SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Sembilan Tahun


__ADS_3

Sembilan tahun berlalu, Tama dan Khalid tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan pintar. Mereka juga mempunyai tubuh yang kuat dan kekar. Setiap seminggu tiga kali, mereka melakukan fitnes. Mereka juga mengikuti bela diri hingga menjadi seorang ahli. Dan Hingga membuat tubuh mereka berotot meskipun masih berusia belasan tahun.


Sebenarnya, Tama tak ingin menjadi seperti saat ini. Ia tak berminat mempunyai tubuh yang kekar. Namun Khalid selalu memaksanya. Ia terus mempengaruhi Tama untuk membalaskan dendam keluarganya. Tama pun terpengaruh. Ia ingat sekali kejadian beberapa tahun lalu yang membuat keluarganya hancur. Ia juga harus bertahan hidup sendirian selama bertahun-tahun.


Setelah Harjo tiada, Khalid dan Tama tetap bisa melanjutkan sekolahnya dengan jaminan sertifikat tanah milik Harjo.


Khalid memberikan sertifikat tanah Harjo pada kepala sekolah, ketika SD. Kepala sekolah pun menerimanya. Ia berjanji akan menyekolahkan Khalid dan Tama hingga tamat SMA. Ia juga menanggung semua kebutuhan sehari-hari mereka.


Namun Kepala sekolah membohongi mereka. Setelah lulus SD, Kepala sekolah berkata pada Khalid dan Tama bahwa harga sertifikat tanah milik Harjo tak lebih dari seratus juta. Ia lalu menjanjikan mereka dan hanya sanggup menyekolahkan mereka hingga lulus SMP.


Khalid dan Tama yang saat itu masih belum tahu apa-apa akhirnya hanya bisa pasrah. Namun mereka tak pernah kehilangan semangat. Saat lulus SD, Pemilik sekolah memberikan Khalid dan Tama beasiswa prestasi karena telah berhasil lulus, dan mendapatkan nilai yang sempurna. Mereka pun bisa melanjutkan sekolah hingga tingkat SMP dengan gratis.


Kini Tama telah lulus SMP dan ia berniat melanjutkan sekolahnya di SMA Bangun Jaya, menyusul Khalid yang telah lebih dulu bersekolah di sana.


Pagi hari pukul sembilan, Khalid datang bersama Tama untuk mendaftarkan sekolah Tama. Ada sekitar seribuan lebih pendaftar yang mendaftar di sekolah itu. Tama merasa putus asa. Dari ribuan pendaftar, ia bukanlah satu-satunya orang yang mempunyai nilai bagus. Hampir sebagian siswa pendaftar memiliki nilai yang sempurna.


Namun dewi keberuntungan menghampiri Tama. Karena ia adalah murid kesayangan gurunya saat SMP, Tama diuntungkan dengan adanya Guru SMP Tama yang memiliki Saudara kandung yang menjabat sebagai Kepala sekolah SMA Bangun Jaya.


Tama pun diterima di sekolah tanpa seleksi. Ia menjadi semakin bersemangat untuk sekolah.


" Tama.."


" Ada apa, Kak?"


" Selamat... Aku punya kabar baik untukmu." ucap Khalid sembari mengajak Tama untuk duduk di kursi di aula sekolah.


" Kabar baik apa?"


" Kamu mau tahu?"


" Iya..kalau nggak penting, nggak usah di bicarakan."


" Hahaha..mungkin nggak penting bagiku. Tapi bagimu pasti penting."


" Sudah... Bilang saja, nggak usah pakai intro. Langsung ke reffnya saja."


" Hahaha..baiklah. Kabar baiknya, kamu diterima disekolah ini tanpa seleksi. Jadi besok kalau sudah mulai masuk sekolah, kamu bisa langsung berangkat. Nggak perlu nunggu hasil seleksi."


" Ah..yang benar? Pasti bohong, kan?"


" Sumpah..buat apa aku bohong. Lihat saja besok."


" Kenapa Kakak bisa tahu kalau aku diterima tanpa seleksi?"


" Dari Guru kita di SMP. Dia yang menyukaimu, memiliki saudara di sekolah ini. Saudaranya itu menjabat sebagai kepala sekolah. Ia yang meminta kepala sekolah untuk menerimamu di sekolah ini."

__ADS_1


" Siapa, Kak?"


" Bu Siti.. Dia menyukaimu, kan?"


" Bu Siti? Entah..aku tidak tahu. Tapi dia sangat baik kepadaku."


" Aku tahu dia orangnya sangat baik. Aku bisa masuk sekolah ini, juga karena beliau. Tanpa Bu Siti, aku nggak tahu bisa masuk apa tidak. Persaingan disini kan, sangat ketat."


" Yahh..kita memang sangat beruntung. Ternyata tak disangka, orang-orang di sekitar kita mau membantu kesulitan yang kita alami."


" Kamu benar, Tama. Makanya, kita harus banyak bersyukur. Kita nggak boleh terus mengeluh dengan keadaan kita."


" Iya, Kak.. Aku tahu itu."


" Baiklah, ayo kita pulang." ajak Khalid sembari meraih pundak Tama.


" Pulang? Sudah selesai?"


" Iya..untuk kamu sudah. Besok tinggal nunggu yang lainnya ujian dulu. Setelah pengumuman, kita kemari lagi."


" Kapan pengumumannya?"


" Masih ada seminggu lagi. Lebih baik kita pulang, terus mancing ikan."


" Hahaha..ide bagus. Sudah lama kita nggak mancing. Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita pulang.."


Setelah kepergian Harjo, Khalid tak lagi menempati rumah bambu lagi. Ia kini bersama Tama, mengontrak di kontrakan yang tak jauh dari sekolahnya. Rumah Tama pun dibiarkan terbengkelai. Khalid takut jika penjahat yang dulu, datang kembali dan mampu menemukan Tama. Khalid pun memaksa Tama untuk tetap tinggal bersamanya di kontrakan.


Setengah jam kemudian, khalid dan Tama berboncengan naik sepeda motor butut pemberian kepala sekolah saat SMP. Itu adalah harta terakhir yang diberikan Kepala Sekolah untuk Khalid dan Tama sesuai harga tanah milik Harjo yang ia tawar.


Meskipun awalnya, Tama dan Khalid tak menyetujui jika harga tanah Harjo di hargai murah. Namun akhirnya mereka bisa menerima karena mereka tak bisa berbuat apa-apa.


Kini setelah mereka mendapatkan beberapa penghargaan dari sekolah, mereka mampu mengumpulkan uang untuk beaya hidup mereka. Mereka tak lagi kelurangan seperti saat mereka belum berprestasi.


" Ayo jalan..." ucap Tama pada motornya yang sudah beberapa kali digenjot namun belum juga menyala.


" Bisa tidak?" tanya Khalid yang sudah tak sabar ingin segera memancing.


" Susah..kenapa, ya?"


" Bensinnya masih apa tidak, coba di cek dulu."


" Kemarin baru aku isi dua puluh ribu. Penuh.."


" Mungkin businya kotor. Coba lepas businya, cek apakah kotor atau tidak. Kalau basah, pasti itu penyebabnya."

__ADS_1


" Baiklah..tunggu sebentar."


Tama melepas busi motornya seperti yan diperintahkan Khalid. Ia lalu membersihkannya. Tak berapa lama, ia memasangnya kembali.


" Coba biar aku saja yang genjot." ucap Khalid lalu segera menggenjot motornya.


Hanya dengan sekali genjot, motor langsung menyala. Mereka tertawa senang lalu segera melajukan motornya menuju ke sungai.


Satu jam kemudian, mereka telah sampai di sungai. Khalid dan Tama segera memasang umpan dan melemparnya ke sungai.


" Sungai ini masih bersih. Udaranya juga sangat sejuk. Makanya, aku suka berlama-lama ditempat ini." ucap Khalid.


" Aku juga, Kak. Tempat ini mengingatkanku ketika pertama kita memancing, dan saat kita pulang, Kakek sudah nggak ada." ucap Tama lalu tiba-tiba wajahnya berubah menjadi murung.


" Tama..sudahlah, jangan mengingat masa lalu. Itu akan membuatmu lemah. Lupakan saja. Kamu boleh mengenangnya tapi jangan sampai membuat dirimu bersedih. Kesedihan itu hanya akan membuatmu semakin menderita. Lebih baik kita nikmati hidup ini. Sekarang kita disini, kita bersenang-senang disini. Jangan mengingat kesedihan."


" Hemhh..baik, Kak."


Usai berkata, Tama dikagetkan dengan sosok anak seusianya yang berlari dengan cepat di seberang sungai. Meskipun sangat cepat, namun Tama bisa melihatnya dengan jelas.


" Kak..siapa itu?" teriak Tama sembari mengarahkan jari telunjuknya ke seberang sungai.


" Aku nggak tahu..ayo kita kejar."


" Kita nggak jadi mancing?"


" Nanti saja, yang penting kita ikuti dulu kemana bocah itu pergi." ucap Khalid lalu bergegas berlari menyeberangi sungai diikuti Tama di belakangnya.


Merasa diikuti, sosok bocah remaja itu bersembunyi dibalik semak-semak. Ia tak tahu kenapa ada orang yang mengikutinya.


Sementara Khalid dan Tama menghentikan pengejarannya karena telah kehilangan jejak.


" Cepat sekali anak itu, pasti dia bukan anak sembarangan." ucap Khalid dengan nafas terengah-engah.


"Aku juga berpikir begitu. Aku juga penasaran, apa yang dia lakukan dihutan seperti ini."


" Jika dia berani sampai tempat ini, kemungkinan dia tinggal tak jauh dari sini."


" Lalu apa yang akan dilakukannya. Aku penasaran dengannya."


" Aku juga tidak tahu."


Khalid dan Tama terus mencari di sekeliling mereka. Sementara sosok anak seusia Tama itu masih bersembunyi, dibalik semak-semak dan mengintai mereka.


" Siapa mereka? Kenapa mereka mengikutiku?" gumam remaja bertubuh kekar seperti Tama.

__ADS_1


......................


__ADS_2