
Petugas medis datang setelah mendapat kabar, kalau Jody mengalami patah tulang. Tak berapa lama kabar itu terdengar hingga ke telinga Kepala Sekolah. Ia pun mendatangi Jody dan menanyakan apa yang terjadi. Sembari menahan sakit yang sangat dalam, Jody menceritakan kejadian sebenarnya. Namun ia seorang pengarang cerita yang bagus. Dengan karangan ceritanya yang ia buat tak sesuai apa yang terjadi. Kepala sekolah pun marah lalu mendatangi Tama di tendanya.
" Tama.. Apa kamu di dalam?" panggil Kepala sekolah.
Tama yang saat itu tengah menemani Dino, badannya menjadi gemetar. Ia takut jika Kepala Sekolah memarahinya atas kejadian itu. Namun ia tetap berpikir positif dan berharap tak ada masalah yang menerpanya.
" Tama....." teriak Kepala Sekolah sekali lagi."
" Iya, Pak." sahut Tama lalu bergegas keluar untuk menemui Kepala Sekolah.
" Habis ini, kamu ikut saya ke tenda sebelah sana. Ada yang ingin saya sampaikan kepadamu."
" Eh..baik, Pak. Saya akan menyusul Bapak. Saya mau mengambil jas hujan saya dulu. Kebetulan payung saya sedang dipinjam, Pak." ucap Tama.
" Baiklah..jangan lama-lama. Saya masih ada urusan." ucap Kepala sekolah dengan sinisnya, lalu pergi meninggalkan Tama.
Setelah Kepala Sekolah pergi, Dino menghampiri Tama. Ia sangat khawatir teman baiknya itu mendapat hukuman dari Kepala Sekolah.
" Tama..aku ikut kamu, ya." ucap Dino.
" Tak perlu, Din. Biar aku saja. Lagi pula tadi, hanya aku yang dicari. Tak perlu khawatir, aku tahu apa yang akan aku lakukan. Aku tak akan takut menghadapi Kepala Sekolah, sekalipun Dia marah kepadaku."
" Tapi aku takut kalau kamu dikeluarkan dari sekolah ini, Tama. Biar aku yang membantumu bicara kepada Kepala Sekolah. Aku akan ceritakan yang sebenarnya terjadi."
" Sudah, Din. Aku bisa menghadapinya sendiri. Aku tak mau, nanti kamu malah kebawa-bawa dalam masalah ini. Kamu tunggu di tenda saja, ya."
" Tapi ini semua juga karena aku. Aku tak bisa biarkan teman baikku menghadapi masalah sendiri. Tama, izinkan aku membantumu."
" Dino..dengarkan aku. Kamu tetap di tenda atau kamu ikut aku dan akan menambah Kepala Sekolah bertambah marah kepadaku?"
" Hemmh..ya sudah kalau kamu tak mengizinkan. Aku harap kamu bisa meredam kemarahan Kepala Sekolah dan bisa menjelasakan masalah yang sebenarnya terjadi."
" Tenang saja..percayalah kepadaku." ucap Tama lalu segera meninggalkan Dino dan bergegas menuju tenda tempat Kepala Sekolah berada.
Hujan yang mulai bertambah deras mengiringi langkah kaki Tama. Dengan jalanan yang licin ia terlihat memilih-milih jalan mana untuk kakinya berpijak. Tak lama kemudian, ia telah sampai di depan Tenda Kepala Sekolah.
Di dalam tenda, Kepala Sekolah telah menunggu kedatangan Tama. Di dalamnya juga ada beberapa guru yang lainnya.
" Tama, silahkan masuk." ucap Kepala Sekolah.
" Baik, Pak Kepala Sekolah."
__ADS_1
Tama masuk ke dalam tenda sembari mengulurkan tangannya dan berniat menjabat tangan kepada Para Guru yang ada di dalam tenda.
" Duduklah." ucap salah satu guru..
" Baik, Pak." jawabTama santun.
" Tama, saya mau tanya kepadamu. Apa kamu yang membuat kaki Jody patah? Jawab dengan jujur."
" Tama, katakan yang sebenarnya apa yang terjadi sehingga kalian bisa bertengkar." ucap wali kelas Tama.
" Baiklah, saya akan menceritakan yang sebenarnya. Sebelumnya saya meminta maaf atas kejadian ini. Terus terang saya tak menyangka ini bisa terjadi. Ini bermula ketika Jody dari luar dan kembali ke tenda. Ia melepas jas hujannya dan dilemparkan ke arah saya. Dino yang saat itu berada di dalam tenda bersama saya, tak terima. Ia hanya menegur Jody. Karena apa yang Jody lakukan tak pasntas baginya.
Dan mereka saling beradu mulut. Hingga akhirnya, Jody memanggil teman-teman yang lain agar mereka bisa melihat apa yang ingin Jody lakukan kepada Dino dan saya.
Setelah semua berkumpul, Jody pun melancarkan aksinya. Ia berniat menemdang ke arah wajah Dino dengan sekuat tenaga. Saya hanya menangkis serangan Jody saja. Jika saya tak berusaha menyelamatkan Dino, mungkin saja Dino sudah meninggal terkena tendangan Jody."
" Apa?! Jadi semua ini ulah Jody sendiri?!"tanya Kepala Sekolah dengan wajah garang.
" Jika Bapak tidak percaya, saya akan panggilkan Dino untuk kemari. Dino adalah teman baik saya,Pak. Dia anak yang jujur dan tak suka berkata bohong kepada siapapun."
" Bisa saja kalian sudah mencari cara untuk membalikkan fatkta yang ada, kan?" ucap Kepala Sekolah mencoba untuk menekan Tama.
" Ahh.. Pak Kepala Sekolah, jangan sampai kita berurusan dengan Polisi. Nanti sekolah kita akan tercoreng. Lebih baik kita selesaikan masalah ini dengan kekeluargaan saja. Ini cara yang terbaik menurut saya, Pak." ucap Wali kelas Tama.
" Pak, Anda adalah wali kelas mereka. Seharusnya Anda yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Tapi ini masalah yang sangat rumit."
" Saya yakin, Tama tidak berbohong. Dia anak yang baik. Malah, dia suka menolong teman yang lain saat sedang mendapatkan masalah. Jadi saya rasa apa yang dia katakan itu benar. Jody saja yang mengarang cerita dan membesar-besarkan masalahnya. Saya harap, Bapak lebih bijaksana dalam menangani kasus ini." ucap Wali kelas Tama.
Para Guru yang lain pun sependapat dengan Wali kelas. Mereka juga tak ingin Tama dikeluarkan dari sekolah. Hal ini membuat Kepala Sekolah bingung. Di sisi lain, apa yang menimpa Jody sudah sangat berat baginya. Karena kakinya yang patah, mungkin saja Jody akan mengalami cacat permanen.
" Tama.. Apa jawaban kamu jika orang tua Jody meminta pertanggungjawabanmu? Sementara saya sebagai Kepala Sekolah, tak tahu harus berbuat apa untuknya. Tetapi yang jelas, saya punya wewenang untuk menghukum kamu. Benar atau salah, kamu telah membuat dia terluka. Pasti orang tuanya tak terima dan pasti meminta saya untuk memberikan hukuman kepadamu. Lebih parah lagi, mungkin saja Orang tuanya akan melaporkanmu ke kantor Polisi."
" Saya akan bertanggung jawab, Pak. Saya juga akan berkata sebenarnya jika mereka menuduh saya telah melakukan kekerasan pada Jody."
" Baguslah kalau begitu. Sekarang kamu kembali ke tendamu. Masalah dengan Jody, nanti akan Kami bicarakan dengan Para Guru."
" Baik, Pak. Terima kasih. Kalau begitu saya mohon izin kembali ke tenda saya." ucap Tama.
" Tama, jangan khawatir. Nanti Bapak akan membantu kamu. Sebagai wali kelas, Bapak berhak membela siapapun yang benar. Bapak tahu kamu orang yang sangat baik. Jody saja yang mungkin lagi kena apesnya, karena suka bertindak sewenang-wenang pada teman-temannya." ucap wali kelas Tama.
" Terima kasih, Pak." ucap Tama lalu segera berjalan cepat menuju tendanya.
__ADS_1
Dari kejauhan, Xena melihat Tama yang sedang keluar dari Tenda Guru. Di tengah hujan yang masih cukup deras, Ia mencoba memanggil Tama.
" Tama..." teriak Xena.
Langkah Tama terhenti. Ia lalu mencari dimana suara orang yang memanggilnya itu berada. Dari belakang, tampak Xena yang memakai payung warna merah berjalan menghampirinya.
" Xena.. Jangan hujan-hujanan. Nanti kamu sakit." ucap Tama.
" Ah.. Aku terbiasa main hujan-hujanan dari kecil. Jadi jangan khawatirkan aku. Oh iya, apa yang kamu lakukan di tenda Para Guru?"
" Eh.." Tama termenung. Ia tak melanjutkan ucapannya.
" Kenapa, Tama? Kenapa malah bengong?" tanya Xena sembari tersenyum. Bibirnya yang indah membuat Tama malu untuk menatapnya.
" Apa kamu belum tahu? Atau pura-pura tak tahu?" ucap Tama gugup.
" Aku tidak tahu, Tama. Makanya aku tanya sama kamu. Kamu ada masalah?"
" Heem.." Tama mengangguk.
" Jadi kamu lagi ada masalah. Masalah apa, Tama? Apa aku boleh tahu?"
" Mungkin banyak yang sudah tahu. Jadi tak ada alasan bagiku menutupinya. Sebenarnya aku tadi dipanggil oleh Kepala Sekolah karena telah melukai Jody. Kakinya patah karena aku menangkisnya saat ingin menendang Dino. Aku juga tak tahu kenapa bisa sampai separah itu."
" Oh..jadi tadi ada petugas kesehatan itu, karena sedang membawa Jody. Aku pikir dari sekolah lain." ucap Xena setengah terkejut.
" Iya..atas kejadian itu, aku dapat teguran dari Kepala Sekolah."
" Eh..tapi kamu tidak kenapa-kenapa, kan? Kalau kaki Jody bisa patah begitu, pastinya kamu juga luka serius. Mana kakimu?"
" Eh..aku nggak apa-apa, kok. Cuma lebam saja, mungkin. Tendangan Jody sangat keras, mungkin butuh waktu seminggu untuk pulih."
" Tama..jujur saja. Mana yang sakit? Jangan ditahan-tahan. Kalau beneran sakit, aku akan bilang pada Kepala Sekolah."
" Tidak ada, Xena. Tenang saja, aku nggak kenapa-kenapa. Lebih baik kamu kembali ke tendamu. Hujannya kini makin deras lagi. Apalagi anginnya juga cukup kencang."
" Tama..." ucap Xena sembari memegang tangan kanan Tama.
Dari sudut matanya terkumpul buliran air mata yang lalu menggenangi di kedua matanya. Tak terasa, air mata itu mengalir ketika Xena memejamkan matanya. Ia seperti merasakan apa yang dialami Tama saat ini. Seorang yang pendiam itu malah jadi bahan hinaan dan cacian teman-temannya. Ia seperti ingin memeluk dan merasakan kepedihan yang Tama alami. Namun ia sadar, saat ini Tama bukanlah kekasihnya.
......................
__ADS_1