SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
BUKAN PESAN TERAKHIR


__ADS_3

Di kursi tunggu pasien IGD, Tanu sedang bermain dengan Tama. Dia pun gelisah nenunggu Rani tak kunjung keluar dari ruang IGD.


" Sebenarnya apa yang istriku dan Vina bicarakan, kenapa lama sekali...Jangan - jangan Vina meminta persetujuan Rani, agar Rani menerima aku dan Vina jadi suami istri. " ucap Tanu dalam hati.


Tak lama kemudian Rani keluar dari ruangan IGD. Lega rasanya hati Tanu melihat istrinya kembali. Namun Tanu melihat kemurungan di wajahnya.


" Ibu... Apa yang telah terjadi ? kenapa Ibu murung seperti itu? tanya Tanu lalu menghampiri Rani dan mempersilahkannya duduk.


" Ibu pusing Yah menghadapi murid Ayah.." jawab Rani sambil memegang kepalanya.


" Kenapa? Apa yang di lakukan Vina Bu? " Tanya Tanu lagi dan semakin penasaran..


" Sebelum cerita, Ibu mau minum dulu. Ibu haus bangett.. " Ucap Rani lalu membuka air mineral yang dia beli di warung, sebelum berangkat ke rumah sakit.


" Ya sudah di minum dulu. Pelan - pelan.. jangan bicara dulu. tenangkan hatimu dulu.. "


" Ermmhh.. ermmh ermhhh... " Kurang hati hati , Rani tersedak sedak.


" Makanya kalau minum atau makan itu jangan tergesa - gesa Bu. Jadinya batuk kan sekarang, karena terburu - buru minumnya..." ucap Tanu sambil memijit bagian punggung istrinya.


" Maaf Yah... saking hausnya.. Rasanya di dalam bikin sesak nafas." ucap Rani lalu mengebaskan kedua tangannya berulang ulang ke wajahnya sebagai pengganti kipas.


" Di dalam kan ada AC Bu.. Masa Ibu kepanasan gitu.."


" Bukan karena nggak ada udara Yah. tapi Karena kata kata Vina yang bikin Ibu jadi gerah. "


" Memangnya apa yang di katakan Vina Bu? Apakah membujuk Ibu agar mengizinkannya menikah sama Ayah? "


" Itu salah satunya Yah, tapi masih ada lagi yang bikin Ibu seperti mau pingsan."


" Apa itu Bu? " Rasa penasaran Tanu membuatnya bertanya - tanya.


" Setelah Ibu sudah menyetujui hubungan kalian, dia malah berubah pikiran. Vina nggak mau merusak kebahagiaan kita. Dia bilang kalau nggak bisa sama Ayah ya sudah. Dia akan mengosongkan hatinya untuk siapapun. Vina hanya ingin Ayah yang mengisinya. Hemhhhh... Ibu jadi tak habis pikir, kenapa ada anak perempuan yng seperti itu. " Rani menghela nafasnya berkali kali. Dia merasakan dadanya sesak.


" Ayah pun juga demikian Bu. Ayah juga bingung harus bagaimana menanggapi Vina. "


" Terus bagaimana ini Yah, Ibu sudah capek di sini. Apa kita masih harus nunggu Vina? "


" Tunggu Tasya dulu Bu, Tapi.. kemana tadi Tasya pergi ? kenapa nggak datang , sudah lebih dari satu jam lho. "


" O iya tadi katanya dia mau membelikan minum untuk Vina, kok belum balik ya." Ujar Rani keheranan.


Tak lama kemudian, Tasya yang sedang mereka bicarakan datang. Dia membawa air mineral juga banyak makanan dan buah - buahan. Dia tampak kewalahan membawanya.


" Tasya.. sini Bapak bantuin . Kan berat itu.. " Tanu menawarkan diri membantu Tasya.


" Ehhmm tidak usah Pak, Tasya bisa sendiri kok. " Tasya menolak uluran tangan Tanu dan melewati Tanu begitu saja.

__ADS_1


Tiba - tiba saja , kantong plastik yang dia bawa sobek. Alhasil Buah jeruk, Apel, dan anggur kesukaan Vina bergelinding dan berserak kemana-mana. Tasya panik dan malu mengalami kejadian ini. Apalagi dilihat banyak orang. Wajahnya memerah, beruntung dia memiliki rambut panjang lurus dan tebal . Saat memungut, dia menunduk dan rambutnya mampu menutupi wajahnya yang memerah.


Namun ia kebingungan, bagaimana dia akan membawa buah - buahannya sementara kantung plastiknya sudah tak bisa di pakai lagi. Tak ada yang bisa Tasya lakukan, lalu dia berdiri dan menggosok rambut tebalnya. Sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.


Melihat hal itu Tanu dan Rani segera menghampiri Tasya dan membantunya memungut yang jatuh. Tasya menjadi lega karena ada yang bantuin memungut buahnya. Dalam hatinya dia menyalahkan dirinya sendiri karena menolak untuk di bantu. Dan pada akhirnya, dia menjatuhkan barang bawaanya sendiri.


" Tasya pasti kamu mencari kantung plastik untuk membawa buahnya kan ? " tanya Rani pada Tasya yang masih sibuk mengumpulkan buah yang jatuh dan menampung buah - buahannya dengan tangan kirinya di dada.


" Heeee.. iya Bu.. Tasya ceroboh tadi.. " Tasya hanya bisa meringis mengakui kesalahannya.


" Ini Ibu bawa kantung plastik, bawa saja berapa butuhnya. " Rani menawarkan kantung plastiknya dan menyerahkannya pada Tasya.


"Terima kasih Ibu, rasanya Tasya tertolong dari kejadian ini. Hampir saja Tasya mau pingsan , kalau tidak segera meninggalkan tempat ini. "


" Tadi Bapak sudah menduga, plastiknya itu nggak kuat untuk menampung buah sebanyak itu. Makanya Bapak tadi nawarin bantuan. Eh ternyata Tasya menolaknya. Ya sudah Bapak nggak mau maksa. "


" Iya maafkan Tasya ya Pak, Tasya hanya nggak mau merepotkan Bapak. "


" Untuk membantu orang , kami tidak pernah merasa repot. Kalau kami merasa repot , nggak akan mungkin kami menawarkan diri untuk membantu. "


" Hheee... Iya benar juga Pak. " ucap Tasya singkat lalu terdiam dan menunduk karena rasa malunya belum juga hilang.


Saat Tanu Rani dan Tasya berbincang , terdengar jeritan yang keras sekali dari ruang IGD. Hal ini membuat semuanya terkejut. Tama yang medengarnya lebih dulu, ketakutan dan menangis. Dia meminta gendong Ayahnya.


" Paaa ...ppaaaaaaa......" Vina nggak tahan dengan hidup ini, Vina ingin segera menyusul Mama....Huuhhhuuuuhhhhhhuu... " Vina menangis sekeras kerasnya setelah berteriak memanggil Papanya.


Tasya segera masuk menemui Vina lalu menenangkannya.


" Tasya... apa aku ini sudah gila? Kenapa aku tak bisa mengendalikan perasaanku. " ucap Vina lalu menarik narik rambutya yang indah. Hingga rambutnya berantakan seperti orang yang mengalami gangguan jiwa.


" Astaga Vinn. kamu ini masih waras.. kamu berhenti memikirkan yang berat dulu. Ingat, kita ini masih remaja. Tidak seharusnya kita memikirkan sesuatu di luar batas usia kita. Kita nikmati masa muda kita Vinn.. " Tasya mencoba menyadarkan Vina yang terus menerus memikirkan masalah hidupnya.


" Tasya... Di mana Pak Tanu? " tiba - tiba saja Vina kepikiran Guru idolanya itu.


" Tadi masih di luar Vin, kalau sekarang aku nggak tahu."


" Aku mau ngomong sama beliau. "


" Baiklah akan ku panggilkan Pak Tanunya. Kalian bicara lah berdua sampai kamu benar - benar tenang. " Tasya segera keluar dari IGD untuk memanggilkan Tanu.


" Sya Sya Sya ..... "


" Apalagiii? .... " jawab Tasya kesal.


Vina tahu sahabat baiknya kesal padanya, dia pun merayu Tasya.


" Sya.. kamu jangan kesal gitu dong sama aku. Katanya kamu sahabat aku? Berjanjilah untuk tidak membenci sifatku. Siapa tahu ini adalah detik detik akhir persahabatan kita. " ucap Vina lalu dia terdiam menatap ke arah langit - langit.

__ADS_1


Mendengar Vina berkata begitu, Tasya langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Lalu dia pun berkata di campur dengan tangisan,"Kamu bilang apa haa??? " Tidak semudah itu kamu meninggalkanku. kita pernah berjanji hidup selamanya seperti keluarga sendiri. Jangan pernah lupakan itu. Aku kesal bukan berarti aku benci Vin. Mengerti lah.. Bukan maksudku untuk begitu. Percayalah padaku. "


" Iya iya.. Tasya sudah jangan nangis. Aku kan hanya berkata asal saja. "


" Tapi itu nggak boleh Vin.. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik seperti kamu. "


" Iya... Aku juga Tasya.. Ya sudah berhentilah menangis, cepat segera panggilkan Pak Tanu, Istri dan anaknya. Kamu juga nanti masuk ke dalam. "


Tasya berjalan keluar dari ruang IGD. Pikirannya terlintas seketika," Vina akan mengumpulkan Tanu istri dan anaknya juga dirinya. Apakah Vina mempunyai pesan - pesan Terakhir yang akan dia sampaikan? Tidakkk.. tidak tidakk.. Ini nggak boleh terjadi.


Apa yang harus ku lakukan? Vinaa.. plisss.. jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi sama kamu."


"Ngekkkkkk...." suara pintu kaca di buka.


" Pak Tanu, Ibu, Adek, Saya di minta Vina untuk memanggil kalian. Mari silahkan masuk . "


" Owh ada apa Tasya? Bukannya kami disuruh masuk bergantian ya? " Tanya Tanu pada Tasya.


" Tidak apa - apa Pak, kebetulan Vina juga sudah sehat. paling sebentar lagi sudah boleh pulang. " Jawab Tasya penuh keyakinan.


" Baiklah kalau begitu, Ayoo Ibu , Tama, masuk duluan. " ucap Tanu lalu bergeser ke belakang dan menyuruh istri dan anaknya untuk terlebih dulu masuk.


" Pak Tanu, Ibu dan adek manis.. terima kasih sudah mau menemuiku. Buat Tasya terima kasih sudah mau membantuku. "


" Vinaa.. sebenarnya ada apa ini? kenapa menyuruh kami berkumpul ? Sebaiknya kamu beristirahat dan memulihkan tenagamu. " Ucap Rani pada Vina yang setelah dia ingat ingat, seperti mirip sahabat karibnya dulu saat SMA.


" Nggak ada apa - apa kok Bu. Vina hanya ingin ngobrol sebentar sama kalian. Apakah kalian keberatan? " tanya Vina pada Tanu dan Rani yang masih canggung dengannya.


" Kami nggak keberatan. Malah kami senang Vin.. " jawab Rani dengan tegas, agar Vina tidak berfikiran macem -


macem lagi.


" Baiklah kalau nggak ada yang keberatan. Vina akan mulai bicara. Vina mau bicara dulu pada Pak Tanu.."


" Iya Bapak akan dengarkan apa yang Vina katakan."


" Sebelumnya Vina minta maaf yang sebesar - besarnya pada Bapak karena sudah lancang sama bapak. Dan ingin merebut Bapak dari istri dan keluarga Bapak. Vina menyesal melakukannya. Sekarang Vina sadar, Vina tidak bisa memaksakan kebahagiaan Vina. Biarlah mungkin Vina tak di izinkan hidup bahagia di dunia ini. "


Vina memang semakin terlihat aneh saat ini. Bukan hanya Tanu dan Rani yang merasakannya. Namun Tasya pun merasakan keanehan pada Vina.


Tanu berkata pada Vina, " Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu mau menyerah dalam hidupmu? Viin.. kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Jangan bicara seolah kamu putus asa dengan hidupmu. "


" Benar apa yang di katakannya,Vina kamu tidak boleh menyerah. Harus semangat, tidak boleh putus asa. " sambung Rani membenarkan kata suaminya.


" Pak hidup Vina sudah tak ada arti lagi. Vina ini ibarat hanya sebagai hiasan dunia saja. Menarik pun tidak. Vina rasa meninggalkan dunia ini adalah yang terbaik. "


Tak terasa, Tanu pun meneteskan air mata mendengar Vina mengatakan seluruh isi hatinya. Tasya yang lebih tidak bisa menahan tangisnya kemudian membekap mulut Vina agar tidak bicara sembrono.

__ADS_1


" Cukup... Vinnn.. jangan di terusin.. Sudahhh hentikan.. kami tak ingin mendengar bicaramu yang ngelantur. " ucap Tasya menahan Vina agar berhenti bicara yang tidak - tidak.


......................


__ADS_2