SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PANGGILAN DARI BOS BESAR


__ADS_3

" Bruukk.." Wijaya membawa Bono pulang ke rumahnya. Namun karena terlalu berat, Wijaya menjatuhkan Bono ke lantai.


Vina yang sedang menonton TV di ruang tengah, terkejut mendengar suara dari luar.


" Suara apa tadi ?" Novi berjalan keluar untuk melihat ke arah suara.


Saat membuka pintu, dia melihat Wijaya sedang bersama pemuda yang sedang terluka parah, dan terkapar di lantai depan rumahnya.


" Papa, siapa dia? Kenapa sampai berdarah begitu?" Tanya Vina sambil memegang gagang pintu, hendak menutup kembali pintu rumahnya.


" Vina, dia teman Papa. Dia dikeroyok warga sampai babak belur seperti ini. Makanya Papa menyelamatkannya, sebelum mereka membunuhnya."


" Terus, dia mau tinggal disini Pa?" Tanya Vina.


" Untuk sementara iya, Papa akan menyembuhkannya dulu." Ucap Wijaya lalu menyeret Bono masuk ke dalam rumahya.


" Memangnya Papa bisa menyembuhkannya?"


" Harusnya bisa, Papa kan dulu belajar tentang obat-obatan."


" Syukurlah kalau Papa bisa. Kalau tidak, mending di bawa saja ke rumah sakit."


" Papa tak bisa membawanya ke rumah sakit, kalau disana, dokter tak bisa mendeteksi sakitnya. Lagi pula kalau di bawa kesana, pasti semua akan mencurigainya."


" Maksud Papa dicurigai maling?"


" Iya seperti itu Vin."


" Apa jangan-jangan, dia maling beneran, Pa?"


" Huush.. jangan bicara sembarangan. Dia orang kaya, dan hebat. Dia teman baik papa, Vina."


" Oh, ternyata Papa punya teman yang baik juga ya. Vina pikir hanya orang mabok dan judi saja. "


" Papa itu kalau berteman, tidak pilih-pilih. Semua yang mau berteman dengan Papa, ya Papa terima. Tidak semua orang jahat itu selamanya jahat. Kadang mereka malah suka menolong. Dan tidak semua orang baik itu baik, terkadang mereka menjelekkan kita di belakang kita. Dan malah, orang baik pun bisa juga menjadi musuh kita."


" Iya, Vina juga mengerti itu. Eh, Pa.. Vina izin ke rumah Tasya ya. Orang tua Tasya sedang tidak di rumah. Dia meminta Vina menemaninya."


" Malam-malam begini, mau kesana? Papa tidak mengizinkan."


" Sekali ini saja, Papa. Vina cuma di rumah Tasya saja, tidak kemana-mana. Papa jangan khawatir. Vina takut Papa marah, jadi peraturan Papa yang dulu, tetap Vina pegang teguh."


" Hahaha.. memangnya Papa kalau marah seperti apa? Masa anaknya sampai ketakutan begitu." Ucap Wijaya sambil tertawa, membayangkan dirinya saat memarahi putrinya.


" Papa kalau marah seperti singa yang kelaparan, dan siap menerkam. Aummm.." Ucap Vina sambil memperagakan di depan Wijaya.


Wijaya tertawa lebar, namun dalam hatinya berharap putrinya segera pergi meninggalkan rumah, sebelum Bono bangun dan membocorkan sebuah rahasia dirinya.


" Papa, boleh ya. Vina pergi ke rumah Tasya." Pinta Vina sekali lagi.


" Iya, Papa mengizinkan kamu pergi, tapi sekali ini saja ya. Papa tak mau kamu, jauh dari Papa. Nanti Papa bisa rindu." Ucap Wijaya sambil tersenyum.


" Hahaha.. Papa bisa saja. Yang rindu itu Vina. Papa selalu ninggalin Vina sendirian."


" Hehehe.. Ya sudah, sebelum kemalaman. Sebaiknya kamu segera ke sana. Jangan nakal ya." Ucap Wijaya sambil mencium kening Putrinya.


" Hehe, siap Papa." Vina segera keluar mengambil motornya, lalu pergi ke rumah Tasya.

__ADS_1


" Untung saja Vina pergi, kalau tidak, pasti dia akan tahu rahasiaku dari Bono. Mungkin saat tersadar nanti, Bono masih menyimpan dendam padaku dan berteriak semau dia. Kalau Vina disini, pasti Vina akan mencurigaiku.


Lama-lama dia akan mencari tahu tentangku. Di sini aku bukan siapa-siapa. Namun di tempat lain, orang sudah banyak yang memberiku julukan. Si kejam, si jahat, si penindas. Aduh.. Kenapa aku begitu jahat?" Ucap Wijaya lirih.


" Ini sudah hampir jam sembilan, kenapa Bono belum bangun juga. Seharusnya dia hanya pingsan. Tubuh sekeras dia tidak akan mudah begitu saja terluka parah oleh seranganku. Aku hanya mengeluarkan seperempat kekuatanku saja." Ucap Wijaya sambil melihat keadaan Bono. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil air.


Lalu Wijaya menyiramkan ke tubuh Bono.


" Sooorrr.." Wijaya menyiram tubuh Bono dengan air satu ember.


Bono pun terbangun, dia merasakan kedinginan.


" Dimana aku? Apa aku masih hidup?" Ucap Bono lirih.


" Kamu masih hidup Bono." Jawab Wijaya, meskipun Bono tidak bertanya kepadanya.


Begitu mendengar suara Wijaya, Bono terkejut. Sekujur tubuhnya memanas. Dia mencari darimana suara itu berasal.


" Aku disini, Bono. Dibelakangmu." Ucap Bono.


Bono berusaha berdiri, namun tubuhnya masih lemas. Dia terjatuh tertelungkup. Namun ia tak mau menyerah. Dia berusaha berdiri kembali, walaupun harus terjatuh lagi.


" Wijaya! Sialan kamu! Aku akan membalaskan kematian kedua orang tuaku, Wijaya!" Seperti dugaan Wijaya, Bono berteriak ingin membalas dendam kematian orang tuanya.


" Bono, kalau kamu sanggup membunuhku, akan ku berikan putriku, untukmu. Tapi itu takkan terjadi. Sebelum kamu membunuhku, kamulah yang akan terlebih dahulu mati, Bono. Hahaha."


" Brengsek! Awas kamu Wijaya. Haaaa.."


Bono terus berteriak, hingga dia mampu mengumpulkan tenaganya kembali. Sedikit demi sedikit, Bono mampu memulihkan tenaganya.


Wijaya terkejut melihat kemampuan Bono. Tak heran, Bosnya memilih Bono menjadi pengawalnya.


" Bon, bon, bono.. tunggu dulu. Hentikan! Kita adalah satu tim. Kita tidak boleh bertengkar!" Wijaya mencoba mencegah Bono bertarung dengannya.


" Kenapa Wijaya? Kamu takut kepadaku? Ayo! Aku belum kalah. Jangan jadi pengecut!"


" Tunggu, aku ingin berkata yang sebenarnya kepadamu. Yang membunuh orang tuamu bukanlah aku. Tetapi Bos kita.


" Omong kosong! Setelah berhasil membuatku percaya kata-katamu, sekarang kamu mau mengarang cerita lagi. Aku sudah terlanjur murka Wijaya. Aku tak mau mendengar ocehanmu! Wijaya! Tanganku sudah gatal ingin mencengkram jantungmu. Terima seranganku Wijaya!"


Tak mampu menenangkan Bono yang sedang dirundung murka, Wijaya berlari keluar untuk menghindari kerusakan akibat serangan Bono.


Dia berlari secepat peluru melesat, hingga tak terlihat oleh mata biasa. Namun Bono mampu mengejarnya. Amarahnya yang meledak-ledak mampu memberikannya kekuatan yang dahsyat.


Sampai di tengah hutan, Wijaya menghentikan langkahnya.


" Mau lari kemana kamu Wijaya? Sampai neraka pun aku akan mengejarmu!"


" Bono, aku sudah memberitahumu satu hal. Jangan menyesal jika aku akan melukaimu hingga sampai tega membunuhmu!"


" Tutup mulutmu Wijaya! Jangan rasa kamu lebih hebat dariku. Ayo, tunjukkan kekuatan aslimu Wijaya!"


" Baiklah, Bono. Aku akan tunjukkan kekuatanku yang sebenarnya. Bersiaplah Bono! Hiaaa.." Menghadapi Bono yang semakin kuat, Wijaya meningkatkan lagi sedikit kekuatannya.


Namun, sebelum Wijaya meningkatkan kekuataanya, Hp Wijaya berdering.


" Siaal, siapa yang menghubungiku?"

__ADS_1


" Bos? Iya halo Bos." Wijaya menerima telpon Bosnya tanpa mempedulikan Bono yang kapan saja bisa menyerangnya.


" Wijaya, dimana kamu? Kembalilah. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."


Mendengar Wijaya berbicara dengan Bosnya, Bono hanya terdiam. Dia bingung harus melakukan apa. Walau bagaimanapun, dirinya dan Wijaya adalah satu tim yang di bentuk oleh Bosnya. Mereka tidak boleh saling membunuh meskipun mereka saling berselisih.


" Baik Bos, malam ini juga saya akan kembali."


" Baiklah Wijay. Cepat segera." Bos Wijaya menutup telponnya.


" Hahhhh.." Merasa kesal Wijaya berteriak.


Kekuatannya yang tadi sempat terhenti namun sudah terkumpul, dia hempaskan ke beberapa pohon besar. Seketika itu bunyi suara seperti ledakkan besar bergaung sampai menyakitkan telinga.


" Duaaarr.. Duuaarr.. " Pukulan Wijaya mengenai pohon besar di depannya. Seketika itu, pohon itu terbelah menjadi beberapa bagian.


Bulu kuduk Bono berdiri. Ia tak memungkiri kehebatan Wijaya sekarang. "Apa yang harus ku lakukan?" Ucap Bono dalam hati.


Namun kekesalan Wijaya tidak berhenti begitu saja. Dia terus melampiaskan kekesalannya. Dia menyerang ke segala penjuru arah. Hingga mencapai puluhan pohon, tumbang karena serangannya.


Bono tak bisa tinggal diam, dia mencoba memanggil Wijaya untuk membuatnya sadar, atas perbuatannya.


" Bos! Hentikan! Kamu bisa merusak semuanya. Ini milik penduduk yang tak bersalah. Jangan kau hancurkan harta mereka."


Mendengar ucapan Bono, Wijaya semakin memanas.


" Diam kamu, Bono! Ayo kita teruskan pertarungan kita! Ayo kalau kau masih menganggapku, aku lah pembunuh orang tuamu, cepat serang aku!"


" Aku memang masih ragu dengan ucapanmu. Tapi untuk saat ini bertarung denganmu, bukanlah hal yang baik. Bos besar menyuruh kita kembali, bukan?"


" Benar juga kata Bono, Bos menyuruhku segera kembali. Kurang ajar! Kapan aku punya waktu untuk membunuhmu Bos! Aku muak, kau suruh-suruh terus semaumu!" Ucap Wijaya dalam hati.


" Bos Wijay, ayo kita harus segera kembali. Aku akan memesan tiket pesawat untuk besok pagi. Jadi sebaiknya kita istirahat untuk memulihkan energi kita."


" Baiklah, aku setuju denganmu, Bono. Lebih baik kita mengisi perut kita dahulu. Aku sudah sangat lapar." Ucap Wijaya sembari memegang perutnya.


" Kemana kita akan makan Bos?"


" Aku punya tempat yang menarik untuk di kunjungi, Bon. Tapi aku tak tahu buka atau tidak."


" Enak tidak makanannya, Bos? Kalau tak enak, akan ku lempar saja piringnya." Ucap Bono sambil meremas jari-jarinya.


" Aku sendiri belum mencicipi. Tetapi Restoran itu milik temanku. Dia pandai memasak. Pasti makanannya tak mengecewakan."


" Baiklah kalau begitu, Aku mengikut saja Bos Wijay."


" Bono, Karena kau sama hebatnya denganku, tak perlu kamu menyebutku dengan panggilan Bos. Cukup namaku saja."


" Tidak Bos, aku denganmu terpaut usia yang sangat jauh. Aku juga dibesarkan olehmu setelah orang tuaku meninggal. Aku berhutang budi banyak padamu."


" Bukannya kamu tahu aku yang membunuh orang tuamu? Kenapa masih memanggilku Bos?"


" Sudah Bos, Aku tak ingin mengingat itu lagi. Lebih baik kita pergi ke restoran teman Bos itu." Ucap Bono kesal, karena modnya makan jadi sedikit hilang.


" Bono, aku sudah bilang yang sebenarnya. Bahwa Bos kita yang membunuh kedua orang tuamu. Aku berbohong untuk melihat seberapa kemampuanmu jika kamu marah. Aku hanya ingin tahu kemampuanmu. Aku juga penasaran sehebat apa kamu, sehingga selalu tak memperhatikan perintahku."


" Maaf soal itu Bos, saya khilaf."

__ADS_1


" Ya sudah. Lupakan saja Bono. Ayo kita pergi sekarang."


......................


__ADS_2