
Usai bangun, Tama berjalan dan mengambil air untuk minum. Tubuhnya masih tampak lemas. Dengan segelas air putih ditangannya,Tama meminumnya dengan sangat hati-hati.
Ia berjalan lagi menuju pintu keluar. Setelah dirasa aman, Tama membuka pintunya dan keluar untuk menghirup udara segar. Perlahan ia menoleh ke kanan dan kiri lalu berjalan dengan sangat hati-hati melewati puing-puing rumahnya yang hancur. Pergi menuju ke depan untuk memberi makan ikan-ikannya di kolam.
Tama adalah penyuka ikan. Sejak ia menonton film kartun yang mengisahkan tentang nama seekor ikan. Ia lalu merengek pada Ayahnya agar membelikan ikan untuknya.
Karena rasa sayangnya, Tanu membelikan ikan yang dimaksud Tama, detik itu juga. Awalnya, Tanu hanya ingin membelikan Tama dua ekor. Namun Tama meminta lebih. Akhirnya, Tanu memborong semua ikan yang ia beli dari temannya.
Ikan yang terlalu banyak, tak mungkin di taruh di dalam aquarium. Lalu Tanu membuatkan kolam kecil, untuk tempat ikan-ikan yang ia beli. Hingga sampai saat ini, ikan iti masih terawat dengan baik. Tama sangat rajin memberinya makan. Hingga ikan-ikan yang semula masih kecil, kini menjadi besar. Dan sampai saat ini, ikan-ikan itu lah yang membuat Tama tak ingin meninggalkan tempat itu. Ia berharap tak ada orang yang datang lagi hingga merusak kolam ikannya.
Setelah memberi makan ikan dan berbicara dengan mereka, seperti biasa Tama pergi ke atas Bukit untuk mencari makanan. Aktifitas harian yang selalu ia jalani membuat tubuhnya terlihat kuat dan kokoh. Badannya mulai berisi dan kencang. Ia juga telah menguasai jalanan menuju ke Puncak Bukit sehingga ia tak takut lagi terjatuh, ketika melewati jalan yang berlubang atau licin.
" Asyik..hari ini aku akan makan yang lebih banyak lagi agar aku cepat tumbuh besar." ucap Tama ketika ia mulai menapaki satu trap jalan menuju ke Puncak Bukit.
" Tapi makanan disini terlalu banyak, aku tidak mungkin memakannya semua. Mangga, semangka, anggur, semuanya aku suka. Tapi aku tidak bisa memakannya langsung. Perutku tidak cukup untuk menampung itu semua."
Seketika kesenangannya mulai pudar. Ia senang dengan semua yang ada. Tapi semua itu terlalu banyak untuknya. Semua buah-buahan di Pucak Bukit, matang secara bersamaan. Tama terkadang kewalahan harus memilih memakan yang mana, terlebih dahulu.
Namun dia bukanlah anak yang rakus. Ia membiarkan buah-buahan lain yang matang dan hanya memakan sebagian saja, hingga perutnya kenyang.
Pukul sepuluh setelah ia puas makan sambil bermain di Puncak Bukit, Tama kembali menuruni Bukit untuk kembali ke rumah rahasianya. Merasa tubuhnya kini semakin kuat, terkadang Tama berjalan sambil bergaya. Ia melompat-lompat ke kanan dan ke kiri bak seorang ninja. Ia juga terkadang berjalan meluncur seperti pemain sky.
Ada saja tingkah bocah itu. Terkadang ia terjatuh, namun ia tertawa dan kembali bangkit kembali untuk meneruskan langkah kakinya.
Tiba di rumahnya, Tama melakukan kembali aktivitas seperti biasa. Merebus ubi lalu sembari menunggu matang, ia membersihkan tubuhnya ke kamar mandi.
__ADS_1
Tiap hari, Tama melakukan pekerjaan yang berulang-ulang. Namun, itu lebih membuatnya tenang. Ia tak punya pilihan lain selain melakukan pekerjaan yang telah ia sukai.
...----------------...
Sementara itu, Bono dan Bara disibukkan dengan kegiatan mereka sehingga melupakan misi mereka dalam mencari Tama.
Semenjak turun dari Puncak Bukit dan tak menemukan Tama, Bono mendapatkan kabar dari Rika jika ia kedatangan tamu dari jauh. Lalu Bono memutuskan untuk pulang bersama Bara, yang saat itu juga dapat telpon dari Santi, jika anaknya sakit demam.
Dan pencarian Tama mereka hentikan, ketika Wira datang ke dalam mimpi Bono. Ia berkata kepada Bono agar jangan mengkhawatirkan Tama. Wira berpesan agar sebaiknya Tama dibiarkan saja menjalani hidupnya sendiri.
Awalnya Bono merasa keberatan dengan ucapan Wira. Ia berpikir, mimpi itu hanyalah rekayasa jin yang ingin membuatnya menghentikan keinginannya untuk mencari Tama. Namun, Wira berhasil meyakinkan Bono saat Wira berkata bahwa Bono sedang tidak bermimpi.
Keesokan harinya, Bono menelpon Bara agar menghentikan pencarian Tama.
Bara merasa terheran-heran dengan ucapan Bono yang seakan putus asa dengan usahanya. Selama ini, Bono lah yang paling berkeinginan untuk merawat dan membesarkan Tama. Tapi apa yang dia dengar, berbeda. Bara menanyakan tentang keseriusan Bono untuk menghentikan pencariannya. Namun Bono tak mengubah ucapannya.
Kini beban di pundak Bara sedikit berkurang. Ia kembali mengurusi pekerjaan di Restoran milik Wira. Ia telah membuka cabang di luar kota.
Baru beberapa minggu buka, restorannya mulai banyak pengunjung. Hingga Wira memaksa untuk membuka restoran yang ia kelola, selama dua puluh empat jam nonstop.
Saat ia tinggal di Lereng Bukit Barat, Bara selalu mendapatkan banyak sekali laporan dari cabang restorannya. Namun karena terkendala jarak, Bara menjadi tak maksimal dalam mengelola cabang restorannya. Ia lalu mendapatkan tekanan dari anak buahnya.
Saat Bono mengatakan kalau pencarian Tama dihentikan, Bara langsung memutuskan untuk meninggalkan desanya bersama Santi dan anaknya. Ia berniat mengelola dari dekat, cabang restorannya. Ia tak ingin, karena kurang pengawasan. Restoran yang sudah maju, malah menjadi berantakan.
Sementara itu, Bono dan Rika beserta anaknya kembali ke Kota Apel untuk meneruskan pekerjaannya sebagai Penjaga di Rumah Dinas Bupati. Khalid tak ikut bersama mereka. Khalid lebih memilih tinggal Di desa itu. Dia ingin menjaga rumah Bono agar tidak rusak saat ditinggal pemiliknya.
__ADS_1
Bono dan Rika pun tak merasa keberatan. Meskipun Khalid masih kecil, dia sudah pandai memasak, merapikan rumah dan bersih-bersih. Bono dan Rika mempercayakan semuanya pada Khalid. Dia juga berjanji, akan memberi uang untuk Khalid setiap awal bulan untuk kebutuhan Khalid.
Setelah mengemasi semua baju-bajunya, Bono, Rika dan anaknya meninggalkan desa dan melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumahnya.
Kini kedua kesatria dari desa Lereng Bukit Barat, meninggalkan desa mereka secara bersamaan. Dan kabar ini telah sampai ke telinga Wijaya.
Setelah sekian lama ia jadi Orang rumahan, untuk menjaga putrinya, kini ia kembali berulah. Wijaya memanggil Reza dan anak buahnya untuk pergi ke Desa Lereng Bukit Barat.
Misinya untuk menguasai Bukit Barat kembali muncul di benaknya. Walaupun Bukit Timur lebih indah dan subur, namun Wijaya lebih menyukai Bukit Barat.
" Reza.. Suruh anak buahmu untuk pergi ke desa Bukit Barat. Katakan pada mereka agar mengosongkan desa itu begitu kalian tiba disana."
" Eh..maaf, Bos. Apa ini tidak terlalu terburu-buru? Untuk apa kita menyuruh mereka mengosongkan rumah mereka. Sementara kita belum akan membangun apa-apa disana. Lalu bagaimana dengan Bukit Timur yang sudah ditinggalkan pemiliknya? Kita mau apakan tempat itu?"
" Aku mau kamu perintahkan anak buahmu untuk pergi kesana dan suruh penduduk disana mengosongkan rumah mereka. Mau dibangun atau tidak, itu urusanku. Cepat!"
" Maaf, Bos..tapi ini untuk apa. Kasihan mereka. Mereka bukan orang-orang yang bersalah. Setidaknya, Bos memberikan tenggang waktu pada mereka. Agar mereka memiliki tempat tinggal di tempat lain."
" Reza! Apa kau sudah merasa dirimu menjadi baik?! Jangan membantah keinginanku!"
" Baik..jika Bos tetap berkeinginan untuk mengusir mereka dalam waktu dekat ini. Aku akan pergi sekarang." ucap Reza dengan wajah kecewa pada Wijaya.
" Pastikan kau memberikan jawaban yang memuaskan kepadaku sebelum kau kembali, Za." ucap Wijaya sembari meminum kopi pahitnya yang sudah dingin.
" Baik, Bos." ucap Reza lalu berlalu begitu saja meninggalkan Wijaya.
__ADS_1
" Reza..aku tahu kau berat melakukannya. Bagaimanapun, disanalah kau dibesarkan. Kau pasti tidak terima kampung halamanmu dijadikan tempat perjudian dan tempat maksiat. Tapi kau tenang saja. Aku akan menyulap desamu yang menyedihkan itu menjadi tempat yang indah. Penuh warna. Jadi kalau malam, suasananya ramai. Tidak seperti sekarang ini. Sepi, tak pernah ada hiburan. Hahaha.." gumam Wijaya sembari tertawa keras hingga menggetarkan seluruh bangunan yang ia singgahi.
......................