
" Rio, apa kau lupa siapa dirimu? Dulu, Kita susah senang bersama. Sekarang aku lagi ada masalah, kau malah melawanku. Teman apa, kau ini?"
" Sabar dulu, Za. Kau itu terlalu mudah percaya dengan kata-kataku. Baiklah, kalau kau ingin membelot pada Bos Wijaya. Aku akan ikut denganmu. Asal kau tahu, Aku tidak pernah melupakan semua jasa-jasamu, Za." ucap Rio sembari tertawa terkekeh mendengar Reza marah besar kepadanya.
" Apa, kau cuma bercanda. Ah..akhirnya. Aku lega mendengar ucapanmu. Rio, maafkan aku. Selama ini kita berteman, selalu saja kita membuat kegaduhan dan keributan pada orang lain. Padahal mereka tidak pernah membuat masalah dengan kita. Ini semua berawal dari kisahku karena Rika mengkhianatiku dan aku diusir dari desa.
Semenjak itu, aku menjadi semakin melakukan kesalahan yang sangat besar. Kau pun juga sama. Awalnya kita hanya seorang bocah yang ugal-ugalan. Kita pesta minuman keras, suka ngebut-ngebut di jalanan. Tapi semenjak bertemu Bos Wijaya, tingkah kita semakin brutal. Kita membunuh orang, merampas hak orang, menjual banyak wanita pada orang asing, dan masih banyak lagi kesalahan yang kita lakukan.
Rio, apa kau sadar? Dulu kita berbuat sesuka kita atas kemauan kita. Dan kita menikmati itu semua. Tetapi sekarang, kita terpaksa melakukan kemauan orang lain yang sebenarnya merugikan diri kita sendiri. Kita di cap sebagai penjahat. Kita itu bukan orang baik. Coba bayangkan, jika kau tinggal di suatu tempat. Pasti kau akan ditanya asal-usulmu. Dan jika kau terbukti melakukan pelanggaran di tempat lain, apalagi kau pernah membunuh banyak orang, bagaimana tanggapan mereka? Sudah pasti mereka akan membenci kita dan mengusir kita.
Selama ini kita tinggal dan bernaung di markas Bos Wijaya. Disana kita aman. Tak ada yang berani mengganggu kita. Tapi, apa kita akan terus begitu hingga tua nanti? Itu lah yang ada dipikiranku saat ini, Rio."
" Kau ada benarnya juga, Za. Baiklah, apapun keputusanmu aku akan mengikutimu. Lagipula kita dari kecil sudah bersama, sampai kapanpun kita akan tetap bersama, Za."
" Terima kasih, Rio. Lalu bagaimana dengan teman-teman yang lain? Apa mereka juga sependapat denganmu?"
" Tenang saja.. kesetiaan mereka kepadamu, tak perlu diragukan lagi. Mereka akan mengikuti jalanmu juga."
" Rio, terima kasih banyak. Kau lah temanku satu-satunya yang tersisa. Semoga kita akan terus berteman sampai kapanpun dan dimanapun."
" Jangan khawatir..aku akan menemanimu meskipun kita diambang bahaya besar."
Tiba-tiba hati Reza bergetar mendengar kata terakhir Rio. Ia tahu keputusannya sangat membahayakan dirinya juga Rio. Tetapi Rio mengikuti keputusannya. Reza merasa sangat bersalah. Ia pun melakukan penawaran pada Rio.
__ADS_1
" Rio..aku sebenarnya tak enak kepadamu. Kau tahu, keputusanku sangat membahayakan bagi kita. Apa kau masih ingin mengikuti jalanku, Rio? Bos telah menggantikanku dan membawa tiga pengikut setianya dari kota Apel, untuk datang ke desa. Tiga pengikut setianya itu sangat kuat. Tetapi jika kita bergabung untuk melawan mereka, pasti mereka akan kalah."
" Za.. Aku tahu siapa orang-orang yang kau sebut itu. Mereka orang-orang yang terkenal kejam dan sadis. Mereka tak pernah membiarkan lawannya tersisa. Aku tak tahu kita bisa melawan mereka atau tidak, yang penting kita harus berusaha. Kita jangan sampai lengah."
" Rio, aku mohon kepadamu. Sebelum kau menyesal, kau boleh mengikuti kemauanmu sendiri. Jangan ikuti kemauan bodohku ini."
" Tidak, Za. Aku sudah bertekad untuk membantumu. Jangan membuatku gundah. Lebih baik kau segera kemari. Kita susun rencana di sini. Apa yang harus segera kita lakukan sebelum mereka datang."
" Aku akan segera sampai. Tunggu aku. Mungkin mereka akan tiba ke desa seminggu lagi. Kita bisa atur rencana agar bisa memukul mereka."
" Iya..yang penting kau tiba disini dulu. Langkah apa yang akan kita jalankan, menunggu kamu."
Reza menutup telponnya lalu segera bergegas berlari dengan secepat angin. Meskipun tubuhnya pernah cedera dan kecepatannya mulai berkurang, Reza tetap memaksakan dirinya untuk segera tiba di desa. Ia tak sabar bertemu dengan teman-temannya untuk membahas rencana perlawanan kepada Wijaya.
" Iya, kita akan menunggu dia disini. Kita tidak akan diizinkan masuk tanpa Reza. Kita kan, bukan warga sini."
" Bagaimana jika kita masuk saja dan berterus terang pada mereka. Aku yakin, mereka bisa menerima kita tanpa adanya Reza dalam rombongan kita."
" Aku tidak bisa memutuskan masalah ini. Reza itu pimpinan kita. Kita tidak bisa memutuskan suatu masalah atas kemauan kita sendiri."
" Reza itu pimpinan kita saat kita masih bergabung pada Bos Wijaya. Sekarang kita bukan dari anak buah Bos Wijaya lagi. Jadi, kita sama kedudukannya. Rio, aku hanya mengutarakan pendapat. Jika kamu tak setuju, aku tidak apa-apa."
" Idemu ada benarnya juga. Setelah ku pikir-pikir, jika kita masuk lebih dulu. Itu akan mempermudah Reza masuk kemari jika kita sudah berhasil masuk ke desa. Tapi akan jadi masalah besar bagi Reza, jika kedatangan kita ditolak. Sebelum Reza tiba di desa ini, pasti mereka sudah menghadangnya dan mencegah Reza masuk ke desa."
__ADS_1
" Apa salahnya kita coba, Rio. Kita tidak bisa menunggu terlalu lama berada disini. Persediaan makan kita hampir habis."
" Hemhh..apa sebaiknya aku telpon saja, dia. Jika dia mengizinkan, aku tak perlu pusing-pusing memikirkan hal ini."
" Kau mau telpon siapa, Rio?" tanya Reza yang baru saja tiba di hadapannya.
Rio dan teman-temannya terkejut setengah mati. Mereka tahu meskipun mereka kuat, tetapi dibandingkan Reza, mereka bukan apa-apa.
" Ah.. Kau mengagetkanku saja. Tentu saja menelponmu. Baru saja aku mau menelponmu, kau sudah muncul dihadapanku."
" Menelponku? Ada apa?"
" Eh..tadi kita sempat berpikir bagaimana kalau, lebih baik kita masuk lebih dahulu ke desa. Nanti kamu menyusul. Tapi kalau kau sudah tiba di sini, ya sudah. Aku tak perlu menelponmu lagi."
" Jangan, itu terlalu beresiko. Lebih baik kita masuk sama-sama. Mudah-mudahan mereka bisa menerima kita."
" Bos, kalau begitu Bos saja yang jalan duluan. Kami mengikuti di belakang."
" Jangan panggil aku Bos lagi. Aku sudah bukan Bosmu. Kita sama, tak ada Bos tak ada anak buah. Kita semua adalah teman satu tim." ucap Reza sembari menepuk bahu Rio.
Rio tersenyum mendengar ucapan Reza. Ia sangat bersyukur, temannya bisa kembali ke jalan yang benar. Tetapi hal yang besar telah menantinya.
Namun bagi mereka, bahaya apapun yang mengancam nyawa mereka, tak membuat mereka mundur. Mereka sudah terbiasa menghadapi musuh yang kuat. Tak ada pilihan lain selain berjuang membela yang benar dan melindungi orang-orang yang lemah.
__ADS_1
......................