SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
SIAPA YANG BISA KU PERCAYA?


__ADS_3

Pertarungan yang terjadi hingga pukul dua dini hari masih terus berlanjut. Bono masih mampu mengimbangi kekuatan Rendra. Semakin Bono teringat dengan masa lalunya yang pahit, semakin besar dia menyimpan amarahnya, dan semakin besar kekuatannya. Bono terus menyerang Rendra tanpa henti. Hingga Rendra belum sempat mengeluarkan jurusnya.


" Kurang ajar! Bocah sialan ini, terus menyerangku tanpa henti. Aku tak bisa menggunakan jurusku!" Gumam Rendra dalam hati.


" Apa ada celah lain untuk ku bisa mengeluarkan ilmuku? Sepertinya Bono ini memang orang yang pantang menyerah. Aku tak bisa menembus pertahanannya. Berkali-kali seranganku bisa ia patahkan."


" Apa kau kehabisan tenaga Ndra? Kenapa kau berdiam diri dan tak membalas seranganku?" Tanya Bono.


" Tidak Bon, aku ingin kita bertarung mati-matian bukan karena dendam, tapi untuk membuktikkan siapa yang terkuat. Bon, aku tak ingin bertarung atas dendam. Apalagi kamu bertarung denganku karena aku, kau tuduh memperkosa Ibumu. Aku sama sekali tidak melakukannya. Aku berkata yang sebenarnya Bon."


" Rendra! Mana ada maling mengaku maling. Aku tak butuh omong kosongmu!"


" Bon, apakah kau masih mempunyai hati yang jernih? Jika masih, walaupun hanya sedikit, tolong berikanlah kesempatan hatimu yang jernih itu, untuk memutihkan hatimu yang hitam. Aku yakin, kau pasti bisa melakukannya. Dan aku yakin, kau akan percaya kepadaku."


" Jangan mencoba mempengaruhiku Ndra! Aku tidak akan percaya dengan kata-katamu, walaupun aku mau mendengarnya. Aku takkan memberimu kesempatan untuk menjadi penguasa lagi jika Kau hidup. Kau sungguh serakah, dan tak suka berbagi. Sudah terlihat keburukanmu. Kau tak perlu menunjukkan kebaikanmu, karena itu semua tak ada dalam dirimu. Kau seorang ba****an, di sekelilingmu juga sama. Kau tak perlu mengetuk hatiku yang sudah hitam untuk menjadi putih. Aku sudah terbiasa hidup dalam kejahatan, hatiku yang hitam sudah mendarah daging, aku takan bisa lagi menjernihkannya."


" Bon, Kamu memang keras kepala. Sayang sekali kamu berada dipihak yang salah. Dengarkan aku Bon. Aku akui aku memang salah, tak bisa menjadi Bos yang baik untukmu. Tapi ketahuilah, aku masih mempunyai sisi baik. Sejahat-jahatnya aku, masih ada sisi baik yang ada pada diriku meskipun itu sangat kecil. Bon, jika kamu melawanku hanya karena kamu dendam padaku karena aku kau tuduh memperkosa Ibumu, kau salah besar Bon. Aku bersumpah, jangan sampai kau menyesali kebenara ini."


" Ahhhh!! Aku tak peduli dengan pembelaanmu! Aku sudah memutuskan bahwa kaulah yang telah memperkosa Ibu dan membunuhnya! Rendra! Kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua yang melahirkanmu? Kau tahu bagaimana perasaanya saat Ibumu disetubuhi, dan dibunuh setelah puas menikmati keindahan tubuhnya? Apakah kamu berfikir, setelah kamu membunuh keluargaku, bagaimana dengan nasib anak yang ditinggalkan orang tuanya? Apakah otakmu bisa berpikir seperti itu?Jawab! Kau memang keparat! Kamu tega menghilangkan nyawa keluargaku. Aku tak bisa memaafkanmu!


" Bon! Tenangkan dirimu! Aku takkan menyerang jika kamu masih menuduhku yang bukan perbuatanku!" Ucap Rendra sambil menahan serangan-serangan Bono yang membabi buta.


" Kalau kau tak menyerang, malah akan memudahkanku membunuhmu Ndra. Hahaha.."


" Sial! Sedikitpun kau tak mau percaya padaku Bon!"


" Tidak! Aku takkan percaya padamu Ndra! Rasakan ini Hyaaat!!!" Bono menendang tubuh Rendra dengan kekuatan penuhnya.


Rendra terpental jauh hingga sepuluh meter dan mengenai pohon besar, lalu jatuh ke tanah.


" Hahaha.. Jadi hanya segitu kemampuanmu Ndra? Dimana kekuatanmu yang kata orang sangat mengerikan? Kau saja bisa aku kalahkan. Haha.." Bono tertawa lepas, dia bisa mengalahkan Rendra hanya dengan satu tendangan keras.


" Sudah kukatakan aku takkan melawan, kalau kau terus menuduhku memperkosa Ibumu. Bukan aku yang melakukannya." Ucap Rendra sambil duduk bersandar dibawah pohon besar.


" Lalu siapa lagi yang memperkosa Ibuku jika bukan kamu? Apa setan yang melakukannya? Rendra! jangan buatku tertawa..."


" Bon, sudah kukatakan yang sebenarnya. Ini bukan lelucon. Percayalah kepadaku." Ucap Rendra sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya.


" Kau mengaku membunuh Ayahku, dan adik-adikku, berarti kamu juga yang membunuh Ibuku! Brengsek! Kamu memang biadab, Ndra! Aku takkan segan-segan lagi untuk membunuhmu! Kau tak bisa lari dariku. Bersiaplah kamu Ndra!


" Bunuhlah aku! Ayo bunuh aku!! Agar kau puas bisa membalaskan dendammu. Lekas bunuhlah! Aku takkan melawan. Lakukan Bon! Ayo lakukan!" Rendra berteriak karena kesal dengan Bono yang tak mendengarkan kata-katanya.

__ADS_1


" Kurang ajar! Hyaatt.. Plaakkk.." Satu tamparan kecil mengenai wajah Rendra.


" Kenapa tak membunuhku? Ayo bunuh aku! Jangan ragu-ragu! Turuti kata hatimu! Aku tidak takut mati meskipun aku sendiri punya dendam denganmu. Aku rela mati jika kau membunuhku! Lakukan! Bono! Bunuh aku! Bunuh aku yang telah memperkosa Ibumu! Hahaha.." Rendra terus mendesak Bono untuk membunuhnya. Sembari tertawa karena kesedihannya yang harus kehilangan Kekasihnya, hanya karena dendam Bono kepadanya.


" Kenapa kamu tertawa! Apa kamu sudah melihat Kekasihmu itu menjemputmu? Haha.."


" Iya Bon. Sepertinya Dini sudah ada disampingku. Dia masih ada disini dan akan menjemputku sebentar lagi. Mungkin dia sudah tahu kalau aku akan mati hari ini. Haha.." Ucap Rendra, karena putus asa dengan hidupnya.


" Rendra! Yakinkan aku kalau bukan kamu yang memperkosa Ibuku dan membunuhnya! Katakan, siapa yang melakukannya!" Bono menarik kerah baju Rendra dan menatapnya dengan tajam.


" Bono, aku sudah mengatakannya padamu berulang kali, namun kau tak mempercayaiku. Tak ada gunanya aku memberitahumu siapa yang melakukannya.


Sudahlah Bon, aku sudah tak tahan hidup di dunia ini. Kekasih yang sangat aku cintai, kau perkosa dan kau bunuh disaat aku akan berencana melamarnya dan datang pada orang tuanya. Kamu sungguh kejam, Bon!


Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti itu pada siapapun musuhku. Tapi kau jadi pengikut yang berkhianat dan tega melakukannya kepada kekasihku. Orang yang tak ada hubungannya dengan semua ini! Kau menodainya dan membunuhnya Bon!"


" Rendra, maafkan aku. Aku khilaf. Aku melakukannya karena ingin kamu merasakan apa yang ku alami pada saat itu. Aku ingin kau juga menderita sama seperti yang aku rasakan Ndra! Hanya itu yang ingin ku lakukan. Aku sebenarnya juga tidak bernafsu dengan kekasihmu."


" Baiklah Bon, aku memaafkanmu. Ini semua sudah kehendak Tuhan. Aku tak bisa menyalahkanmu."


" Lalu siapa yang memperkosa Ibuku Ndra? Katakan padaku! Aku akan menghabisinya malam ini juga, jika dia berada tak jauh dari sini."


" Bon! Tunggu apalagi? Kau berhasil mengalahkannya, ini kesempatanmu untuk membunuhnya. Tunjukkan padaku kemampuanmu yang sesungguhnya Bon! Jika kamu masih ingin bergabung denganku."


" Si pecundang sudah datang rupanya. Sial! Apa yang harus ku lakukan? Akibat hantaman Bono tadi badanku jadi sakit semua. Aku tak bisa lagi mengalirkan energi ke seluruh tubuhku." Gumam Rendra dalam hati.


" Tidak Bos, saya akan memberikan dia kesempatan untuk berbicara yang sebenarnya, siapa yang telah menodai Ibu saya dan membunuhnya." Bono menolak perintah Wijaya.


" Aku sudah bilang padamu Bon, dia yang telah memperkosa dan membunuh keluargamu. Apa kamu meragukanku, Bon?"


" Saya mau tahu kejujuran kalian malam ini. Saya butuh kepastian."


" Bon, Wijayalah yang telah memperkosa Ibumu. Dia juga telah membunuhnya." Ucap Rendra sembari mengacungkan jari tangan pada Wijaya.


" Jaga mulut busukmu Ndra! Kamu tak bisa mempengaruhi Bono dengan kata-kata yang keluar dari mulutmu. Aku yakin dia akan lebih percaya kepadaku. Bono! Cepat habisi dia. Atau kau akan menyesal saat dia kembali bisa memulihkan tenaganya, kau akan terbunuh olehnya! Sekarang lakukan, Bon!" Wijaya terus mendesak Bono untuk membunuh Rendra.


" Jay, aku siap mati kapanpun demi menegakkan kejujuran. Aku takkan membalas serangan Bono walaupun sebenarnya aku bisa membunuhnya dengan cepat. Tetapi aku tak ingin dia mati membawa dendam. Kasihan arwahnya jika dia masih menyimpan dendam di alam sana. Hahaha.."


" Oh, jadi begitu mau kamu? Kalau begitu bersiaplah Ndra. Minggir kamu Bon! Biar aku yang membunuhnya! Jangan beri dia kesempatan untuk mengelabuhimu!"


" Tidak Bos, saya tidak akan membiarkan Bos membunuhnya. Saya butuh penjelasan, siapa yang bisa ku percaya diantara kalian."

__ADS_1


" Kurang ajar kau Bon! Berani melawanku! Hyaatt.." Wijaya menendang Bono yang duduk didepan Rendra, yang masih bersandar di bawah pohon.


Tubuh Bono terpental jauh hingga sepuluh meter, namun Bono tidak merasakan sakit sedikitpun.


" Bos! saya tak akan membiarkan Anda menyentuhnya! Menyingkirlah dari sana!" Bono berteriak menegur Wijaya.


Mendengar teriakan Bono, Wijaya tetap maju ke depan menghampiri Rendra. Rendra, inilah saatnya aku menghabisimu! Pergilah kamu ke neraka Ndra! Hyaaaatt!!" Wijaya melompat mundur sepuluh meter lalu menghentakkan kakinya ke tanah dengan cepat.


Angin kencang bergulung menuju ke arah Rendra yang terbaring. Dia tidak menghindari serangan Wijaya. Sesaat setelah angin kencang menerpa tubuhnya, ledakan keras disertai kepulan asap yang tebal menyelimuti tempat Rendra terbaring. Tak lama kemudian pohon besar tempat Rendra bersandar tumbang hingga menghasilkan suara bergemuruh. Rendra pun terlempar jauh hingga belasan meter.


" Rendra!" Teriak Bono, lalu melompat dan berlari ke arah Rendra.


" Bon, aku sudah menepati kata-kataku. Aku takkan menyerang karena aku berkata jujur. Apakah kau masih tidak percaya denganku?" Rendra berkata dengan lirih.


" Ndra, sebenarnya aku tak ingin mempercayaimu. Tapi yang kau lakukan saat ini, sudah cukup membuktikkan kejujuranmu. Maafkan aku Ndra. Aku telah berdosa padamu, juga kepada kekasihmu. Aku sangat menyesali semua yang telah kulakukan."


" Bon, aku telah memaafkanmu. Kau tak perlu merasa bersalah lagi. Aku sudah tidak akan mengungkit tentang kematian Dini dan Karin. Kini aku telah mengakhiri hidup dan kejahatanku. Bon, apakah kau mau memaafkan kesalahanku?"


" Bos Rendra, Anda tidak bersalah. Sayalah yang bersalah. Saya telah mempercayai orang yang salah selama ini!" Bono melirik pada Wijaya yang masih berdiri puluhan meter darinya.


" Kau tak perlu memanggilku Bos lagi Bon. Aku sudah bukan Bos lagi, semua pengikutku sudah musnah."


" Tapi saya akan bersedia menjadi anak buah Anda. Saya akan patuh padamu Bos."


" Waktuku sudah tak banyak Bon. Aku ingin mengatakan suatu kebenaran kepadamu."


" Katakan saja Bos, aku akan mempercayaimu."


" Waktu itu, saat aku dan Wijaya merampok di rumahmu, hanya ada Ibumu dan adik-adikmu di rumah. Ayahmu pergi, tapi aku tak tahu kemana. Ibumu yang sangat cantik, hanya memakai daster pendek putih yang transparan. Wijaya saat itu tergoda pada kemolekan tubuh Ibumu. Kulitnya yang putih dan mulus, membuatnya tak bisa menahan nafsunya. Dia kemudian memaksa Ibumu dan menyetubuhinya walapun ibumu memberontak. Dia berhasil membuat Ibumu tak berdaya. Adik-adikmu mengetahui hal itu, lalu mereka berlari ke arah Wijaya dan menggigit tangannya hingga berdarah. Wijaya murka lalu memukul mereka dengan kejam.


Melihat adik-adikmu dipukul, Ibumu berusaha memukulnya walaupun pukulannya hanya sia-sia. Lalu Wijaya mencekik leher Ibumu hingga dia mati.


Aku tak bisa mencegah hal itu, karena aku sibuk merampok uang dan perhiasan milik orang tuamu. Saat aku ingin keluar, aku sudah mendapati Ibumu tercekik ditangan Wijaya. Aku berniat melepaskannya, namun aku sudah terlambat. Lalu aku menyuruhnya pergi."


" Ba****an, kenapa aku tak menyangka akan jadi seperti ini!"


" Satu lagi Bon, saat aku menenangkan adik-adikmu, Ayahmu datang lalu berniat membunuhku. Dia menuduhku yang membunuh Ibumu, aku sudah bicara jujur padanya, tapi dia tidak mau mendengarkanku. Aku terpaksa membunuhnya karena dia berusaha membunuhku berkali-kali.


Adik-adikmu tidak terima Ayahmu ku bunuh, mereka memukulku dan menggigit punggungku hingga robek. Akupun murka lalu menendang mereka dengan keras. Mereka tak sadarkan diri karena kepalanya membentur dinding, hingga kepala mereka berdarah. Aku tak tahu mereka mati atau masih hidup. Lalu aku meninggalkan mereka."


......................

__ADS_1


__ADS_2