SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Melarikan Diri Untuk Kembali


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah ditinggal Ibunya, Khalid tinggal bersama Bono dan Rika di Lereng Puncak Bukit Barat. Ia merasa senang dengan keluarga barunya. Apa yang ia mau, Bono selalu bisa memberikannya.


Bono pun sangat menyayangi Khalid. Ia juga senang bisa mengangkat Khalid sebagai anaknya. Khalid yang belum berusia lima tahun, bisa mengajak bermain Putra Bono yang masih berumur beberapa bulan.


Rika juga sangat senang karena pekerjaan rumahnya lebih ringan karena Khalid sering membantunya.


Rumah yang tadinya sepi kini mendadak ramai karena Khalid yang sering mengoceh, mengajak anak Bono berbicara.


Sementara setelah sembuh dari sakitnya, Tama berniat kembali bersembunyi di rumah tersembunyi di lereng Puncak Bukit Timur. Ia memutuskan untuk melarikan diri dari rumah sakit disaat kondisi sepi. Bara yang saat itu menjaganya, tertidur pulas. Suster yang berjaga juga saat itu sedang tertidur. Tama menyelinap keluar melalui pintu depan yang tak dijaga satpam.


Dengan tubuh kecilnya, ia sangat leluasa keluar menuju pintu gerbang rumah sakit tanpa diketahui siapapun.


Tiba di depan gerbang,Tama berlari sekuat tenaga menuju jalan ke kanan ke arah menuju rumahnya.


Tanpa rasa takut Tama berjalan mengendap-endap. Ia sama sekali tak takut dengan apapun. Selama tidak turun hujan,Tama adalah anak kecil yang sangat pemberani.


Setelah berjalan seratus meter, ia mulai tak bisa melihat jalan karena sudah tak ada lampu di sekelilingnya. Jalan yang ia lalui memang jalan pintas menuju ke rumahnya, namun karena sudah tak ada bangunan apapun di sepanjang jalan itu, Pemerintah setempat tak memberikannya lampu penerangan di sepanjang jalan.


" Aku tak bisa melihat apa-apa. Kemana aku akan berjalan?" ucap Tama.


Ia lalu berjalan perlahan sembari meraba-raba di samping kanan dan kiri. Sering kali ia terjatuh karena tersandung batu atau ranting kayu, yang melintang dijalanan. Semua ia lakukan demi untuk kembali ke rumahnya. Ia tak ingin menjadi beban untuk orang lain. Dengan melarikan diri, dia bisa terhindar dari Bono atau Bara. Ia tak ingin menyusahkan mereka berdua. Apalagi, mereka sudah memiliki anak masing-masing.


" Tuhan.. Aku ingin pulang. Tapi jalan ini sangat sepi dan gelap. Bantu aku, aku rindu dengan ikan-ikanku. Kasihan, dirumah sudah tidak ada siapa-siapa. Pasti tak ada yang memberinya makan." keluh Tama sembari menengadahkan tangannya ke atas.


Tak berapa lama, datang seekor kunang-kunang yang terbang mengitarinya. Tama sangat senang. Ia berpikir, hewan itu mengajaknya bermain. Ia lalu mengikuti kunang-kunang itu pergi. Ternyata, kunang-kunang itu jelmaan pusaka yang menyukai Tama. Pusaka itu memandu Tama berjalan pulang menuju rumahnya.


Awalnya kunang-kunang itu terbang dengan pelan, namun lambat laun terbang dengan cepat. Tama yang mengikutinya pun ikut berjalan cepat. Tak pernah ia berpikir, ia mampu berjalan cepat, layaknya orang dewasa yang sedang berlari karena mengikuti Kunang-kunang itu terbang.


" Hai... Jangan cepat-cepat, aku tak sanggup mengejarmu." teriak Tama sembari tertawa-tawa di sepanjang perjalanannya.

__ADS_1


Hingga dua jam lamanya, Tama berjalan mengikuti kunang-kunang itu. Tak terasa ia telah sampai di reruntuhan bangunan rumahnya.


" Ah.. kamu mengajakku bermain sampai kemari? Ah.. apa Aku sampai dirumahku? Terima kasih karena telah mengantarku pulang. Kamu pasti makhluk baik yang dikirim Tuhan untukku, untuk membantuku. Terima kasih Tuhan." ucap Tama lalu mengusap kedua tangannya ke wajahnya.


Setelah itu Tama berlari menuju sudut puing rumahnya tempat ia memelihara ikan. Ia khawatir ikan-ikannya mati karena tak diberi makan. Namun sepertinya, ikan-ikan didalam kolam terlihat sehat-sehat dan tak ada yang mati seekorpun. Tama menjadi bertanya-tanya dalam hati.


" Siapa yang memberinya makan, kenapa ikan-ikanku masih bertahan hidup." ucap Tama.


Sinar bulan purnama yang terang muncul setelah mendung menghilang. Sinarnya menerangi kolam dan seluruh puing rumah Tama. Tama memanjakan matanya melihat ikan-ikan yang sepertinya tampak senang melihat pemiliknya kembali.


Tak berapa lama kemudian Tama meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju belakang ke arah rumah rahasianya.


Lalu ia menyalakan lampu yang sudah mulai agak redup karena sudah lama terpakai.


Tubuhnya kini merasakan sangat kelelahan. Ia membaringkan tubuhnya diatas kasur lalu memejamkan matanya. Lambat laun Ia pun tertidur pulas."


Keesokan harinya, sekitar pukul lima pagi. Rumah sakit geger karena kehilangan satu pasiennya. Kala itu Bara masih tertidur pulas karena sangat kelelahan.


Lalu, Seorang Dokter mencoba untuk membangunkannya.


" Pak, Pak Bara.."


Dengan mata setengah terpejam, Bara menjawab panggilan Dokter itu.


" Bocah itu hilang dari kamarnya. Apa Anda mengetahuinya?" tanya Dokter itu sembari mengusap keringat dilehernya yang mengalir deras.


" Apa?! Tidak mungkin... Saya yakin telah menjaganya dengan baik. Kenapa ini bisa terjadi?"


" Mungkin dia dibawa orang saat Anda tertidur. Saya lihat Anda tidur mendengkur."

__ADS_1


" Eh, maaf.. Saya sangat kelelahan. Ya Tuhan, siapa yang membawanya. Apa jangan-jangan dia pergi sendiri?"


" Kami sedang menyuruh orang untuk mencari tahu di cctv, Pak. Siapa tahu ada petunjuk."


" Ah, iya itu benar. Kalau begitu cepat, Dok. Saya rasa itu jalan terbaik."


" Baik, Pak. Silahkan ikut dengan kami." ucap Dokter itu lalu berjalan menuju ruang CCTV diikuti Bara.


" Ah.. Gawat, bagaimana kalau sampai Bono tahu. Aku harus bicara apa padanya." ucap Bara dalam hati.


Tak lama kemudian Dokter dan Bara tiba di ruang CCTV. Disana telah menunggu beberapa orang yang ditugaskan mencari bukti rekaman saat Tama menghilang.


" Bagaimana, apa ada bukti rekamannya?" tanya Dokter pada petugas keamanan yang sudah berada di ruangan itu sejak tadi.


" Ada, Dok.. Bocah itu berusaha keluar disaat sepi. Dia mengendap-endap lalu keluar melewati gerbang rumah sakit pada pukul dua dini hari tadi. Tak ada orang yang terjaga di sepanjang perjalanan ia keluar. Pantas saja tak ada orang yang tahu." ucap kepala keamanan itu.


" Eh.. lalu dia pergi ke arah mana, Pak?" tanya Bara yang mulai merasa sangat cemas.


" Dia pergi ke arah utara, menuju jalanan di samping rumah sakit ini. Entah kemana bocah itu pergi. Namun setahu saya, jalan itu hanya berjarak beberapa puluh meter. Setelah itu hanya ada jalan kecil menuju ke arah hutan."


" Ah.. apa kira-kira dia masih di sekitar tempat itu, Pak?"


" Saya kurang tahu, tapi kami juga sudah mencoba menghubungi rekan kami untuk mencarinya disekitar tempat itu. Dan saat ini belum ada kabar dari mereka."


" Kepalaku mendadak pusing. Aku bingung harus bagaimana. Apa aku harus melaporkan pada Bono atau tidak. Ah.. Anak itu memang keras kepala. Ada apa dengannya. Kenapa bocah sekecil itu, bisa-bisanya berniat pergi tanpa pamit. Apa yang sebenarnya dia pikirkan. Aku sudah mencoba berbicara dengannya. Berharap bisa membuatnya menerimaku. Tapi kenapa dia malah meninggalkanku. Tama..tama, kau malah menambah pekerjaanku saja." gumam Bara lagi dalam hati.


Disaat suasana hatinya kalut, Bono menelpon Bara dan menanyakan keadaan Tama. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Tama. Ia terus memimpikan Tama, kapanpun saat ia tertidur. Namun Bara hanya terdiam dan tak bisa bersuara. Pikirannya seakan melayang. Ia tak tahu harus melakukan apa agar Bono tak murka karena dia lalai menjaga Tama dengan baik.


......................

__ADS_1


__ADS_2