SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
TERNYATA BENAR


__ADS_3

Pada pukul empat sore, Wijaya telah melakukan tiga perempat perjalanan menuju rumah Tanu. Merasa dirinya kelaparan, ia menghentikan laju mobilnya lalu menepi di sebuah warung kecil di pinggir jalan.


" Permisi, saya mau makan disini. Apa ada tempat yang masih kosong?" tanya Wijaya pada pemilik warung karena ia tahu seluruh tempat duduk penuh dengan pembeli.


" Maaf Tuan, bangkunya sudah penuh. Jika Anda berkenan, di bawah pohon sana ada kursi panjang dari potongan kayu, Anda bisa menikmati makan sore Anda disana."


" Pak Tua! saya disini mau makan, bukan untuk numpang berteduh. Kurang ajar!" Bentak Wijaya sembari mengepalkan tangan kanannya dan bersiap memukul pemilik warung itu.


" Jangan!" teriak salah seorang pembeli yang berbadan besar.


" Jangan ikut campur kau, gendut! Apa kau sudah bosan hidup?" Wijaya beralih membentak Pembeli yang berbadan besar itu.


" Aku tidak takut mati jika aku benar. Kau orang kaya yang sombong, beraninya menggertak orang yang sudah tua. Apa kau tak pernah mempunyai orang tua?"


" Banyak bicara! Bersiaplah menghadap Tuhanmu, Gendut!" Teriak Wijaya lalu melangkah maju berniat memukul Pembeli itu.


" Tunggu, Bos! tahan.. Anda jangan gegabah. Biarkan saya saja yang menghadapinya." cegah Pimpinan rampok, lalu maju menggantikan Wijaya.


" Apa maksudmu? Biar aku saja, biar dia lebih cepat bertemu dengan Penciptanya."


" Tidak, Bos. Saya yang akan menghadapinya. Lebih baik Bos makan dulu."


" Baiklah, terserah kamu saja. Aku sudah sangat lapar. Pak Tua, apa kau mau bertaruh? Siapa yang akan menang dalam pertarungan si Gendut dan anak buahku?"


" Maaf, Tuan. Saya tidak berani bertaruh. Saya tidak punya uang. Dan saya juga takut berdosa." Ucap Pemilik warung dengan tubuh dan suara yang gemetar.


" Aku tidak meminta uangmu, aku hanya menyuruhmu menebak siapa yang akan menang."


" Baik, Tuan. Saya menebak, anak buah Anda akan kalah. Orang yang berbadan besar itu,cukup kuat. Dia juga mempunyai otot-otot yang kuat."


" Baiklah, jika kau bertaruh pada si Gendut itu. Tapi, jangan sampai kau kecewa, Pak Tua jika si Gendut itu bakal tewas."


" Apapun hasilnya, saya tetap akan mendukung laki-laki bertubuh gemuk itu. Saya lah yang membuatnya menjadi seperti itu. Membela saya mati-matian untuk menyelamatkan nyawa saya."


" Haha.. lihat saja Pak Tua. Saya mau makan." Ucap Wijaya lalu pergi ke bawah pohon lalu duduk dan segera menyantap makanannya.


Sementara Pimpinan rampok bertarung dengan seorang Pembeli yang berbadan besar. Dari segi fisik, Pimpinan rampok sangat kalah jauh. Namun dalam hal kemampuan bertarung Pimpinan rampok itu tak kalah berpengalaman.


Sedangkan Pembeli bertubuh besar, meskipun mempunyai berat badan yang melebihi batasnya, namun kecepatan dan pergerakkannya cukup merepotkan Pimpinan rampok.


Hingga pertarungan berjalan sepuluh menit, kedua petarung masih memiliki nyali untuk bertarung. Mereka memiliki kekuatan yang sama-sama unggulnya. Hanya saja kepandaian dan pengalaman bertarung yang membedakannya. Pimpinan rampok telah ratusan kali bertarung hingga membunuh lawannya. Sementara, Pembeli yang bertubuh gemuk, baru sekali bertarung. Namun dia memiliki kekuatan yang tersembunyi.


Selang lima belas menit, Pembeli berbadan besar terkapar. Ia kehabisan tenaga karena terlalu banyak melakukan pergerakan.


" Hei, kamu.. bunuh dia. Jangan beri dia ampun. Kesalahan besar baginya karena telah berani melawanku. Hahaha.." Perintah Wijaya pada Pimpinan rampok, lalu tertawa keras.


Pimpinan rampok mau tak mau menuruti perintah Wijaya. Dia mengambil sebongkah batu besar, lalu berniat memukul kepala Pembeli itu. Namun kembali Wijaya berteriak lagi kepada Pimpinan rampok.


" Hentikan!"


Pimpinan rampok merasa kesal, namun ia takut kepada Wijaya. Ia lalu mengurungkan niatnya membunuh Pembeli itu.


" Kenapa Bos tiba-tiba menghentikan saya? Bagaimana kalau saya terlanjur membunuhnya?"


" Diam! Ayo.. segera lekas makan. Orang itu tak ada hubungannya dengan urusan kita."

__ADS_1


" Eh, baik Bos." Ucap Pimpinan rampok, lalu menyuruh anak buahnya untuk bergabung makan bersamanya.


Pukul lima sore, Wijaya kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Tanu. Ia melaju dengan kencang melewati jalan sepi di pinggiran hutan.


...----------------...


Suasana yang mencekam kembali terjadi ketika mobil yang dikendarai Wijaya dan anak buahnya tiba di depan pintu gerbang rumah Tanu.


Saat itu Tanu dan keluarganya sedang melaksanakan shalat maghrib berjamaah di rumahnya.


Wijaya mencoba membuka pintu gerbang rumah Tanu, namun terkunci dari dalam. Ia menyuruh anak buahnya untuk membuka paksa pintu gerbang itu.


Dan akhirnya, pintu gerbang yang terbuat dari pagar besi yang cukup tebal, roboh beserta dengan pagar dindingnya.


Suaranya terdengar hingga menggetarkan bangunan di sekitarnya.


" Suara apa itu? tanya Raka sembari melihat ke arah Riko.


" Aku nggak tahu, ayo kita lihat." Ajak Riko lalu melepas sarung dan pecinya lalu bergegas keluar rumah.


Setelah mereka membuka pintu, mereka dikejutkan dengan kehadiran lima orang tak dikenal yang berhasil merobohkan pintu pagar rumah mereka.


" Siapa kalian? Apa kalian yang melakukannya?" tanya Raka.


" Hahaha... memangnya kenapa kalau kami yang melakukannya? Apa kau marah?" jawab Pimpinan rampok sembari tertawa keras.


" Kurang ajar! beraninya kalian merusak rumahku!" Bentak Raka lalu bersiap maju untuk menyerang Pimpinan rampok.


" Raka... tunggu dulu. Jangan gegabah. Kau mau menyerangnya? Lihatlah.. orang-orang itu bukan orang sembarangan. Kita bisa dibantai dengan mudah." Cegah Riko sembari menarik tangan Raka yang berniat maju menyerang.


" Tapi, mereka telah membuatku marah, Riko. Apa kamu bisa terima, rumah kita mereka rusak seperti itu?"


" Riko, katakan saja kalau kau takut pada mereka. Aku sudah berjanji pada diriku, takkan takut pada siapapun meskipun aku harus mati."


" Raka.. kita hanya bertiga. Aku, kamu dan Ayah yang bertugas melindungi Ibu dan adik-adik kita. Jika belum apa-apa kau sudah mati, perjuangan kami akan semakin berat, Raka."


" Setidaknya aku bisa membantai satu atau dua orang dulu, Riko. Tanganku sudah gatal, apalagi mereka merusak pagar rumah kita. Ini tidak bisa dibiarkan."


" Sabar, Raka. Kita tunggu Ayah dulu. Jangan terburu-buru."


" Hei, Bocah! dimana orang tua kalian? Aku ingin bertemu dengannya. Suruh mereka keluar!" bentak Wijaya.


" Oh, kalian mau mencari orang tua kami? Ada urusan apa kalian mencari mereka? Lalu, apa pantas kalian mencari mereka dengan merusak rumah kami?" ujar Riko.


" Jangan banyak tanya, cepat! suruh mereka keluar!"


Tak berapa lama, Tanu dan Rani keluar dari rumahnya. Bulan dilarang keluar karena disuruh menjaga Tama dan Rama.


" Oh, ada tamu rupanya. Ada apa kalian datang kemari? Dan kenapa kalian datang dengan cara yang tidak sopan?" ucap Tanu lalu berjalan ke depan di depan Raka dan Riko.


" Tanu... Apa benar kau bernama Tanu? Jawab dengan jujur!"


" Iya, akulah yang bernama Tanu. Ada apa kau mencariku?"


" Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu. Apa hubunganmu dengan Putriku?"

__ADS_1


" Putrimu? maksudmu Vina?"


" Benar! jadi kau sudah mengetahui kalau Vina adalah putriku?"


" Aku tahu dari Mas Wira. Orang yang telah kau bunuh secara keji!"


" Apa? Kau mengenal Wira? Apa hubunganmu dengannya?"


" Wijaya.. apa kau lupa denganku? Wira adalah kakak sepupu Rani, istriku."


" Apa? Jadi kau Tanu, dan wanita di sebelahmu itu adalah Rani?"


" Benar, Wijaya. Itu adalah kami. Setelah kau membunuh kakakku, lalu apalagi yang kau inginkan dari kami? Apa salah kami sehingga kau mengusik keluargaku? Padahal, aku sama sekali tak pernah berurusan denganmu."


" Hahahaha.. Tanu, Rani.. Lama kita tak berjumpa. Setelah sekian lama aku mencari kalian. Terutama, kau Rani. Aku sangat menginginkanmu. Sampai saat ini, bayangan wajahmu di masa lalu masih terngiang dipikiranku."


" Wijaya, apa yang kau inginkan dari kami. Kami tak pernah mengganggumu. Jangan mengganggu ketenangan keluarga kami." Ucap Rani dengan nada lembut.


" Rani.. Tanu, apa kalian ingat, kalian telah mencurangiku. Apa kalian lupa?"


" Apa maksudmu, Wijaya?"


" Jadi kalian sudah lupa, setelah menjalin hubungan dan dikaruniai beberapa anak. Kalian telah menyusahkanku bertahun-tahun. Wira, dan kau Tanu.. kalian telah bersekongkol untuk membuat Rani menjadi milikmu! Padahal aku bisa saja mendapatkannya, namun karena permainan kotor kalian, aku harus kehilangan Raniku."


" Wijaya, aku tak pernah bersekongkol. Rani sendiri lah yang memilihku. Dan kami memang sudah saling mencintai sejak awal."


" Bohong! Wira mengatakan sendiri kepadaku, kalau dia memang lebih memilih kamu menjadi kekasih Rani daripada aku. Tanu! apa kau tahu, betapa besar rasa sakitku! Setelah kalian menjalin hubungan, hidupku menjadi semakin suram. Masa depanku lenyap, semenjak Rani menjadi milikmu."


" Wijaya, itu adalah masa lalu. Kamu jangan mengungkit masa lalu kita. Kita sudah dewasa. Jangan lagi menciptakan permusuhan diantara kita. Kita ini adalah teman sekelas." Rani mencoba menenangkan Wijaya.


" Diam! Rani, dulu ku sangat mencintaimu. Aku selalu membayangkan suatu saat nanti, kita akan hidup bersama dan menjalani hidup ini dengan bahagia. Tapi, kenapa kau lebih memilihnya! Apa kau tahu, aku sangat terluka, Rani! Dimana perasaanmu waktu itu?"


" Wijaya, sudahlah. Jangan mengungkit masa lalu lagi. Mari kita benahi hidup ini. Mari kita jalin pertemanan yang sehat. Jangan ada permusuhan diantara kita." Tanu pun ikut menenangkan Wijaya.


" Semudah itu kau mengajak berteman, Tanu. Apa kau tahu, semua teman yang telah membuatku terluka, sudah binasa. Mereka telah tidur untuk selamanya di dalam tanah yang penuh dengan lumpur. Hahaha... Sekarang, hanya tinggal kalian berdua yang tersisa. Tanu, bersiaplah menjemput kematianmu!"


" Tunggu, Wijaya. Apa pantas seorang sepertimu membunuh orang hanya karena masalah cinta. Wijaya, aku meragukan kejantanananmu." ucap Tanu lalu memegangi tangan Rani.


" Apa katamu? Maksudmu aku cemburu? Tanu, aku bukanlah anak remaja yang cinta monyet pada orang yang ku sukai. Ada satu alasan yang membuatku marab besar kepadamu."


" Apa itu, Wijaya? Aku tak mengerti."


" Kau yang telah menyebabkan Putriku Vina meninggal! Kau penyebabnya, Tanu!"


" Fitnah apalagi ini. Wijaya, jangan mengarang cerita. Aku tidak pernah mencelakai siapapun!"


" Bukan kau yang mencelakai, tapi kau penyebabnya! Dia sangat menyukaimu, kan. Kau berhasil mengambil hatinya. Dan disaat dia mengutarakan cintanya kepadamu, kau menolaknya!"


" Wijaya, aku tidak bersalah kan. Aku menolak karena aku sudah punya anak dan istri. Dia juga sudah tahu dari awal. Namun dia tetap memaksakan dirinya untuk mengungkapkannya kepadaku."


" Oh, ternyata benar. Apa yang dikatakan Bagus. Kau memang telah bermain cinta dengan Putriku di Parkiran sekolah. Laki-laki Biadab!"


" Apa? Jadi kau mendengar cerita dari Pak Bagus. Wijaya, aku sudah bilang padanya. Apa yang dia lihat itu bukanlah kejadian yang di sengaja. Aku tidak bohong padamu." Tanu membela diri.


" Aku tidak percaya padamu, Tanu.. Kau sudah merebut kebahagiaanku. Merebut Rani dan Kau yang telah membuat Putriku meninggal."

__ADS_1


Wijaya bersikeras menuduh Tanu yang menyebabkan Vina meninggal. Ia semakin membara, ketika Tanu selalu saja bisa menyangkal tuduhannya. Peristiwa besar akan terjadi malam ini, Tanu dan keluarganya berada dalam bahaya. Tak ada satupun yang tahu, jika ada sekelompok Mafia yang mendatangi rumah Tanu. Suasana menjadi mencekam, dikala mereka semua sama-sama terdiam.


...----------------...


__ADS_2