SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Camping Bersama Ke Gunung


__ADS_3

Hingga beberapa pertemuan, Xena terus mengamati gerak gerik Tama. Di dalam hatinya mulai ada rasa ketertarikan pada Tama. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak mungkin mengatakan kalau Ia suka. Sebaliknya, Tama yang menjadi pusat perhatian teman-teman ceweknya, malah menutup diri. Meskipun banyak yang bilang ia sombong, namun Tama tak pernah menghiraukannya.


Suatu hari saat sekolah mengadakan kegiatan camping bersama di Gunung, Tama tak sengaja bertabrakan dengan Xena saat berjalan tergesa-gesa karena hujan akan turun.


" Bukkk..." tabrakan terjadi dan Xena terjatuh.


" Aduhh..sakit.." keluh Xena.


" Xena...maafkan aku." ucap Tama sembari membantu membangunkan Xena.


" Ada apa, kenapa kamu terburu-buru?" tanya Xena sembari menepuk-nepuk celananya yang kotor saat terjatuh tadi.


" Ah..enggak ada apa-apa. Sebentar lagi mau hujan, jadi aku akan segera kembali ke tenda." ucap Tama lalu meninggalkan Xena.


" Tama..tunggu.." ucap Xena sembari menahan tangan Tama.


Tama pun menghentikan langkahnya. Dan ia kembali pada Xena.


" Ada apa?" tanya Tama.


" Emm.. Ah, aku nggak tahu harus memulai dari mana mengatakannya. Tapi, sebaiknya lupakan saja." ucap Xena lalu gantian pergi meinggalkan Tama.


" Xena.. Kamu mau kemana?" tanya Tama sembari menahan tangan Xena.


Xena berbalik dan melihat kalau tangannya telah dipegang Tama. Lalu ia menatap wajah Tama dengan lembut. Dan akhirnya mereka pun saling bertatapan.


" Ah..Tama, jangan terlalu lama memegang tanganku." ucap Xena.


" Oh..iya maaf Xena. Aku tak menyadarinya." ucap Tama gugup.


Xena tersenyum meskipun sebelumnya, ia sempat keluar keringat dingin karena melihat tatapan mata Tama yang begitu mempesona.


Sementara Tama terkadang mengalihkan pandangannya karena malu dengan Xena.


Tak lama kemudian, hujan mulai turun. Xena dan Tama memutuskan untuk kembali ke tenda mereka.


" Tama, darimana saja kamu? Kami khawatir kamu tersesat. Apalagi diluar sangat berkabut." ucap Dino, teman yang sangat baik bagi Tama.


" Eh, maafkan aku. Tadi aku dari Atas, melihat-lihat keindahan alam dari atas sana." ucap Tama.


" Kenapa tak mengajak aku? Aku bisa menemanimu. Lagipula aku juga ingin naik ke atas sana." ucap Dino.


" Tenang saja, besok kita akan naik ke atas bersama teman lainnya. Jangan khawatir." ucap Tama sembari menepuk pundak Dino.

__ADS_1


Tak berapa lama, Jody yang satu tenda dengan Tama dan Dino, berlarian lalu masuk ke tenda. Raut wajahnya terlihat tak menyenangkan. Ia melepas mantelnya lalu dengan seenaknya melempar ke arah Tama.


Dino terkejut, namun Tama terlihat tampak tenang dan hanya bisa tersenyum.


Dino pun tiba-tiba membentak Jody. Ia tak terima teman baiknya diperlakukan semena-mena di depan matanya sendiri.


" Jody!!! Kau tau ini barang basah, kenapa kau melemparnya pada Tama?!" teriak Dino lalu dengan cepat menarik mantel Jody dalam pegangan Tama lalu melemparkannya kembali ke arah Jody.


" Dino!!! Kau jangan ikut campur!!! Aku tidak melemparmu, kenapa kau melemparku?!" Jody membalas berteriak dan hampir saja memukul Dino. Namun ia mampu menahan diri.


" Tama itu teman kita, kenapa kamu seolah menganggap dia seperti musuhmu?! Apa yang sebenarnya ada dalam otakmu itu?! Kamu membencinya?! Kenapa?!" teriak Dino.


" Itu bukan urusanmu! Kamu jangan menghalangiku. Kalau kamu membela dia, kamu juga akan berurusan denganku. Ngerti!!"


" Kau pikir aku takut denganmu?! Demi melindungi sahabat baikku aku tak akan pernah takut pada siapapun."


" Jadi kamu mulai berani kepadaku?! Baiklah..aku tak akan mengampunimu." ucap Jody.


Jody pun mengambil ponselnya lalu menghubungi teman-teman yang satu tenda dengannya. " Dit..dimana kamu?! Cepat kemari!"


" Aku terjebak hujan, Jo. Hujannya sangat deras. Ini aku bersama yang lain berteduh di sebuah gubuk kecil. Memangnya ada apa, Jo? Kita kan, masih free. Lagipula hujan begini, mau ada kegiatan apa."


" Dino, anak yang selalu menempel kemanapun Tama pergi, bisa-bisanya membela Tama. Aku tak terima. Cepat kalian kemari, kita hajar saja mereka rame-rame."


" Ah..yang benar, Jo? Kamu serius?" tanya Adit, setengah tak percaya dengan kata-kata Jody.


Sementara itu, Dino menjadi sedikit gugup. Ia tak khawatir jika Jody dan teman lainnya mengeroyoknya. Ia lebih khawatir kalau Tama juga jadi sasaran amukan mereka.


" Jika mereka mengeroyokku, pasti cuma sakit saja. Mereka tak mungkin sampai membunuhku. Paling-paling memukul perut dan mukaku. Tapi bagaimana jika Tama juga ikut dipukul. Ahhh..kenapa aku mendapatkan teman satu tenda dengan orang-orang jahat." gumam Dino lalu segera merapat ke pinggiran tenda mendekati Tama.


Beberapa menit kemudian, Adit, Ricky, Niko, dan dua saudara kembar Tony dan Tomy datang bersamaan menuju ke tenda.


" Nah..akhirnya kalian datang juga. Aku sudah tak sabar ingin memukul mereka." ucap Jody.


" Apa? Kamu mau memukul mereka berdua, menunggu kita datang, kenapa?" tanya Tony.


" Aku butuh dukungan kalian. Bagiku menyiksa manusia di depan teman-temanku itu sangat memuaskan. Hahaha..." ucap Jody sembari tertawa lebar.


" Bilang saja kau takut pada mereka, Jo. Tak perlu ditutup-tutupi." sentil Tomy yang tak percaya dengan apa yang dilakukan ketuanya itu.


" Diam kamu, Tom! Kenapa kamu juga membuatku merasa marah?! Kamu berpihak pada siapa?! Aku atau mereka berdua?!" ucap Jody geram.


" Sudah, Jo. Kita ini teman. Apa kamu juga akan menjadikan Tomy musuhmu?" ucap Adit lalu berusaha menenangkan Jody.

__ADS_1


" Lagi pula kenapa dia ikut campur. Bukannya menenangkan aku malah ikut-ikutan membuatku semakin panas. Tapi tak apa, semakin aku panas, siksaanku akan semakin kejam."


Tama dan Dino terdiam di pojokan tenda. Mereka tak tahu apa yang akan dilakukan Jody pada mereka. Namun lama kelamaan, Jody mulai mendekati Tama dan Dino lalu dengan tiba-tiba mengayunkan kakinya berniat menendang kaki Dino.


Tama yang saat itu telah mengetahui apa yang ingin Jody lakukan, dengan segera menangkis dengan kakinya. Dan kedua kaki anak remaja itu saling beradu.


" Klakk.." terdengar suara tulang yang retak.


Jody tiba-tiba menjerit kesakitan. Ia seperti menendang batu besar ketika kaki Tama menahan kakinya. Ia terus merintih menahan rasa sakitnya. Adit dan yang lainnya terkejut setengah tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka tahu tendangan Jody sangat keras dan kuat. Namun Tama tak merasakan sakit sedikitpun.


" Jody, apa yang kamu rasakan?" tanya Adit sembari memeriksa bagian kaki mana yang luka.


" Kakiku...rasanya seperti hilang!!! Aarghhh...." teriak Jody.


" Dit, sepertinya tulang kakinya retak. Bisa jadi malah patah. Ini sangat parah." ucap Tomy sembari tertawa sinis kecil.


" Apa yang kau katakan, Tom?! Jangan menakut-nakutiku!! Keluar dari kelompokku!" teriak Jody semakin geram.


" Sudah, Jo. Jangan teriak-teriak. Aku akan panggilkan bantuan." ucap Adit lalu bergegas mencari pertolongan.


" Tama, apa yang kamu lakuka padanya? Kenapa dia bisa seperti ini?!" tanya Ricky sembari menarik baju Tama.


Tama tersenyum lalu dengan tenang menjawab pertanyaan Ricky yang tak terima temannya terluka.


" Bukannya kamu juga melihatnya? Aku hanya menahan tendangannya saja. Jika tendangannya mengenai Dino, pasti Dino bisa terluka parah. Bahkan bisa meninggal."


Ricky pun mulai mengendorkan cengkeramannya. Ia lalu berpikir. " Dia benar, jika ia tak menangkis tendangan Jody, pasti Dino terluka parah. Aku yakin dia menendang ke arah leher Dino. Jody memang keterlaluan."


" Rick, sudahlah. Jangan diteruskan. Lebih baik kita bantu Jody dulu. Masalah ini tak akan pernah selesai kalau kamu ikut campur masalah mereka. Aku yakin, Tama bukan orang sembarangan. Selama ini dia banyak diam, tapi kita tidak tahu apa yang ada didalam dirinya. Jangan sampai kejadian ini terjadi lagi." ucap Niko.


Ricky pun melepas genggamannya pada baju Tama dengan perlahan. Ia lalu meminta maaf pada Tama.


" Tama, maafkan aku. Terkadang aku hanya terbawa perasaan karena temanku terluka." ucap Jody.


" Tak apa, Rick. Tapi kenapa disaat dia dengan seenaknya berusaha menyakitiku,menyakiti Dino, kenapa kamu tak bergerak sedikitpun?"


" Aku belum menganggapmu teman. Dan Dino, dia hanyalah seorang pengecut. Aku tak suka teman yang penakut."


" Kau bilang dia pengecut? Asal kau tahu, dia membelaku dan tak takut Jody melakukan apa kepadanya. Kamu itu hanya belum mengenalnya, Rick."


" Sudah..hentikan omongan kosong kalian. Cepat tolong aku!!!" tiba-tiba Jody berteriak.


Tama pun mencoba diam agar Jody tak berteriak lagi. Ia tahu rasanya sakit yang dialami Jody. Pikirannya pun kembali ke masa lalu saat dirinya masih balita dan hidup sendirian di dalam rumah rahasia peninggalan orang tuanya.

__ADS_1


Air matanya menetes perlahan disudut matanya. Ia tahu hidupnya sangat pahit. Namun ia bersyukur, ia bisa melewati masa-masa sulitnya.


......................


__ADS_2