pertarungannya. Ia kemudian mencoba mengeluarkan jurus andalannya.


" Harusnya aku bisa mengalahkannya. Tapi jika dia sudah mengeluarkan jurus andalannya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana aku harus menghindarinya." gumam Bagus dalam hati.


Reza sudah bersiap dengan jurusnya. Ia menghantamkan jurusnya ke arah Bagus. Angin bergulung-gulung datang ke arah Bagus. Namun tak disangka, Raka yang sejak tadi tersandar dan hanya bisa mendengarkan sebuah pertarungan, tiba-tiba berlari dan menabrak Bagus hingga Bagus terjatuh.


Terdengar suara ledakan yang lumayan keras di pertengahan malam. Tubuh Raka yang mencoba mendorong Bagus, menjadi korban keganasan ilmu Reza. Tubuhnya hangus seketika dan mati.


" Kak Raka!!!" jerit Bulan ketika ia tahu, Raka lah yang terkena serangan Reza.


Sembari menangis, Bulan berlari ke arah Raka. Ia memeluk tubuh hitam Kakaknya. Seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya, Bulan menangis meronta-ronta. Ia meratapi kepergian Riko dan Ibunya. Dan sekarang, ia harus kehilangan Kakak yang tersisa satu-satunya.


" Hahahaha.. Tanu, kau lihat? Satu persatu anggota keluargamu mati! Apa kau sudah merasakan menderita?!"


Wijaya tertawa melihat apa yang telah terjadi. Dendamnya selama berpuluh tahun, akhirnya bisa ia lampiaskan. Sementara Tanu hanya bisa terdiam, tubuhnya sudah kesulitan untuk bisa bergerak. Air matanya tumpah melihat beberapa anggota keluarganya mati.

__ADS_1


......................


__ADS_2