SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KECELAKAAN TUNGGAL


__ADS_3

Seusai menghubungi Wijaya, Vina mulai membersihkan rumahnya. Mulai dari mengepel lantai atas, hingga ke bawah. Membersihkan kamar mandi. Mencuci piring, dan semua pekerjaan rumahnya ia kerjakan malam itu juga.


" Kamar Mama dan Papa ini sudah lama tidak aku pel, setiap hari aku bersihkan, namun tak pernah aku mengepelnya. Malam ini, aku akan membuat kamar ini bersih dan wangi." Vina memulai dengan mengepel kamar Mama dan Papanya.


Saat asyik mengepel, pandangannya tertuju pada foto almarhum mamanya bersama Wijaya, adik dan dirinya yang terpajang di dinding. Dia memandangi wajah mamanya.


" Ma, Vina bersyukur sekali punya Mama yang wajahnya cantik seperti ini. Cantiknya Mama, mengalir hingga ke hati Mama. Mama itu baik, sopan, meskipun Papa jahat, Mama tetap setia pada Papa. Bahkan saat Papa sakit dan nggak bisa apa-apapun, Mama selalu ada melayani Papa. Sungguh Mama berhati mulia. Aduhh.. Vina kangenn bangett, Ma. Boleh kan Ma, kalau Vina bertemu Mama?"


Vina berbicara dengan foto Mamanya, setelah selesai memuji almarhum Mamanya, ia pindah melihat foto adiknya yang masih bayi baru lahir yang sedang dalam gendongan Mamanya.


" Xena, adikku yang sangat kakak rindukan. Mungkin Kakak akan lebih lama lagi bertemu kamu. Papa kita menjauhkan kita, dan menempatkanmu dimana, kakak tidak tahu. Mungkin saat kamu dan Papa kembali ke rumah ini, kakak sudah tak disini lagi. Kakak berharap, kamu jadi anak yang mandiri seperti kakak ya. Soalnya Papa itu selalu pergi meninggalkan rumah. Jika kakak tidak ada, pasti kamu akan sendirian jika dirumah. Makanya, kamu harus jadi orang yang mandiri. Jangan bergantung pada Papa. Itu saja pesan Kakak ya Xena."


Selesai berbicara dengan foto adiknya, Vina memandangi foto Papanya, lalu dia berkata kepada foto Papanya.


" Pa, Papa itu jadi orang kurang kerjaan banget. Sudah tahu Vina bisa cari uang sendiri, mengapa harus bekerja menjadi pesuruh orang jahat. Kalau disuruh menghidupi Xena, Vina mampu kok. Papa.. Papa.. Semoga saja, Tuhan memberikanmu petunjuk yang baik agar mau berubah lebih baik. Vina nggak mau mempunyai Papa yang jahat, kejam, apalagi suka mabuk-mabukkan, main wanita dan main tangan. Vina mohon ya Pa, jangan menjadi Papa yang dulu lagi. Cukup Mama yang mengalami perlakuan kasar Papa saat Mama masih hidup. Cukup Vina yang menyaksikkan perlakuan keras Papa ke Mama. Vina harap, Papa tidak melakukannya pada Xena."


Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam, Vina memegang erat foto kebersamaan dia dan keluarganya. Dia mendekapkan foto itu ke dadanya. setelah lima menit, dia memandangi lagi foto keluarganya itu dan mengembalikan lagi ke tempat foto itu dipajang.


" Ha? Sudah jam setengah sebelas? Aku harus segera memberaihkan rumah ini. Aku tak mau saat Papa pulang nanti, Papa marah-marah karena rumah ini begitu kotor. Aku harus segera menyelesaikannya sebelum subuh."


Usai membersihkan kamar Mama dan Papanya, Vina mulai berpindah membersihkan lantai bawah. Mulai dari ruang tamu, ruang keluarga hingga dapur rumah dan kamar mandi bawah, ia bersihkan semua.


Keringat keluar membanjiri seluruh tubuhnya. Dia beristirahat sebentar, lalu mengambil air minum dari galon disamping ia duduk.


" Semua sudah bersih, tinggal membereskan kamar kesayanganku. Tapi aku mau minum dulu. Rasanya haus banget, setelah membersihkan rumah sebesar ini sendirian." Kata Vina, sambil mengusap keringat yang mengalir di wajahnya.


Selang beberapa menit, Vina kembali ke aktivitasnya. Dia kembali ke atas untuk membersihkan tempat tidur dan kamar mandi dalam kamarnya.


" Sudah semua, Yee.. Akhirnya pekerjaanku sudah selesai. Papa tidak akan marah lagi kalau rumah ini bersih. Misalnya Papa pulang, rumah ini sudah tidak wangi, jangan salahkan Vina ya Pa. Salahkan Papa sendiri karena kembali terlalu lama."


Pukul 02.00 Vina membersihkan badannya. Dia sangat teliti dalam membersihkan tubuhnya. Tak seujung kukupun terlewat dari gosokan tangannya. Hingga seluruh tubuhnya bersih, tidak meninggalkan daki atau kotoran apapun yang menempel ditubuhnya. Merasa kurang puas, dia kembali menggosokkan sabun dan mengeramasi rambutnya hingga tiga kali.


Kelakuan Vina yang berbeda, seperti menunjukkan sesuatu akan terjadi padanya.


" Ah, segar rasanya. Badanku sudah bersih, sudah wangi, sudah cantik seperti Mama." Vina merasa kegirangan melihat wajah dan tubuh moleknya dicermin.


" Hem, aku mau pakai pakaian ganti yang mana ya? Oh, sebaiknya aku memakai baju putih terusan ini saja. Ini akan membuat diriku seperti Mama."


Akhirnya diputuskan, Vina memakai pakaian berwarna putih. Padahal dia tahu, baju warna putih tidak begitu ia sukai karena mudah kotor.


" Sekarang tinggal memakai wangi-wangi saja terus pergi ke rumah Tasya. Mudah-mudahan saja sebelum subuh Tasya sudah bangun." Ucap Vina dalam hati.

__ADS_1


" O, iya. Aku mau menulis dulu di buku diaryku. Tadi kan aku sibuk, jadi nggak sempat nulis di buku diary. Lebih baik aku mulai menulis sekarang.


Setengah jam berlalu, Vina telah selesai menulis kegiatan hariannya. Tak lupa ia sematkan kata I Love U untuk orang-orang yang ia cintai di akhir kata. Termasuk untuk Tanu, dia juga menuliskan pesan untuknya.


Sebelum meninggalkan kamarnya, Vina memandangi seluruh isi kamarnya. Lemari pakaian, meja kursi untuk dandan, meja dan kursi untuk belajar, tempat tidur, dan jendela rumahnya yang menghadap ke arah timur, yang jika pagi tiba, cahaya matahari masuk kedalam kamarnya.


" Kenapa denganku, kenapa sepertinya aku akan berpisah dengan rumah ini. Rasanya aku sangat rindu. Padahal aku hanya ingin ke rumah Tasya. Tidak jauh kok rumahnya, tapi aku seperti akan pergi lama." Tanpa berpikir panjang, Vina menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Tak lupa dia juga mematikan lampu dalam kamarnya.


Pukul 02.40, Vina turun ke bawah untuk mengambil motornya. Dia akan melaju menuju rumah Tasya. Dengan memakai baju terusan berwarna putih, membuat aura kecantikkannya terpancar. Seperti layaknya seorang bidadari yang terbang melesat. Dia semakin kencang mengendarai motornya. Tak peduli angin malam membekukan dirinya. Dia hanya ingin bertemu Tasya, orang terakhir yang ia harapkan.


Pada saat melewati di jalan yang gelap, dua ratus meter dari rumah Tasya, Vina menerjang jalanan yang berlubang, sebesar tong aspal dengan kedalaman, sekitar sepuluh centi meter.


Karena terlalu dalam, membuat motornya terbanting dan tubuhnya terlempar sejauh lima belas meter dari motornya.


Kepalanya membentur aspal langsung, karena tidak memakai pelindung kepala.


Vina merasakan kepalanya pusing yang tak bisa dia tahan. Darah mulai keluar dari sela-sela rambutnya. Kaki dan tangannya juga mengeluarkan darah yang sama pada bagian yang mengalami gesekan dengan aspal jalan.


Pandangannya mulai kabur. Sekilas ia melihat Sosok Mamanya yang mengenakan baju yang sama dengan dirinya. Seperti seorang bidadari, wanita itu mendatangi Vina.


" Mama?"


Wanita itu hanya tersenyum dan mengelus-elus Wajah Vina. Kemudian dia menjauh, dan menghilang di dalam kegelapan.


Wanita itu melambaikan tangannya. Seakan menyuruh Vina untuk mendatanginya.


Namun Vina sudah tak berdaya. Tubuhnya seperti tak bisa digerakkan lagi. Hanya pikirannya saja yang masih bisa mengingat apa yang terjadi seharian itu.


" Apa memang aku akan mati hari ini? Mungkin saja aku akan mati. Iya, pasti aku mati." Vina tersenyum meskipun rasa sakit yang dia derita sangatlah perih.


" Pak Tanu, Vina pamit ya. Papa, Vina pamit. Tasya, Vina pamit. Jaga diri kalian. Selamat tinggal semuanya."


Dengan tersenyum Vina menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat pukul 03.00 dini hari, bertepatan dengan kematian Mamanya pada waktu lalu.


Tak berapa lama, ambulans datang ke tempat Vina kecelakaan. Seorang Ibu muda yang hendak pergi ke pasar melaporkan kecelakaan itu pada polisi. Kemudian menghubungi rumah sakit agar tubuh Vina di angkat dan di bawa ke rumah sakit.


" Wiiiiiuuuuuwiiiiiwiiiiiuuuuuwiiii.." Suara mobil ambulans lewat.


" Ha? Siapa itu yang meninggal?" Tanya Tasya saat sebuah mobil ambulans lewat depan rumahnya.


Tasya segera melipat mukenanya setelah shalat malam, lalu bergegas keluar rumah untuk melihat keadaan di luar.

__ADS_1


Dia membuka pintu gerbang rumahnya, lalu melihat ke arah mobil ambulans melintas. Setelah itu dia dikejutkan dengan kerumunan orang dan mobil polisi yang jauhnya dua ratus meter dari rumahnya.


Tasya penasaran. Tanpa pamit dengan Orang tuanya, Tasya mengeluarkan motornya, lalu pergi ke tempat orang-orang berkerumun.


Tiba disana, Tasya memarkirkan motornya lalu berjalan menerobos kerumunan. Dia mendapati seorang ibu muda yang di interogasi polisi. Lalu dia melihat sebuah motor matic yang sepertinya tak asing baginya.


" Vina!!!" Tasya menjerit. Sementara orang-orang melihat ke arahnya.


" Tidak, tidak mungkin. Vina, Vina!!!" Dia perlahan mundur dari kerumunan.


Namun seorang Polisi mencegahnya.


" Apa kamu kenal anak ini dek?" Tanya Polisi pada Tasya.


" Ini motor teman saya Pak Polisi. Tapi saya tidak tahu siapa yang memakainya."


" Owh begitu. Kami juga belum mengetahui siapa anak ini. Karena dia tidak membawa kartu identitas. Tapi kami akan beritahu ciri-ciri anaknya. Yang pertama dia berwajah cantik, putih bersih. berbadan proporsional.mengenakan pakaian berwarna putih. Rambutnya lurus. Itu saja yang bisa saya sampaikan. Selebihnya, jika adik ini merasa kalau anak ini temanmu, adik bisa mencarinya di rumah sakit Besar. Karena Ambulans yang membawanya tadi, dari rumah sakit sana."


" Vin, aku tak percaya ini. Vina!" Teriak Tasya, lalu bergegas melajukan motornya kembali ke rumahnya.


Dia mencoba menghubungi Tanu, sebelum sempat memastikan bahwa yang kecelakaan adalah Vina sendiri.


" Hallo, Pak Tanu."


" Hallo juga, Sya. Ada apa ini kok tumben belum ada waktu subuh, menghubungi Bapak. Pasti habis shalat malam kan?"


" Iya Pak, Tasya selalu melakukannya kok Pak."


" Bagus kalau begitu Sya. Bapak merasa bangga padamu."


" Terima kasih Pak, tapi sebelumnya Tasya mau minta maaf dulu sudah mengganggu waktu Bapak."


" Iya, tidak apa-apa kok Sya. Memangnya mau bicara apa Sya?" Tanu heran dengan Tasya.


" Pak, Vina kecelakaan. Dan dia sepertinya meninggal dunia di tempat Pak."


" Apa? Serius Sya? Jangan mengada-ada lho."


" Benar Pak, Tasya nggak bohong."


Mendengar keseriusan Tasya bicara, tubuh Tanu lemas. Mungkin semalam itu Vina memang ingin bertemu dengannya dan pamit pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


" Vina, maafkan bapak. Bapak tidak tahu kalau kamu akan meninggal secepat ini."


......................


__ADS_2