SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Lima tahun berlalu usai kejadian mengerikan, yang terjadi di Puncak Bukit Timur dan Puncak Bukit Barat. Kini tempat itu menjadi sunyi senyap. Tak ada siapapun yang berani datang ke tempat itu. Kabar yang tersebar tentang pembantaian satu keluarga di Bukit Timur dan penggusuran serta pembunuhan yang terjadi di Bukit Barat, membuat orang merasa ketakutan untuk pergi ke tempat itu. Wijaya sendiri tak pernah datang setelah sebelumnya, ia pernah berniat membuat Bukit Timur dan Bukit Barat, menjadi tempat perjudian dan tempat maksiat.


Wijaya terlalu sibuk dengan kegiatannya yaitu mengelola sebuah tempat judi terbesar di Asia. Ia juga sibuk menjaga Putrinya yang kini menginjak usia tujuh tahun. Meskipun hidupnya kelam dan perbuatannya kejam, Wijaya tak pernah mengajarkan hal yang buruk kepada Xena. Ia sangat memanjakan Xena. Seiring bertambahnya usia, Xena mirip sekali dengan mendiang Vina dan Mamanya. Hal ini membuat Wijaya harus ekstra dalam menjaga aset satu-satunya yang paling berharga itu.


Hanya Xena lah, Wijaya saat ini berubah. Sekarang ia lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah dan di tempat ia membuka usaha. Sementara itu, Petinggi mafia sudah diserahkan oleh anak buahnya yang paling setia.


...----------------...


Sementara itu, di Puncak Bukit Timur. Tama, bocah yang telah kehilangan seluruh keluarganya karena dibantai oleh Wijaya pada lima tahun yang lalu, kini juga telah tumbuh besar. Ia memiliki wajah yang tampan, bersih dan kelihatan rapi.


Kehidupannya yang sendiri tak membuatnya patah semangat. Ia terus berusaha membuat dirinya menjadi berarti. Berkat benda-benda peninggalan keluarganya, Tama mampu bertahan hidup.


Ia terus belajar dan terus berlatih. Ingatannya yang kuat, saat keluarganya mencontohkan kepada dirinya, membuatnya mudah untuk melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan. Dari memasak hingga mencuci dan menanam segala macam sayuran, semua itu ia dapatkan dari keluarganya. Kini Tama telah tumbuh besar. Ia juga pintar. Namun rasa bosan di dalam dirinya terus menghampiri. Ia juga ingin bersekolah seperti Kakak-kakaknya dulu.


Hidup sendiri di dalam rumah rahasia, baginya seperti dikurung di dalam penjara. Pada suatu hari, ia berniat pergi ke tempat yang jauh untuk mencari teman. Ia keluar lalu menarik sepeda kecil dan menaikinya hingga menuju halaman depan.


Sebelum ia pergi, Tama terlebih dulu memberi makan ikan-ikannya yang kini sudah bertambah banyak.


" Hei sahabat-sahabatku, hari ini aku mau pergi. Kalian baik-baik disini, ya. Aku cuma pergi sebentar. Jangan takut, aku akan memberi kalian makanan." ucap Tama pada ikan-ikan di kolam sembari menaburkan makanan ikan ke dalam kolam.


Usai menaburkan makanan ikan ke dalam kolam, Tama kembali mengayuh sepedanya. Ia tak tahu kemana arah dan tujuannya. Ia hanya berharap mendapatkan teman di luar sana.


Pukul sepuluh pagi, Tama menghentikan mengayuh sepedanya. Ia merasa kelelahan setelah belasan kilo mengayuh sepeda. Ia duduk dan berlindung di bawah pohon besar lalu meneguk minuman yang ia bawa.


Beberapa menit kemudian, seorang anak kecil memakai seragam sekolah mengayuh sepeda lewat di depan Tama. Tama lalu memanggilnya.


" Kak.." sapa Tama sambil berteriak.


Anak kecil yang ternyata adalah Khalid, menghentikan laju sepedanya.


" Ada apa..kenapa kamu ada disini?" tanya Khalid lalu menghampiri Tama yang berdiri sepuluh langkah di belakangnya.


" Aku mau berteman dengan Kakak, apa boleh?"


" Boleh saja... Siapa namamu?" tanya Khalid sembari mengulurkan tangannya.


" Aku Tama, nama Kakak siapa?" Tama pun menyambut tangan Khalid lalu menjabatnya.

__ADS_1


" Tama? dimana rumahmu?" tanya Khalid, sembari menggaruk kepalanya. Ia seperti pernah mendengar nama itu.


" Eh, aku tidak punya tempat tinggal. Aku hidup dihutan." jawab Tama dengan gugup. Ia tak ingin orang lain mengetahui rumah rahasianya.


" Tinggal di hutan? Hutan sebelah mana?" tanya Khalid lagi. Kali ini suaranya agak sedikit keras sehingga membuat Tama takut untuk berbohong. Ia sangat yakin bahwa ia pernah bertemu dengan Tama.


" Di hutan sebelah utara sana, Kak." jawab Tama sembari menunjuk ke arah utara. Tepat dimana Puncak Bukit berada.


" Apa kamu anak kecil yang rumahnya di bakar oleh penjahat malam hari itu?"


Tama semakin gugup menjawab pertanyaan Khalid. Namun kali ini ia tak bisa mengelak lagi. Khalid tahu tentang dirinya. Ia tak bisa lagi untuk berbohong.


" Katakan, apa kamu anak yang rumahnya dibakar pada malam hari itu?"


Tama menganggukkan kepalanya. Lalu ia menundukkan kepalanya. Ia tiba-tiba teringat kejadian saat keluarganya di bantai oleh Wijaya dan anak buahnya. Matanya memerah, air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia menangis, tapi tak bersuara.


" Jadi benar, kau Tama. Bocah yang dulu tidak mau kenal dengan siapapun. Yang selalu lari ketika orang lain berusaha menolongnya. Akhirnya kita ketemu di tempat ini. Eh.. Sebenarnya kamu mau kemana dan kamu tinggal sama siapa sekarang?"


" Maafkan atas sikapku, aku tidak ingin menyusahkan semua orang. Sekarang ini aku tinggal sendiri. Aku kan, tidak punya siapa-siapa lagi."


" Apa kamu mau tinggal bersamaku? Aku tinggal tak jauh dari sini."


" Aku tinggal sama Kakek. Tapi dia bukan Kakek kandungku. Ayo ikut aku." jawab Khalid lalu melangkahkan kakinya sembari menuntun sepedanya menuju ke rumah.


Tama mengikuti kemana Khalid pergi. Ia tak tahu, Khalid akan membawanya kemana. Namun ia percaya, Khalid bukan anak jahat.


" Nah..itu rumahku, Tama." ucap Khalid sembari menunjuk ke arah rumah kecil, di antara rerimbunan pepohonan.


" Kamu tinggal di hutan seperti ini, Kak?"


" Iya, aku sudah lama tinggal disini, semenjak rumah yang ku tempati dibakar oleh orang jahat itu."


" Rumah kamu dibakar?! Siapa yang melakukannya, Kak?"


" Aku tidak tahu, Tama. Tapi kata Kakekku, yang membakar rumahku dan yang membakar rumahmu adalah orang yang sama. Mereka semua orang jahat!"


" Kak, apa Kakak marah dengan penjahat-penjahat itu?"

__ADS_1


" Tentu saja aku marah, Tama. Mereka yang menyebabkan Ibuku meninggal. Pokoknya aku sangat benci dengan penjahat!"


" Aku juga benci dengan penjahat-penjahat yang telah membunuh keluargaku. Aku berjanji kalau aku besar, akan membalas kejahatan mereka pada keluargaku!"


" Tama..kita masih kecil. Jika kita ingin membalas mereka, kita harus terus hidup dan kuat. Kita akan membalas mereka bersama-sama." ucap Khalid sembari menepuk pundak Tama dengan lembut.


" Aku berjanji, akan terus hidup dan kuat, Kak."


" Bagus, Tama.. Kalau begitu, kita masuk ke rumah dahulu. Di sini banyak nyamuk."


" Baik, Kak.."


Khalid pun mempersilahkan Tama masuk ke dalam rumahnya. Di depan pintu, Harjo sudah berdiri dan melihat ke arahTama tanpa berkedip. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya anak itu.


" Khalid, siapa Dia? Kenapa kamu mengajaknya kemari? Aku kan sudah bilang, jangan bawa siapapun ikut kesini. Ini berbahaya bagi kita. Apalagi kamu membawa orang asing datang kemari."


"Maaf, Kek. Dia ini temanku. Dia anak orang yang rumahnya dibakar di lereng Bukit Timur. Namanya Tama."


" Jadi..kamu anaknya Pak Tanu dan Bu Rani?" tanya Harjo pada Tama.


" Iya, Kek. Namaku Tama. Sekarang ini aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku bosan hidup sendiri. Aku ingin punya banyak teman." jawab Tama.


" Lalu dimana kamu tinggal? Semua orang mencarimu, tapi tak menemukanmu. Hingga kami mengira, kamu sudah mati."


" Aku juga tinggal di hutan Kek. Tinggal di tempat tersembunyi."


" Lalu siapa yang memberimu makan hingga kau bisa tumbuh sampai sekarang ini? Aku tak menyangka, Tuhan masih menyelamatkanmu."


" Aku mencari sendiri. Ayahku menanam pohon buah-buahan di atas Bukit. Setiap hari aku makan buah dan sayuran. Setiap pagi aku berjalan ke atas untuk memetik buah dan sayuran untuk ku makan."


" Jadi kau hanya makan buah dan sayuran setiap hari? Kasihan sekali nasibmu. Ayo, masuklah ke gubuk Kakek. Kakek mempunyai banyak makanan."


" Wah..asyikkk... Pasti makanannya enak. Aku sudah lama tidak makan masakan Ibu."


" Masuklah.. Kakek akan mengambilkan makanannya." ucap Harjo lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang ada di meja dapur.


Tiba di dapur, Harjo bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa heran dengan Tama. Bagaimana ia bisa hidup sendirian tanpa bantuan siapapun.

__ADS_1


" Kasihan sekali bocah itu. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sebenarnya aku ingin mengangkatnya sebagai anak, dan menyekolahkannya seperti Khalid. Tapi aku sudah tak mampu. Aku hanya mampu mencukupi kebutuhanku dan Khalid saja." gumam Harjo dalam hati.


......................


__ADS_2