SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
AMARAH NOVI


__ADS_3

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Lalu lalang orang di jalan, pun berkurang. Wira dan anak buahnya menutup restorannya.


" Pak Wira, saya pulang dulu ya." Ucap pelayan senior, yang paling terakhir pulang.


" Silahkan mbak, hati-hati di jalan." Ucap Wira sambil melambaikan tangannya.


" Baik Pak Wira, Permisi." Ucap Pelayan senior lalu pergi melajukan motornya.


Semua karyawan Wira pulang kembali ke rumahnya masing-masing.Tinggal Wira dan Novi yang belum juga meninggalkan restorannya.


Wira berjalan menuju ruangan Manajer, lalu memanggil Novi.


" Tok tok tok... Novi." Wira memanggil manajernya.


" Iya Pak Wira. Silahkan masuk Pak." Jawab Vina dari dalam ruangan.


" Ceklek.. ngeekkk.." Wira membuka pintu ruang manajer..


" Kenapa masih disini?" Tanya Wira lalu duduk di kursi tepat di depan Novi.


" Eh, saya menunggu Bapak. Saya enggak tahu dimana kita akan mengobrol."


" Lebih baik kita mengobrol di depan saja Nov, tidak baik mengobrol di dalam ruangan, sementara kita hanya berdua saja." Ucap Wira memberi saran.


" Kalau menurut Pak Wira baiknya begitu, ya sudah pak. Saya mengikut saja."


" Baiklah, sekarang bereskan dulu kerjaan kamu. Saya tunggu di depan. kita akan mengobrol disana." Ucap Wira lalu berjalan meninggalkan ruangan Novi.


" Baik Pak." Ucap Novi lalu segera mematikan komputernya. Lalu merapikan ruangannya sebelum pergi keluar.


...----------------...


Angin malam yang lembut, terasa dingin, hingga menusuk masuk ke dalam melalui pori-pori tubuh.


Di sebuah Resto yang sudah tutup, di aula depan menyisakan dua orang pria dan wanita yang sedang duduk berdampingan.


" Maaf Pak, Novi penasaran. Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" Tanya Novi sembari merapikan rambut depannya yang sebenarnya sudah rapi.


" Tunggu dulu Nov, Aku tidak akan langsung bicara ke topik pembicaraan kita. Kalau langsung, nanti malah hanya sebentar kita mengobrolnya."


" Baiklah Pak, Saya akan menunggu Anda." Ucap Novi lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


" Nov, bagaimana menurutmu restoran kita ini? Apa akan bisa terus berkembang?" Tanya Wira sembari menggeser duduknya yang dari tadi jauh dari Novi.


Novi menjadi salah tingkah saat Wira mendekatinya. Novi hanyalah Wanita yang lugu, yang tak pernah memiliki hubungan spesial dengan laki-laki manapun.


Namun jika ada laki-laki yang mendekatinya, dia lebih suka menjauh. Dia tak peduli dengan kata orang kalau Novi itu sombong, angkuh, cuek, dan sebagainya.


Yang penting dalam hidupnya, adalah menjaga kehormatannya agar tidak sembarangan orang memilikinya. Namun disaat Wira mendekatinya, dalam hati Novi memberontak.


Rasa angkuh, rasa sombong, cuek yang ada pada dirinya jika berdekatan dengan laki-laki, kini lenyap seketika.

__ADS_1


" Eh maaf Nov." Ucap Wira lalu menggeser posisi duduknya kembali agak menjauh dari Novi.


" Nggak apa-apa Pak. Maaf saya tidak terlalu familiar dengan laki-laki. Harap Pak Wira memaklumi saya."


" Harusnya aku yang meminta maaf Nov, Aku lupa kalau kamu tak pernah akrab dengan laki-laki manapun. Awalnya aku mengira kamu.." Sebelum Wira meneruskan kata-katanya, Novi terlebih dahulu memotong perkataanya.


" Anda mengira saya penyuka sesama jenis kan Pak?"


" Eh, maaf Nov. Sebenarnya Aku tak ingin mengatakan hal itu. Karena aku sudah tahu yang sebenarnya. Aku yakin kamu tak seperti itu." Wira mencoba mencari alasan agar Novi tidak tersinggung.


" Biar orang mengira saya ini suka sesama jenis, atau saya ini tidak memiliki rasa cinta, dan lain sebagainya. Saya tak pernah peduli. Jika sampai ada yang mencari gara-gara dengan saya, rasakan sendiri akibatnya." Ucap Novi menggebu-gebu.


" Hehe.. Kamu itu masih seperti yang dulu Nov." Wira tersenyum, namun diam-diam dia mengagumi Novi semakin dalam.


" Saya tidak pernah berubah Pak. Tak ada yang bisa mengubah saya. Sekalipun itu saudara kandung sendiri."


" Iya saya tahu Nov. Aku sangat menghargai keputusanmu." Ucap Wira, lalu terdiam sejenak.


" Maaf Pak, apakah ada hal lain yang ingin Anda bicarakan? Tanya Novi tak sabar.


Wira tahu Novi tak nyaman dengan obrolan dengannya malam ini. Dia tak ingin membuat mod Novi menjadi buruk.


" Eh, apa kamu sudah ingin pulang Nov? Wira pura-pura bertanya walaupun dia sudah tahu gelagat Novi.


Sebenarnya Novi sudah hilang mod dari awal pembicaraan. Namun dia tak ingin membuat Wira kecewa.


" Em, tidak Pak. Saya masih ingin disini sampai Anda pergi.


" Saya selalu merasakannya Pak. Tapi saya sudah terbiasa dengan hidup menyendiri."


" Oh,syukurlah kalau kamu bisa mengatasi kesendirianmu itu Nov."


" Iya Pak." ucap Novi singkat lalu terdiam.


Melihat Wajah Novi yang tak semangat, Wira mengakhiri kata-katanya.


" Ya sudah Vin, Kamu boleh pulang sekarang. Aku akan mengantarmu."


" Pak Wira, Anda tak perlu tak enak hati dengan saya. Maafkan atas sikap saya. Saya siap menemani Anda, sekalipun itu sampai pagi."


" Eh, tidak Nov. Ini sudah hampir larut malam. Sebaiknya kita pulang saja."


" Pak Wira. Saya tak ingin membuat Anda kecewa. Apa yang sebenarnya Anda ingin sampaikan pada saya?"


" Sudah, lupakan saja Nov. Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Ayo kita pulang." Ajak Wira lalu berdiri menunggu Novi.


" Pak Wira, Jujur saja. Katakan apa yang ingin anda katakan. Saya akan menunggu." Novi memaksa Wira bicara yang sebenarnya.


" Tidak Nov. Lain kali saja. Kalau tidak, ya lupakan saja Nov. Anggap saja tak pernah ada yang ingin ku katakan kepadamu."


" Jangan membuat saya menunggu Pak. Saya tak akan pergi dari sini jika Anda menggantung kata-kata, dan merahasiakannya."

__ADS_1


" Aku tak bisa mengatakannya lagi, Novi. Sudahlah, aku akan menghapusnya dari memori ingatanku." Ucap Wira berat. Dia merasa malu untuk mengatakannya.


" Tak perlu sungkan dengan saya Pak. Dari awal saat bertemu dengan Anda. Saya telah bergantung pada Anda. Hingga Anda membantu Saya berulang kali. Sampai sekarang pun, Anda seperti malaikat penolong saya." Ucap Novi memuji kebaikan Wira dan berharap Wira mau mengatakan hal yang sebenarnya.


" Ehem hem.." Wira berdehem, sepertinya batuk sedang melanda. Lalu dia berkata pada Novi. " Baiklah, Saya akan bicara Nov, jika kamu memaksa. Dengarkan baik-baik."


" Aku mau tanya, berapa usiamu sekarang?"


" Dua puluh tujuh Pak." Jawab Novi singkat tanpa bertanya apapun.


" Apakah kamu sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki?" Tanya Wira lagi.


" Saya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun Pak."


" Aku tahu kamu bukan penyuka sesama jenis. Namun, apa alasan kamu untuk tidak ingin menjalin hubungan dengan laki-laki?"


Novi menjadi tegang mendengar Wira berkata seperti itu, dia pun menyela pembicaraan Wira.


" Baiklah Pak. Saya akan mengatakan yang sejujurnya. Anda tahu, saya dari semenjak kematian Ayah, Anda lah yang merawat saya dan membesarkan saya hingga seperti sekarang ini. Hanya Anda laki-laki yang saya percaya.


Begitu banyak laki-laki yang datang di hidup saya, namun mereka hanya ingin memanfaatkan saya.


Awalnya saya mencoba untuk mencari seseorang untuk mengisi hidup saya. Tetapi mereka pergi begitu saja, ketika saya menanyakan kejelasan tentang hubungan kami. Setelah itu saya memutuskan untuk tidak mengenal laki-laki."


" Apa kamu trauma dengan laki-laki?" Tanya Wira dengan gelisah.


" Saya enggak tahu harus berkata apa. Tetapi saya sangat membenci laki-laki. Merekalah yang membuat orang tuaku meninggalkanku untuk selamanya!" Teriak Novi dengan lantang.


Karena tak bisa menahan amarahnya, Novi berteriak keras,


" Haaaaaaaaaa..." Suara teriakan Novi dengan tenaga dalam penuh, mampu merobohkan pagar pembatas restoran di depannya.


Wira terkejut melihat kemarahan Novi. Tak disangka, hanya dengan melatih bela diri secuil kuku saja, Novi mampu mengembangkan ilmu sehebat itu.


Belum selesai terkejut, Novi berteriak lagi dan menghadapkan suara teriakannya ke arah pohon di halaman depan.


Namun sebelum mengeluarkan tenaga dalamnya, Wira terlebih dahulu mencegahnya.


" Novi! Hentikan.. Kamu bisa menghancurkan restoran kita." Teriak Wira lalu merangkul tubuh Novi agar tidak berbuat kerusakan lebih jauh lagi.


Pelukan erat Wira, membuat Novi tak bisa bergerak. Dia merasakan tubuhnya lemas karena tenaganya terkuras.


" Pak Wira.." Ucap Novi lirih lalu tiba-tiba air matanya mengalir deras.


" Sudah Nov, hentikan amarahmu. Tak ada gunanya kamu melampiaskan amarahmu. Orang-orang yang membuatmu menderita, sudah tak ada lagi di dunia ini. Jangan kau ingat kembali kejadian di masa lalu." Wira berusaha menenangkan hati Novi.


" Baik Pak Wira." Novi menuruti permintaan Wira, lalu dia membalas pelukan Wira dengan erat.


Malam semakin larut, Wira dan Novi tak menghiraukan itu. Mereka terlena dengan perasaan yang sedang mereka rasakan.


Rasa sedih yang Novi rasakan, seakan mendapatkan penawar, ketika Wira memeluknya. Namun semakin lama Wira memeluk, Novi semakin terlena akan kehangatan pelukan Wira. Akhirnya pun dia tertidur di pelukan Wira.

__ADS_1


__ADS_2