
Di kesunyian malam, tampak seorang bapak dan anak berjalan menyusuri jalanan. Tak ada siapapun, kecuali mereka berdua. Suara tawa dan canda mereka membuat suasana malam yang sepi menjadi ramai.
" Pa.. kenapa kita tidak mengajak Bibi Ratri pergi? Kalau bertiga kan, menyenangkan."
" Tidak perlu, lain kali saja kalau mau mengajak Bibi Ratri. Lagipula dia sudah tidur, kan. Papa tak mau mengganggu istirahatnya."
" Tapi kita bisa membangunkannya. Kasihan dia sendirian dirumah. Pa, Bibi Ratri bagi Xena sudah seperti Ibu kandung Xena sendiri. Xena tak ingin pergi kalau dia tak di ajak."
" Xena, jangan begitu.. Dia bukan Mamamu meskipun kau merasa dekat dengannya. Xena, aku ingin membawamu ke suatu tempat. Aku ingin kau mengetahui sesuatu yang selama ini, orang tak pernah mengerti. Aku ingin kau tahu kenapa aku sampai saat ini, bisa bertahan dengan hidup dalam kesendirian. Ayo, kita akan berjalan Lima kilometer lagi. Siapkan tenagamu."
" Apa, lima kilometer?" tanya Xena sembari mengernyitkan dahinya.
" Iya, lima kilometer. Tidak jauh kok, dari sini. Kamu sudah mengantuk?"
" Xena nggak merasa ngantuk, Papa. Tapi Xena nggak mau kalau disuruh jalan lima kilometer. Xena saja kalau lagi jalan masih sering terjatuh."
" Hahaha.. tidak Xena. Papa akan menggendongmu. Papa tidak akan membuatmu berjalan kaki sendirian. Ayo.. kalau perlu, kita berlari sampai kesana."
" Terserah Papa saja, Xena kan digendong Papa."
" Hehe.. baiklah. Kamu sudah siap? Kita akan berlari dan meloncat."
" Tapi jangan cepat-cepat, Xena takut.."
" Tenang saja, Papa tidak akan cepat-cepat. Tapi..."
Tiba-tiba saja Wijaya menggendong Xena lalu berlari dengan cepat tanpa mempedulikan larangan Xena. Ia melompat dan terus berlari hingga ke tempat tujuannya.
Lima belas menit kemudian, Wijaya dan Xena telah tiba di sebuah tempat yang terang. Hamparan rumput seperti tanah lapang membentang sejauh ratusan meter. Wijaya melintasi tempat itu, setelah tiba diujung tanah lapang, terdapat sebuah gundukan tanah tinggi setinggi tiga ratus meter dari permukaan tanah. Wijaya membawa Xena menaiki bukit itu.
Tiba di atas bukit, hal yang menakjubkan terjadi. Jutaan bintang-bintang dan Bulan sabit di atas langit, seakan jatuh di sebuah danau yang berada di belakang bukit. Pancaran sinarnya membuat seluruh tempat di sekitarnya terang. Xena takjub dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat.
"Papa, lihatlah.. pemandangannya sangat indah. Bintang dan bulan juga terlihat sangat indah. Xena menyukai tempat ini, Papa.."
" Xena, apa kamu tahu ini dimana?" tanya Wijaya pada Xena yang masih takjub dengan keindahan disekelilingnya.
Xena hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa berkata sedikitpun. Ia sangat menikmati tempat itu dan mengabaikan perkataan Papanya.
" Di sinilah, aku bertemu dengan mendiang Mamamu. Dan disini juga tempat kami mengikat cinta kami. Keadaannya persis seperti waktu itu. Tak ada yang berubah. Posisi bintang disana masih sama. Dan pada saat Papa mengutarakan cinta Papa pada Mamamu, Bulan disana lah yang menyaksikannya. Sampai saat ini, Papa masih merindukan tempat ini."
" Oh, begitu..Jadi Papa sering kemari? Kenapa nggak mengajak Xena?"
" Sebenarnya, sudah lama Papa ingin mengajakmu. Tapi Papa belum ada waktu. Dan sekarang inilah, Papa baru sempat membawamu kemari."
" Pa... apa Papa merindukan Mama?"
" Tentu saja Papa rindu, Xena. Papa sangat merindukannya. Papa juga merindukan kakakmu."
" Pasti mereka sudah tenang di alam sana. Xena akan selalu mendoakan mereka agar mereka bahagia di surga."
" Kamu benar, Xena. Kita harus mendoakan mereka. Lihatlah danau itu, dan langit di atas sana. Seakan kita melihat dua dunia yang berbeda walaupun sebenarnya di danau itu adalah cermin yang memantulkan pemandangan dari atas langit sana."
" Iya, Pa. Tempat ini sangat bagus. Tapi Xena takut kalau pergi kemari sendirian."
" Besok kalau mau kemari lagi, Papa akan menemanimu. Wajar saja kalau kau takut. Tempat ini sangat sepi. Apalagi jika tengah malam begini. Dulu, orang-orang ramai berdatangan kemari. Namun semenjak Papa membelinya, Papa melarang bagi siapapun mendatangi tempat ini."
" Jadi, tempat ini milik Papa? Wah.. Papa sangat hebat. Xena nggak pernah tahu jika Papa bisa memiliki tempat luas sebagus ini."
__ADS_1
" Iya, Papa juga tidak menyangka. Kelak, tanah ini akan menjadi milikmu. Kau harus bisa memanfaatkannya dengan baik "
" Tapi, Xena nggak tahu apa-apa, Papa. Xena kan, masih kecil."
" Haha.. maksud Papa, kelak kalau kamu sudah dewasa. Bukan sekarang ini. Tapi, misalnya kamu bisa kamu bisa memulainya sekarang. Kan, kamu anak jenius."
" Iya, Xena ingin tempat ini dibuka lagi untuk umum. Kita bisa mendapatkan uang lagi dari tempat ini, Pa."
" Hahaha.. Xena, Xena.. kau memang mewarisi sifat Mamamu. Kau pandai dan cerdas seperti kakakmu juga. Masih kecil saja, sudah memikirkan bagaimana mendapatkan uang." ucap Wijaya sembari tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan Xena.
" Pa, memangnya Mama sama Kakak Xena itu seperti apa? Xena belum pernah melihat fotonya."
" Oh iya, besok Papa akan mengajakmu ke rumah Kakakmu. Disana masih ada foto keluarga kita."
" Benarkah? Kalau begitu, sekarang saja, Pa."
" Xena, ini sudah malam. Kamu harus tidur."
" Tapi Xena belum mengantuk. Ayo, kita ke rumah Kakak. Xena ingin melihat foto mereka."
" Besok, Xena. Kalau sudah pagi. Tempatnya sangat jauh. Kita harus menggunakan mobil untuk pergi kesana. Tidak berlari seperti tadi."
" Yaaahh... padahal Xena ingin sekali secepatnya bisa melihat foto mereka."
" Sabar, Xena.. Sebentar lagi pagi. Kita akan pergi kesana besok pagi. Sekarang nikmati dulu tempat ini. Bayangkan semisalnya Mama dan Kakakmu berada di tengah-tengah kita. Di tempat ini, sembari menatap ke arah langit."
" Baik, Pa.. tapi Xena nggak bisa. Xena nggak bisa membayangkan jika belum pernah tahu wajah mereka."
" Hahaha.. kau benar. Aduh.. berada di dekatmu, Papa malah merasa seperti orang yang bodoh."
"Haha.. Papa nggak bodoh, kok. Papa itu pintar, jenius, kuat. Pokoknya Papa itu orang yang hebat."
Barusaja Wijaya selesai berbicara, Xena terdiam dan tak menanggapi kata-katanya. Wijaya melihat Xena tampak tertunduk dan memeluk kedua kakinya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba terdengar suara perut Xena yang merasa lapar.
Wijaya melihat ke arah Xena, namun Xena masih menunduk. Hingga beberapa saat, Wijaya tak kunjung berhenti memandang ke arah Xena.
Xena tahu, dari tadi Papanya melihatnya terus menerus. Ia lalu berbalik melihat ke arah Papanya sembari mencubit pipinya.
" Papa... kenapa melihat ke arah Xena terus. Memangnya Xena kenapa.."
" Hahaha.. Xena, Papa mendengar suara perutmu. Kamu lapar?"
Xena ikut tertawa. Lalu ia menjawab dengan malu-malu sembari memegang perutnya. " Hehe, iya Xena lapar."
" Hahaha.. baiklah, kamu mau makan apa?"
" Xena nggak tahu. Memangnya disini ada makanan?"
" Tunggu sebentar, Papa akan mencarikan makanan.."
" Xena nggak berani, disini sendirian. Xena takut.."
" Tidak apa-apa. Takkan ada yang mengganggumu disini. Papa cuma pergi sebentar, kok."
" Xena nggak mau, Papa.. Xena ikut.."
" Hemh... baiklah kalau kamu takut, aku tak akan pergi."
__ADS_1
Karena Xena tak mau ditinggal sendirian, Wijaya mengurungkan niatnya pergi. Namun ia tak tega melihat Xena merasakan lapar. Padahal ia ingin sekali bermalam di tempat itu hingga terbit mentari.
Wijaya memutar otaknya. Ia pun menemukan cara agar bisa pergi tanpa sepengetahuan Xena. Dengan menggunakan jurus berubah bentuk milik Rendra yang ia pelajari lalu memadukan dengan ilmu yang dia miliki. Wijaya menghasilkan jurus baru yang mampu mengelabuhi siapapun yang melihatnya.
Dengan jurus barunya, Wijaya mampu merubah dirinya menjadi dua. Satu berbentuk dirinya, dan yang satu berbentuk sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun kelemahan jurus ini adalah, ketika Wijaya yang berubah bentuk ke bentuk lain, Wijaya yang masih berbentuk manusia seutuhnya tak mampu melakukan apa-apa. Tubuhnya kaku seperti kayu. Ia juga tak bergerak ataupun berbicara, seperti orang yang sedang tidur.
Berulang kali Xena bertanya pada Wijaya kenapa terdiam. Namun Wijaya tak memberikan jawaban. Hal ini membuat Xena curiga dan berusaha membangunkan tidur Wijaya.
Beruntung, Wijaya dengan tubuh aslinya yang berubah bentuk menjadi seekor kucing datang. Ia segera menukar tubuhnya yang berbentuk kucing dengan tubuhnya yang berada disamping Xena.
" Papa... bangun.. Xena takut.." ucap Xena sembari menggoyang-goyangkan tubuh Papanya.
Wijaya terbatuk-batuk. Ia kemudian tersadar lalu membuka matanya. Ia melihat Xena menangis sembari memeluk tubuh Papanya.
Seketika hatinya tergugah. Putri kecilnya itu sebenarnya masih sangat kecil. Ia sebenarnya masih membutuhkan air susu Mamanya. Namun saat dirinya baru berumur beberapa bulan, Mamanya meninggal dunia. Xena kecil terus menangis karena kehausan. Sementara, Mamanya yang seharusnya berada disampingnya dan menyusuinya, sudah tiada.
Tangisnya Xena pada malam ini sama persis dengan tangis Xena pada saat ia ditinggal Mamanya pergi. Wijaya meneteskan air matanya. Ia lalu memeluk dan mendekap Putri kesayangannya.
" Xena, jangan takut.. Papa tidak kenapa-kenapa. Jangan khawatir.. jangan menangis. Papa tahu Xena adalah anak yang kuat."
" Papa, Xena hanya takut kehilangan Papa. Xena masih kecil, siapa yang akan membimbing dan membesarkan Xena jika Papa nggak ada."
" Papa tidak kenapa-kenapa. Lihatlah, Papa masih sehat, Papa masih bernafas. Sudah jangan menangis."
" Baik, Papa.. Kalau begitu ayo kita pulang, Xena kedinginan."
" Sudah mau pulang? kamu sudah bosan disini?"
" Bukan begitu, Papa.. Xena kedinginan. Xena juga lapar."
" Haha.. baiklah, kita akan buat api unggun disini. Dan kita akan makan disini."
" Mau makan apa? Papa kan, nggak membawa makanan."
" Tenanglah.. Tunggu disini sebentar, Papa akan ambil kayu."
" Dimana? jangan jauh-jauh."
" Tidak jauh, tunggu sebentar."
Wijaya meninggalkan Xena sendirian. Ia mengambil kayu bakar yang ia kumpulkan sewaktu berubah menjadi kucing. Tak berapa lama Wijaya kembali ke tempat Xena berada.
" Papa dapat kayunya darimana? Kenapa banyak sekali?"
" Disana.. ada pohon yang sudah rapuh dan tumbang. Aku mendapatkan kayu itu dari sana."
" Owh.. begitu." ucap Xena sembari membantu Wijaya menata kayu untuk membuat api unggun.
Wijaya mulai membakar kayu yang telah tertata. Suasana hangat menyelimuti tempat itu. Udara yang awalnya dingin seperti air es, menjadi lenyap terkena panasnya api yang membara.
" Nah, Xena.. kau bisa menghangatkan tubuhmu, sekarang. Papa akan ke danau sebentar, untuk mencari ikan."
" Baik, Papa. Xena akan menunggu disini." Ucap Xena, lalu ia duduk sembari memeluk kedua kakinya yang mungil.
Lima menit kemudian, Wijaya kembali dengan membawa ikan besar. Ia berteriak memanggil Xena. Xena pun meyambut Papanya dengan girang.
Kehadiran Wijaya di hidup Xena memang sangat membuatnya bahagia. Ia sampai lupa bahwa seharian ia belum semenitpun, tidur. Rasa kantuknya tersingkirkan dengan adanya Wijaya disampingnya.
__ADS_1
Malam semakin meninggi, tak terasa langit yang semula gelap, kini mulai tampak terang. Suara ayam berkokok dari kejauhan terdengar hingga ke tempat itu. Xena terlena akan indahnya pemandangan yang sangat indah yang belum pernah ia lihat. Tak berapa lama setelah perutnya terisi penuh oleh daging ikan, rasa kantuknya mulai datang. Ia pun tertidur dipangkuan Papanya.
......................