
Tiba di perbatasan desa, Bono langsung berjalan menuju mobilnya. Dia membuka mobilnya melalui remote yang ada ditangannya.
" Wah, itu mobil kamu sendiri Bon? Tadinya aku mau bantu membuka pintunya, eh malah udah dibuka duluan." Ucap Rika yang terkagum pada mobil Bono yang canggih.
" Ini mobil Bosku, aku hanya membawanya. Tapi sebentar lagi mobil ini akan ku kembalikan pada tempatnya."
" Oh, kupikir milik kamu sendiri. Terus mobil kamu kemana?" Rika penasaran dengan Bono. Tak mungkin Bono tidak memiliki mobil sendiri.
" Aku tak memiliki mobil, Rika." Ucap Bono datar.
" Ha? Kamu adalah penjahat hebat. Lalu kejahatan apa yang kamu lakukan? Kemana uang-uang yang kamu dapatkan dari hasil kejahatanmu?"
" Aku memberikannya ke sebuah yayasan anak yatim piatu di suatu tempat."
" Apa! Itu uang haram, kenapa kau berikan pada Yayasan?"
" Yayasan membutuhkan banyak beaya untuk menghidupi anak-anak yang mereka tampung. Sementara akhir-akhir ini, donatur berkurang sangat banyak. Dari sekian banyak anak yang ditampung, mereka rela berpuasa, dan makan seadanya saat buka dan sahur. Aku pun kasihan pada mereka, lalu aku membantu yayasan itu."
" Bon, tapi kamu tahu tidak? Uang itu uang haram. Kamu jangan seenaknya membantu dengan uang hasil kejahatanmu. Dosa, tahu nggak?"
" Rika, itu bukan hasil dari kejahatanku. Uang yang aku berikan ke yayasan adalah upahku."
" Tapi tetap saja walaupun itu upah, tetap saja upah dari hasil melakukan kejahatan. Bono, jika kau tak mampu mencari uang dengan cara yang baik, jangan kau gunkan untuk membantu orang. Kasihan mereka harus makan dengan uang haram."
" Rika, kau tak pernah mengerti rasanya kehilangan orang tua. Aku pun seorang yatim piatu. Tapi nasibku tak seburuk mereka. Walapun hidup yang aku jalani sangat buruk, tapi aku menikmatinya."
" Bon, mungkin saja mereka juga mempunyai nasib yang sama denganmu, dan mereka juga menikmati hidup mereka. Susah dan senang, akan selalu mereka jalani dengan ikhlas. Jadi jangan berpikiran kalau mereka susah karena hanya makan seadanya."
Bono terdiam, dia kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Kemudian suasana menjadi hening. Punto berusaha memecah keheningan.
" Rika, kau tak tahu apa yang dipikirkan Bono. Sudahlah, kau tak perlu mempermasalahkan itu. Dia begitu juga karena keadaan yang membuatnya tergugah untuk membantu. Mungkin saja jika tak ada Bono, Yayasan itu akan tutup. Dan anak-anak yang mereka naungi akan dilimpahkan ke tempat lain. Dan mungkin saja anak-anak itu menjadi terlantar dan malah menjadi pengemis jalanan meminta-minta pada orang."
" Rika hanya mengingatkan Bono saja kek, agar jangan mengulanginya."
" Biarkan saja, biar itu menjadi urusan nak Bono. Jangan membuat beban dipikirannya."
" Tidak apa-apa kek, Rika benar. Aku memang salah melakukan kebaikan. Lain kali aku akan melakukan kebaikan dengan hasil jerih payahku sendiri yang halal."
" Nak Bono, maafkan cucu saya. Dia memang suka begitu. Menceramahi orang sesuka hatinya. Walaupun maksud dia baik."
" Tak apa kek, aku malah suka dia begitu. Artinya dia orang yang perhatian."
" Apakah Rika itu tipe orang yang kau cari Nak Bono?" Tanya Punto.
" Saya tidak tahu Kek. Saya hanya menyukainya saja. Hati saya merasa tenang saat berada di dekatnya. Saya kembali ke desa juga untuk dia Kek."
Rika menjadi malu mendengar ucapan tulus dari Bono. Dia tak menyangka Bono, mengatakan perasaanya secara terang-terangan pada Kakeknya.
" Kek, Bono itu cuma main-main. Jangan dipikir sampai serius ya, Kek."
" Rika, aku berkata yang sebenarnya. Aku tidak main-main. Aku akan membuktikan janjiku." Ucap Bono dengan penuh keyakinan.
" Rika, aku tak melihat ketidaktulusan darinya. Namun sebaliknya, dia sangat tulus kepadamu. Dia juga tulus menyapa warga dan mau berkomunikasi dengan warga. Itu bukti bahwa Nak Bono juga masih mempunyai hati yang bersih." Ucap Punto, membesarkan hati Bono.
__ADS_1
" Iya kek, memang Bono sudah berubah. Aku kagum padanya. Lalu apa dia cocok untukku, Kek?"
" Emm, kita lihat perkembangan dulu. Lebih baik kalian pendekatan dahulu. Belajarlah menilai diri kalian masing-masing. Jika kalian sudah menemukan kekurangan dan kelebihan kalian, lalu kalian akan bisa menilai. Kamu suka tidak kelemahan Nak Bono. Begitu juga dengan Nak Bono, suka tidak dengan kelemahan Rika. Jika kalian bisa saling menerima kekurangan kalian masing-masing, aku akan menikahkan kalian."
" Serius, Kek? Ucap Rika sembari menggemgam kedua tangan Kakeknya.
" Iya, Kakek serius. Sudah saatnya Kakek menyerahkan perlindungan untuk dirimu kepada orang yang lebih kuat dari Kakek."
" Maksud Kakek apa? Kakek tetaplah akan menjadi Kakek Rika yang selalu melindungi Rika. Jika Bono jahat sama Rika Bagaimana, Kek?" Ucap Rika sedikit cemas.
Bono tersenyum mendengar kata-kata Rika. Kemudian dia berkata pada Rika.
" Aku tak akan pernah jahat sama kamu Rika. Aku akan jadi laki-laki yang lemah lembut untukmu. Jika kamu marah, aku hanya akan tersenyum dan mendengarkan omelanmu."
" Lalu jika kamu marah? Apa kau akan menyakitiku?" Rika menyambar ucapan Bono dengan cepat.
" Hahaha.. Kek, yakinkan pada Rika bahwa aku takkan pernah menyakiti wanita manapun termasuk istriku. Tolong katakan padanya Kek. Aku tahu kakek bisa membaca masa depanku."
" Bono benar Rika, kamu tak perlu cemas dengannya. Kakek pastikan, kau akan bahagia bersamanya. Jangan takut, apapun yang terjadi, apa yang kau putuskan sekarang takkan membuatmu merugi. Percayalah pada Kakek."
" Kakek bisa menjamin? Bono, awas ya kalau kamu cuma membuatku jadi mainanmu. Aku nggak akan pernah memaafkanmu." Ucap Rika dengan ketus.
Namun Bono hanya tersenyum melihat Wajah Rika dari spion dalam mobilnya. Rika semakin ketus melihat Bono hanya tersenyum menanggapi ucapannya.
"Ihh.. Bono, jangan tersenyum saja. Katakan iya, aku janji takkan membuatmu menjadi mainan. Ini malah senyum-seyum sendiri."
"Iya.. iyaa.. Aku janji tidak akan menjadikanmu mainan, Tuan Putri. Bawel juga ternyata."
" Apa? Bilang sekali lagi.. Ku cubit lho. Mau nggak ku cubit?"
" Baik kalau begitu.. Ihhh.." Rika pun mencubit kecil bagian leher Bono.
" Aduuhh... Rika, sakit!" Ucap Bono sedikit keras, karena terkejut dengan cubitan Rika yang mendadak.
" Sakit kan? Katanya nggak sakit, kalau kamu jahat sama aku, cubitanku akan lebih sakit dari yang tadi."
" Iya, aku tak akan jahat sama kamu sayangku. Jangan terlalu berpikiran buruk kepadaku. Yang ada, kamu malah sibuk memikirkan kelakuan burukku daripada mencintaiku." Ucap Bono sambil senyum-senyum.
" Hehe, makanya jangan jadi orang jahat. Agar aku nggak memikirkan hal yang buruk dari kamu. Aku juga nggak mau berprasangka buruk terus sama kamu. Tapi saat aku mencoba berprasangka baik, ingatanku yang dulu kembali, saat kamu berusaha berlari menangkapku dan ingin memperkosaku. Aku takut."
" Itu dulu Rika, aku sudah tak mau mengingatnya. Maafkan aku Rika. Jika aku ingat waktu itu, aku sangat malu sekali."
" Memangnya kamu masih mempunyai rasa malu Bono?" Ucap Rika kemudian menutup mulutnya, takut Bono tersinggunh dengan ucapannya.
Bono pun hanya tersenyum mendengar ucapan Rika. Dia sama sekali tak marah dan tersinggung dengan kata-kata Rika. Namun Punto menyela pembicaraan mereka lalu menegur Rika agar jangan berkata sembarangan pada Bono.
" Rika, kalau bicara jangan sampai membuat Nak Bono tersinggung. Itu akan membuat hubungan kalian retak. Jangan dibiasakan. Hormati calon suamimu, seperti nenekmu menghormati kakek. Ibumu menghormati Ayahmu. Jadi seorang istri harus bisa menjaga ucapan agar suami tidak emosi, lalu terjadi hal yang tidak diinginkan."
" Kakek ini tidak mengerti maksud Rika.
Rika hanya ingin mencoba menguji kesabaran Bono, Kek. Jika dengan ucapan sederhana saja dia tersinggung, Rika nggak mau lagi jadi istrinya Bono, Kek."
" Hemm.. Ya sudah Rika, kalau kamu terbayang-bayang oleh pikiran negatifmu. Setelah mengantarkan Kakekmu ke rumah sakit dan membawanya pulang, aku akan langsung pergi saja." Sambil menghela nafas, Bono berkata pada Rika.
__ADS_1
" Bono! Kenapa yang ada dipikiranmu itu hanya pergi dan pergi saja? Jika aku begini, suka ngomel-ngomel, suka marah-marah pun kamu akan pergi meninggalkanku?"
" Aku hanya ingin mengingatkanmu Rika. Sebelum nanti akhirnya kamu menyesal memilihku, lebih baik putuskan sekarang Rika."
Punto kembali menyela pembicaraan mereka yang sepertinya akan menimbulkan konflik yang membuat hubungan mereka renggang.
"Sudahlah Rika, Nak Bono.. Jangan diteruskan perdebatan kalian. Kakek tak mau menjadi semakin besar jika diteruskan."
" Kakek tak perlu khawatir. Aku tidak akan memarahi Rika. Cucu kakek aman bila berdebat denganku."
" Baiklah kalau begitu. Aku pasrahkan cucuku padamu Nak Bono. Aku harap kamu bisa menjaganya dengan sekuat tenagamu."
" Iya Kek, aku akan penuhi perintah Kakek. Aku berjanji akan selalu setia kepadanya."
Tak lama kemudian mereka tiba dirumah sakit. Kedatangan Bono sudah disambut oleh beberapa perawat yang membawa kursi roda untuk Punto.
" Silahkan Kek, naik kursi roda saja. Kakek kan masih kesulitan berjalan." Ucap Bono sambil menyiapkan kursi roda didepan pintu tempat Kakek Rika duduk."
" Kenapa sudah ada perawat yang kemari, Bono? Biasanya kita yang mencari mereka. Bahkan kalau kemari, kita yng harus mencari kursi roda sendiri." Tanya Rika pada Bono yang sedang mencoba membantu Punto duduk di kursi Roda.
" Itu tak perlu ditanyakan, pokoknya bersamaku semua mudah." Ucap Bono sambil tertawa.
Rika pun tersenyum. Dia lega, juga senang bisa dekat dengan Bono. Terlihat seperti orang yang kasar meskipun ia jahat, namun ternyata dia sangat baik.
Rika semakin tak ingin kehilangan Bono. Dia lalu berandai-andai, saat mereka sudah menikah dan memiliki anak, rumah tak akan lagi sepi. Penuh canda dan tawa antara dirinya, Bono juga anak-anaknya. Tak lupa juga setiap waktu mendengar lagu-lagu lawas dari radio, di kamar kakeknya.
Rika tersenyum kegirangan. Bono yang melihat Rika tersenyum sendiri, lalu menegurnya.
" Rika, kenapa senyum-senyum sendiri? Aku juga mau diajak tersenyum."
" Hehe, nggak apa-apa Bono. Aku sedang senang saja."
" Kakekmu lagi sakit, tapi kamu malah senang-senang sendiri. Harusnya sedih, lihat kakekmu merintih kesakitan."
" Iya aku tahu kakek sakit, tapi aku nggak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Maafkan Rika ya, Kek."
" Tidak apa-apa, kakek senang melihatmu bahagia. Itu senyum paling bahagiamu yang baru kakek lihat selama ini. Rika, jika Kakek sudah pulang kepada yang Maha kuasa, aku mohon bersikaplah lebih dewasa dalam menyelesaikan masalah. Kakek sudah tidak bisa memberikanmu nasehat apapun. Kamu harus hidup mandiri. Belajarlah dari setiap masalah yang kamu hadapi."
" Kakek ini bicara apa? Rika nggak mau kehilangan Kakek. Jangan bicara yang aneh-aneh, Kek. Rika takut, ditinggal kakek." Ucap Rika sembari memeluk Kakeknya.
Bono pun berhenti mendorong kursi roda Punto. Dia merasa terharu sekali dengan apa yang dilihatnya.
" Rika, jangan menangis. Ayo kita masuk ke ruang perawatan. Dokter sudah menunggu disana.
" Eh, baik Bono. Ayo kek, kita masuk. Kakek cepat sembuh ya. Pukulan Mas Reza tidak sampai membuat Kakek terluka parah kan?"
" Tidak, dia hanya membuat wajah kakek memar saja. Di beri obat merah dan di perban saja sebenarnya sudah cukup."
" Tapi kenapa Kakek tidak bisa berjalan? Apa ada masalah dengan kaki Kakek? Rika tak melihat Mas Reza menendang Kaki Kakek."
" Memang tidak, Kakek juga tidak tahu. Nanti biar dokter saja yang menjelaskan. Apapun yang terjadi itu sudah takdir Kakek. Kamu tak perlu bersedih, Rika."
" Kek, di saat Rika menemukan kebahagiaan Rika, tapi malah Kakek jadi seperti ini. Kek, Rika ingin Kakek segera pulih. Rika nggak mau Kakek sakit."
__ADS_1
" Iya Rika, Kakek juga tidak menginginkannya. Tapi Kakek juga harus menerimanya jika Kakek seperti ini."
......................